The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
"Episode 4"
"Kamu tahu, aku menyukaimu"
"Kamu tahu, aku menyukaimu"
"Sebesar ini"
"Sebesar ini"
"Aku mencintaimu"
Selamat! Ini dari pacarmu.
Pacar? /- Ya.
Ini dari Jung Jae Hyun untuk Son Seung Hun
untuk menyelamati ulang tahunmu.
Aku dari pusat urusan...
Kamu salah.
Apa?
Ketukannya?
Lantas, akan kunyanyikan lagi dengan sepenuh hati.
"Kamu tahu, aku menyukaimu"
Kamu salah tempat.
Kamu salah alamat.
Tunggu sebentar,
aku tahu hal seperti ini bisa cukup memalukan.
Itulah alasannya klien meminta
ini diantarkan pagi-pagi benar seperti ini.
Kenapa dia amat malu?
Sial. Ki Suh Ra, dasar kamu dungu.
"Kamu tahu, aku menyukaimu"
"Kamu tahu, aku menyukaimu" /- Astaga.
"Sebesar ini"
"Sebesar ini"
"Aku mencintaimu"
Terima kasih.
Ini dari Jung Jae Hyun untuk Son Seung Hun
untuk menyelamati ulang tahunmu. /- Astaga.
"Kamu tahu, aku menyukaimu"
"Kamu tahu, aku menyukaimu"
"Sebesar ini"
"Sebesar ini"
"Aku mencintaimu"
Terima kasih.
Aku tidak percaya ini.
Selamat ulang tahun. /- Terima kasih.
"Hubungi kami!"
Halo. /- Hai.
Halo.
Halo.
Itu dia. Di sana.
Suh Ra pasti di rumah.
Selamat ulang tahun, Ayah.
Kamu tidak perlu repot-repot.
Kejutan. Ini juga.
Apa semua ini?
Orang tua dan anak-anak tidak seharusnya berbuat begini.
Nantinya malah membangun dinding.
Putri ayah yang pelit memberikan hadiah sederhana.
Jangan merasa tidak enak.
Masuklah. Makanlah sarapan.
Bawa iganya.
Itu direndam dengan amat baik. Tiada tandingannya.
Tidak apa-apa.
Kata Ayah kita membangun dinding jika melakukan ini.
Dinding apa?
Ini paling satu bata.
Ini amat sederhana.
Bawa ini dan makanlah daging.
Terima kasih.
Sejujurnya, amat sulit
menolak masakan Ayah.
Tidak tahukah kamu mencuri dari keluarga akan menceraikannya?
Apa maksudmu, mencuri?
Lihat? Kulkas orang lain penuh,
tapi kulkas kita kosong berkat seseorang.
Sejak kapan kulkas kita pernah penuh?
Sung Hae tampak
seperti buruh tani kelaparan karena Suh Ra mengambil semuanya.
Apa? Memangnya buruh tani kulitnya putih susu zaman sekarang?
Dia tampak seperti ahli waris.
Dia tidak terkena matahari karena selalu belajar.
Aku tahu kalian berpesta seperti dua ekor serigala
dan makan amat banyak
sampai butuh obat untuk membantu pencernaan.
Ambil ini. Kami menyisihkannya untukmu.
Aku akan mengambilnya lain kali. Akan kumakan nanti.
Kalian makanlah hari ini.
Baik. Kami makan daging kemarin, jadi, kami akan makan lagi hari ini.
Tidak boleh komplain, bukan?
Hei, Dae Ra.
Ibu akan hidup mewah nanti berkat Sung Hae.
Terserahlah. Seolah-olah ibu percaya saja.
Lepaskan.
Apa-apaan.
Dasar berandalan tidak berguna itu.
Ada lagi?
Hei. Apa Cha Ra sungguh seorang wanita?
Kurasa kini aku bisa pergi ke pemandian dengannya.
Aku juga.
Ada lagi?
"Asrama Belajar"
"Kantor"
Kenapa kamu kemari?
Apa kita mendapatkan pengawas baru?
Aku keponakannya. Aku hanya di sini sementara
karena pamanku mau bercerai.
Ban Sung Hae ada?
Kamu bibinya?
Aku diberi tahu hanya anggota keluarga yang boleh berkunjung.
Apa? Bibi?
Aku ibunya.
Tidak. Pamanku yang mau bercerai melarangku membiarkan ini.
Jika kamu terus mencegahku menemuinya,
aku mungkin bercerai juga.
Apa? /- Aku istri Ban Sung Hae!
Apa?
Kamu kira ujian akan mudah.
Kapan terakhir kali kamu duduk di belakang meja?
Buku-buku hanya pajangan.
Sial.
Tikus ini.
Dia menarikku.
Dia sungguh memikatku. Astaga, sakit.
Sayang. /- Kamu andal juga.
Bagaimana kepalamu bisa berputar 180 derajat?
Itu lebih baik daripada mataku berputar masuk ke kepala.
Apa? /- Maksudku...
Para murid juga penting.
Sudah kubilang jangan berpakaian seperti itu.
Memangnya kamu instruktur aerobik?
Aku sudah melarangmu mengenakan legging yang kelihatan bokong!
Aku tidak sengaja membeli ukuran lebih kecil.
Hei!
Ganti dengan ini segera.
Ini terlalu longgar! Aku bisa jatuh jika lari mengenakan ini.
Kamu mau suamimu terluka?
Perasaanku terluka karenamu,
jadi, sudah sewajarnya kamu terluka secara fisik.
Bergantilah sekarang!
Aku tidak bisa berganti di sini. Kamu mau sayangmu dipermalukan?
Tidak ada yang peduli. Kamu sudah menikah! Bergantilah.
Kamu mau aku memakaikanmu baju?
Ini baunya seperti rokok dan lumut!
Sekarang cerah, jadi, lumut akan segera mati.
Bau rokoknya
bisa diperbaiki dengan ini.
Tidak. Itu mahal.
Tolong jangan. Jangan menyia-nyiakan setetes pun.
Semprotkan saja kepadaku!
Sayang.
Lihat. Aku melepaskannya. Hentikan!
Ayolah!
Siapa kamu?
Hanya manusia tinggal di sini, bukan malaikat cantik sepertimu.
Kamu dari mana?
Kamu dari bulan?
Kamu dari bintang?
Atau kamu terbang melintasi pelangi?
Ini merepotkan. Ibuku makin lama makin payah.
Salahku sudah berharap.
Tapi bukankah seorang putri seharusnya tertawa demi ibunya?
Kamu setuju, bukan?
Kamu setuju, bukan?
Berhenti menggelitikku. Hentikan.
Hentikan, Ibu. Hentikan.
Baik.
Ibu akan bersikap baik.
Kenapa kamu berdiri di sana?
Kamu terlalu lapar untuk bergerak?
Ya, aku lapar.
Tapi kurasa melihat wajahmu membuatku lebih kenyang
daripada makan.
Sungguh? Lantas,
ini makan pembukamu.
Anak pintar.
Suamiku mendengarkan dengan amat baik.
Selamat pagi, Tuan Putri.
Kamu akan membuat bokongku tidak sama rata.
Kamu harus menepuk yang sebelah sini juga.
Baiklah. Mari sama ratakan.
Tepuk, tepuk.
Kenapa kamu memukulinya?
Selamat pagi, Ibu.
Bagaimana bisa ibu tidur dengan cekikikan seperti itu?
Putri restoran jjamppong berijazah yang menjual gimbap untuk hidup
menikahi lulusan universitas top yang bekerja di perusahaan besar.
Kamu harus memujanya.
Beraninya kamu menepuk bokongnya yang berharga?
Bagaimana bisa Ibu bilang begitu?
Sungguh celemek yang indah.
Kamu seharusnya berbuat hebat, bukan mengorek wastafel.
Bagaimana bisa ibu tidak marah?
Lantas, Ibu mau melakukannya?
Saat Suh Ra keluar sebelum matahari terbit,
Ibu setidaknya bisa buat sarapan. /- Apa?
Ibu mertua yang tua ini harus menyediakan menantunya sarapan?
Seolah-olah dia sudah berbuat besar.
Dia hanya membereskan urusan orang-orang.
Dia menghasilkan uang membereskan urusan, membayar sewa tahunan,
dan memberikan Ibu uang jajan. Ibu tidak tahu itu?
Ibu harus mencari suami.
Kenapa sup rumput laut?
Jika kita sarapan dengan ini, bisnis akan sepi hari ini.
No comments yet. Be the first to leave one.