The first 200 lines.
SEMUA LOKASI, TOKOH, ORGANISASI, DAN INSIDEN
DALAM DRAMA INI SEPENUHNYA FIKTIF
Dia pacarku.
Kau sudah gila?
Aku serius.
Kau sungguh gila.
Sungguh.
Astaga. Ya ampun.
Halo. Senang bertemu. Ada yang memanggil layanan sopir?
- Siapa yang memanggilku? - Pria itu.
- Sebelah sini. - Baik.
Apa kau baik-baik saja?
Apa sudah difoto?
Pacarnya bukan selebritas.
Jadi, diam saja, atau kalian bisa digugat.
Aku tak peduli dengan Ki Seon-gyeom.
Dia bukan pacarku.
Dah.
Kau sudah bangun.
Kami tinggal bersama. Kami teman, bukan pacar.
Jadi, jangan salah paham.
Astaga. Aku yang hidup menumpang di sini, Bu.
Halo. Aku Ki Seon-gyeom.
Maaf karena pertemuan pertama kita harus seperti ini.
Bolehkan aku memakai kamar mandi?
Kau suka kebersihan?
- Ya. - Mau bersih-bersih apa?
Wajah? Rambut? Badan?
- Boleh sampai mana? - Semuanya pun tak apa-apa.
Aku akan memberimu sikat gigi. Tunggu sebentar.
Makan ini dulu.
- Apa ini? - Untuk pengarmu.
Tak pernah lihat? Kau harus sering mengonsumsinya.
Kau sangat lemah minum miras.
Ini. Makanlah.
Aku sudah sediakan baju baru. Kenakanlah.
- Ini? - Ya?
Padahal kau tak perlu repot-repot. Terima kasih.
Bajumu sedang dicuci.
Itu baju pria.
Kami sengaja beli dan gantung di balkon agar aman, karena tinggal berdua.
Kau yang pertama mengenakannya.
Kenapa? Apa terlalu mencolok?
Aku tak terpikir sejauh itu,
tapi ternyata kau berpikir sejauh itu.
Terima kasih sudah meminjamiku baju.
Pinjam jika kau mau, asal dikembalikan lagi.
Tak apa-apa. Aku segera kukembalikan.
Baiklah.
Maaf mengganggu,
tapi sepatumu juga berantakan.
Ada juga sepatu pria di depan. Kau bisa memakainya untuk pulang.
- Entah pas atau tidak. - Astaga. Kita kedatangan Cinderella.
Kau tahu Cinderella , bukan?
Kau tak tahu dongengnya?
Cinderella disiksa Oleh para saudari dan ibu tiri
Rupanya kau tahu. Duduklah. Aku tak akan menyiksamu.
Ayo.
Harusnya "ibu dan para saudari tiri"? Kurasa dia masih mabuk.
Sekarang adalah saatnya
untuk "saat lapar, dor." Makanlah.
Kalau begitu, aku akan cuci piring sebelum pergi.
- Baiklah. - Selamat makan.
Galbitang buatan ibuku enak.
- Makan yang banyak. - Baik.
Omong-omong,
bagaimana aku bisa ada di sini?
Di sejarah navigasinya, tak ada alamat rumahnya.
Hanya ada Pusat Pelatihan dan Agensi.
- Ada Hotel Seoul. - Hotel?
Bagaimana? Kuantar ke Hotel Seoul?
Astaga.
Hanya hotel pilihan terbaik.
Tolong antar ke simpang lima Hannam Ogeori.
- Simpang lima Hannam Ogeori? - Ya.
Baik.
Jika boleh, ingin kupukul dia.
Memulai navigasi.
Bagaimana perasaanmu? Sudah merasa lebih baik?
Astaga, yang benar saja.
Sakit.
Aduh. Tunggu.
Tunggu sebentar.
Astaga, bagaimana ini!
Ada apa ini?
- Hei, May. - Apa itu di belakangmu?
Kau bukan main.
Aku memungutnya di jalan. Tampan, ya?
Aduh. Dingin.
Aku ingin meninggalkanmu.
Namun, kalau kau mati, aku bisa dipanggil ke kantor polisi.
Jadi, aku menggendongmu.
Menggendong tak seperti itu.
Lebih tepatnya, dia menyeretmu.
Benar, deskripsi harus tepat.
Jadi, sampai mana ingatanmu kemarin malam?
Aku hanya ingat membayar. Aku tak ingat apa pun
setelah itu.
Kau tak ingat setelah itu?
Kau harus dipukul. Kita sudah janji kemarin.
Kemarin… jadi…
Jadi, itu bukan mimpi?
Rupanya bukan.
Silakan pukul aku. Aku seharusnya dipukul setelah menciummu.
Itu bukan ciuman, hanya kecupan.
Kau pakai pelembap bibir apa? Lembap dan enak.
- Kau mesum? - Harus kuperiksa dulu.
Aku pakai pelembap bibir apa saja.
Mustahil orang aneh berpacaran dengan orang normal.
Rupanya itu bukan mimpi.
Cukup diantar sampai sini saja.
Aku pamit.
Kau terlihat cocok dengan baju itu.
Terima kasih atas pujianmu.
Aku ingin beli mobil setelah beli rumah,
tapi belum bisa beli keduanya.
Waktu itu aku lihat berita. Ada mobil berkecepatan 200 km per jam
menabrak mobil ini,
tapi pengemudi mobil ini hanya luka memar ringan.
Aku juga lihat berita itu. Bukan mobil ini.
Rupanya ini mobil mesin V8 yang bisa melaju dengan cepat.
Sebelum mati, aku sangat ingin mengendarai mobil seperti ini,
dan kini mobil V8 ini ada di depan mataku sekarang.
Mesinnya V6, bukan V8.
Maksudku, aku mau coba mengendarai. Kau tak mau?
Bukankah pasangan biasanya naik mobil bersama?
Kau bilang sendiri aku pacarmu.
Maka aku sungguh gila.
Aku harus menemui Bu Seo. Kau tak apa?
Tak apa. Aku akan diam di mobil saja.
- Kau ada rapat? - Bukan. Aku harus minta maaf.
- "Minta maaf"? - Kemarin aku sempat marah kepadanya.
Tak baik jika terlalu emosional.
Apa kau biasanya emosional padanya?
Biasanya tidak, tapi kemarin ya.
Ayo naik. Ayo berkendara.
Pak Ki, ada apa tiba-tiba datang?
Bu Seo ada?
Dia ke kantor pusat. Kau mau titip pesan?
Aku akan bicara langsung padanya.
Pak Ki.
Bu Seo sangat memperhatikanmu.
Kuharap kau tahu itu.
Aku tahu.
Silakan naik.
Kau sudah bicara dengan Bu Seo?
Tampaknya dia sibuk.
Mau ke mana sekarang?
- Rumah sakit. - Kenapa?
- Aku mau jenguk. - Baiklah.
Aku harus membeli boneka sebelum ke sana.
Aku tahu harus beli di mana.
- Biar kuantar. - Ya. Terima kasih.
- Astaga! - Astaga?
Sejak kapan kau menyetir?
Kau tak sadar?
Kau berencana mencuri mobilku?
Kau pikir aku hanya akan mencurinya?
Astaga, kenapa dia? Apa masalahnya?
Ini salahmu.
- Aku tak salah. - Astaga.
Kau tak bisa menyangkalnya.
Kau punya SIM, bukan?
Sempurna.
Luar biasa.
Hei.
Orang yang hendak kau jenguk masih kecil, 'kan?
Kurasa, ya.
Bukankah biasanya bawa buah atau minuman saat menjenguk?
Aku hanya mau dia punya teman.
Sangat bosan jika kau sendirian.
Jika kau bicara pada boneka, ia akan terasuk.
Kenapa tak membeli saja?
Karena lebih menyenangkan.
Tunggu sebentar.
Ini daftar pertanyaan wawancara pemotretan Pak Ki.
Tolong diperiksa.
Aku harus pergi karena Pak Jeong mengirimiku pekerjaan.
Terima kasih untuk boneka dan mengemudi untukku.
Namun, jangan sampai kau membeli mobil.
Kau pengemudi yang payah.
Ini berarti kita tak akan membahas
kejadian kemarin?
Aku terus menunggu penjelasanmu. Makanya beri boneka dan menyetir.
Kau mau memukulku sekarang?
Aku akan minta maaf jika itu maumu.
Jangan terima permintaan maafku jika tak mau.
Kau juga boleh menggugatku. Aku akan menghalangi tim hukum Bu Seo.
Kau bisa melakukan semuanya.
Hal paling penting lupa kau sebutkan.
Alasannya.
Kenapa melakukan itu padaku?
Aku ingin menghindari situasi,
- dan kebetulan kau di sampingku. - Kebetulan?
Kau bicara serasa akan mencium siapa pun yang ada di sana.
Aku mabuk kemarin.
Siapa pun yang di sampingku akan kena imbasnya.
Jika tak masalah siapa pun,
kenapa tak mencium ayahnya Tae-ri?
Apa?
No comments yet. Be the first to leave one.