The first 200 lines.
Sudah kerjakan pekerjaan rumahmu?
Sudah habis bitnya?
Ya.
Boleh aku meminta kue fudge?
Tutup matamu.
- Ayah, aku tak mau... - Sekarang!
- Huruf apa yang mati pada papan keluar? - Huruf "X"
- Apa warna vinil? - Apa itu vinil?
- Benda yang melapisi kursi. - Ungu.
- Merah tua. Cukup dekat. Nama manajer. - Siapa?
Dia memakai label nama. Wanita yang berdiri di pintu saat kita masuk.
Kau melihatnya tadi.
Marie. Boleh aku dapat kuenya sekarang?
Ada berapa banyak topi?
- Ayolah, Ayah! - Shawn, kau mau kue?
Ada berapa topi di ruangan ini?
- Apa kupluk dihitung? - Menurutmu?
- Tiga. - Kau tidak menggambarkannya.
- Itu tak adil. - Waktu hampir habis, Shawn.
Satu ada bunganya, yang dipakai ibu itu.
Satu punya gambar semacam singa
pada pria yang punya gigi bengkok.
Yang terakhir pada kepala koki.
- Bagaimana dengan kupluk? - Kupluk itu penutup kepala, bukan topi.
- Baiklah. Buka matamu. - Terima kasih.
Wah, itu luar biasa.
Lumayan.
Berikan dia kue.
Aku rasa aku tahu saat dewasa kau akan menjadi apa.
Oh, aku tak akan pernah menjadi dewasa.
TAHUN 2006... MASIH DI SANTA BARBARA
- Tempat bagus. - Terima kasih.
Selama satu pekan, tapi secara keseluruhan hari yang bagus untuk mendaki.
- Kini kembali padamu, Dana. - Departemen bisa memakai dorongan...
Aku tahu kau akan menjadi meja terbaikku.
...menyatakan keprihatinannya terkait kebijakan jangka panjang departemen.
Joe, apa polisi sudah memiliki petunjuk?
Kami bingung. Kami tak tahu harus berbuat apa lagi.
Beberapa pekan ini berat. Kami sudah kehabisan ide.
Semoga polisi bisa memecahkan yang satu ini untuk kami.
Menyelesaikan kasus pencurian Visions
bisa jadi akhir yang dibutuhkan
untuk meluruskan segalanya.
- Apa yang kau lakukan? - Menelepon polisi.
- Ada alasan khusus? - Aku rasa aku baru menutup sebuah kasus.
- Kau tidak bilang kau polisi - Oh, tidak. Jelas bukan polisi.
Kau kecewa?
Aku hanya mengira kau mungkin punya borgol.
Aku punya borgol.
- Halo. - Kantor Polisi Santa Barbara.
- Manajer toko, dia pelakunya. - Maaf?
Perampokan stereo, di toko Visions.
Dia sedang di berita Channel 8.
Tangannya. Gerakan gugup. Sangat ketahuan.
- Dia tak mau melihat mata reporter. - Namamu?
Namaku? Namaku Shawn. Spencer.
- Dan ada hal lain lagi? - Tidak, itu sudah cukup.
...menunggu dan berharap...
Sebenarnya, tahun di van berita sudah kedaluwarsa,
tapi itu sama sekali tak berkaitan.
Aku tahu. Delapan puluh dolar.
- Halo, Ibu Polisi. - Baik, tapi kau harus pergi.
Itu sangat hebat. Ya.
Ya.
- Hai. - Itu luar biasa.
Aku Shawn Spencer.
Selain itu...
Aku tak mau membayarnya.
Oh, tidak. Itu bukan untukku.
Aku di sini untuk imbalan. Aku memberikan petunjuk lewat telepon.
Tidak, Michelle, aku tak sanggup.
Begini, ini celana baru.
Jelas kau merasa sangat yakin tentang ini.
Baik.
Harga 80 dolar itu mahal untuk ramalan.
Tapi, dia luar biasa. Dia tahu tentang masa kecil Nenek
dan barang-barang peninggalannya untuk Bobby.
Aku bisa benar-benar merasakan rohnya di dalam ruangan itu.
Yang benar saja.
Kau tahu tatoku sama?
Mereka salah menulis "Bloodthirsty" pada tatoku. Kau percaya itu?
Apa tak ada seorang pun
yang mau mengembangkan semacam pemeriksa ejaan
untuk para manusia tinta itu?
Aku tak percaya kau tak mengetesnya dulu.
Satu, dua, tiga.
Satu, dua, tiga.
Apa yang kau perbuat? Merusak mobil mantan istrimu?
- Pacar barunya. - Biar istrimu tahu rasa.
Mereka tak punya saksi.
Mantap.
Kau mungkin mau membersihkan serpihan lampu belakang dari lengan bajumu.
Saran saja.
Terima kasih, Bung.
Bukan masalah.
Lewat sini, Tn. Spencer.
Jadi, kapan aku mendapat uangku?
- Uang? - Ya, imbalan?
Kalian menangkap manajer toko itu, bukan?
Bagaimana kalau kami yang bertanya dulu?
Baik.
Jadi, apa pertanyaannya?
Entahlah. Seperti, di mana kau pada malam perampokan terakhir?
Aku sedang merampok toko stereo.
Aku bercanda.
Entahlah. Aku rasa aku sedang melakukan hal yang sama dengan kalian.
- Tidak memecahkan kejahatan. - Kau tak membantu kasusmu sendiri.
Kasusku?
Aku menjadi tersangka?
- Kau tersangka utama kami. - Aku memberikan pelakunya.
Dia punya rekan.
Aku harus menemukan orang itu? Aku bingung. Kapan kalian berpartisipasi?
Informasimu bagus. Saking bagusnya,
informasi itu hanya bisa datang dari dalam.
Dari dalam apa?
Begini, aku sudah banyak memberi informasi lewat telepon. Periksa saja.
Sudah. Aku memeriksa banyak hal.
Seperti, sekarang ini kau pengangguran.
Kau tak pernah bekerja lebih dari enam bulan
dan kau punya catatan kejahatan.
- Aku 18 tahun saat itu. - Oh, 18 tahun?
Berarti tidak apa-apa. Biar aku coret saja.
- Aku meminjam mobil. - Kau mencuri mobil.
- Untuk pamer ke cewek. - Berhasil?
Sangat. Sampai mereka memborgolnya.
Lalu, mendadak, dia bukan anak liar yang diklaimnya.
Maafkan kami. Tn. Spencer, ini terdengar dibuat-buat.
Apa bisa membantu jika aku mengatakan cewek itu punya reputasi
dan saat itu aku
di SMA?
Baiklah. Ada hal yang meringankan.
Polisi yang menahanku adalah ayahku. Dia ingin memberiku pelajaran.
Berhasilkah?
Aku belajar membenci ayahku, jadi ya.
Maaf jika aku agak skeptis.
Meski masuk akal kau memecahkan semua kejahatan ini...
Sebentar, apa ya? Dengan menonton berita Channel 8.
Aku mengaku. Itu tak benar.
Kadang aku menonton Channel 5. Aku lebih suka Channel 8.
Pembawa cuaca wanitanya? Menggemaskan.
Jadi, maksudmu kau bisa membaca perasaan bersalah dari wawancara TV.
- Kau tak bisa? - Jangan meremehkan pekerjaan polisi.
Menurutku kau melakukannya sendiri dengan hebat.
Kalian tak bisa menahanku. Aku tahu hakku.
Bagus. Berarti kau tahu kau punya hak untuk diam.
Kau berhak mendapatkan pengacara. Jika tak mampu, kau akan mendapatkannya.
Tunggu dulu. Kau serius?
Beberapa jam di sel penjara mungkin bisa membangkitkan ingatanmu.
Beri kami alasan, Tn. Spencer. Hanya itu yang kami butuhkan.
- Bagaimana kau mendapat informasi itu? - Tidak. Terlambat untuk itu.
Opsir Allen, tahan dia.
Tahan dia?
Yang benar saja, borgol. Untuk jalan kembali ke lobi?
Atau kau bisa memberikan alasan masuk akal.
Aku...
Baik. Baik.
Baik. Kalian menang.
Aku mendapatkan informasi itu karena
aku cenayang.
- Keluarkan dia dari sini! - Aduh!
Nenekmu pasti sangat bangga.
- Kau berbicara dengannya? - Ya.
Dia
aman, nyaman.
Dia mau kau berhenti memakai semua uangmu untuk dukun.
- Pembaca telapak tangan? - Pembaca telapak tangan.
Baik. Untuk memperjelas saja,
kau mengklaim sebagai cenayang, Tn. Spencer.
Dari mana lagi aku tahu kalian bercinta?
Satu, dua, tiga. Satu, dua, tiga.
Satu, dua, tiga. Satu...
- Kapan pernikahannya? - Tanggal tiga Mei.
Tunggu. Bagaimana kau bisa tahu?
Aku mendapatkan pelajaran berdansa untuk resepsi pernikahan.
Dan kau semakin pandai.
Wow. Itu luar biasa.
Ayolah, Siapa yang mau percaya ini?
Aku dapat.
Pergi ke ruang tahanan dua. Guncang pelaku perusakan mu.
Kau akan menemukan semua bukti yang kau butuhkan.
Semua bukti ada di sepatu kirinya.
Kami akan kembali dalam tiga menit.
Dengan borgolku sendiri.
Aku mendapatkan...
Aku mendapatkan
huruf "L".
Lulu. Anjing nenekku.
Apa ada yang lain yang dikatakan nenekku?
Mendadak ada kehadiran yang sangat negatif di sini.
Aku menjadi terhalang.
- Itu tebakan beruntung saja. - Tebakan beruntung?
- Dia menaruhnya. Aku tidak tahu. - Alibinya benar.
Pertanyaan. Aku harus bayar pajak untuk uang imbalan?
Biar kucari tahu.
- Tolong, jangan sungkan untuk menelepon. - Itu pasti.
Sentuhan ajaib.
- Dokter. - Hei, ya.
Tunggu dulu, Tn. Spencer.
Karen Vick, kepala polisi sementara.
Aku tahu.
No comments yet. Be the first to leave one.