The first 200 lines.
Baiklah.
Diam di sini saja.
Tunggu aba-aba dariku.
Lebih perlahan.
Mundur.
Terus mundur.
Sedikit lagi, sekitar semeter.
Terus mundur.
Dasar gila.
Bisa dibawa?/ Ya.
Memangnya apa isi kardusnya? / Kurasa keperluan dapur...
...misalnya piring, panci dan lain-lain.
Kau tak apa?
Bisa kau bawa?
Berapa penerbangan yang kita perlukan?
Cowok-cowok itu masih ada.
Ya Tuhan.
Ya Tuhan.
Awas pegangan tangganya. / Aku tahu.
Menjengkelkan kita berada di garis-m.
Sampai kapan membutuhkanku bekerja? Ini akan sampai sejam.
Aku senang kita punya kamar sendiri-sendiri.
Ya, tapi aku rindu seranjang denganmu.
Kita masih bisa seranjang.
Benarkah?
Aku janji.
Bagus.
Kau pernah dicegat?/ Pernah, saat jadi siswa baru.
Benarkah?/ Serius?/ Ya./ Dicegat siapa?
Saat itu aku mau ke acara. / Benarkah? / Ya.
Lalu?
Ada anak yang minta rokok...
...lalu dia mencegatku untuk papan luncurku./ Kurang ajar.
Aku serius, papan luncurnya bahkan bukan punyaku.
Jangan bawa papan luncur ke acara. / Kau ada rokok untuknya?
Aku ada rokok dan kuberikan kepadanya...
...lalu aku diikuti. Luncuranku diambil.
Aku lebih suka tinggal di asrama yang seaneh ini./ Kenapa?
Ini sedikit apa adanya. / Ini payah tapi..
Maksudku, sungguh...
...kalau lagi melajang begini.. / Kita kehabisan ganja.
Sudah habis.
Mereka punya ganja. / Siapa?
Apa?
Mereka punya ganja./ Lantas? / Aku mau minta ganjanya.
Jangan.
Minta./ Jangan, Leah, pokoknya jangan.
Yo.
Yo.
Apa boleh kalau aku minta sedikit ganjanya?
Atau sejenisnya.
Memangnya kami seorang pengedar narkotik?
Tidak.
Kukira mungkin kalian bisa berikan. / Tentu saja tidak, Sayang.
Jangan meminta begitu kepada orang asing.
Paham?
Kau serius?
Apa aku terlihat serius?
Sayang.
Hindari narkoba, paham?
Yo, dia mantap juga, yo.
Kau bodoh sekali, Kawan.
Aku malas denganmu./ Tidak, kau yang keliru.
Leah, 'kan?
Kau sibuk?
Tidak.
Kenapa tidak?
Kau kerja di sini?/ Ya, ya. Maksudku, aku..
Kalau begitu, untuk apa kami menggajimu?
Kau tidak menggajiku. / Apa?
Semuanya, bisa tolong minta perhatiannya?
Nona muda ini sangat menyukai majalah...
...sampai-sampai dia rela kerja gratis.
Aku bercanda. Bisa bantu aku dengan yang cepat?/ Ya.
Ya.
Tak apa. Kau takkan kena masalah, aku janji.
Baik./ Awas tabrak tiang. Bahaya kalau kena.
Beri tahu aku pendapatmu.
Pendapatku?/ Ya.
Maksudku..
Menarik sekali. Jawabannya menarik sekali.
Aku setuju.
Maafkan aku.
Kasar sekali aku. Mana sopan santunku?
Kau suka?
Silakan tambah kalau mau. / Mantap.
Begitulah.
Ya.
Ada kiriman.
Bagus.
Apa ini?
Itu adalah Rambo.
Kau tahu Rambo? Seniman grafika. Dia kini melukis.
10 yang kubeli, dalam rangka menaikan harganya.
Yang mengingatkanku. Bisakah kita dapat untung pada Rambo?
Dengan menaikkan harganya? / Ide yang bagus.
Kau kenal Leah?
Hai, Leah.
Hai.
Dia membuatku keheranan dengan riwayat ilmu seninya.
Saat kau berkata sesuatu yang lebih mendalam...
...ketimbang seni jalanan.
Ada panggilan sponsor 15 menit lagi./ Sialan.
Bisa tolong diganti pukul 3:00?
Itu akan sangat membantu. Terima kasih, Leah.
Dah.
Bisa berikan tiga?
Terima kasih.
Terima kasih.
Halo.
Hai.
Siapa namamu?
Leah.
Aku Blue.
Itu nama aslimu?
Mungkin.
Kenapa mereka menamaimu begitu? / Karena aku selalu sedih.
Sebelum bertemu kau.
Hai.
Ada apa ini?
Bisa bicara sebentar?
Tentu.
Maaf.
Sebentar.
Dia mau apa di sini?
Ajak orang pakai izin dulu?/ Jangan sembarang orang.
Mungkin dia pengedar narkotik. / Tentu saja pengedar.
Dia juga baik. Percayalah aku.
Tasku di luar situ dengan kameraku.
Mereka tampak baik.
Benar, mereka yang menampungku.
Jadi asalmu dari mana?
Kota Oklahoma.
Daerah pegunungan?/ Bukan, tempatnya datar.
Pandangannya tak berkabut dan sebuah kota.
Jadi kenapa kau pergi?
Apa maksudmu soal aku pergi?
Itu teman-temanmu?
Yo, apa kabar?
Kau main duluan seperti itu, yang benar saja?
Kau asyik-asyikan di atas sana tanpa kami?
Dia cuma kesal karena aku duluan masuk sini.
Masa bodoh.
Kita bisa, Kawan./ Kau bodoh. Tingkahmu kini kelewat bodoh.
Apa kabar, Cantik?
Bagaimana keadaanmu?
Ya Tuhan.
Apa-apaan yang kalian lakukan?
Mantap, Kawan.
Santai, santai.
Yo, Nona-nona.
Tempat kalian bagus.
Terima kasih ajakannya./ Tentu./ Bagus sekali tempatnya.
Ini baru bilang, ya, ya.
Aduhai.
Aku Kilo.
Salam kenal.
Katie.
Senang berkenalan denganmu, Katie.
Sial, aku tak pernah lihat narkotik harga pas sejak SMP.
Kalian pernah sampai teler?/ Tidak. Kami tak seperti hippie.
Yang kami punya mariyuana.
Kami punya barangnya kalau kau mau..
Kami punya kokain. / Dengar.
Kami punya kokain.
Pasti kalian suka itu, 'kan? Kami punya kokain, Cewek Putih.
Kau tak perlu pakai barang itu. Paham?/ Ya, tapi...
...aku benar-benar suka narkotik./ Dia memang sangat suka narkotik.
Kalian juga sangat suka narkotik.
Tidak, kami cuma isap ganja setiap hari, seharian.
Tapi kau jual semua yang lain. / Ya, belum tentu kami suka.
Berapa yang kau mau?
Ada berapa gram jualanmu? / Aku punya 20 gram.
Pokoknya semua yang kau perlukan.
Ada kokain.
Jadi tunggu apa lagi? Berikan kepadaku.
Sungguh?
Apa yang kau ketawakan?
Apa-apaan?/ Ya ampun, ada-ada saja.
Kawan kita ini selalu cengeng, yo.
Sialan, aku tak paham. Dia masih jual narkotik./ Astaga.
Apa?
Kau tak pernah lihat wanita sungguhan?/ Yo.
Yo.
Apa-apaan itu, yo?
Kau menyukainya? / Tidak.
Aku benci orang yang pakai barang itu, paham?
Baik.
Ini tempat kami selamanya, yo.
Asramaku tempatmu?
Jangan minta aneh-aneh seperti tadi karena tetangga teler.
Cewek murahan.. Maksudku bukan cewek pada umumnya...
...terutama yang keluar ke sini dan dipelototi.
Ini sudah jadi asramaku.
Ada apa? Kau tak pernah belajar cara berbagi?
Tidak.
Menurutmu aku cewek macam apa?
Baik.
Kembali.
Hai.
No comments yet. Be the first to leave one.