The first 200 lines.
Priya, di mana pisauku?
Di dekat wastafel. - Oke.
Aku menaruh semua pakaiannya di mesin.
Divya, cuci yang putih secara terpisah.
Atau warnanya akan bercampur. - Oke.
Cuci pakaianku juga, Bibi! - Baik, masukkan saja ke dalam.
Deepa.. aku sudah terlambat. Berikan aku teh!
Segera. Tunggu sebentar!
Priya, tolong beri Manoj teh! Anak-anak sudah siap. - Oke.
Riya, cepat minum susumu! Kau akan ketinggalan bus sekolah.
Divya. Divya. - Ya.
Simpan ini di ruang berdoa. - Oke.
Susunya mengental lagi. Terlalu banyak.
Selamat pagi, kak. - Pagi.
Bagaimana malam pertamamu di rumah baru?
Seperti biasa. - Oh ya? Kau tampaknya berpengalaman tentang malam pertama.
Tentu saja. Aku punya 2 anak.
Teruskan, kak!
Priya, cepatlah! Aku bisa terlambat.
Mannu, tolong periksa sambungan kabel sebelum berangkat ke kantor.
Kami tak bisa menonton sinetron favorit kami kemarin.
Gas, listrik, air... mereka tak khawatir tentang hal itu.
Tapi mereka malah ribut tentang sambungan kabel.
Ibu, sinetronnya dimulai jam 1.
Kenapa kau sudah merengek?
Apa? Aku tak bisa mendengar apapun.
Ibu, anakmu mengejek sinetron kita.
Oke. Kak, tunggu sebentar! - Ada apa?
Kenapa dengan tehnya? Rasanya berbeda.
Aku memakai susu bubuk. Susunya mengental lagi.
Cobalah untuk menyesuaikan hari ini. - Susunya mengental lagi, ya?
Ya. - Ini bukan pertanda baik.
Ada apa? - Susunya mengental kemarin.
Dan hari ini juga. Ini bukan pertanda baik.
Ibu. Ibu, duduklah! Duduk! - Duduklah!
Duduklah! Akan kujelaskan. - Tapi kau tahu, itu...
Duduklah! Akan kujelaskan.
kakak dan aku menggunakan semua tabungan kami untuk membeli apartement ini. - Ya.
Sekarang, apartement ini tak akan menjadi milik kita,
sampai kita tak membayar kembali pinjaman dalam 20 tahun ke depan.
Jadi, lupakan semua pertanda buruk!
Karena kita akan tinggal di rumah ini dengan senang hati,
selama 20 tahun ke depan. - Ya.
Saudaraku, tolong katakan padanya! - Tentu saja.
Paman. - Nak, itu bukan mainan.
Pamanmu harus mengeluarkan banyak uang untuk membelinya.
Pergilah ke sekolah! Ayo, pergi! - Ayo! Cepatlah Bersiap-siap!
Kami sudah terlambat. - Sarapanlah dulu!
Anak-anak mengira ponsel ini mainan.
Kalian akan terlambat ke sekolah. - Ibu, itu kartun terakhir.
Jangan terlalu banyak nonton TV, nanti kau bisa pakai kacamata.
Nenek, bibi dan kau menonton TV sepanjang hari.
Tapi kau tak pernah pakai kacamata.
Diam! Kau mulai pintar menyahut ya?
Mentang-mentang sudah mulai bersekolah.
Ayo, makan!
Ayolah! Ayo ke sekolah.
Bicaralah dengannya! - Sudah kucoba, tapi dia tak mau dengar.
Ibu, mereka sudah terlambat.
Aku akan mengantar mereka. - Oke. - Ayo, ayo pergi.
Bye~ Bye~ - Bye! All the best. - Bye, Ibu.
Kak, jangan lupa tentang itu. - Kupikir kau melupakannya.
Ini. - Apa?
Kembalilah sebelum jam 6 sore nanti!
Ya, aku akan kembali. Bye, Bu. Bye, semuanya. - Bye.
Sarapanlah dulu! - Di kampus saja, bu.
Anak itu tak pernah makan apa-apa.
Mannu. - Ada apa?
Kau belum memasang gambar di ruang berdoa.
Maaf, kak. Aku tak punya waktu kemarin.
Aku pasti akan memasangnya hari ini.
Janji! - Janji.
Jangan lupa memasangnya ya!
Oke. Bu, aku pergi. - Oke, Nak. Bye.
- Aku juga sudah terlambat. - Aku pergi.
Kita akan akan bertemu nanti malam. - Bye.
Baik, Bu. - Bye, Bu.
Sampai jumpa, Bu. - Bye, Sayang.
Ibu, aku pergi. - Baiklah.
Ibu, aku pergi. - Pergilah!
Ibu, aku pergi. - Kenapa kau bersuara keras sekali?
Jika kau ingin pamit pada Priya, masuklah ke dalam!
Dia sedang mandi. - Tidak Bu, aku akan pergi. Bodoh.
Aneh.
Pak! Pak, anjingmu! - Tidak.
Kembalilah! Harry, tidak. Kembalilah!
Pak, tolong jauhkan anjingmu!
Siapa itu? - Pak, namaku Manohar.
Dan aku baru saja pindah ke apartemen nomor 13B.
Oh, halo. Namaku Kaamdar.
Penjaga pernah berbicara tentang keluargamu. - Oh ya?
Selama 2 minggu terakhir tukang kayumu...
membuat sedikit kebisingan. - Aku benar-benar minta maaf.
Aku mencoba untuk memberitahu mereka. Tapi Anda tahu sendiri bagaimana orang-orang itu.
Tak ada masalah. Sebenarnya, ini gedung baru.
Tidak ada yang berhak untuk mengeluh.
Tapi ya, aku melakukannya. Tuhan mengambil penglihatnku.
Tapi aku masih punya telinga untuk mendengar.
Tapi jika kau terus membuat kebisingan,
Aku harus menggunakan penyumbat telinga.
Maafkan aku.
Ngomong-ngomong, aku sudah terlambat. Bisakah aku pergi?
Pak, Jumat depan aku libur.
Jika Anda ingin, Anda bisa makan siang denganku dan keluargaku.
Apa yang kau katakan?
Tentu. Kenapa tidak? Aku pasti akan datang.
Sampai jumpa, bye. Bye, Harry. - Bye.
Tn. Manohar. - Ya.
Apa kau turun dari lantai 13 dengan tangga?
Ada lift. Pakai saja liftnya!
Sebenarnya, liftnya tidak berfungsi.
Aku akan memberitahu penjaga.
Oh, baiklah.
Ayo, Harry!
Lift bodoh.
Penjaga!
Anda memanggilku, Pak. - Kau mengagetkanku.
Apa kau tahu apartemenku, 13B? - Ya, Pak.
Pergilah ke sana antara pukul 13:00-01:30
Pasanglah beberapa gambar di ruang berdoa!
Baik, Pak. - Ini, ambil ini!
Dengar, jangan ke sana antara pukul 13:00-13:30. Pergilah setelah itu!
Mereka akan menonton TV, dan akan membunuhmu. - Baik, Pak.
Oke, aku berangkat. - Oke.
Penjaga. - Ya, Pak.
Lift di gedungnya tidak berfungsi dengan benar. - Ya, Pak.
Panggil perusahaan jasa dan minta mereka untuk memperbaikinya. - Baik, Pak.
Aku akan menyelesaikannya. Oke.
Aku berangkat. - Oke, Pak.
Selamat pagi, Pak. - Pagi.
Dia akan mengeluarkanmu.
Pagi, Pak. - Pagi.
Hei, apa yang terjadi? - Pagi, Pak.
Apa betonnya sudah tiba? - Lupakan betonnya!
Ceritakan tentang rumah barumu.
Rumahnya sangat menakjubkan. - Apanya?
Ketika aku membuka jendela apartemenku di lantai 13,
rasanya seperti Manhattan. - Sangat bagus.
Dan ventilasi silang luar biasa. - Oh ya?
Tunggu sebentar. - Halo.
Aku tak butuh pinjaman apapun. Aku sudah berhutang.
Mengganggu orang saja. Aku pikir agen iklan yang mendapat nomor kita,
sebelum kita melakukannya.
Telepon baru, rumah baru. Kau luar biasa. - Dengarkan!
Aku dapat diskon. Ponselnya sangat murah. - Bohong.
Ada apa?
Tukar kembali ke tempat kau membelinya!
Ada masalah dengan layarnya.
Itu baik-baik saja pagi ini.
Senyumlah! Kau terlihat tampan.
Itu benar. Aku pikir Gulabi akan kalah. - Tentu saja.
Tak ada masalah dengan ponselnya.
Keponakanku berumur 7 tahun yang mengambil gambar itu.
Dia pasti menggoyangkannya. Bisa saja begitu.
Apa semua pekerja sudah hadir? - Ya, Pak.
Katakan padaku, Laxmi! Jika dia bukan anakku, lalu siapa?
Apa yang bisa kukatakan? - Laxmi, katakan sesuatu!
Mereka selalu mengakhirnya secara mendadak.
Laxmi tak diberi kesempatan untuk menceritakan kebenaran,
dan sinetronnya bersambung.
Ibu, kau begitu serius menonton sinetronnya.
Kau harus mulai menulis skenario.
Sinetron kita pasti akan sukses, kan? - Diam!
Kau hanya seorang ibu, kakak ipar benar.
Priya, 'Shubh Vivaah' akan mulai sekarang.
Bawa remote-nya cepat! Ganti siarannya!
Cepatlah!
Ibu, ceritakan padaku apa terjadi minggu lalu!
Minggu lalu pintu bel berbunyi dan Mandira membuka pintu.
Musiknya sangat menakutkan.
Ibu, tidak ada satupun.
Harus menjadi 'orang tabung gas'.
Ganti siarannya! - Tekan itu!
- Ayolah! - Apanya yang salah? - Aku tak bisa menggantinya.
Tunggu sebentar! Akan kucoba.
Aku akan ketinggalan menonton 'Shubh Vivaah'.
- Baterainya mati. - Ganti saja dari panel TV.
Cepatlah! Sudah saatnya sinetronnya mulai.
Ibu, aku tak bisa mengganti siarannya.
Ada apa dengan TVnya? - Aku tak tahu.
Apa itu? - Tampaknya itu sinetron baru.
- Sinetron baru. - Rumah baru dan sinetron baru.
Baiklah! Semuanya baik-baik saja!
Lagi pula, 'Shubh Vivaah' sudah sangat membosankan.
Lihat, Ibu! Setelah semua kesengsaraan dan kesulitan,
Akhirnya kita bisa menempati rumah yang indah.
Rumahnya sangat bagus.
Tapi nak, apa kita perlu membayar mahal untuk itu?
Ibu, kebahagiaanmu tak ternilai harganya bagi kami.
Kakak dan aku sudah mengambil pinjaman.
Dan Ibu, kita akan membayar kembali pinjaman itu secepatnya.
Penjaga!
Ya Tuhan, hukuman apa ini?
Ada apa? Kenapa kau terengah-engah begitu?
Aku menaiki 13 lantai dengan tangga.
Aku sudah memberitahu penjaga bahwa liftnya tidak bekerja.
Tapi dia tak melakukan apapun.
Berikan padaku! - Terima kasih.
Ya Tuhan. - Apa?
Gambarnya masih belum dipasang. - Apa yang bisa kulakukan?
No comments yet. Be the first to leave one.