The first 200 lines.
NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN
Saat Angin Perubahan mengubah bentuk seluruh gurun,
pada 1947, India tersapu dan sejarahnya berubah.
India terpecah, semangatnya hancur.
Beberapa orang kabur untuk bertahan hidup
dan lainnya mulai tinggal di desa telantar.
Di perbatasan Rajasthan,
Munabao salah satu desa itu.
Aku ditugaskan di sini
sebagai inspektur polisi.
Bertahun-tahun berlalu dan rambutku memutih.
Kejahatan hanya perkelahian kecil
dan kehidupan cukup damai.
Lalu, angin puyuh menyapu desa ini
dan keadaan mulai berubah lagi.
Itu tahun 1985.
Aku menemukan diriku di tengah badai itu.
MUNABAO, RAJASTHAN
Kau pasti sangat merindukanku.
Tonjolan itu juga bilang kau begitu.
Ayo! Cepat lakukan. Kita akan dibunuh jika ketahuan.
Aku mungkin akan mati
melihatmu menikah dan pergi.
- Di mana Babita? - Dia pergi ke kuil.
Berengsek!
- Apa itu? - Itu aku, Sayang.
Ini! Ayo.
Hei! Berengsek!
Dasar bodoh.
Dia kira bisa mengalahkan pria.
Ceritakan semuanya lagi.
Aku pergi ke kuil Dewi untuk menyalakan lampu.
Saat kembali,
aku menemukan mayat mereka terbaring di sini.
Kau pergi ke kuil sendirian?
Hidupku hancur...
- Kapan pernikahanmu? - Itu akan dilakukan besok!
Semuanya hilang. Uang, mahar! Mereka tak menyisakan apa pun.
Saat kembali, apa kau melihat seseorang?
Apa mereka mengancam anggota keluargamu?
Beri kami detailnya!
Dengar, kami tahu kau kenal mereka.
Bhure.
Cukup.
Ayo, pergi.
- Pak, dia tak tahu apa-apa. - Dia berbohong.
Dia akan segera menikah. Kenapa dia berbohong?
Ini tentang kehormatan keluarga.
Dia akan menyembunyikan kebenarannya.
Rumah ini adalah gudang obat.
Para perampok mempermainkan kita. Mencuri mahar sebagai kedok narkoba.
Kau hebat, Pak.
Dia sungguh hebat, 'kan?
Itu langkahku. Sekarang giliranmu.
Hei!
Apa maumu?
Ada pekerjaan di kota. Butuh orang terpelajar.
Kenapa?
Bisa hasilkan uang.
Warga kami, Panna, pernah bekerja di kota.
Dia juga terpelajar.
Namun, sedang pergi.
Itu rumahnya.
Ya?
Mau bertemu Panna.
Kapan dia kembali?
Ada pekerjaan di kota. Dia akan dapat uang banyak.
Dia kembali lima atau enam hari dan pasti bawa hasil panen.
Siapa namamu?
Astaga!
Pak.
Haruskah kirim mayatnya untuk postmortem ?
Cari tahu identitasnya dahulu.
Nak,
kau ke sini tiap hari?
Apa kau pernah lihat orang lain di sini?
Kau kenal dia?
Pak,
sepertinya ulah perampok yang sama.
Mereka bukan perampok, tetapi penyelundup.
Monster kejam! Mereka menyiksanya sampai mati.
Burung nasar jenis lain mengitari Munabao.
Pak, kami menemukan ini padanya.
Aneh! Pembunuhnya meninggalkan opium, tetapi mengambil telinganya.
Ada foto di sini. Apa ada nama juga?
Pembunuhan ini lebih mirip peringatan.
Peringatan apa?
Seperti poster film yang akan datang.
"Segera tayang di Thar.
Untuk pertama kalinya di layar lebar.
Penuh darah, narkoba, dan kekerasan.
Sebuah badai!"
Pak.
Suruh informan kita bekerja.
Setidaknya kita dapat petunjuk!
Halo, Pak.
Halo.
- Halo. - Halo.
Halo.
- Halo, Pak. - Semua aman?
- Bawakan dua cangkir teh. - Ya, Pak. Segera.
- Serta camilan untuk mereka. - Ya, Pak.
Pak, aku belum pernah melihat orang ini.
Cari tahu siapa dia.
Tuan.
Punya korek api?
Itu korek api mewah! Boleh minta rokok?
Terima kasih.
Sepertinya kau bukan dari sini.
Pak, ini tehmu.
Pak, dia seperti bintang Hollywood.
Dia pengusaha.
Dia menjual barang antik.
- Aku yakin dia punya nama. - Namanya!
Dia hanya ucapkan empat kata.
"Teh. Camilan. Berapa harganya?"
Dia biasa datang dan membaca koran di pojok.
Makhan.
Kau kenal dia?
Dia...
Dia Suva.
TARAGARH
- Selamat malam, Pak. - Selamat malam.
Hai.
- Hai. - Hai.
Jangan coba jadi polisi super.
- Artinya? - Artinya!
Cukup tanya, dapatkan jawaban hanya dengan kata-kata.
Bukan pistolmu.
Jangan berlebihan.
- Hmm. - "Hmm"? Itu saja?
Kau menatap langit-langit semalaman.
Pulanglah dengan selamat.
Aku sudah dengar ini 25 tahun.
"Pulanglah dengan selamat!"
Bermain aman mungkin alasan
aku tak pernah promosi.
Promosi yang membuatmu mati tak berguna.
- Tak ada gunanya bicara denganmu. - Maka jangan.
Ikuti ucapanku. Itu bagus untuk kita.
- Kau sedang apa? - Belajar.
Jangan terlalu keras. Kau akan lulus.
Jadi? Aku akan menjadi perwira IPS.
Lalu, aku akan datang sebagai bos dan memberi Ayah perintah.
Ya! Ayah butuh itu. Bahkan kau memerintah Ayah.
Baik perampok, mafia narkoba, atau lainnya.
Aku ingin seluruh area ini dibersihkan.
AKBP ini menggangguku. Kau harus tangani ini.
Ya, Pak.
Saat kita kecil, perampok adalah pemberontak dari kasta rendah.
Pemuja Dewi Bhavani.
Mereka berprinsip, tak seperti orang-orang ini.
Apa pun itu, temukan mereka.
Aku Rajput, bukan Nawab.
Aku tak membungkuk untuk AKBP atau menteri.
Beri aku waktu, Pak. Investigasi sedang dilakukan.
Kau hanya inspektur.
Puas bisa pensiun beberapa bulan lagi.
Kau tak peduli.
Namun, aku ingin jadi Dirjen.
Jadi, perampok atau penyelundup, bunuh semua dan tutup kasus ini.
Anak pintar, Tiger! Kau harus tangkap perampoknya!
Tangkap dan bawa mereka ke sini. Seperti itu. Benar, 'kan, Tiger?
Ayo!
Kau bukan harimau walau dipanggil "Tiger".
Kau tetap anjing!
Dia belum kembali.
Dengar!
Pasti satu atau dua hari lagi.
Tolong tunggu.
Dia bisa melakukan tugasmu ini.
Aku sedang siapkan mentega untuk buat minyak samin.
Ada susu mentega segar. Cobalah. Itu akan mendinginkanmu.
Apa gelandangan itu sudah gila?
Biarkan. Siapa yang mau debat dengan wanita tanpa anak itu?
Dia akan meneriaki kita. Tunggu Panna. Dia akan memberitahunya.
Kau pernah naik "Eagle Wagon"?
Apa itu?
Yang terbang di udara.
Ya.
Kau tak takut?
Tidak.
Dia bilang di telegram akan tiba dengan bus pagi ini.
Namun, belum sampai. Jika bisa, dia tak akan kembali.
Saat baru menikah, kita tak diizinkan turun ranjang.
Kini, mereka jarang pulang.
Maaf! Aku tak tahu ada tamu. Aku...
Tunggu! Tolong ulangi siapa namamu?
Siddharth.
Benar, Pak Siddharth.
- Sudah kuceritakan kepadamu. - Ya.
Ini Gauri. Istri Dhanna.
Aku pamit.
Dengar. Tolong jangan rekrut orang lain.
Katanya akan kembali satu atau dua hari.
Tatapannya sangat tajam.
Dia pria baik.
Kita sampai...
- Haruskah kita minum teh? - Hentikan busnya!
Berhenti!
No comments yet. Be the first to leave one.