The first 200 lines.
Ayah.
"Episode 103"
Ya, Dae Ryook?
Do Ran, kamu sudah bilang kepada Pak Kang?
Aku tidak bisa menemukannya. Aku tidak melihatnya.
Apa yang harus kulakukan?
Apa maksudmu?
Dia ke mana?
Apa maksudmu? Kamu di mana?
Dae Ryook, aku harus pergi.
Aku harus pergi.
Pak, tunggu!
Ayah!
Ayah!
Pak, tunggu!
Sopir, tolong hentikan busnya.
Ada wanita yang mengejar bus.
Astaga.
Maaf.
Do Ran.
Ada apa?
Ayah.
Aku amat cemas tidak bisa menemukan Ayah.
Do Ran, ada apa?
Ayah kira ayah sudah cukup menjelaskan alasan ayah pergi.
Ayah tidak membunuh siapa pun.
Itu salah tuduh.
Do Ran, apa maksudmu?
Pria tunawisma itu mengakui semuanya.
Ayah tidak membunuh siapa pun.
Itu tayang di berita. Dia pergi ke polisi
untuk mengaku dan menyerahkan diri.
Apa?
Apa kamu
yakin soal itu?
Ya.
Ya, aku yakin.
Bagaimana
ini bisa terjadi?
Bagaimana...
Jadi, tolong jangan pergi.
Ayah tidak harus pergi. Ayah tidak berbuat salah.
Do Ran, di mana Pak Yang?
Maksud ayah, di mana pria itu?
Pak Yang.
Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.
Jika aku tidak mengejarmu saat itu,
hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.
Aku hanya berusaha mengancammu,
tapi aku terlalu emosional.
Maaf.
Mendiang istriku dan aku
berbohong.
Bahkan...
Bahkan jika begitu...
Teganya kamu
menjebakku atas dosa seperti itu.
Aku hidup dengan rasa sakit yang besar setiap harinya.
Teganya kamu melakukan ini kepadaku.
Dia lebih baik hidup sebagai yatim piatu
daripada sebagai putri pembunuh.
Dia pembunuh!
Teganya kamu melakukan ini.
Teganya.
Aku tidak mau putraku
hidup sebagai putra pembunuh.
Dia sudah sering bermasalah.
Aku takut dia tidak menyintas di dunia ini
jika dicap anak pembunuh juga.
Kamu hanya memedulikan putramu?
Bagaimana dengan putriku? Bagaimana dengan hidupnya?
Aku harus berpisah dengannya saat dia masih kecil.
Dia bercerai
karena dia anak pembunuh.
Dia dipermalukan orang lain.
Tahukah kamu rasa sakit
yang harus dia lalui?
Aku dihukum karenanya.
Aku hidup dengan cemas seumur hidupku.
Bisnisku bangkrut.
Istriku meninggal karena kanker.
Serta putra tunggalku juga mati.
Kini aku tunawisma, tidak punya apa-apa.
Aku segera akan mati karena kanker juga.
Aku hanya punya rasa sakit.
Aku menderita karena perbuatan kejiku.
Maaf.
Aku sungguh minta maaf.
Kamu tidak akan percaya,
tapi aku pergi ke kantor polisi berkali-kali
untuk mengakui kebenarannya.
Aku amat takut sampai tidak jadi terus.
Tapi menantumu mengadakan pemakaman untuk putraku
dan membuatku berubah pikiran.
Setidaknya sekali dalam hidupku,
aku mau menjadi manusiawi.
Maaf.
Aku tidak berhak mendapatkan pengampunanmu.
Aku tidak percaya ini.
Tidak bisa.
Detektif.
Ayahku
menghabiskan 28 tahun di penjara
karena salah tuduh atas pembunuhan.
Karena salah tuduh itu,
dia kesulitan seumur hidupnya.
Seseorang harus maju dan menjelaskan.
Katakan sesuatu.
Siapa yang akan mengompensasi
ayahku atas hidupnya yang penuh penderitaan ini?
Katakan sesuatu.
Cepat katakan sesuatu.
Do Ran, ayo pergi.
Kita tidak ke mana-mana.
Keluar dan katakan sesuatu.
Ayahku tidak bersalah
dan siapa yang menghukumnya seumur hidup?
Siapa pun?
Keluar dan katakan sesuatu.
Katakan
setidaknya sepatah kata.
Kumohon.
Begini...
Aku merasa bersalah,
tapi jika begini, Anda bisa meminta sidang ulang
atau mengklaim kompensasi atas kerugian
terhadap negara.
Kami akan berusaha sebisa kami
untuk membantu Anda dengan prosedurnya.
Kompensasi untuk kerugian?
Kompensasi untuk kerugian...
Berapa banyak uang
yang cukup untuk mengompensasi
ayahku
atas semua rasa sakit dan waktu yang terbuang?
Katakan kepadaku, Detektif.
Cepat katakan kepadaku.
Berapa banyak uang yang cukup?
Katakan sesuatu!
Do Ran, ayo pergi.
Ayo.
Do Ran.
Tidak apa-apa.
Semuanya sudah berakhir.
Tidak apa-apa.
Ayo.
Ya, Ayah.
Do Ran.
Ayah.
Dae Ryook.
Kamu membuat Pak Yang mengaku.
Ini semua berkat kamu. Terima kasih.
Terima kasih banyak.
Jika bukan karenamu,
kita tidak akan tahu selamanya.
Terima kasih banyak.
Tidak perlu sungkan.
Aku senang kebenarannya sudah terungkap
walaupun sudah terlalu terlambat.
Benar, aku berusaha melihat hikmahnya.
Kenapa Hong Joo tidak menjawab teleponnya?
Kita harus menemui Pak Kang dengannya.
Kita mau pergi dengannya?
Tapi mereka sudah putus.
Sudah terungkap dia tidak bersalah.
Dia tidak membunuh ayahmu,
jadi, bibimu boleh menemuinya.
Ada alasan dia harus menemuinya juga.
Alasan apa?
Itu...
Terserahlah.
Kamu akan tahu cepat atau lambat.
Bibimu hamil.
Astaga. Bayinya Pak Kang?
Ya.
Astaga. Dia sudah gila?
Bukankah dia terlalu tua untuk melahirkan?
Banyak yang kini melahirkan di usia senja.
Tetap saja ini tidak benar.
Apa Bibi
akan melahirkan bayi Pak Kang
bahkan sebelum nama Pak Kang dibersihkan?
Karena itukah Ibu merahasiakannya dariku?
Dia bisa apa lagi?
Selain itu,
impian hidupnya memang punya anak.
Tetap saja.
Aku tidak bisa memahaminya.
Ayo pergi, Da Ya.
Aku tidak mau pergi.
Da Ya.
Jujur saja.
Kita mengira dia membunuh ayah kami.
Itulah alasan kita membencinya.
Kita bukannya sengaja melakukannya.
Kita juga bukannya menjebaknya.
Itulah alasan kita harus pergi dan meminta maaf.
Memang benar kita salah memperlakukannya
tanpa tahu kebenarannya.
Benar. Ayo pergi dan meminta maaf.
No comments yet. Be the first to leave one.