The first 200 lines.
Poong Sang datang dan membuat surat perjanjian jual organ,
dia menyelamatkanmu.
Dia berjanji akan menjual ginjal, liver,
juga matanya kalau dia gagal membayar hutang.
Kalau kamu dijual ke suatu pulau,
Aku yakin kamu gak akan hidup sekarang.
Oppa rela menjual organ..
demi Jeong Sang.
Apa yang sudah kamu lakukan untukku?
Gak ada, kan?
Seumur hidup aku gak mau ketemu Oppa lagi.
Jadi Oppa gak usah cari aku juga!
Kamu harus memasukkan Wae Sang ke panti asuhan.
Mereka akan membesarkan dan menyekolahkan dia lebih baik.
Berikan juga Hwa Sang kepada keluarga lain.
Dengan begitu baru kamu bisa hidup.
Bagaimana caranya kamu membesarkan 4 adik?
Hwa Sang, ayo. Ikut dengan ku.
Poong Sang, aku tidak mau pergi.
Aku tidak akan melepaskannya.
Hwa Sang lebih kuat,
keluarga lain akan menyayangi dia juga.
Jeong Sang itu lemah.
Anda bawa Jeong Sang saja.
Dia pandai,
dia akan berhasil dimanapun dia berada.
Hwa Sang harus tetap bersamaku.
Tidak, aku mau tetap bersama Oppa.
Poong Sang, aku akan jadi anak baik,
aku tidak akan makan banyak.
Jangan suruh aku pergi.
Tidak.
Tidak akan.
Poong Sang.
- Boon Sil! - Aduh.
Kaget banget.
Kudengar kamu mendonorkan livermu.
Apalagi pilihan yang aku punya?
Yang punya yang harus menjadi donor.
Kalian semua tidak bisa mendonor.
Jangan ngomong begitu. Kamu membuat aku jadi sedih.
Jangan lakukan itu.
Maksudku, kamu memiliki Joong Yi,
kamu juga harus merawat Poong Sang.
Keputusanku sudah bulat.
Batalkan saja.
Jangan keras kepala dan dengarkan aku.
Aku tidak mau hidup dengan merasa bersalah kepadamu.
Lagipula Poong Sang tidak akan mau menerima livermu.
Jangan katakan apapun pada Poong Sang.
Kalau kamu buka mulut..
Paham kamu?
Sialan.
Hey.
Apa yang sudah kamu lakukan?
Kenapa kamu meminta liver nya Boon Sil?
Aku tidak punya pilihan lain.
Saudara kita banyak. Kenapa harus dia yang menjadi donor?
Ini gak masuk akal!
Jeong Sang, aku tutup telponnya.
Kamu kenapa, Boon Sil?
Kamu mau aku ngamuk?
Sejak menikah kamu selalu menderita.
Apa kami juga harus mengambil liver mu?
Sial. Kamu gak salah apa-apa!
Salahmu hanya menikahi Poong Sang.
Dan aku mak comblangnya.
Katamu aku yang mengejar Poong Sang.
Saat aku melihatmu,
Aku tahu kamu cocok dengan Poong Sang.
Karena itu aku..
berlari ke kantor tempat kamu berkerja dan..
memintamu menikah dengan Poong Sang.
Aku yang minta kamu jadi kakak iparku.
Jadi mana tega aku..
mengambil livermu juga?
Apa jadinya aku?
Mana lagi aku punya muka di hadapanmu?
Haduh.
Apa aku bukan keluarga?
Anggap saja ini takdir.
Jangan terlalu bersedih.
Boon Sil.
Ada apa?
Suasananya berasa aneh.
Kita cuma ngobrol kok.
Apa kamu pergi jalan-jalan?
Iya.
Hey, tanggal operasinya sudah ditetapkan.
Syukurlah, aku mendapat donor.
Aku sudah bilang ke dia.
Sepertinya aku ditakdirkan untuk terus hidup.
Selamat.
Kenapa dengannya?
Apa kamu ngomelin dia?
Aku suruh dia bekerja..
untuk membantu keuangan kita, dan dia ngambek.
Jangan lakukan itu. Bisa-bisa dia berjudi lagi.
Hwa Sang.
Bagaimana keadaan Poong Sang?
Dia akan di operasi minggu depan.
Boon Sil akan jadi donornya.
Apa dia sudah gila?
Seharusnya kita yang jadi donor. Kenapa malah dia?
Kita memang ingin, tapi situasinya..
Lupakan saja.
Ayo lakukan..
seperti saranmu. Kamu dan aku.
Kita berdua jadi donor.
Hwa Sang mengatakan itu?
Iya.
Kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran?
Aku juga tidak tahu.
Dia datang terburu-buru dan meminta kita melakukan nya.
Syukurlah.
Meskipun dia tidak bersungguh-sungguh, aku sangat bersyukur.
Tapi biar aku yang melakukannya.
Kamu sudah menikah, Hwa Sang juga harus menikah..
dan memiliki anak.
Kenapa terlalu mengkhawatirkan kami?
Apa Eonni juga mengkhawatirkan diri Eonni sendiri?
Hwa Sang dan aku sudah berbicara.
Dan aku juga belum berencana memiliki anak dalam waktu dekat.
Tidak, kita lakukan sesuai rencana awal saja.
Boon Sil.
Sudah seharusnya saudara yang menjadi donor.
Kamu ada kewajiban lain.
Kamu harus merawat Poong Sang.
Kami berempat..
sangat menyesal telah membiarkan kamu..
merawat Poong Sang seorang diri.
Turuti saja ini, Boon Sil.
Kami sudah membuat keputusan.
Aku ingin bertemu Hwa Sang.
Tidak sekarang.
Aku tidak punya muka untuk bertemu dengan Poong Sang...
ataupun Boon Sil.
Aku sangat menyesal dengan kelakukanku.
Rasanya aku tidak bisa menghadapi mereka sekarang.
Kalau operasinya lancar,
aku akan menemui mereka.
Rahasiakan kalau kita yang menjadi donornya, ya?
Tentu saja.
Kalau sampai tahu, Poong Sang gak akan mau menerima.
Rahasiakan sampai kita mati.
Apa kamu mau bersamaku sampai saatnya operasi?
Kita tidak bisa berada di satu ruangan.
Hampir 10 bulan kita berada di dalam kandungan..
dan itu hampir membunuhku.
Pergi dulu.
- Sampai saatnya operasi.. - Aku tahu. Aku tahu.
Aku tahu apa saja pantangannya.
Lebih cepat. Cepat.
Ngapain dia?
Oh, itu..
dia merasa bersalah kepadamu.
Jin Sang, aku perlu bicara denganmu.
Apa? Kamu gak jadi operasi?
Apa maksudmu?
Jeong Sang dan Hwa Sang yang akan melakukannya.
Mereka memintaku membatalkannya.
Kamu gak perlu olah raga keras lagi.
Sialan.
Apa yang kalian lakukan?
Kalian pasti menganggap aku pecundang.
Tidak masalah kalau kamu pecundang.
Kita harus menyelamatkan Poong Sang. Waktu kita menipis.
Kita akan kehabisan waktu kalau nunggu kamu.
Kamu harus tetap olah raga. Livermu berlemak.
Kamu bahkan gak bisa jadi donor.
Jangan meminta liver pada kami di kemudian hari..
jaga kesehatan. Aku gak mau dioperasi 2 kali.
Kamu cuma bisa mendonor sekali.
Kalau pinter gak usah sombong.
Aku ini dokter.
Aku tahu kamu dokter.
Kamu selalu berkata, "aku dokter."
Tukang pamer.
Kok bisa kalian sepakat kalau berkelahi terus seperti ini?
Kapan operasinya?
- Minggu depan. - Minggu depan?
Akan kupastikan..
liverku bersih dalam seminggu.
Jangan omong kosong.
Mana bisa menghilangkan lemak dalam seminggu?
Aku pasti bisa.
Aku ini nomor 1.
Kalau aku menjadi donor, pasti Poong Sang mau menerima.
Berpikirlah rasional.
- Oppa gak perlu ikut-ikutan. - Aku juga ingin hatiku damai.
Aku ingin hidup dengan baik.
Mana bisa lagi aku hidup dengan mengangkat kepalaku?
Kalau gitu gak usah angkat kepalamu.
Biasanya kamu kan selalu menunduk.
Bagaimanapun,
kalian berdua jangan lakukan ini.
Kenapa sih dia gak bertekad seperti itu sebelumnya?
Bagaimana perasaanmu?
Apa kamu yakin?
Awas saja kalau kamu berubah pikiran.
No comments yet. Be the first to leave one.