The first 193 lines.
[Nama, bisnis, tempat, dan insiden yang disebutkan hanyalah fiksi.]
Kubilang aku ingin tetap berteman denganmu.
Kubilang aku ingin terus menemuimu.
Aku menerimanya tiga tahun lalu,
jadi kau terima mulai sekarang.
Kau masih memikirkan dirimu sendiri.
Orang-orang berengsek selalu memikirkan diri sendiri.
Kau bilang
harus menjaga diri sebelum orang lain.
Aku akan mengakhiri kutukan itu, kau, dan semuanya,
sebelum aku pergi.
Bagaimana mengakhirinya?
Kutukan, aku, semuanya.
Kutukannya
sudah rusak sekarang.
Bu?
Bisakah kembalikan posisi kursimu?
Ini berbeda.
Woo-yeon?
Aku merindukanmu.
Kau tidak di sini besok.
Apa ini permintaan maafmu?
Ini hanya jus apel.
Tidak apa-apa tersesat
karena itu akan menunjukkan jalannya.
Aku sudah gila.
Panas.
Apa yang kuharapkan?
Apa? Kenapa dia ada di sana?
Pemilik penginapan rekomendasi Sang-hyeok
adalah teman ayah Soo.
Dia mengetahuinya lewat Soo.
Lalu? Kau sedih.
Itu sebabnya kau membuat 45 lilin ini?
Aku tidak sedih.
Aku hanya membuatnya. Tidak ada alasan.
Kenapa kau sedih?
Apa hatimu gelisah lagi?
Dasar bodoh, penurut, teripang.
Aku tidak gelisah.
Kau tidur dengannya?
Astaga. Ayolah, Young-hee.
Kau banyak menghabiskan malam dengannya.
Berapa matahari yang kau lihat di sana?
- Hanya ada satu matahari. - Omong-omong.
Bagaimana kalian tidak melakukan apa pun?
Pulau Jeju adalah pulau yang romantis.
Ada apa? Kenapa wajahmu memerah?
Kau melakukan apa hingga tersipu?
Aku tidak melakukan apa pun.
Benar juga.
Aku mematahkan kutukan itu.
Bagaimana kau mematahkannya?
Aku melarang kami untuk bertemu lagi.
Kurasa kami tidak akan punya kesempatan untuk bertemu.
Jika kau bisa menghancurkan kutukan itu dengan keinginanmu,
akankah butuh sepuluh tahun?
Bagaimanapun juga, kutukan itu hancur.
Aku bingung.
Bukankah penyihir harus mati agar kutukan itu hancur?
Ada apa semalam ini?
Soo, ibumu...
Baiklah! Mari kita bercerai!
Ibumu dan Ayah memutuskan untuk berteman.
Kalian berteman setelah bercerai.
Kalian tidak terganggu pandangan orang?
Kau adalah angin. Kau pergi ke mana-mana.
Kalau begitu jadikan aku angin berbunga. Sesuatu yang cantik.
Jika dipikir-pikir, itu kejam.
Kenapa angin datang dan membawa kelopak bunga?
Dia pasti tidak bermaksud membawanya.
Mungkin dia datang untuk melihatnya.
Datanglah lagi. Di sini menyenangkan bersamamu.
Kurasa aku tidak akan ada di sini meski kau kembali.
Kau tidak akan ke Seoul?
Tidak, aku tidak akan pergi.
Begitu rupanya.
[Tapi ini kota yang tidak pernah ingin kutinggali.]
Kukira dia hampir mati.
Ayah bahkan membuat Paman mengatakan itu.
Kami sungguh mengira dia akan mati.
Punggungnya hanya keseleo.
Kau tidak tahu betapa pentingnya punggung seseorang?
Dengan semuanya, jika inti patah...
Ibu sangat merindukanmu.
Tapi kalian tidak ada saat aku merindukan kalian.
Soo.
Aku pergi. Aku lelah.
Ayah akan mengantarmu.
Jangan tiba-tiba bersikap begitu peduli.
Ini canggung.
Kurasa cara kita membesarkannya salah.
Hei, boleh kupinjam staplermu?
Tentu.
Kau membeli semua itu untuk dimakan?
Aku membelinya saat kadar gula darahku turun.
Jika terus makan ini, penampilanmu akan menurun.
Kau harus tetap bugar agar bisa dicintai.
Kau juga.
Kau tidak boleh puas karena sudah punya kekasih.
Terus bekerja keras.
Alih-alih merasa nyaman dengan pacar lamamu,
sudah sewajarnya melanjutkan
menjaga bentuk tubuh semakin lama kalian bersama.
- Benar, bukan? - Tentu.
Apa ini?
Tidak bisa terus melihat hal buruk.
Aku harus melihat hal-hal baik sesekali.
Bagiku mereka tidak tampak sehebat itu.
Apa bedanya denganku?
Mereka agak berbeda darimu.
Aku suka orang-orang ini bahkan saat mereka tidak melakukan apa pun,
sedangkan aku berharap kau tidak melakukan apa pun.
Aku tidak pernah menyadari betapa jenaka dirimu.
Terima kasih atas pujiannya.
Sudah lama aku penasaran.
Apa kau terlahir kaya?
Satu-satunya masa tenang hidupku
adalah tanganku patah saat SMP.
Begitu rupanya.
Lalu kenapa kau selalu percaya diri?
Aku akan berhati-hati jika bisa kehilangan banyak hal,
tapi aku hanya punya tubuh dan harga diri ini.
Hanya kedua hal itu yang kumiliki.
Setidaknya aku harus melindungi keduanya.
Lagi pula, mereka tidak membayarku untuk mengambil harga diriku.
Jangan merendahkan dirimu juga.
Jika begitu, kau harus menundukkan kepala dan berlutut.
Pada akhirnya, kau akan berakhir seperti ini.
Dia keren sekali.
Ya, Ibu.
Benar juga. Ulang tahun Ayah?
Di rumah?
[Hanya keluarga kita yang makan malam untuk ulang tahunnya,]
[jadi jangan beli apa pun. Datanglah apa adanya.]
Baiklah. Pukul berapa aku harus datang?
Pukul 13.00?
Bukankah Ibu bilang ini makan malam?
Ya, tentu saja.
Kita harus bersiap di siang hari agar bisa makan di waktu makan.
Baik, aku mengerti. Baiklah.
Maksudnya, datang dengan pakaian santai.
Aku harus memakai pakaian kerja.
Aku tidak butuh pengkhianat sepertimu.
Aku melakukannya untukmu.
Kau pasti ingin aku akur dengan orang tuaku.
Aku hanya ingin kau baik-baik saja.
Seharusnya tidak mendorongku untuk datang ke Seoul.
Seoul bagus. Cantik.
Aku tidak suka Seoul. Ini membosankan.
Kau tidak bosan. Kau kesepian.
Jika kau mengabaikannya, itu akan tumbuh di luar kendali.
Terutama untuk kebencian.
Dia menyerap kenangan dan terus tumbuh.
atau curahkan kenangan yang terpendam dalam dirimu.
Jangan dibiarkan begitu saja.
Apa ini? Kau minum-minum?
Kau di Jeju sekarang?
[Aku ingin memesan sampul paspor kaligrafi untukku dan kekasihku.]
Aku lapar sekali.
[Mereka yang ditakdirkan bertemu akan bertemu]
Terima kasih.
Woo-yeon.
Hai.
Aku menyalakan televisi di rumah.
Listrik itu mahal dan pajaknya bisa menumpuk.
Aku akan pergi.
Woo-yeon.
Kenapa kau pergi begitu saja? Aku menyapa.
Kau ke sini untuk dengar, "Hai?"
Aku tidak mau mendengarnya lagi.
Kenapa kau merusak hariku?
Kenapa mengabaikanku?
Kau yang mengabaikanku.
Sudah kubilang, aku tidak mau bertemu denganmu lagi.
Dengan itu, maksudku
kita harus bersikap seperti orang asing bahkan jika bertemu.
Aku tidak pernah menyetujuinya.
Aku juga punya pertanyaan untukmu.
Kenapa kau menciumku hari itu?
Hei.
Bagaimana kau bisa mengatakan itu dengan santai?
Lalu kau ingin aku melakukan apa?
Kau akan jawab kalau aku malu-malu?
Kubilang, kenapa kau menciumku?
Apa semuanya lelucon bagimu?
Ini menyenangkan dan permainan bagimu, bukan?
Ini bukan lelucon, tapi pertanyaan.
Tentu.
Aku akan minta maaf
untuk hari itu.
- Apa? - Saat orang lain mencium seseorang,
mereka bertanya harus minta maaf atau mengakui perasaan mereka.
No comments yet. Be the first to leave one.