The first 200 lines.
NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN
HALO, ORANG ASING
SENANG BERJUMPA DENGANMU
AYO KE BIOSKOP
BAGAIMANA MENURUTMU?
Sekarang pukul tiga pagi. Kau salah nomor.
HAHA, LUCU SEKALI…
INI AKU!
KAU MEMBERIKAN NOMORMU KEPADAKU
Kau salah nomor. Aku ingin tidur, Bodoh.
Aku tak pernah membayangkan pesan itu akan mengubah hidupku,
tetapi kebetulan bisa terjadi.
Biasanya, hidupku sangat terstruktur.
Sejak kecil, kegiatan favoritku adalah menonton film bersama orang tuaku.
Lalu aku mulai membuat film sendiri.
Hai, aku Valeria.
Aku bisa melihat segala hal dengan kamera ini.
Orang tuaku tak suka itu.
Hai, Vale di masa depan.
Ingat, rekam semua yang ada di dunia ini.
Kata mereka, aku terlalu berlebihan.
Mereka pikir film itu mencandukan
dan tak baik untukku.
Psikolog bilang aku butuh stimulasi, dan menyarankan semua kegiatan sosial.
Kelas balet, fokstrot, senam,
seluncur indah, melukis, memahat,
bahkan berseruling.
Tetapi semuanya gagal.
Ini dinding kegagalanku, dan aku sedang menulis kegagalan baruku.
GITAR, PIANO, MENYANYI (SANGAT SULIT), BALET
Hingga suatu hari, aku melakukan dosa yang amat besar.
Aku ingin belajar film.
Bu, membuat film itu menyenangkan.
"Tidak, Vale. Itu hanya hobi."
"Valeria! Rekaman apa itu?"
Itu berarti tak mengambil alih bisnis keluarga.
Lift Ontiveros
Tak semenyenangkan itu. Itu hanya lift.
Lift.
"Tidak, Valeria. Jangan belajar film."
"Kau harus menjadi bagian dari Lift Ontiveros."
- Itu rekaman baru, 'kan? - Ya, Ayah.
Ini bukan rekaman baru.
Video pernikahan!
Sebagai bagian dari rutinitasku,
setiap pagi, kami meminum smoothie yang sama untuk sarapan
dan membicarakan kegiatan hari itu.
Apa rencanamu hari ini?
Aku tetap sayang mereka.
Aku berangkat dulu.
Yah, namanya juga orang tua.
Semoga berhasil.
Apa maksud "semoga berhasil"?
Tepat pukul tujuh, Regina datang menjemputku.
Yah, tujuh lewat sepuluh.
Atau sekitar pukul tujuh.
Vale, aku di simpang.
Ini juga bagian dari rutinitasku.
Regina sahabatku sejak usiaku lima, dan dia selalu terlambat.
Dia salah satu orang yang hidupnya mulus-mulus saja.
Tak sepertiku.
Hai.
Hai, Kawan.
Maaf, Sayang. Ini gara-gara Ritchie.
Hai, Vale.
- Hai, Ritchie. - Baik, ayo.
Salah siapa kita selalu terlambat selama lima tahun terakhir? Jujur.
Kebenaran itu, seperti waktu, relatif.
Mereka tak pernah mengerti leluconku.
Kau konyol, Vale.
Tetapi mereka selalu ada untukku.
Halo, Para Pecinta Ritchie-ku.
Dia Ritchie.
Dia kakak Regina, dan misi hidupnya adalah melindungi kami.
Yah, itu menurutnya.
"Pecinta Ritchie"? Sejak kapan?
Ayolah!
Keraskan!
Ya!
Tetapi kenyataannya…
tak ada yang mengenalku.
Tetapi aku menyenangkan.
Maaf.
Maaf. Bisa kuganti nanti?
- Aku tak boleh terlambat. - Ya, gurumu akan memarahimu.
Tenang. Aku hanya berusaha sopan.
Baik, jangan lewatkan kelas matematikamu.
Kau kenapa?
Ada apa? Apa kita terlambat?
Ini hari yang sangat buruk,
tetapi aku bisa menerimanya.
Aku air.
Aku air.
Hei, Anak Baru!
Kau akan menang hari ini. Kau di timku.
Ritchie.
Tangkap, Bung.
Baik, Semua, bentuk tim lima orang. Kemari.
Aku tak pernah menyangka sekolah baruku akan mengubahku.
Alex…
Dengar, beasiswa yang kami tawarkan
akan membuka jalan ke universitas mana pun di dunia.
Sayang…
Pengacara!
Seperti ayahnya.
Pengacara Alex.
- Ya ampun! - Selamat.
Aku air.
Air mengikuti bentuk wadahnya, maka jadilah seperti itu.
Jadilah seperti air.
Itu kata-kata terakhir ayahku.
Satu-satunya barang miliknya yang kusimpan adalah film kungfu.
Sejak hari itu, aku belajar dengan giat.
Aku menjadi murid terbaik di sekolahku.
Itu sebabnya aku dapat beasiswa ke sekolah swasta.
Kawan.
Kau bermain bagus.
Sangat bagus.
Terima kasih.
Di sini lebih sulit daripada sekolah lamamu, 'kan?
Mereka tak pernah mengalahkan kita.
Ya!
Aku terlambat masuk kelas.
Kami tetap di sini. Ada pesta di rumahku, mampirlah.
Tidak, Kawan.
Serius. Akan lebih baik jika kita membandingkan sudut pandang kita
tentang kenyataan kita dan lainnya.
Ini beasiswa, aku bukan imigran.
Tentu saja.
Bawa kawanmu.
Pasti menyenangkan. Bawa baju renang.
Tidak, Kawan. Terima kasih.
- Kenapa? Kau takut berhasil? - Hei, Kawan.
Kita inklusif di sini, 'kan?
Ayolah.
Aku tak mau datang ke pestamu.
Dengar,
sudah setahun aku tak berkelahi.
- Kalian dihukum. - Kuhabisi kau.
Aku air.
Ramírez Pardo, silakan ambil hasil esaimu.
Hei, aku ingin meminta maaf karena membangunkanmu kemarin.
Semoga harimu menyenangkan.
Ontiveros, ponselmu.
Ya, maaf.
Kemari.
Ya.
Kenapa kau menyerahkan video alih-alih esai?
Itu esai visual.
Tidak, esai berbentuk kertas.
Karakternya berjumlah 1.700, 20 baris,
dengan namamu, tanggal,
dan judul di sisi kiri.
Ya, tetapi itu bisa ditafsirkan dengan banyak cara,
seperti esai visual, misalnya.
Tidak bisa. Nilaimu nol.
Tetapi, Bu, esai visualku jauh lebih baik
daripada menulis soal trinomial persegi sempurna.
Itu nilaimu karena bukan itu yang kuminta. Berikutnya.
Bukankah tugasmu adalah membantu kami jadi lebih baik?
- Boleh kulanjutkan kelasku? - Tidak.
Apa katamu?
Tetapi…
- tolong ubah nilaiku. - Aku tak bisa mengubahnya.
Kau tak mengerti.
Pahami dirimu terlebih dahulu, Ontiveros.
Guru yang akan bercerai untuk kali ketiganya tahu apa?
Kali kedua.
Aku tak menyangka kau akan bersikap begitu.
Tenang.
- Ada apa? - Itu hanya kertas.
- Aku memperjuangkan karyaku. - Ontiveros, kemari.
Apa lagi?
Ontiveros, kau dihukum.
Dihukum
Tak ada tindakan
Atau sensasi
Hanya sanksi
Tak ada tindakan
Atau sensasi
Hanya sanksi
Aku memaafkanmu.
Itu bukan bagian terburuk dari hariku.
Kau harus dengar ceritaku…
Hei, Ritchie, Alex!
Aku menghadiri pesta SMA kemarin. Itu sebabnya aku mengirimimu pesan.
Seorang gadis memberiku nomor yang salah.
Lihat.
Bagus!
Aku bersama sahabatku.
Dia selalu memberiku nasihat bagus.
Kadang, dia menyeretku keluar duniaku.
Ayo keluarkan dirimu dari duniamu.
Kau masih SMA?
Ya.
Aku akan lulus dari sekolah yang kubenci.
Semua orang di sini menyebalkan, dan aku tak mau mengenal siapa pun.
Atau dikenal siapa pun.
Sayang sekali gadis itu tak memberikan nomor ponselnya.
Tak seburuk itu.
No comments yet. Be the first to leave one.