The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX
Jadi, Sa-hyeon menyukai janda
yang sepuluh tahun lebih tua darinya?
EPISODE 3
Jika suamiku tahu…
Dengar.
Dalam hubungan pria dan wanita, hanya orang yang terlibat…
Tunggu, hubungan suami dan istri, ya?
Intinya, aku sulit memahami ini. Kau paham, 'kan?
Aku paham maksudmu.
Terkadang, aku pun bingung dengan situasi ini.
Dan tak tahu harus berbuat apa.
Aku hanya pernah menyukai pria tetangga saat SMA.
Lalu, aku dijodohkan dengan suamiku.
Meski Sa-hyeon anakku, kenapa dia…
Tak masuk akal bagiku.
Aku ingin dengar pemikiranmu sejujurnya.
Apa rencanamu selanjutnya?
Tak perlu terlalu formal denganku.
Aku bisa hidup berdua bersama anakku.
Itu rencanaku.
Semua ini salahku. Aku tak bertindak sesuai dengan usiaku.
Dia pasti tak akan melepaskan anaknya begitu saja.
Sa-hyeon berjanji pada istrinya
akan mengakhiri hubungan kalian.
Namun, apa menantuku bisa percaya?
Anak kalian terus bertumbuh setiap harinya.
Jika aku menjadi dia…
Dia ingin kau pindah.
Tanpa sepengetahuan Sa-hyeon, secepat mungkin.
Aku akan coba meyakinkan Sa-hyeon. Jika tak bisa, kuturuti keinginanmu.
Suamiku akan membelikanmu apartemen.
Jika aku tak bisa meyakinkannya,
aku akan menjual rumahku dan pindah sendiri.
Aku berjanji.
Tak perlu khawatir. Aku akan menepati janjiku.
Dia tak materialistis dan memiliki hati yang baik.
Minumlah. Kau pasti haus.
Bagaimana keadaanmu?
Aku mual dan tak bisa makan apa pun selama beberapa hari.
Namun, tak begitu parah.
Kau akan sengsara jika mual terlalu lama.
Aku tak apa-apa.
Dia benar-benar berbeda dengan Hye-ryung.
Tak mudah bagi wanita untuk hidup berdua dengan anak.
Aku tak seharusnya mengatakan ini,
tapi anak ini seperti karunia bagiku.
Aku sudah berusaha selama lima tahun menikah,
tapi tak dikaruniai anak.
Takdir yang aneh.
Aku akan mendapatkan janji Sa-hyeon dalam beberapa hari,
dan menepati janjiku.
Aku bisa pergi ke rumah kakakku di Jeju.
Kakakmu juga tahu?
Akan segera kuberi tahu.
Astaga. Dia pasti akan sangat terkejut jika mengetahuinya.
Omong-omong…
Menurutmu…
apa kakakmu bisa memaafkan Sa-hyeon?
Mungkin aku akan bilang bahwa aku dapat donor sperma.
Aku masih memikirkan beberapa alasan.
Kenapa?
- Itu Dokter Shin. - Dia di sini?
Kau tak bisa melihatnya?
Kau pasti salah lihat lagi.
Aku serius.
Makanlah daging.
Kau pasti kekurangan gizi.
Tidak begitu.
Terimalah. Jangan terus memikirkannya.
Tidak. Aku tak mau datang lagi.
Jika kau mau berhenti bekerja, katakan dengan sejujurnya.
Tak perlu mengada-ada.
Kau pikir dirimu cenayang?
Ibuku adalah cenayang.
Dia sudah meninggal.
Aku janji tak akan mempersulit keadaan.
Aku harus menggantikan anakku dan memperhatikanmu.
Aku belum bisa memberi tahu teman-temanku.
Aku akan menghubungimu jika butuh bantuan.
Saat hamil, kau pasti akan teringat pada ibumu.
Saat kau teringat ibumu dan butuh bantuan,
kau bisa menghubungiku.
Rupanya Sa-hyeon lelah dengan omelan, gerutu, dan keluhan Hye-ryung.
- Ya. - Ibu masih bicara dengannya?
Tidak.
- Ibu dalam perjalanan pulang? - Ya.
Ibu telepon lagi nanti.
Aku penasaran. Jadi, bagaimana?
Tanya langsung kepada dia.
Ponselnya mati.
Ibu telepon lagi setelah sampai di rumah.
Baiklah.
Tuhan.
Kini yang kumiliki hanyalah anak ini.
Aku akan lepaskan seluruh keserakahanku.
Aku hanya ingin mendoakan keselamatan anakku.
Kau bukan jemaat gereja kami, ya?
Ya, belum untuk saat ini.
Aku pernah melihatmu berdoa sebelumnya.
Aku mengingatnya karena kau terlihat sangat putus asa.
Aku pendeta di sini.
Rupanya begitu.
Berbicara dengan seseorang ketika mengalami kesulitan
bisa membantu meringankan beban.
Aku takut anakku terkena masalah karenaku.
Aku sedang hamil.
Kau berpikir bahwa kau melakukan kesalahan?
Ya.
Aku berbuat dosa tanpa disengaja.
Kira-kira begitu.
- Kau suka bunga, 'kan? - Ya.
Bunga mawar dan bunga liar punya keindahannya masing-masing,
begitu pula dengan manusia.
Semua orang lahir ke dunia ini karena suatu alasan yang berarti.
Aku yakin Tuhan memiliki alasan tersendiri
dengan mengaruniaimu anak.
Persiapkanlah dirimu untuk bertemu dengan anakmu.
Maafkan aku. Jika kau menelepon kantor, akan ada yang datang menggantikanku.
Selamat tinggal.
Terima kasih.
Apa dia masih di sini?
Sudah tidak ada.
Hei, sekalian buang kardus paket yang ada di depan pintu.
Baik.
Baguslah.
Aku punya alasan untuk pindah bersama mereka.
- Kau pulang lebih awal hari ini. - Ya.
Dongmi.
Ibu kehabisan kata-kata.
Dia sepuluh tahun lebih tua darimu!
Juga seorang janda. Kenapa tak memberi tahu ibu?
Memangnya aku masih bujangan?
Apa kau benar seorang pria?
Kenapa menyukai wanita yang jauh lebih tua? Apa ini masuk akal?
Janda yang lebih tua sepuluh tahun?
- Ayah sudah pulang? - Sudah dulu.
Dasar tak tahu diri!
Kau punya istri cantik,
tapi kau berselingkuh?
- Teganya kau? - Ayah.
Yang terpenting bukan penampilan luar, tapi kepribadian dan hatinya.
Apa yang ada di dalam kepalamu?
Bukannya bergabung dengan firma hukum,
malah menghamili janda tua dan membuat masalah!
Kecilkan suaramu. Nanti terdengar pembantu.
Aku akan menjelaskan semuanya.
Menjelaskan?
Jika Hye-ryung tahu… Astaga. Wajahku panas sekali.
- Jangan terlalu emosi, Ayah. - Apa bisa begitu?
Ayah bahkan tak suka karena Hye-ryung setahun lebih tua.
Sepuluh tahun? Hampir 50 tahun?
Wajahnya terlihat muda.
Tak peduli mau terlihat muda atau tidak!
- Apartemen batal! - Apa maksudnya?
Kau menemuinya sendirian?
Bagus. Kalian berdua sama saja.
Kalian tertipu dengan wanita penggoda yang sudah tua.
Dia tak seperti itu.
Aku tak yakin dia sungguh hamil.
Bisa saja hasil USG-nya palsu.
Tak perlu hasil USG untuk mengetahuinya. Bisa terlihat dari wajahnya.
Rupanya kau benar-benar tertipu
oleh wanita tua yang sangat berpengalaman.
Saat anaknya lahir, dia lebih pantas disebut nenek daripada ibu!
Sudah kubilang, dia tak seperti itu. Dia baik dan sopan.
Jika dia baik dan sopan, apa akan menggoda pria beristri
yang lebih muda sepuluh tahun sampai hamil?
Kau akan mengerti jika mendengarkan ceritanya.
Mengerti, apanya?
- Kau bilang akan berikan apartemen? - Dia tampat tak tertarik sedikit pun.
Kurasa dia hidup berkecukupan.
- Apa pekerjaannya? - Penerjemah.
Dia sangat berbeda dengan Hye-ryung.
Tentu saja!
Hye-ryung tak kekurangan selain usianya yang setahun lebih tua.
Mereka sangat serasi.
Kepribadiannya yang berbeda. Dia sangat rendah hati.
Wanita tua itu hanya berpura-pura.
Wanita penggoda memang begitu.
Itu sebabnya Sa-hyeon bisa terlena.
Lupakanlah. Dia akan bicara dengan Sa-hyeon dan mengakhirinya.
Dia akan hidup tenang bersama anaknya.
- Lalu? - Tidak ada lagi.
Jika Sa-hyeon tak mau mendengarkan,
dia akan pindah ke rumah kakaknya di Jeju.
Pembicaraan berakhir dengan baik. Dia bahkan mengantarku sampai ke mobil.
Dia janji tak akan mempersulit keadaan.
- Apa bisa dipercaya? - Kita lihat saja.
Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi.
- Ada apa? - Kau tak mau makan malam?
Ceritakan lagi. Biar pembantu yang memasak.
Aku yang harus membumbuinya. Dia tak begitu bisa.
Dia 42 tahun? Dasar gila.
Dia kehilangan akal sehatnya.
Dasar bodoh.
Dia tak pantas menjadi pengacara.
Ya, Pak.
Tiba pukul 10.00?
Baik.
No comments yet. Be the first to leave one.