The first 200 lines.
"Episode 12"
Aku.
Aku membicarakan perasaanku kepadamu.
Musim semi 2019.
Aku dan Nona Lim mulai mengerjakan naskah itu jauh sebelum itu,
dan kami benar-benar sudah berubah.
Aku ingin memastikan
apakah adrenalin ini tersebar di dalam tubuhku
karena aku malu menyadari
bahwa perasaanku kepada rekan kerjaku telah berubah,
atau karena aku bersemangat
karena cinta keduaku yang berawal dari pekerjaan.
- Konfirmasi... - Konfirmasi.
Apa?
Aku sudah menduganya.
Teganya kamu
- mundur dariku sekarang. - Aku memang mundur.
- Apa aku mengancammu? - Kamu bilang kamu menyukaiku.
Jadi, karena itu kamu mundur?
- Karena kamu mendekatiku. - Apa aku akan memukulmu?
Kamu mungkin lebih pandai berkelahi.
Kamu mencoba untuk menciumku. Konfirmasi apanya?
Kamu pikir ini serial "Reply"?
Kamu terlihat seperti Jung Bong.
Jangan meremehkan orang berdasarkan penampilan.
Lagi pula, memangnya Jung Bong kenapa?
Aku juga tidak mencoba untuk menciummu.
Lantas apa yang hendak kamu lakukan?
Kukira kamu tidak mendengarku,
sehingga aku berjalan ke arahmu untuk mengatakannya dari dekat.
Kenapa kamu marah?
Aku mencoba terlihat keren.
Teganya kamu mundur tadi.
Kurasa kamu tampak mengintimidasi.
Kubilang aku menyukaimu. Jadi, bagaimana mungkin...
Menyatakan perasaan bisa dianggap sebagai intimidasi.
Apa...
Katakan saja kamu tidak merasakan hal yang sama.
Itu bukan karena aku tidak merasakan hal yang sama.
Kamu bukan tidak merasakan hal yang sama, tapi itu mengintimidasi?
Itu tidak masuk akal.
Maksudku, perasaanku kepadamu
bukannya tidak sama.
Kalau perasaanmu kepadaku tidak tidak sama,
artinya kamu juga menyimpan perasaan kepadaku.
- Benar. - Dan itu mengintimidasi?
Benar.
Kenapa?
Karena kita sedang bekerja sama.
Lalu?
Kita bekerja sama
bukan dengan sekadar perasaan, tapi dengan perasaan romantis.
Bagaimana kita bisa mengatasinya dengan benar?
Kenapa masalah ini harus ditangani dengan benar?
Memangnya kita berselingkuh?
Memangnya kamu sudah menikah?
Kenapa aku tidak pernah menanyakan itu?
Kenapa aku berasumsi kamu melajang?
Dengar.
Ya, aku memang melajang, tapi...
Tidakkah kamu memikirkan efek bagaimana jadinya
jika sesama rekan kerja menjalin hubungan?
- Kamu seorang profesional. - Bersikap profesional?
Tentu, itu memang bagus, tapi
kita sudah saling menyukai.
Aku tidak bilang menyukaimu. Kubilang aku bukan tidak menyukaimu.
Itu sama saja.
Jika kamu bilang
akan membuang perasaanmu kepadaku selagi bekerja,
bisakah kamu benar-benar membuangnya?
Kita harus saling bertukar perasaan,
lalu mendiskusikan hal yang harus dilakukan.
Kamu membentakku?
Kenapa kamu menjadi emosional lagi?
Karena kamu bersikap kontradiktif.
- Itulah kenyataannya. - Karena itu kenyataannya,
kita tidak bisa terus berpura-pura tidak tahu.
Baiklah.
Mari duduk dan bicara.
Baiklah. Ayo.
Apakah ini akan menjadi debat?
Kita menyembunyikannya dengan cukup baik
dan menjalaninya dengan cukup baik.
Kamu baik-baik saja hingga kini.
Kenapa kamu tiba-tiba menunjukkan perasaanmu?
Aku tidak baik-baik saja hingga kini.
Kamu mungkin tidak pernah kehilangan pria yang kamu sukai saat bersantai,
tapi kamu harus tahu betapa memuakkannya perasaan itu.
Terutama di hari seperti ini.
Aku merasa sangat terancam.
Apa? Kenapa? Terancam atas apa?
Karena Hwan Dong?
Kamu cemburu?
Mari jangan bicarakan topik yang tidak relevan.
Itu relevan.
Kamu takut aku akan menjadi seperti wanita dalam drama
yang membiarkan keadaan menjadi rumit karena mantan pacar
atau hal klise semacam itu?
Kamu tahu betapa menakutkannya hal klise?
Kenapa hal klise semacam itu terus diterapkan dalam komedi romantis?
Karena itu selalu terjadi.
Kamu benar-benar cemburu.
Anggap saja aku khawatir.
Masalah bisa selesai dengan sendirinya andai kamu
terus melakukan tugasmu dengan baik.
Masalah bisa selesai dengan sendirinya?
Saat menyukai wanita, pria seperti anak usia tujuh tahun.
Anak usia tujuh tahun tidak bisa mengatasi hal yang rumit.
Benar, Bayi.
Bayi?
Baik, aku mengerti.
Apa?
Tunggu, dia mengajakmu berpacaran dan kalian berdebat 100 menit?
Lebih dari 100 menit. Itu sangat berarti.
Kalian berdua sangat berkelas.
Kalian berdua sebaiknya membuat acara pendidikan, bukan drama.
Kalian tidak berkomunikasi seharian padahal kalian bekerja sama?
Aku menulis naskahku sendirian.
Jadi, bagaimana hasil debat yang berarti itu?
- Ditunda. - Ditunda.
Bisa-bisanya kalian menunda hal semacam itu?
Kami lapar setelah berdebat terlalu lama. Jadi, kami makan.
Aku ingin melanjutkannya, tapi dia adalah pakar kesehatan yang ekstrem.
Tiba-tiba dia mulai membahas efek daun lobak kering.
Itu bagus untuk arteriosklerosis.
Lalu kami sedikit sadar dan minum soju lagi... Masa bodoh.
- Kamu merengek? - Aku jengkel.
- Lantas kenapa kamu tersenyum? - Karena aku gila.
Kamu manis. Tapi kenapa kamu menyukai dia?
Aku senang menghabiskan waktu bersamanya.
Aku tidak kesal bahkan saat dia melakukan hal yang menyebalkan.
Dia kutu buku, tapi manis.
Dia pandai bermain gitar. Dia pandai bernyanyi.
Dan dia pandai memasak.
Ini dia. Hasil yang indah.
Dia pandai bercocok tanam.
Dia tidak memakai kolonye, tapi aroma tubuhnya menyamankan.
Bahasa kami sama. Itu hampir tidak menyenangkan.
Dia rajin, sesuai dugaanku, tapi anehnya dia perhatian.
Kamu sebaiknya menulis sambil menelungkup.
Dia selalu menyikat gigi sehabis makan
dan mencuci tangan seusai menggunakan toilet.
Dia selalu bertanya apakah aku mau pangsit saat kami makan mi dingin.
Dan dia selalu menghabiskan kaldu saat makan mi dingin.
Jika makananku tidak habis, dia juga menghabiskan makananku.
Aku khawatir saat tidak bertemu dengannya.
Aku penasaran apakah dia sudah makan atau apakah dia minum-minum lagi.
Dia anehnya menawan dan selalu membuatku khawatir. Sial.
Kenapa banyak sekali alasannya? Harga diriku ternodai.
Kamu tidak bisa tidur, bukan? Semua orang pasti seperti itu.
Kamu mengirim pesan, "Sudah tidur?" Lalu dia bilang, "Belum."
Lalu kamu bertanya, "Kenapa belum tidur?"
Dia pun mengirim pesan "Kenapa belum tidur?
dan menantikan balasanmu, lalu kamu berkata, "Kamu dahulu yang jawab!"
Itu wajar. Jangan kaget.
Aku mengatakannya kepadanya karena merasa makin gelisah.
Tapi aku mendinginkan situasi,
padahal situasi seharusnya memanas.
Ini situasi yang sangat rumit.
Aku tahu Da Mi menyukaimu, tapi aku tidak keberatan.
Tapi kenapa dia selalu menatap ponselnya selagi bersamaku?
Jika aku berusaha tidak sadar selagi bekerja, artinya aku sadar.
Kurasa dia memiliki sekitar 50.000 grup obrolan.
Tapi aku tidak bisa tinggal diam saat mantan pacarnya menawarkan
untuk mengantarnya pulang atau semacamnya.
Dia juga juniorku. Sial.
Dia selalu menggunakan aplikasi obrolan,
tapi dia selalu membaca pesanku 12 jam kemudian.
Aku sendiri yang mengatakannya, tapi aku menundanya? Astaga.
Dia juga mempunyai banyak teman laki-laki.
Apakah dia melakukan ini kepada semua pria itu?
Aku harus membuktikan perasaan kami tidak akan memengaruhi pekerjaan.
Dan aku akan menyudahi penundaannya secepat mungkin.
Jika kamu mengirim pesan kepadanya, dia pasti akan segera membacanya.
Hei, bisa kirimkan pesan kepada Da Mi?
- Apa? - Apa?
- Apa? Kamu tidak mendengarkanku? - Kamu tidak mendengarkanku?
Dengarkan aku dahulu sebelum mulai berbicara.
Kurasa aku yang lebih dahulu bicara.
Kapan kamu tiba di sini?
Itu pertanyaan yang sangat sulit.
Tidak kusangka akan sebanyak ini yang datang.
- Kamu sudah datang rupanya. - Maaf aku terlambat.
Satu cangkir lagi.
Di mana Ha Yoon? Bukankah dia di sini bersamamu?
Apa kalian putus? Aku benar, bukan?
Tapi kenapa dia tidak datang? Tunggu, kenapa kamu di sini?
Dia ada janji lain. Makanlah. Makan dan tutup mulutmu.
Bagaimana mungkin aku memakan ini sekarang?
Jantungku berdebar tiap kali aku putus.
Ini bukanlah akhir, melainkan awal lembaran baru.
Jadi, saat memikirkan siapa lagi yang akan kupacari,
jantungku mulai berdebar. Bukankah begitu?
Hanya kamu yang seperti itu, Bodoh.
Apa aku melakukan kesalahan?
Ya, kamu benar. Jantungku seharusnya berdebar.
Kamu lihat itu? Dia suka itu. Ada apa denganmu?
Ucapanmu tidak ada artinya. Pulanglah.
Aku baru saja tiba.
Baiklah. Makan saja.
No comments yet. Be the first to leave one.