Welcome to Samdal-ri

Welcome to Samdal-ri (웰컴투 삼달리)

Download Indonesian Subtitle

Specials

Release info

웰컴투삼달리-Welcome-to-Samdal-ri-E04-NEXT-NF
A Commentary by Anangkaswandi

Tags

other
Published on: 2023-12-10
Downloads: 86
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

WELCOME TO SAMDAL-RI

Pak!

Sekitar 50.000 relawan menuju Taean, Chungcheong Selatan, untuk membersihkan…

- Halo. - Hai.

Mereka turut serta kampanye melindungi laut di seluruh negeri.

Meskipun cuaca dingin, semua…

- Pak! - Apa?

Wajahmu. Astaga.

Wajahku?

Apa ada sesuatu di wajahku?

- Ya. - Di mana?

- Sisi ini? - Ya, sisi itu.

Halo.

Di mana? Apa?

- Di sana. - Baiklah.

- Aku bisa lihat. - Di sini?

Ketampananmu.

Ketampananku?

Ya. Ketampanan.

Ketampanan?

Permisi.

Sam-dal, bisakah kau datang tepat waktu? Aku kehabisan alasan mengulur waktu.

Terima kasih.

Namun, aku lebih senang jika kau panggil "Eun-hye". Ya?

Suhu dan kelembapan tersembunyi di awan

berubah bentuk tanpa kita ketahui dari kabut menjadi awan, lalu hujan.

Sayang, tanganku kedinginan.

Kau cantik.

Astaga, sangat dingin!

Kau sedang apa?

Kau punya uang berapa?

Boleh kupinjam ini?

Uang sakuku habis. Aku kedinginan dan lapar.

Apa-apaan? Aku tak punya uang nanti.

- Jika kau… - Aku kembalikan bulan depan. Ya?

- Lepaskan tanganku. Kau kenapa? - Kumohon? Aku kesulitan belakangan ini.

Begitu juga sebaliknya, sebelum kusadari,

perasaanku berubah dari sahabat ke cinta.

- Kau tahu? - Apa?

Konon jika kau bisa tangkap bunga sakura jatuh,

cinta pertamamu jadi kenyataan.

Astaga, gombal sekali.

Kau dari zaman Dinasti Joseon? Kolot sekali.

Bagaimana kau akan bisa dapat pacar?

Kau sangat tak romantis bahkan saat musim semi.

Apa? Urus dirimu sendiri.

Sial.

Ya! Ini milikku!

Ini milikku!

Yong-pil, cinta pertamaku menjadi kenyataan.

Bagaimana penampilanku? Cantik?

Dia orang yang kucintai dahulu.

Si Gilaku.

EPISODE 4 SI GILA YANG DAHULU KUCINTAI

Astaga.

LEE YEON-JI

Hei, aku diterima?

Tidak?

Apa alasannya kali ini?

Katanya karena kasus saudarimu.

Semua awak kabin tahu bahwa Grup AS yang menghalangimu kembali.

Itu konyol.

Adikmu akan dijadikan alasan untuk sementara ini.

- Apa rumor itu benar? - Tentu tidak.

Baik, aku mengerti. Terima kasih.

DIA AKAN BENCI ORANG TUANYA. UMUR BERAPA DIA HAMIL.

Kau tak pergi? Dia mendengarkanmu.

Kau gila? Kau saja.

Ini salahmu, jadi kau yang pergi.

- Batu, gunting, kertas! - Baik.

Aku menang! Hei, Sam-dal.

- Apa yang kau lakukan? - Apa… Hei!

- Baiklah! - Teruslah minum.

Kenapa kau lempar ini? Ayolah.

- Minum. - Hei.

Baiklah. Minum.

Teman-Teman, kita harus bagaimana?

Kita harus apa?

Kalian senang aku kembali karena gagal?

Hei! Kenapa kalian tak adakan pesta?

Bagaimana kalau barbeku babi utuh?

Sam-dal, ini salah paham.

Kau salah paham. Maksudku adalah…

- Hei. - Dia tak mendengarmu!

Dia tak mendengarmu. Dekati dia dan bicara baik-baik.

Kenapa tidak kau saja? Kita dilempar botol.

Kebiasaan minumnya masih buruk.

Tidak.

Salahku kembali ke kota tak berguna ini.

Seharusnya aku minum sampai mati. Ya.

Bereskan kekacauan ini. Kau tahu bagaimana akhirnya.

- Aku baru ingat. - Kita harus hentikan sebelum itu terjadi.

- Ini terasa berbahaya. - Bagaimana?

- Tunggu. - Apa?

Aku benci kota ini.

Hei, jangan lakukan itu!

Hei, Sam-dal.

- Itu bukan toilet. - Dia sedang apa?

Hei, itu…

- Ayo, Tae-hee. - Kenapa kau bawa?

- Kenapa kau bawa? - Kenapa dia bawa?

Hei, Sam-dal.

- Itu bukan foto. - Hei.

- Tunggu. - Itu karton…

- Baiklah. - Hei.

Jangan ikuti aku, Berengsek.

- Hei! Jangan. - Pergilah!

Kau akan menyakiti dirimu.

Ayo.

Ayo minum lagi di kamarku.

Ayo ikuti dia.

- Dia pergi ke mana? - Hei.

- Kenapa minumnya sangat banyak? - Dia minum semuanya?

- Ayolah. - Kenapa dia tuang banyak soju ke bir?

Astaga.

Apa?

- Apa? Sudah. - Kau bisa bicara dari sana.

- Kenapa dia melihat kita begitu? - Tunggu.

- Jangan bilang… - Sam-dal.

Kau baik-baik saja?

Cho Sam-dal! Tetap fokus!

Hei, buka matamu yang benar.

Kurasa dia tak sehat.

Siapa kalian?

"Siapa kalian?"

- Hei! - Hei!

Sudah kubilang jangan beri dia soju dan bir. Tunggu.

- Kita juga minum itu, kan? - Satu, dua…

Siapa kalian?

Pertanyaan itu.

Tak mungkin.

- Tidak, jangan. - Terjadi lagi.

- Apa? Jangan. - Terjadi lagi.

Tangkap dia!

- Hei! - Hei!

Lututku lecet.

Dia kembali dan langsung begini.

Usiaku hampir 40, aku tak percaya harus begini lagi.

Orang tak berubah.

Astaga.

Bantu dia bangun.

Satu, dua, tiga!

- Tidak. - Tidak. Sakit.

Apa yang terjadi?

Kenapa aku di sini?

Apa ini?

Bagaimana aku pulang semalam?

Naluri pulangku.

Naluri pulangku hebat. Ya.

Ada apa? Kau akan lari lagi?

Di luar masih dingin, Sayang.

Kubilang dingin…

Jangan pergi.

Minggir.

Aku tak melakukannya.

Apa?

Aku tak merundung gadis itu.

Putri Ibu

tak pernah lakukan hal memalukan

seumur hidupnya.

Jadi, jangan lari lagi.

Kau sungguh-sungguh?

Jadi, semua artikel itu tak benar?

Kau tak melakukan semua itu?

Benar.

Benar, kan? Sudah kubilang.

Jika begitu, kenapa kau kabur dan kemari?

Kau harus pergi dan menyangkalnya.

Ibu ikut denganmu ke daratan utama.

Kita harus perbaiki ini.

Ayo pergi sekarang.

Mereka tak mau dengar.

Apa?

Mereka tak mau dengarkan aku.

Mau kusangkal mati-matian pun…

tak ada yang mau dengar. Aku bisa apa?

Harap bersabar dan semua…

Pak.

Tunggu!

Apa kau mengakui telah menganiaya Bang?

Tidak, aku tak melakukan itu.

Kenapa kau lakukan itu?

Eun-ju, ini tidak benar.

Jangan lakukan ini, Eun-ju!

Mari kita bicarakan. Ya?

Aku sungguh tak bersalah,

tetapi tak ada yang mau percaya.

Itu sebabnya aku kemari.

Kau sangat percaya diri saat dahulu pergi.

Apa yang kau lakukan

18 tahun terakhir ini?

Bekerja.

Apa?

Aku bekerja. Apa lagi?

Aku bekerja keras.

Apa itu salah?

Jangan lari!

Bu!

- Ayah, aku pergi. - Tidak sarapan?

Nanti saja… Ini bukan sampah.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left