The first 200 lines.
"Episode 39"
Aku menyuruhmu mengingatnya sampai hari ini.
Itu terlalu banyak.
Sekeras apa pun aku berusaha, lima halaman sehari itu mustahil.
Tidak.
Aku tidak pernah punya siswa yang belum bisa mengikuti.
Kalau begitu, aku akan menjadi yang pertama.
Tidak. Kamu akan menghafalnya hari ini.
Bagaimana? Apa ada caranya?
Tentu saja.
Kita akan mulai menghafalnya bersama.
Sekarang?
Sampai kapan? Aku tidur pukul 10 malam.
Pukul 10 malam masih lama.
Dan meskipun lewat pukul 10 malam, kamu tidak boleh tidur sampai usai.
Apa?
Kalau begitu, kita mulai saja?
Nyonya, minumlah teh hangat sebelum tidur.
Kamu yang terbaik. Terima kasih.
Kita harus bagaimana?
Sepertinya kita harus tinggal di sini.
Apa kamu keberatan?
Tempat yang lebih besar tidak ada bagusnya.
Itu lebih sulit dibersihkan.
Selama bersamamu, aku tidak masalah dengan kamar kecil untuk satu orang.
Aku bahkan bisa hidup tanpa atap.
Terima kasih atas sentimennya.
Aku lebih berterima kasih.
Terima kasih banyak.
Tidaklah mudah menawarkan uang sebanyak itu.
Sudah sangat lama aku
tidak melihat Ayah tersenyum lebar.
Aku melakukannya karena ingin.
Ayahmu terbuka kepadaku sejak awal.
Ayahku meninggal saat aku kecil, karenanya aku senang
memiliki seseorang yang bisa kupanggil ayah.
Saat ayahmu hidup stabil, ibumu juga bisa santai.
Itu lebih baik lagi.
Kenapa aku sangat beruntung
mendapatkan seseorang sepertimu?
Aku yang seharusnya mengatakan itu.
Bagaimana kalau kita bersulang untuk merayakannya?
Kedengarannya bagus.
- Bersulang. - Bersulang.
Bangunlah.
Kamu harus menghafal itu. Mulailah dari awal.
Sub by VIU Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Benar, bukan?
Tidak ada siswaku yang gagal sejauh ini.
Kerjakan PR-mu kecuali kamu mau tidur larut malam lagi.
Selamat malam.
Sedang apa kamu?
Begini,
aku bangun agak lebih cepat hari ini
dan menyiapkan sarapan sesekali.
Aku kadang melakukan itu dahulu.
Itu bukan satu-satunya hal
yang kamu lakukan saat kita baru menikah, tapi kini tidak lagi.
Itu...
Aku memikirkan tentang itu dan menyadari
bahwa selama ini aku lalai.
Mulai sekarang, setidaknya sepekan sekali,
aku akan membuatkan sarapan untuk keluarga.
- Lakukanlah itu. - Baiklah.
- Bau apa ini? - Apa?
Kenapa aku mencium bau hangus?
Minggirlah.
Hei.
Karena kini aku sudah lebih tua,
aku tidak bisa mencerna roti panggang dengan baik.
Kalau kamu mau menyiapkan sarapan, sajikanlah nasi.
Ada nasi di penanak nasi dan sup di kompor.
Kamu hanya perlu menghidangkannya.
Baiklah, Sayang.
Aku akan melakukan itu.
- Makanlah ini. - Baiklah.
Ini juga.
Berhentilah memberiku makanan dan makanlah sendiri.
Ibu memang makan. Jangan hiraukan ibu dan makanlah dagingnya lagi.
Tidak akan mudah, ini masih pagi,
tapi paksakanlah seolah ini obat.
Aku sudah tidak apa-apa.
Kamu sudah bertemu senior yang membawamu pulang?
Undanglah dia ke rumah.
Itu terlalu membuat stres baginya. Dia orang yang berjiwa bebas.
Aku sudah berterima kasih padanya.
Kalau begitu, ibu sebaiknya memberinya hadiah.
Berapa usianya?
Hei.
- Apa kamu sibuk hari ini? - Ya.
Apa dia akan suka kaus?
Ada yang mau kukatakan.
Kenapa kamu...
Katakan saja. Tidak ada yang mencegahmu.
Aku akan membuka toko hari ini.
Kita akan mengadakan upacara malam ini. Jangan terlambat.
- Toko? - Ayah?
Toko apa?
Kamu akan tahu nanti.
Aku sudah lama memikirkan dan menyiapkan ini.
Aku tidak akan mengacau lagi.
Heo Se mendapatkan tempat yang bagus untukku
dan keadaan kantor pusat juga baik, jangan khawatir.
Kenapa kamu tidak bilang apa-apa?
Aku bisa bilang apa?
Lakukanlah sesukamu.
Astaga.
Hei.
Ada apa denganmu ini?
Setelah semua yang dilaluinya,
suamimu akhirnya berhasil membuka toko.
Tidakkah seharusnya tanya apa dia butuh sesuatu dan berusaha membantu?
Apa urusanku denganmu sehingga harus melakukan itu?
Apa maksudmu?
Aku suamimu.
Kita belum bercerai.
Suami? Bukan.
Kamu bukan seorang suami.
Kamu pemilik usaha yang membayar jasaku.
- Bukan, apa kamu induk semang? - Apa?
Belum lama aku mengeluh soal kamu
kehilangan pesangonmu.
Kamu tidak mengerti bahkan kalau aku berteriak dan menangis.
Kamu membuat kesalahan yang sama dan masih memandangku rendah.
Kalau menganggapku sebagai istrimu,
kamu akan bahas denganku dahulu, bukannya memberiku pemberitahuan.
Aku tidak sempat membahasnya denganmu.
Semuanya terjadi sangat cepat dan mendesak.
Memangnya apa yang terjadi?
Heo Se membantuku mendapatkan lagi sebagian pesangonku.
Aku menandatangani kontrak tempatnya dengan itu.
Apa maksudmu?
Apa kamu menginterogasiku?
Itulah yang terjadi, jadi, sudahlah.
Baiklah.
Aku tidak akan bertanya lagi. Aku tidak mau bertanya.
Datanglah ke pembukaannya hari ini.
Anak-anak akan ada di sana.
Kamu sudah selesai?
Apa kalian bertengkar?
Ibu akan berangkat bekerja. Tidak usah hiraukan.
- Sampai jumpa. - Sampai nanti.
Apa Ayah tidak membahas
soal membuka toko dengan Ibu?
Membahas apa?
Kami bahkan tidak bisa berkomunikasi.
Ibumu sudah berubah.
Dia bukan lagi wanita patuh dan lembut yang ayah kenal.
Dia seperti orang lain.
Tidak ada wanita sekarang ini
yang harus menahan diri sebanyak Ibu.
Lihatlah dirimu.
Kamu juga sudah dewasa?
Berani-beraninya kamu berusaha menceramahi ayahmu?
Datanglah bersama kakakmu nanti.
Baiklah.
Halo?
Kenapa kamu menelepon sepagi ini?
Bukankah kamu di tempat kerja?
Aku sedang berada di luar. Aku ingin menanyakan sesuatu.
Apa?
Mengenai pesangon suamiku. Apa Heo Se dapatkan lagi untuknya?
Ya, itu yang dikatakannya.
Mereka hanya dapatkan sebagiannya. Kamu pasti sangat kesal.
Berapa yang mereka dapatkan?
Aku tidak menanyakan detailnya.
Aku seperti itu belakangan ini. Apa kutanyakan saja kepadanya?
Tidak, aku akan menanyakannya kepadanya nanti.
Aku menelepon karena mungkin saja kamu tahu.
Terima kasih, sampai jumpa.
- Selamat pagi! - Astaga.
Kamu mengejutkanku.
Aroma kopinya luar biasa.
Apa aku juga mendapat secangkir?
Itu terdengar seolah aku tidak pernah membuatkan untukmu.
Benarkah?
Apa ini sarapan?
- Ya. - Kamu tidak bisa bekerja
hanya dengan memakan itu.
Tunggu sebentar.
Kenapa?
Ada roti di kulkas, bukan?
Aku akan memasakkan telur dan membuat roti panggang.
- Sudahlah. - Aku tidak bisa.
Pegawai satu-satunya harus peduli terhadap bosnya satu-satunya.
Siapa Direktur Oh Seo Jin?
Aku.
Kalian menyuruh kami berkumpul,
tapi CEO-nya malah dirawat di rumah sakit
dan direkturnya bahkan tidak datang.
Apa sebenarnya mau kalian?
Apa kalian pikir kami punya banyak waktu?
Kalau kalian mengambil uang kami untuk mengembangkan produk baru,
kalian seharusnya merilis sesuatu.
Kalian menyalahkan uji klinis selama hampir enam bulan.
Apa kalian pikir kami akan percaya?
Kalian pikir kami siapa?
Lihatlah ini. Mereka menipu kita.
Aku akan menuntut kalian semua atas penipuan.
No comments yet. Be the first to leave one.