The first 200 lines.
"Semua tokoh, lokasi, organisasi, agama"
"Dan insiden dalam drama ini adalah fiksi"
"Episode 14"
Maafkan aku.
Kamu minta maaf untuk yang mana?
Karena memutuskan untuk menghapus ingatan kita?
Atau karena terpikat penampilanku lagi?
Keduanya.
Maafkan aku atas segalanya.
Tidak, aku yang minta maaf
karena terlihat sangat tampan.
Kalau dipikir-pikir, itulah yang kulakukan.
Menurutku,
semua yang kulakukan selama ini adalah untuk kembali kepadamu.
Aku ingin menghadapi konsekuensinya sendirian.
Kupikir aku bisa melepaskan diri.
Tapi lihat di mana aku berakhir.
Apa yang harus kita lakukan?
Apa yang harus kita lakukan sekarang?
Akhirnya kita sadar
bahwa sekeras apa pun berusaha, kita tidak bisa menghindari ini.
Jadi, kita harus
menerimanya sekarang.
- Apa? - Takdir kita.
Mari kita terima.
Setuju?
Itu rencanamu, bukan?
Kamu berencana
untuk menghilang dariku, bukan?
Apa pun yang kukatakan
tidak akan mengubah apa pun.
Apa pun yang kita coba,
kita tidak bisa
menghindari takdir kita, bukan?
Benar.
Maafkan aku.
Kenapa kamu meminta maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan.
Ini semua salahku.
Andai aku tidak membuat permohonan bodoh hari itu...
Kalau begitu, kita tidak akan bertemu.
Dan aku tidak bisa menerimanya.
Jika kita tidak pernah bertemu,
aku tetap bukan siapa-siapa.
Aku ingin berarti bagimu.
Mengalaminya sekali saja sudah cukup bagiku.
Jadi, kamu tidak melakukan kesalahan.
Ini selalu salahku.
Jadi, biarkan aku melakukannya dengan caraku.
Mengerti?
Maafkan aku.
Ini semua salahku.
Aku mencarimu ke mana-mana.
Apa yang tertinggal di rumah?
Aku.
Dokter?
Bibi ingat dia?
Astaga, Dong Kyung. Tentu saja aku ingat dia.
Apa maksudmu?
Kamu pikir aku menjadi pelupa karena usiaku?
Tidak, bukan itu maksudku.
Sudah lama, jadi, aku khawatir kamu mungkin tidak mengingatku.
Mungkin itu sebabnya dia bertanya.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, aku memang
tidak melihatmu belakangan ini.
Apa yang menyibukkanmu belakangan ini?
Aku sibuk menyelesaikan beberapa hal.
Apa maksudmu?
Ada banyak hal yang harus disiapkan sebelum pernikahan.
Dong Kyung dan aku
akan menikah.
Apa?
Kalian akan menikah?
Mari tutup kafe lebih awal hari ini.
Apa? Sudah?
Ini belum waktunya tutup.
Bos.
Saat mengelola bisnis,
penting untuk menepati janji yang kita buat kepada pelanggan.
Bos, ada masalah apa?
- Kelihatannya begitu? - Ya, sangat.
Aku merasa kamu akan menangis.
Kamu seperti pria yang berjalan sendirian di tengah hujan.
Hujan.
Kudengar hari itu hujan turun.
Hari itu? Kapan?
Kemarin tidak hujan.
Hari itu,
saat dia mencium pria lain.
Apa? Siapa? Ji...
Maksudku, wanita yang datang kemarin?
Tapi itu tidak penting.
Semua itu sudah berlalu.
Jadi, itu tidak penting.
Tidak penting?
Kamu pasti sangat mencintainya.
Ya, itu tidak penting.
Masalah sebenarnya adalah...
Aku dicampakkan kemarin.
Seperti tadi saja. Ayo.
Aku akan melakukan semuanya.
Istirahatlah.
Ji Na keterlaluan.
Halo. Hei.
Pulanglah.
Mereka juga saling mengenal.
Mereka bahkan tinggal bersama, tapi dia tidak memberitahuku.
Dia benar-benar mempermainkanku,bukan?
Yang... Yang kedua?
Ji Na.
Mengejutkan saja. Kamu datang cepat. Pekerjaanmu selesai lebih awal?
Ji Na.
Apa?
Kamu mencampakkan Pak Lee?
Kabar itu menyebar cukup cepat.
Kamu sungguh mencampakkannya?
- Tidak bisa dibilang kucampakkan. - Siapa yang kamu cium?
Bagaimana kamu tahu tentang itu?
Itu baru terjadi. Tidak kusangka dia sudah memberitahumu.
Kejadiannya baru-baru ini?
Kamu membicarakan yang mana?
Dari yang kudengar, kejadiannya sudah lama.
Apa?
Kamu menciumnya lagi baru-baru ini?
Kamu mencium banyak orang?
Apa yang membuat banyak pria jatuh cinta kepadamu?
Siapa yang kamu cium dan kapan?
Dengan pria yang kedua, bukan?
Kurasa begitu. Dengan yang kedua.
Kakak, Ji Na baru-baru ini...
Jangan dengarkan dia.
Mereka akan menikah.
Tidak, sebenarnya kami tidak akan menikah.
Itu beritanya.
Tidak.
Benar.
Ya, kurasa itu akan terjadi.
Bisakah kita bicara berdua?
Aku juga perlu bicara denganmu.
Astaga. Tapi...
Itukah alasanmu jarang terlihat belakangan ini?
Bukannya aku tidak terlihat.
Lebih tepatnya, kamu tidak tahu.
Aku jelas tidak tahu kamu ingin menikahinya.
Kakak.
Kamu pria yang sangat murah hati.
Aku masih jauh tertinggal darimu.
Jujur saja. Itu bukan keputusan yang mudah.
Aku tidak merasa nyaman tentang itu.
Ini.
Aku selalu membawanya karena kurasa ini pasti terjadi.
Ini uang tabunganku sejak usiaku 20 tahun.
Kenapa kamu memberikannya kepadaku?
Aku selalu membawanya dan berpikir kapan dan bagaimana caranya
harus memberikan ini kepada kakakku.
Kurasa ini saat yang tepat.
Kamu bisa memakainya untuk pernikahan kalian.
"Rekening tabungan"
Sejujurnya, kupikir kamu benar-benar hebat.
Kamu tampan dan tampak kaya.
Aku tidak paham kenapa kamu suka kakakku yang tidak punya uang.
Aku yakin kamu tidak tahu apa yang kupikirkan tentangmu.
Kamu benar. Aku tidak tahu.
Sekarang, aku terus berpikir bahwa kakakku sangat beruntung.
Mungkin karena dia menjalani kehidupan yang baik.
Kamu pasti juga sangat baik,
melihat kamu akhirnya bertemu kakakku.
Kuharap kamu akan terus
berada di sisi kakakku.
Kamu akan melakukannya, bukan?
Ya.
Sungguh? Kamu akan menikah?
Kurasa itu yang dia inginkan.
Bagaimana denganmu?
Kamu tidak merasakan hal yang sama?
Aku ingin melakukan semua yang dia inginkan.
Dengar. Pernikahan
bukanlah sesuatu yang kamu lakukan karena kesetiaan.
Sebesar apa pun rasa cintamu...
Ji Na.
Hei.
Aku tidak punya pilihan selain rewel tentang pernikahanmu.
Apa yang harus kulakukan?
Kamu menangis?
Sekeras apa pun aku berusaha mengakhirinya...
Sekeras apa pun aku berusaha melarikan diri,
aku selalu kembali titik awal.
Aku mencoba mencampakkannya, tapi tidak bisa.
Sepertinya aku juga tidak bisa berhenti memikirkannya.
Apa yang harus kulakukan?
Aku kehabisan waktu, tapi tidak tahu harus bagaimana.
Apa yang harus kulakukan, Ji Na?
- Dong Kyung. - Ini semua salahku.
Semuanya salahku.
Tidak, ini bukan salahmu.
Kamu tidak melakukan kesalahan.
Jadi, lakukan saja semua yang kamu inginkan.
Aku tidak peduli.
Lupakan semua yang kukatakan tadi.
Aku tidak keberatan selama kamu bahagia.
Jadi, jangan bilang kamu kehabisan waktu.
No comments yet. Be the first to leave one.