The first 200 lines.
-- noebot08 ---
Bunga putih.
20 pfennig.
Terima kasih.
Cantik.
Permisi.
Kau tahu siapa yang menaruh bunga di makam itu?
Makam siapa?
Frantz Hoffmeister.
Oh, ya.
Pasti orang asing.
Orang mana?
Koin Prancis.
Ada yang menaruh bunga di makamnya?
Ya, bunga mawar.
Ibu tahu siapa dia?
Mungkin sahabatnya di Prancis saat sebelum perang.
Jangan bilang-bilang ke Hans.
Bagaimana keadaannya?
Dia belum keluar dari kantornya.
Berat baginya.
Berat untuk kita semua.
Apa masih sakit?
Saat malam hari, bila terlalu banyak berjalan.
Kau akan bisa berdansa lagi.
Prancis gagal merusak kakimu.
Terima kasih, Dokter.
Kau sudah lama tidak datang ke pertemuan kita.
Aku cinta Jerman.
Tapi aku lebih mencintai anakku.
Aku mengerti.
Tapi haruskah kita menerima kekalahan ini?
Dipermalukan?
Kita sama-sama menginginkan sebuah negara yang kuat, digdaya...
Kau ke sini untuk berobat, Tn. Kreutz.
Lanjutkan perawatannya selama seminggu. Kakimu akan sembuh.
Ada hal lain yang ingin aku bicarakan.
Soal Anna.
Anna?
Dia sudah tidak punya keluarga dan kau sudah seperti ayahnya sendiri.
Aku tahu dia tunangan anakmu...,
...aku ingin meminta persetujuanmu.
Apa dia mencintaimu?
Dia akan mencintaiku.
Tn. Kreutz ingin bicara.
Aku?
Silakan masuk.
Selamat siang.
Selamat siang, Anna.
Silakan duduk.
Bagaimana kuliahmu?
Aku berhenti.
Sayang sekali.
Aku kehilangan gairah.
Kita semua kehilangan orang yang kita cintai.
Tapi kita harus terus hidup.
Kita harus bangkit kembali.
Ya.
Frantz juga bilang begitu di surat terakhirnya.
Aku mengerti yang kau rasakan.
Kau tidak di sini jika mengerti.
Aku bisa membantumu melupakan Frantz.
Aku tidak ingin melupakan dia.
Bagaimana pasienmu?
Meriang, seperti biasa.
Sekarang musim semi.
Kau ke pesta dansa hari Sabtu nanti?
Tidak.
Ada gaun baru dijual di kota.
Dengan siapa aku pergi?
Tn. Kreutz.
Dia ingin kau bahagia.
Siapa itu?
Pasien datang selarut ini?
Silakan masuk.
Siapa namamu?
Rivoire.
Adrien Rivoire.
Asalmu bukan dari sini?
Ya.
Dari mana asalmu?
Paris.
Kau orang Prancis?
Ya.
Maaf. Aku tak bisa merawatmu.
Dokter, ada yang ingin aku bicarakan.
Pergilah.
Aku tidak sakit, aku ingin...
Cukup!
Semua orang Prancis adalah pembunuh anakku.
Pergilah.
Kau benar, Dokter.
Aku juga seorang tentara.
Dan aku juga seorang pembunuh.
Mungkin di kamarnya Frantz.
Apa yang dikatakan orang Prancis itu?
Kau kenal dia?
Tidak.
Aku melihatnya di pemakaman.
Di pemakaman?
Dia datang ke makam Frantz dua hari belakangan ini.
Pagi tadi dia menangis.
Apa yang dia katakan padamu?
Tidak ada.
Aku menolak untuk merawatnya.
Tapi Hans!
Dia mungkin kawannya Frantz.
Kenalannya di Paris.
Apa orang ini menginap di sini?
Maaf, dia sedang keluar
Kau mencari seseorang?
Pasti aku.
Bukan.
- Bisa berikan ini padanya? - Tentu.
Aku sadar telah membuatmu kesal kemarin.
Tapi maukah kau kuajak ke pesta dansa?
Dr. Hoffmeister tidak keberatan.
Aku tidak tertarik berdansa.
Sampai jumpa, Mr. Kreutz.
Surat itu untuk siapa?
Orang Prancis.
Kau yakin dia akan datang?
Semoga.
Seandainya saja Hans tidak mengusir dia.
Apa Hans akan turun?
Semoga saja.
Dia datang!
Selamat datang.
Aku ibunya Frantz.
Selamat malam.
Ini Anna. Dia sudah seperti putri kami sendiri.
Tunangannya Frantz.
Selamat malam.
Aku pernah melihatmu di pemakaman.
Aku menitipkan pesan di hotel.
Boleh?
Jasmu.
Dia suamiku.
Kalian sudah pernah bertemu.
Selamat malam.
Silakan masuk.
Silakan duduk.
Banyak yang harus kau ceritakan pada kami.
Berapa usiamu?
24 tahun.
Frantz akan berusia 24 tahun bulan Februari nanti.
Bahasa Jermanmu bagus.
Aku belajar.
Kau kenal Frantz?
Ya.
Kalian bertemu di Prancis?
Ya.
Saat kunjungan terakhirnya ke sana?
Maaf.
Terima kasih atas bela sungkawa dan bunga-bungamu di makamnya.
Kami sangat tersentuh bisa bertemu kawannya...
...yang kenal baik dan masih ingat dia.
Aku tidak mengatakan ini karena aku ibunya.
Anna juga.
Kami berencana menikah musim gugur ini.
Musim favoritnya.
Verlaine menulis puisi tentang musim gugur. Frantz mengajariku.
Dalam bahasa Prancis.
Kami mengerti pasti berat membicarakannya.
Pasti berat...
...untuk menemui keluarganya
Jadi kau sering memikirkan dia?
Dan kau tak akan melupakan dia?
Bagaimana mungkin aku bisa lupa?
Maafkan suamiku.
Dia sangat menyayangi Frantz.
Dia anak semata wayang kami.
Dia berharap untuk mati saja.
Aku juga.
Bisa kau ceritakan awal kalian berdua bertemu?
Awal bertemu...,
...dan terakhir kali bertemu?
Bagaimana keadaannya saat terakhir kali?
Terakhir kali?
Kami terakhir kali bertemu...
Apakah dia bahagia?
" Glücklich "...
Bahagia.
Apa sewaktu di Paris?
Sebelum perang?
Ya.
Sewaktu di Paris.
Aku menjemputnya di hotel...
...dan kami pergi ke Louvre.
Dua sahabat.
Hari itu begitu indah.
Dia senang melihat lukisan.
Begitu juga aku.
Kami melihat-lihat lukisan karya Manet.
Aku ingat...
Aku ingat ada satu lukisan yang sangat dia sukai.
Lukisan seorang pemuda pucat...
...sedang terkulai.
Aku merasakan kehadiran Frantz malam ini.
Semoga Tuhan memberkatimu.
No comments yet. Be the first to leave one.