The first 199 lines.
PINK
Sang-kook!
Kau yang menelepon?
Ya.
Ini. Aku membersihkannya sedikit.
Tempat ini lama kosong. Ini akan berbau agak apak.
Ya.
Bar buka pukul 15.00.
Pelanggannya tak banyak.
Makanlah.
Belakangan ini, aku sibuk dengan hal lain.
Tolong bantu aku.
Apa kau Sang-kook?
Kami belum buka.
Boleh aku tinggalkan gitarku di sini?
Apa?
Apa kabarmu? Baik?
Kita sudah lama tak bertemu.
Benar sekali.
Bagaimana denganmu?
Kita harus sering seperti ini.
Boleh saja.
Dasar kau.
Hei.
Halo?
Dia selalu sibuk.
Biasa saja.
Ayo kita minum.
Baiklah.
Terima kasih.
Kau mengambil telur dari situ?
Ya.
Mulai sekarang, kau bisa pakai telur dari sana.
Sang-kook pikir camar menetas di situ.
Jadi dia taruh telur di situ.
Lakukan seperti perintahku.
Berhenti lakukan hal tak berguna. Paham?
Minumannya adalah yang terbaik.
Benar.
Hanya dengan cara itu, aku bisa melupakannya.
Ini enak.
Kau mau pergi ke suatu tempat?
Aku akan pergi.
- Ayo minum. - Baiklah.
Mungkin ini malam terakhir kita.
Aku belum pernah melihat wanita itu.
Dia orang baru.
- Sejak kapan? - Baru beberapa hari.
Kau selalu bertindak cepat.
Mari minum.
Ayo, duduklah.
Maaf.
Ada apa dengannya?
Aku tak akan memakannya hidup-hidup.
Temanku.
Minum saja.
Dia tak mau karena dia terlalu cantik.
Karena dia cantik?
Astaga, kehidupan kita..
Ayo.
Aku berharap bisa makan bersamamu. Tapi ada pelanggan.
Mau letakkan dulu tas punggungmu sebelum kau makan?
Tak apa-apa.
Makanlah.
Hei.
Bisa minta sebotol soju?
Ya, Tuan.
Itu dia!
Itu tak bagus.
Itu caramu belajar.
Batalkan pembangunan yang mematikan mata pencaharian kami!
Ayo makan camilan.
Kedengarannya enak.
Ibu Sang-kook memang yang terhebat.
Bawa kemari.
Ayo minum.
- Permisi. - Ayo, cepat.
- Terima kasih. - Permainannya tak bagus.
Ayo makan dulu.
Ayo cepat.
Ini dia.
Ayo cepat.
Ini buruk sekali.
Sudah, makan saja.
Kartunya.
Sejak kapan kau lakukan ini?
Aku tak yakin.
Mungkin sekitar 100 hari.
Mereka tak mau mendengarkan.
Bagaimana Sang-kook?
Aku menyuapi makan malam dan mengantarnya tidur.
Ayo kita main lagi.
Ayo bagikan.
Aku akan menang.
Kau tak lelah?
Aku tak apa-apa.
Cepatlah.
Aku akan mulai lagi.
Permainanku kurang bagus.
Ayo cepat.
Baiklah.
Sang-kook.
Ada apa sekarang?
Kau tak perlu ke sekolah.
Kau bisa lakukan apa pun yang kau mau.
Ayo ganti baju.
Ayo.
Akan kuhukum anak-anak yang merundung Sang-kook-ku.
Paham?
Di mana tas punggungmu?
Kau datang padaku
Membawa mawar merah dengan bibir merahmu
Saat aku berbalik
Kau jatuhkan bintang di mataku
Terbakar dengan gembira
Cinta yang haus Jiwa yang haus
Saat kulihat dirimu
Saat kau lihat bintang di mataku
Kubayangkan saat kulihat dirimu
Bisakah aku mengosongkan diriku?
Kubayangkan apa aku bisa
Berada di matamu
Terbakar dengan gembira
Cinta yang haus Jiwa yang haus
Saat kulihat dirimu
Saat kau lihat bintang di mataku
Tarik perintah penggusuran
Aku punya pertanyaan.
Apa?
Kenapa kau pasang pelang itu di bar?
Kenapa?
Apa itu aneh?
Tidak, aku cuma penasaran.
Aku tak yakin. Kenapa tidak?
Mungkin aku berharap hidupku menjadi indah, cerah.
Ok-ryun!
- Kau sudah menunggu lama? - Hai.
Hari ini sangat bagus.
- Baiklah. - Ya.
- Semoga harimu indah. - Ya, sampai nanti.
Hai, aku Kang-min.
Siapa namamu?
Su-Jin.
Sampai bertemu lagi, Su-Jin!
Tangisan siapa ini?
Itu masih mengalir
Malam di Dermaga Gunsan
Malam di Dermaga Gunsan
Hanya klakson kabut yang berbunyi
Malam di Dermaga Gunsan
Hujan turun
Apa desahan panjang karena pergi
Menangis
Apa itu?
Apa ada orang di sini?
Tidak.
Hujan cinta
Itu masih turun
Malam di Dermaga Gunsan
Malam di Dermaga Gunsan
Hanya camar yang menangis
Sang-kook.
Ikuti aku.
Astaga, aku lelah.
Sang-kook.
Apa kali ini kau bisa mendorong?
Bagus.
Jangan lakukan itu.
Kubilang jangan.
Aku memasak untuk malam ini.
Kau cuma perlu mengeluarkannya.
Nona.
Apa ada orang di sini?
Apa yang kau lakukan di sini?
Tak ada apa pun di sini. Kau tak perlu lakukan ini.
Tolong berhenti.
Berapa kali harus kuberi tahu?
Tidakkah akan enak jika terima ganti rugi dan pindah ke apartemen?
Tidakkah kau muak dengan kota ini?
Aku tak mau dengar.
Kau tak tahu apa pun.
Aku tak mau tinggalkan kota ini.
Apa aku menyuruhmu pergi?
Aku cuma minta kau tak menghalangi.
Lagi pula...
...ini sudah diputuskan.
Tutup mulutmu!
Di sini panas.
Bedebah. Sedang apa kalian di rumahku?
Sial.
- Ayo. - Sial.
Kenapa kau terus bersihkan rumah yang tak ditempati lagi?
Itu seperti membersihkan halaman depanku.
Aku tak bisa bayangkan kotaku ditinggalkan.
Coba kupikir.
Kita sudah demo duduk selama 100 hari, 'kan?
Ya.
Ini sudah 100 hari lebih.
Dan tak ada yang berubah.
No comments yet. Be the first to leave one.