The first 200 lines.
Ada apa?
Pilihlah.
Menyelesaikan balapan dengan posisi ketiga
atau mengejar Imaizumi dan Naruko sampai kau kelelahan
Pilihlah jalanmu.
Aku akan mengejar mereka!
Langsung!
Baiklah!
Kalau begitu tingakatkan cadencemu 30 rpm lagi!
Baik!
Aku akan menaikkan cadence 30 rpm lagi!
Ada yang datang.
Siapa itu?
Sepertinya dia datang.
Dekat.
Apa mungkin?
Dekat.
Entah kenapa aku bisa mengetahuinya.
Aku berdebar-debar.
Akhirnya aku sampai.
Akhirnya!
Di hari ini kuseka kembali linangan air mataku
dan memengang teguh akan keputusanku
Walau ku tak tahu diriku siapa
tapi ku tetap akan menggowes
Ku pergi ke depan dan terus melaju
Gowes aja
Ku terlihat seakan tenang,
tapi semua tak ada yang berubah
Memikirkan itu sampai tiap hari pun
tak membantu
Jadi lebih baik tak usah dipikir
dan melaju lebih ngebut
kita bisa hidup lebih bersih dengan
tak melakukan apa pun
Namun yang lebih gereget adalah
menjalani hidup penuh debu dan berani kotor
Di hari ini kutahan linang air mataku
dan berupaya mencari jawabannya
Walau ku tak tahu diriku siapa
Ku membuang itu dan tidak memikirkannya
Walau terluka, ku tetap kembali berdiri
dan ku tetap akan mendaki turunan itu
Walau jawaban yang kucari ialah sederhana
ialah dengan mempercayai diri sendiri
Di hari ini kuseka kembali linangan air mataku
dan memengang teguh akan keputusanku
Walau ku tak tahu diriku siapa
tapi ku tetap akan menggowes
Ku pergi ke depan dan terus melaju
Gowes aja
Ku terlihat seakan tenang,
tapi semua tak ada yang berubah
Memikirkan itu sampai tiap hari pun
tak membantu
Jadi lebih baik tak usah dipikir
dan melaju lebih ngebut
kita bisa hidup lebih bersih dengan
tak melakukan apa pun
Namun yang lebih gereget adalah
menjalani hidup penuh debu dan berani kotor
Di hari ini kutahan linang air mataku
dan berupaya mencari jawabannya
Walau ku tak tahu diriku siapa
Ku membuang itu dan tidak memikirkannya
Walau terluka, ku tetap kembali berdiri
dan ku tetap akan mendaki turunan itu
Walau jawaban yang kucari ialah sederhana
ialah dengan mempercayai diri sendiri
Sprint Climb!!
Sprint Climb!!
Imaizumi, Naruko!
Aku menyusul kalian!
Dia naik sepeda balap.
Dia tertawa sambil menangis...
Yang mana yang benar.
Akhirnya... Akhirnya aku menyusul kalian!
Mari melaju bersama-sama!
Dia mengejar mereka!
Apa-apaan dia itu?!
Onoda...
Hebat sekali.
Dia benar-benar menaikan cadence 30 rpm dan mengejar mereka.
Dari paling belakang,
rantai sepeda cewenya putus, dia hampir saja kalah.
Tapi dia berhasil mengejar mereka yang di depan.
Tidakkah kau terkesan, Kinjou?
Tidak. Pertandingannya baru saja dimulai.
Kita lihat sampai kapan dia bisa bertahan dengan Imaizumi dan Naruko.
Bukankah begitu, Pelatih?
Of course!
Mereka bertiga melaju dengan mengesankan.
Syukurlah aku tepat waktu.
Tidak sia-sia datang jauh-jauh dari Narita.
Aku sangat penasaran apa yang terjadi selanjutnya.
Orang yang riang seperti biasanya.
Kenapa aku duduk di kursi belakang?
Onoda, sampai mana kau bisa melaju?
Setelah ini,
ada jalur turunan panjang yang terjalnya sama
seperti di gerbang belakang.
Jika diteruskan hatimu akan hancur.
Onoda,
Rasanya aneh melihatmu bukan naik sepeda cewe.
Seharusnya kapten memberitahumu kau punya sepeda balap.
Aku juga terkejut.
Apa dia melewati tiga orang itu?
Seorang pemula sepertimu yang hanya pernah naik sepeda cewe.
Aku merasa lebih bertenaga.
Baiklah.
Kita lihat sampai mana kau bisa melaju.
Ikuti aku, Onoda temanku!
Baik!
Ayo pergi!
Mereka berdua buang-buang tenaga.
Tapi...
akan kuikuti permainan kalian!
Apa hanya ini kekuatan penuhnya?
Iramanya kacau sekali.
Dasar bodoh! Menghindarlah!
Aku baik-baik saja!
Kita teruskan saja!
Di helmmu ada rantingnya...
Hindari jalan yang rusak juga!
Ma-Maaf.
Bego.
Aku kagum kau bisa sampai di sini tanpa terluka.
Caramu mengendarai parah sekali.
Ma-Maaf.
Bagaimana caramu sampai ke sini...
Sarung tangan dan jarinya sudah berkeringat.
Jaketnya juga sudah kotor begitu.
Celananya juga sobek terkena rantai.
Jadi begitu.
Kau terus melaju sampai ke sini, 'kan?
Sepertinya kita juga harus memberi hadiah untuk usahamu.
Kau benar.
Suasananya berubah...
Jangan menangis kalau kau tak bisa mengejar kami.
Apa kauingin pergi duluan, Naruko?
Sejauh pengamatanku, kau hebat di jalan datar dan lemah di pegunungan.
Mulai dari sini...
kecapatan maksimal!
Ce-Cepatnya!
Kau sangat cepat, Naruko!
Dia sprint di pegunungan?!
Jadi menaruh beban di stang,
dan mengayuh dari ujung pedal adalah caramu melakukan sprint...
dan dia melakukannya di pegunungan seperti ini?!
Mempercepat saat di jalan datar, tapi melambat saat di pegunungan...
Kupikir Naruko hanya sprinter, tapi...
Padahal aku ingin menyembunyikan ini lebih lama lagi...
Speed star Naniwa tak terkalahkan di jalan datar,
walau lemah di pegunungan.
Tapi agar mencolok sebagai pemenang balapan,
Aku juga harus bisa menanjaki pegunungan.
Itulah kenapa aku berlatih di Gunung Rokko.
Walau di awal aku selalu berhenti
setelah sering kulakukan aku pasti mengerti.
Cara menggunakan kekuatanku, memilih gear yang cocok...
Aku mempelajarinya.
Aku bisa melakukannya.
Aku memang hebat dalam apa pun.
Seperti itulah aku memikirkan cara ini...
Menurunkan ke gear yang lebih berat, memindahkan beratku ke depan,
lalu bergerak maju.
Kekuatan mendaki yang membantu kekuatanku...
Inilah sprint climb!
He-Hebat!
Lumayan juga...
Aku tidak bisa kalah begitu saja di pegunungan.
Akan kukejar dia.
Yang dibutuhkan dalam mendaki adalah gear yang tepat.
jalur yang tepat dan juga irama.
Menghasilkan kekuatan terbaik dengan usaha terdikit...
Sepeda adalah olahraga mental!
Oh, kau bisa mengikutiku juga.
Biar kuberitahu, membungkuk ke depan itu mengurangi masuknya oksigen.
Oksigen yang sangat dibutuhkan di pegunungan,
akan lebih baik mengangkat dadamu saat menanjak.
Gunakan saja sendiri cara efektifmu itu.
Apa kau serius? Dia juga mengikuti kita.
Walau dia terlihat ngos-ngosan...
Sepertinya dia kesulitan.
Saat kau bersepeda dengan Onoda, kau tidak mendaki, ya.
Memangnya kenapa?
Saat dia menanjak dia melakukan hal yang sama.
Saat dia menanjak pasti tersenyum.
Tunggu!
Imaizumi, Naruko!
Apa mungkin keahlianmu adalah...
menanjak?!
Dia menyusul mereka lagi!
Sebentar lagi jalur turunan panjang!
Tinggal 4 kilometer lagi!
Sebelum itu, dia pasti kehabisan stamina.
Lagi-lagi begitu, Kak Makishima.
Yah, dua-tiga kilometer lagi...
Eh, Cak Tadokoro! Aku tidak bisa melihatnya!
Soalnya kau protes terus,
No comments yet. Be the first to leave one.