ì´ë²ˆ 주, ì•„ë‚´ê°€ ë°”ëžŒì„ í•니다
The first 200 lines.
Kita bercerai saja./ Sayang...
Jangan khawatir soal bangunan di Seocho-dong. Masih akan tetap di atas namamu.
Besok kukirim surat cerainya.
Manajer Kim, laksanakan prosesnya.
Kau jahat, tapi...
...akulah yang lebih jahat.
Marilah kita lupakan segalanya dan mulai dari awal lagi.
Aku akan berusaha lebih baik.
Tunggu.
Tidak, bukan begitu...
Aku tahu.
Aku memahamimu.
Pertanyaan itu... aku yang mempostingnya.
Apa?
Bisakah kau melupakan bahwa istrimu pernah berada dalam pelukan pria lain?
Tentu saja aku bisa melupakannya. Aku bisa memaafkannya.
Tidak, malah aku sudah memaafkannya.
Hanya saja...
Aku masih sedikit bingung sekarang.
Aku bisa melupakannya!
Maksudku, kalau sekarang sulit melupakannya.
Tapi jika aku berusaha, tentu saja aku...
Kita bisa kembali lagi seperti ini!
Soo Yeon, lihatlah ini!
Haruskah kita jalan-jalan?
Kita berfoto seperti ini waktu kita jalan-jalan, 'kan?
Kalau begitu begini saja.
Kenapa kita tidak pergi saja ke Eropa?
Kau bilang kau ingin pergi ke Praha lagi.
Aku yakin Joon Soo mau ikut juga. Benar, 'kan?
Aku akhirnya menyadari hari ini...
...bahwa kau dan aku...
...kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi.
Kita tidak akan mampu melakukannya walau seberapa kali kita coba.
Aku tidak ingin membebanimu lagi.
Semakin kau mencoba memaafkan... semakin kau mencoba melupakan--
Kau tahu darimana itu, kau saja belum mencoba?
Maaf. Aku tidak bermaksud berteriak padamu.
Aku sungguh menyesal.
Bagaimana Joon Soo?
Kita perlu mempertimbangkan Joon Soo.
Dia baru tujuh tahun.
Jika dia tahu kita akan berpisah...
...pasti dia kaget sekali.
Bagaimana kalau kita hidup terpisah?
Kenapa kita tidak tinggal terpisah sementara waktu ini saja?
Berikan aku waktu.
Maka aku yakin...
Aku yakin bahwa aku lupa...
Aku sudah memaafkanmu. Membuatku gila saja.
Astaga.
Sayang... kita...
Oh, ya.
Aku ada syuting pagi. Aku berangkat kerja sekarang.
Jaga Joon Soo hari ini, ya? Aku pergi sekarang.
Kau sudah datang./ Ya.
Selamat pagi!/ Selamat pagi.
Kalau semua orang sudah datang, kita semua harus masuk ke ruang rapat.
Jadi... tiap orang harus mencari cerita yang sesuai dengan tema minggu ini.
Kita mulai lagi rapatnya jam 3.
Oke?/ Ya.
Penulis Kwon, kapan kau punya rencana program baru?
Penulis Kwon.
Dia menanyakan rencana program baru.
Belum selesai perencanaannya.
Maaf. Aku akan menyelesaikannya hari ini dan menunjukkannya padamu.
Oh, oke.
Baiklah.
Ji Hoon, ayo ke ruang editing.
Ada bagian adegan yang risih kulihat./ Oh baiklah.
Kenapa kau? Kau sakit?
Biasanya kau tidak pernah terlambat menyelesaikan tugas.
Kita telah bekerja bersama selama delapan tahun, dan hal seperti itu tak pernah terjadi.
Tidak, bukan itu.
Aku senang bahwa Hyung jadi normal lagi.
Dia waktu itu tidak bisa fokus kerja sama sekali, tapi dia bekerja sangat keras hari ini.
Sepertinya hal yang menimpanya itu memang untuk tujuan lebih baik.
Insiden itu menjadi titik balik penting bagi mereka untuk rujuk lagi.
Apa mereka kembali seperti semula...
...atau mereka berusaha keras untuk kembali seperti semula?
Apa? Apa maksudnya itu?
Aku sudah dapat hak atas bangunannya. Apa aku harus mengembalikannya?
Haruskah aku memohon padanya?
Aku bahkan tidak bisa membuat perhitungannya.
Sayang.
Sepertinya kau belum tahu, ya.
Belum tahu apa?
Aku telah memutuskan untuk menutup kantor ini.
Kenapa kau menutup kantorku?
Tidak lagi.
Berkemaslah hari ini.
Aku harus segera cari penyewa gedung ini lagi.
Sayang...
Aku juga ingin kau tinggalkan kunci mobilmu disini.
Bukannya kau itu seorang profesional, bukan? Maka kita selesaikanlah ini secara profesional.
Ya.
Sayang...
Anda sudah pernah beli ponsel disini sebelumnya... Apa ponselnya bermasalah lagi?
Aku tidak mampu membayar tagihan kredit ponselnya.
Aku selalu memikirkannya.
Aku tidak bisa boleh seperti itu.
Bagaimana, ya?
Batas pengembalian ponselnya sudah berakhir.
Anda tidak dapat membatalkan kontrak karena Anda sudah menandatanganinya.
Maafkan aku.
[Dicari Karyawan: Tidak ada batasan usia, pria atau wanita boleh melamar]]
Hyun Woo.
Hai, Ah Ra.
Kau mau datang melihat Yoon Ki?
Jadi kau tahu itu semuanya selama ini?
Aku tidak tahu apa yang harus kujelaskan padamu.
Kau tidak perlu menghiburku.
Aku tidak perlu dihibur.
Aku tahu aku kurang sopan bertanya begini, tapi kenapa tiba-tiba kau memutuskan buat bercerai?
Kau selama ini sudah menahan amarahmu dan kau sudah tahu itu semua.
Jadi kenapa tiba-tiba...
Aku merasa aku sudah berubah menjadi monster.
Apa?
Selama ini aku telah membohongi diriku. Dan dia.
Ketika aku mencium bau makeup wanita lain di kemejanya...
...aku berpikir, "klien perempuan pasti datang kantornya."
Saat aku melihat obrolan SMS atau chat di ponselnya pun...
...aku berpikir, "Wanita itu pasti teman baiknya yang tidak kuketahui."
Begitulah aku membohongi diriku sendiri dan mengabaikannya.
Karena aku mencintainya, karena aku tidak bisa melanjutkan hidup tanpa dia.
Aku berpura-pura menjadi wanita yang lebih baik.
"Karena aku pandai masak..."
"...aku buat makanan lebih lezat dan membuatnya bahagia."
"Dan... membuat diriku juga bahagia."
Tapi seberapa kerasnya aku berpura-pura, emosiku juga tak terbendung.
Saat aku mengiris sayuran, memotong daging, merebus sup untuknya pun...
"Dia pasti memeluk wanita lain."
"Dia pasti membuka baju wanita lain."
"Dia pasti mencium leher wanita lain."
Saat aku tiba-tiba berpikir seperti itu...
Aku mengumpat tentang dirinya.
Aku mencintainya, dan aku ingin dicintai olehnya.
Tapi aku mengumpat menggunakan kata-kata yang bahkan tidak bisa kujelaskan disini.
Terkadang aku tersenyum sambil melihatnya melahap makanan buatanku.
Pada saat yang sama, aku berharap dia mati pada saat itu juga,
Dia bersalah, tapi aku terobsesi padanya dan meragukan dia tanpa henti.
Aku merasa aku berubah menjadi monster saat aku mengumpat orang yang kucintai.
Dan aku benci diriku sendiri karena... menjadi seperti itu.
Janganlah salahkan dirimu sendiri.
Aku tidak menyalahkan diriku sendiri. Aku juga tidak menyesal.
Karena aku tidak mencintainya lagi.
Kau harus kembali bekerja.
Aku pasti sudah menyita banyak waktumu.
Tidak sama sekali.
Sehat-sehatlah, Hyun Woo. Kita mungkin tidak akan bertemu lagi.
Ya, sepertinya begitu.
Aku buat kesalahan soal apa yang kukatakan sebelumnya.
Apa?
Bahwa kau juga bisa melakukan kesalahan.
Entah kesalahan apa yang kauperbuat, itu tidak bisa jadi alasan berselingkuh.
Aku menyadari itu masalah yang berbeda.
Apa maksudmu?
Tapi menurutku cinta bisa menjadi senjata.
Aku lebih mencintainya...
...jadi aku bisa mengakhirinya.
Bukankah aku pernah memberitahumu? Kau mungkin bisa memaafkannya...
...tapi kau tidak akan pernah bisa melupakannya.
Kau sudah terjebak ke dalam rawa.
Meski kau berusaha keras melupakannya...
...kau malah akan tersedot ke dalam rawa tersebut.
Terimalah kenyataan itu, Toycrane.
Apa Do PD-nim tidak makan siang?/ Tidak, dia pergi keluar tadi.
Apa dia akan datang lagi setelah makan siang?
Kita harus belikan dia sandwich nanti.
Omo. Temanku bercerai setelah baru enam bulan menikah.
Alasan mereka bercerai kenapa?
Dia bilang itu masalah kepribadian pasangannya...
...tapi dia sebenarnya sudah tahu kepribadian pasangannya itu saat mereka masih pacaran.
Sepertinya dia itu berbohong.
Ada lebih banyak alasan buat bercerai dari yang kita sangka.
Berdasarkan database-ku, nomor satu alasan bercerai...
...adalah perbedaan yang tak bisa dimaafkan.
Kemudian karena alasan ekonomi, perselingkuhan.
Oh, dan berdasarkan database tidak resmi, kehidupan seks juga bisa jadi alasannya.
Wow, apa mungkin itu yang jadi alasan temanku bercerai?
Apa? Mana mungkin ada masalah kehidupan seks?
Benar juga.
Aku tidak meminumnya.
Apa yang bisa dijadikan alasan serius penyebab perceraian?
Menurut pendapatku, pasangannya itu pasti %$#*@
Bukankah begitu?
Ahn PD.
Berhenti bertingkah seperti itu di depan orang lain.
Hah? Apa?
Sudah kubilang padamu kalau kita takkan berpacaran.
Aku juga tak boleh peduli padamu? Memangnya aku pernah mengajakmu pacaran?
Canggung bersikap seperti itu di depan orang lain. Aku risih, jadi jangan seperti itu lagi.
Itu artinya kau tahu kalau aku perhatian padamu.
Aku memang pintar menunjukkan rasa perhatian.
Kenapa kau baru memikirkannya sekarang?
Kau harusnya mengakuinya sekarang.
Jika kau mulai melihat ketulusanku, maka game sudah berakhir.
Tidak. Jadi jangan lakukan itu saat aku tidak menyuruhmu melakukannya.
Katakan.
Apa hatimu tersanjung saat aku perhatian padamu?
No comments yet. Be the first to leave one.