The first 200 lines.
Menghadapi peperangan dan perebutan kekuasaan dari dalam yang tanpa henti,
kaisar China dan para bangsawannya sering menghadapi ancaman pembunuhan.
Untuk bertahan hidup, mereka secara rahasia menyewa pengganti yang disebut sebagai ''bayangan''.
Bayangan melayani tuan mereka dengan berani dengan mempertaruhkan nyawa,
dan membuktikan kesetiaan mereka dengan menerima kematian.
Hilang dari perjalanan sejarah, mereka menjalani kehidupannya dalam ketidakjelasan
dan menghilang tanpa jejak.
Ini kisah seorang bayangan.
Kisah dimulai dari Madam,
istri dari Komandan Besar Kerajaan Pei,
yang menghadapi pilihan tersulit dalam hidupnya.
Boleh aku bicara denganmu, Tuan.
Tuan.
Tuan.
Komandan...
Dia lagi.
Apa lagi sekarang?
Kemarin dia mengunjungi Kota Jing.
Apa?
Dia pergi ke Jing?
Untuk apa?
Untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Yang.
Dia pergi kemarin dan kau baru memberitahuku hari ini?
Lu, kau adalah menteri yang paling kupercaya.
Apa begini caramu melayaniku?
Apa dia sudah kembali?
Belum.
Pergi dan tunggu dia.
Saat dia kembali,
segera bawa dia untuk menghadapku.
Baik, Tuan.
Bagaimana?
Pembacaannya adalah tentang kekuatan maskulin.
Tak ada tempat untuk perempuan di sini.
Qian, si lelaki, asal dari segalanya akan menguasai dunia.
Pembacaan ini adalah ''Qian''.
Ini takdir Langit.
Kak, ada rumor tentang ini di Istana.
Pembacaan ini juga merupakan pertanda yang baik.
Kapan peperangan itu akan dimulai?
Musim panas, atau musim gugur?
Menurut pembacaan ini...
Waktu kita akan tiba dalam 7 hari.
7 hari?
Setelah hujan selama 7 hari,
kita akan menang ketika airnya pasang.
Komandan tiba!
Pahlawan kita yang pemberani telah kembali!
Adik.
Lapor.
- Tuan. - Tuan.
Aku dengar...
kau pergi untuk merayakan ulang tahunnya Yang.
Benar.
Aku yakin kau memberikan pidato yang bagus.
Aku pergi ke Jing hanya untuk mengklaim satu hal.
Kota yang telah dia kuasai selama 20 tahun.
- Apa dia bersedia untuk mengembalikannya? - Tidak.
Jadi kau menyatakan perang?
Yang dan aku telah setuju...
dalam beberapa hari, di bawah City Pass, untuk berduel satu lawan satu,
dan lihat siapa pemenangnya.
Dua kerajaan kita adalah sekutu.
Duel antara komandan tertinggi kita artinya perang.
Apa kau tak memahami ini?
Dia sudah menyetujuinya.
Baik.
Aku tanya padamu.
Apa kau yakin kau bisa mengalahkan dia?
Ya atau tidak?
Berapa kemungkinan menangmu?
Paling besar 3 dari 10.
Konyol.
Jika bukan karena Perjanjian Damai kita...
Pei sudah hancur dari dulu.
Kerja yang bagus.
Kau telah menghancurkan segalanya.
Kota Jing masih milik Pei.
Itu di bawah kekuasaan Yang.
Semua lelaki sejati dari Pei rindu untuk merebutnya kembali.
Tak ada penguasa yang bisa melawan kehendak rakyatnya.
Jika Jing tak direbut kembali, Pei akan hancur di bawah kekuasaanmu.
Komandan, kau tak boleh bilang begitu.
Lebih baik aku tak pernah merebut Jing kembali...
daripada menghancurkan Persekutuan ini.
Atas namamu aku memberitahukan mereka yang sebaliknya.
Dan apa kau juga akan menjadi Raja atas namaku?
Apa yang sudah terjadi tak bisa ditarik kembali.
Dan hukumanku?
Sudahlah.
Lebih baik kita tak berargumen.
Mendiang ayahku meninggal terlalu dini.
Hanya tinggal aku dan adikku saja.
Berkat kau, Komandan, hingga akhirnya aku mendapatkan takhta ini.
Mari kita lupakan pembicaraan ini.
Tuan benar.
Mari kita nikmati hal yang langka ini.
Aku dengar...
kau dan istrimu merupakan duet yang sangat hebat.
Aku selalu ingin mendengarmu.
Jadi, apa kau mau bermain untukku?
Tuan,
Kerajaan kita sedang kacau, aku tak dalam mood untuk bermain.
Komandan, jangan mengecewakan Kaisar.
Baiklah, kami akan menikmati permainanmu.
Bawa kemari kecapinya.
Ayo mulai.
Ayo.
Ayo.
Silahkan.
Kenapa?
Aku, Kaisar kalian...
tak bisa meminta kalian untuk bermain untukku?
Komandan.
Tuan, aku bersalah.
Kau masih belum mulai.
Apa yang membuatmu bersalah?
Aku takkan mengganggu suamiku...
dengan pemandangan dan suara yang indah.
Aku telah bersumpah bahwa hingga hari di mana Jing direbut kembali...
aku takkan bermain musik.
- Jika tidak... - Jika tidak kenapa?
Aku akan memotong jariku untuk membuktikan tekadku.
Sumpah yang mengagumkan.
Tapi aku adalah Langit Pei.
Sekarang aku memintamu untuk bermain.
Apa kau akan mematuhiku atau tidak?
Sudahlah, hari ini jangan bermusik.
Pelayan, bawa kecapinya pergi.
- Pelayan, cepat. - Tidak.
Mereka akan bermain.
Kalau begitu aku tak ingin mendengar.
Komandan.
Istrimu menunggu.
Sumpahmu...
adalah sumpahku juga.
Aku akan memotong rambutku...
untuk meminta pengampunan dari Langit.
Komandan, jangan.
Komandan, jangan.
Jangan lakukan ini.
Baiklah, tak usah bermain musik.
Tak perlu membuat kegaduhan.
Kami permisi.
Tuan, kenapa kau memaksa Komandan bermain musik?
Aku hanya mencoba untuk mengurangi kesombongannya.
Aku harus membereskan masalah yang dia buat.
Hanya ada satu pilihan tersisa.
Putranya Yang, Ping,
masih belum menikah, 'kan?
Maksud Tuan adalah...
Menikahkan adikku yang liar itu.
Bukankah kita harusnya menanyakan apa dia bersedia?
Aku kakaknya.
Tak perlu bertanya.
Kau harus membuat Yang mengerti.
Komandan tidak mewakili aku.
Kita tak berniat untuk merebut kembali Jing.
Terlebih lagi memulai peperangan.
Lamaranku ini akan memperlihatkan ketulusanku.
Baik.
Aku akan memilih hari baik untuk mengajukan lamaran.
- Kau boleh pergi. - Baik, Tuan.
Untuk menjadi satu...
Dua hati harus berdetak menjadi satu.
Begitu juga dengan kasusmu dan Madam.
Aku bahkan tak berani berlatih.
Aku pantas mati.
Jika identitasmu terungkap...
saat itu baru kau pantas mati.
Kita berdua pantas mati.
Kau harus menguasai kecapi itu dan merasakan sayatan ini.
Komandan, silakan dilanjutkan.
Ramuan ini sangat keras.
Dalam satu jam,
lukamu akan membusuk dan terlihat sama seperti lukaku.
Apapun yang kau tahan...
keluarkanlah, dan kau akan merasa lebih baik.
Keluarkanlah!
Ketika aku berusia 8 tahun aku terpisah dari ibuku...
dan tersesat, berjalan sendirian melewati Kota Jing.
Aku pingsan karena kelaparan.
Pamanmu tak sengaja lewat sana.
Aku takkan pernah lupa semangkok nasi itu...
Aku sudah di sini selama 20 tahun...
Hari-harimu di sini memang keras.
Aku berhutang rasa terima yang mendalam pada kalian berdua.
Paman orang yang kejam.
Setiap kali kau berusaha untuk melarikan diri...
dia memukulimu hingga kau pingsan.
Tempat ini...
adalah penjara, kurunganmu.
Tekanlah untukku.
Dan setelah dia meninggal...
aku membuatmu melewati latihan yang brutal itu.
Kau pasti benci padaku.
Bagaimana aku bisa membencimu?
Aku bersedia mati demi kalian...
untuk membalas kebaikan kalian.
Yang-lah yang seharusnya mati.
No comments yet. Be the first to leave one.