The first 198 lines.
Nama dari kegiatan kita kali ini
sudah saya pikirkan.
Namanya adalah
menyelamatkan kemurungan.
Lain kali kalau kamu mau mencari pacar,
tolong pertimbangkan saya terlebih dahulu.
Terima kasih kamu telah membagikan markas rahasiamu dengan saya.
Lihatlah kembang api besar yang saya nyalakan untukmu.
Profesor Hu.
Qin Meng.
Kenapa kamu punya waktu luang untuk datang ke laboratorium forensik?
Bukankah kamu hari ini ada seminar?
Belum mulai.
Saya dengar dari Xiao Zhao bilang,
dia adalah asisten kamu juga.
Jadi saya datang kemari bersama dia untuk melihat kamu
Dia bukan asisten saya.
Apa?
Dia adalah tangan kanan saya.
Profesor Hu, kamu masih sama seperti dulu.
Waktu itu ketika saya menjadi asisten dia,
dia juga setiap hari bercanda dengan saya.
Mana ada.
Xiao Meng, sini. Sini. Sini.
Xiao Zhou,
ambilkan hasil uji eksperimen
kita yang minggu lalu kemari.
Berbicara sambil duduk.
Bagaimana?
Pasti sangat sibuk ya di Pusat Identifikasi Peradilan.
Lumayan.
Apakah masih menulis novel?
Masih, kenapa?
Kamu benar-benar sangat santai ya,
masih punya waktu luang.
Profesor Hu,
tahun itu bukankah kamu yang mendukung saya untuk menulis novel?
Saya hanya mendukung begitu saja.
Siapa sangka kamu bisa menjadikan ini sebagai pekerjaan kedua kamu?
Kamu ingat ya,
kamu adalah murid saya.
Jangan menyia-nyiakan pekerjaan kamu.
Saya tahu. Saya tahu.
Pak Profesor,
coba kamu lihat.
Oh ya,
belakangan ini
saya membaca novel yang sangat menarik.
Murid bernama Zhou Xiao
di sekolah kita
yang menulisnya.
Pak Profesor,
saya juga murid kamu.
Saya juga menulis novel.
Kenapa kamu tidak melihat punya saya?
Novel kamu terlalu serius, lelah jika membacanya.
Tapi,
Zhou Xiao yang
di Jurusan Sastra Mandarin ini,
gaya penulisan dia sangat menarik.
Membaca novel dia,
seperti sedang berbaring santai di sofa
sambil minum anggur.
Benarkah?
Novel apa yang pernah dia tulis?
Namanya
Forensik Darah Dingin Bermuka Dua.
Yang benar adalah Forensik Haus Darah Bermuka Dua.
Benar.
Xiao Zhao, kamu juga pernah membacanya?
Dia sangat suka membacanya.
Sangat suka sampai lupa makan dan tidur.
Benarkah? Sepertinya novel ini sangat populer.
Nanti saya akan mengeceknya di internet.
Saya lihat murid-murid di sekolah kita yang menulis
novel banyak juga ya.
Eh, bukankah pacar kamu juga menulis novel?
Panggil dia kemari untuk tanda tangan.
Siapa tahu suatu hari nanti menjadi populer.
Kalau begitu Xiao Zhou kita
harus lebih berusaha lagi.
Zhao Fanzhou!
Zhao Fanzhou!
Zhao Fanzhou! Zhao Fanzhou!
Cepat buka pintu! Orang yang paling kamu ingin temui sudah datang.
Cepat buka pintu!
Idola masa depan kamu sudah datang.
Zhao Fanzhou!
Saya masuk sendiri ya.
Kamu menyuruh saya datang ke laboratorium forensik
karena ada orang yang sangat ingin saya temui di sini?
Jelas-jelas karena kamu ingin menemui saya.
Cepat lihat saya lebih lama, cepat.
Saya terburu-buru mau ke depan auditorium untuk melihat Qin Meng.
Tidak.
Pokoknya tidak.
Pacar kamu ya?
Pak Profesor, kalau begitu saya pergi dulu.
Lain hari saya datang lagi melihat kamu.
Jangan sampai murid-murid menunggumu terlalu lama.
Apakah kamu sudah tenang?
Biarkan saya tenang dulu.
Saya gugup pertama kali bertemu dengan idola saya.
Bu Qin sudah mau pergi.
Halo, Bu Qin.
Saya dari Jurusan Sastra Mandarin.
Saya sangat suka membaca novel Anda.
Saya ingin mengikuti Anda.
Kamu Zhou Xiao ya?
Bagaimana Anda bisa tahu nama saya?
Forensik Haus Darah Bermuka Dua?
Anda masih tahu tentang novel saya?
Ternyata begini.
Apa?
Tidak apa-apa.
Hanya saja
kesannya sangat mendalam.
Ternyata Ibu juga pernah membaca novel saya.
Itu karena Profesor Hu
dan murid Xiao Zhao sangat merekomendasi.
Sebenarnya, karena saya melihat karya Ibu,
baru saya memutuskan untuk menulis karangan.
Kamu berbicara seperti itu, saya malah menjadi merasa sedikit malu.
Jadi apakah Ibu bisa
menyelenggarakan seminar lagi?
Yang menghadap seluruh sekolah.
Kami sebagai penggemar
sungguh iri dengan Jurusan Kedokteran Forensik.
Saya rasa bisa dipertimbangkan.
Boleh juga.
Menyelenggarakannya satu kali maupun dua kali juga tidak masalah.
Benarkah?
Benar-benar bisa.
Tapi ada satu masalah, naskah pidato saya yang sekarang
tertuju untuk Jurusan Kedokteran Forensik.
Tidak masalah.
Saya bisa mempersiapkan satu data lagi untuk kalian.
Tapi garis besar yang kamu buat
besok pagi harus diberikan kepada saya.
Baik, bisa.
Apakah kamu yakin?
Yakin.
Hanya seminar yang berlangsung selama dua jam,
tapi dia bisa mengumpulkan begitu banyak data.
Tadi kamu masih bisa berjanji dengan sungguh-sungguh.
Ini sama seperti sedang wawancara.
Meskipun kamu tidak bisa tetap harus berkata
saya bisa melakukan apa saja.
Yang tidak bisa kan bisa dipelajari.
Pertanyaan yang lebih spesifik,
jika kamu tidak mengerti,
boleh tanya kepada saya.
Mengerti.
Tapi target kali ini,
dari Jurusan Kedokteran Forensik berubah menjadi
seluruh murid dan guru yang ada di sekolah.
Saya rasa isinya harus lebih
populer dan menarik.
Iya.
Iya?
Jawaban kamu hanya satu kata, iya saja.
Kamu sebagai teman belajar saya,
bisa tidak lebih bersungguh-sungguh sedikit?
Bisa tidak memberi saya sedikit inspirasi.
Inspirasi.
Kenapa?
Untuk meningkatkan keterampilan.
Berguna untuk mendapatkan inspirasi.
Oh.
Jangan mengerjakannya sampai terlalu malam.
Semua karena kamu.
Bertahan. Bertahan. Bertahan.
Sisa halaman terakhir.
Sudah tidur.
Bu, silakan.
Halo, Bu Qin. Halo, ketua.
Halo, Bu Qin.
Ini adalah data yang saya persiapkan semalam.
Kamu sudah menyelesaikannya?
Saya kira kamu hari ini tidak akan menyelesaikannya.
Jadi kemarin malam saya juga begadang
mempersiapkannya.
Kelihatannya punya saya tidak perlu digunakan.
Terima kasih, Bu.
Kalau begitu saya kembali ke tempat duduk dulu.
Jangan.
Kamu duduk di samping saya.
Sepertinya ini tidak terlalu baik.
Naskah pidato ini kamu yang membantu saya mempersiapkannya.
Saya juga tidak begitu akrab, bagaimana jika salah nanti?
Tapi Asosiasi Mahasiswa telah mempersiapkan pembawa acara.
Apakah saya tidak boleh mempunyai pendapat saya sendiri?
Tidak. Tidak. Saya tidak bermaksud seperti itu.
Baik.
Kalau begitu kamu pelajari dulu kondisi panggung.
Saya pergi ke kamar mandi dulu.
Bu, saya bawa kamu ke sana.
Halo, kakak kelas.
No comments yet. Be the first to leave one.