Abstract: The Art of Design

Abstract: The Art of Design

Download Indonesian Subtitle

Season 1

Release info

Abstract The Art of Design S01E03 720p WEBRip X264-DEFLATE[ettv]
A Commentary by SugijoDwiarso

Tags

webrip
web
x264
720p
720
BRip
Published on: 2019-12-05
Downloads: 36
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Lebih dari dua dekade terakhir berkarya,

salah satu hal yang aku temukan sering kali adalah hal-hal yang diciptakan untuk mengisi kekosongan.

Dorongan untuk mengisi lubang dengan seni, bagiku, adalah fundamental.

Kanvasku punya kecenderungan mendambakan cahaya.

Kau sepertinya butuh memulainya tanpa cahaya untuk menemukannya.

Inilah pertanyaan pertamaku, dan aku merasa penasaran dengan hal ini.

Kau mengeja namamu "Ezz" atau "Ess"?

Aku mengeja namaku "Ezz," sebab namaku adalah kependekan dari Esmeralda.

Sering dikira nama laki-laki,

aku mendapat sebuah ulasan di Jerman, yang mengatakan, " Herr Devlin adalah kerja hebat seorang lelaki

yang diuntungkan dari membaca aspek-aspek feminin dari teks itu."

Jadi, hal itu berguna, benar-benar nama singkat yang netral, Es.

Dia cukup luwes. Dia berdampak cukup bagus sebagai sebuah nama.

Setiap proyek dimulai tepat seperti ini.

Selembar kertas kosong, meja kosong, biasanya ada satu orang di sana.

Bisa seorang sutradara, atau seorang penulis skenario, atau seniman, jika itu untuk pertunjukan pop.

Dan percakapan terjadi,

dan normalnya aku mulai membuat 'drawing' sembari kita berbicara.

Jadi, jika aku sedang berbincang tentang latihanku sendiri,

itu akan mulai dengan yang satu ini,

dengan sebuah gambar kecil sebuah gunting di atasnya.

Sebab kau pernah mendapatkannya, dan kau masih bisa mendapatkannya,

di belakang sebuah kardus cornflakes ,

dan itu adalah sebuah undangan untuk mengambil kardus cornflakes

dan memotongnya dan membuat intervensi di dalamnya

dan menggantinya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lain.

Seperti ini, pasti.

Dan lalu kau angkat ke cahaya dan begitulah,

"Oh, ada cahaya yang menerobos melalui sobekan kecil yang kubuat!"

Jadi aku seperti itu.

Aku sering ditanya orang, "Bagaimana kau memulai apa yang kau lakukan?"

Aku sering ditanya anak-anak muda, sepertinya, masyarakat berusia 17 tahun,

yang tidak tahu harus berbuat apa.

Dan aku selalu merasa sangat berempati terhadap masyarakat berusia 17 tahun

yang bilang, "Aku tak tahu harus berbuat apa."

Aku tak berbeda dengan anak-anak itu, aku sama sekali tak tahu harus berbuat apa.

Tapi lalu aku ikut kursus desain teater

dan kulihat sendiri dalam ruang itu penuh dengan orang-orang yang membuat benda-benda model.

Kupikir, "Ini bagus, orang-orang ini liar,

dan mereka terjaga sepanjang malam membuat model, aku cukup merasa nyaman di sini."

Jadi, aku menjalaninya. Aku membuat model selama setahun

dan pada akhir kursus, aku memenangkan penghargaan.

Salah satu pertunjukan penting pertama yang ditawarkan padaku

adalah pertunjukan Harold Pinter, Betrayal (Penghianatan).

Pertunjukan besar di Teater Nasional di London, jadi aku mempertaruhkan segalanya di situ.

Dan dituliskan di situ set-nya di sebuah ranjang, sebuah ruang tamu, sebuah ruang hotel di Venesia,

dan yang kulakukan adalah menumpuk rencana lantai dari setiap adegan

dengan proyeksi.

Dan saat itu, hal yang cukup tidak biasa orang menggunakan proyeksi dan film dalam teater.

Benar-benar membutuhkan infrastruktur untuk membuatnya berhasil.

Dan poin tentang pertunjukan unik itu adalah dia sama sekali tak membutuhkan hal itu.

Dia tidak membutuhkannya. Itu adalah pertunjukan yang meyenangkan di dalam sebuah kotak

dengan sedikit pergantian tirai putih dan perabot, menyenangkan seperti itu.

Tapi itu diriku, aku sedang melakukan tugasku dan Harold Pinter menyambutnya dengan baik.

Sebab dia cukup senang menyaksikan segala peralatan itu,

dan, sebagai sebuah gurauan, dia, di malam pertama, memperkenalkan aku pada Antonia Fraser,

istrinya, Lady Antonia Fraser,

dan bilang, "Ini Es, dia yang menulis naskah."

Itu terasa manis.

Permulaan latihanku adalah membuat teater kecil.

Kau tahu, secara harfiah, ada 78 penonton di 'Bush Theatre',

yang merupakan tempat pertama aku mulai bekerja.

'Bush Theatre' itu hampir seukuran dengan sebuah kotak mainan.

Yang adalah, keajaiban close-up .

Kami menciptakan dunia di dalam ruangan yang sangat, sangat kecil.

Bagaimana kau membuat panggung berputar di dalam teater dengan 80 tempat duduk penonton?

Bagaimana bembuat proyeksi, layar-layar televisi?

Orang membelanjakan banyak uang untuk membuat itu.

Kita menghabiskan kira-kira empat quid untuk membuatnya

dan Es berusaha mewujudkannya, setiap tahapnya.

Dia mengecat set-nya, dia membuat modelnya, dia mengelas.

Aku mulai menemukan apa yang ingin kuungkapkan lumayan cepat

dan cukup cepat,

orang-orang yang tak suka dengan apa yang kulakukan berhenti bertanya.

Latihanku telah mengikuti jalan mencari pengetahuanku sendiri.

Dan untuk bisa berlatih, aku telah menemukan para kolaborator yang bersungguh-sungguh

yang telah mampu aku sesuaikan dengan jalan mencari pengetahuanku.

Dari bintang pop seperti Beyoncé, hingga opera-opera Wagner.

Hal yang menarik dari proses...

Aku telah belajar bahwa aku tidak benar-benar membuat sesuatu atau tahu apa yang akan dibuat,

hingga aku tahu ruang seperti apa yang hendak dihuni.

Sebab segera setelah kau mendapat bingkainya,

tentu hal pertama yang ingin kau lakukan adalah mulai menjebol tepi-tepinya.

'The Faith Healer' adalah serial monolog

lewat hujan, lewat sesuatu yang tebal, lewat ketelanjangan.

Celah rapuh di antara setiap monolog

diperlukan untuk menyingkap ketelanjangan perpindahan adegan itu.

Kucuran hujan mampu memenuhi kebutuhan itu, tapi juga memenuhi kebutuhan yang lebih praktis:

kita berada di sebuah teater yang tak punya 'wings' (panggung belakang),

tak punya 'fly tower' .

Bagaimana cara kita mengganti latar belakang?

Kami menggunakan kotak hujan seperti sebuah tirai, praktis.

Dari sudut si aktor,

mereka menikmati cara mereka dipelihatkan dan ditutupi

pada awal dan akhir dari setiap monolog mereka.

Ini adalah sebuah teater yang memiliki dinding bata tepat di belakang apa yang kau lihat di sana,

dan penonton yang datang ke mari mengetahui dengan akrab dinding bata itu,

mereka pernah dihadapkan pada ruangan yang dangkal.

Jadi untuk memberi mereka kedalaman dan elemen yang nyata.

Kau bisa merasakan perasaan penonton respon emosional yang dimiliki setiap orang

melalui kilauan hujan di dalam ruang sempit yang gelap.

Dan aku puas.

Omong-omong, aku tak tahu sistem cara kerja hujan.

Hal itu hanya menunjukan bahwa kau bisa mendesain hal-hal yang indah

tanpa tahu sama sekali bagaimana cara kerja mereka.

Es adalah seseorang yang benar-benar membuatku kagum setiap kali kita bekerja sama.

Aku pulang dari pertemuan dengan perasaan senang,

sebab dia selalu muncul dengan informasi yang tak pernah aku tahu

atau menemukan sesuatu dengan makna-makna yang lain.

Sebuah stimulus baru setiap saat, kebanyaakan pada saat pertemuan.

Normalnya, selama proses itu akan ada beberapa pertemuan.

Mungkin ada 5 atau 25 kali.

Dan hal itu mungkin butuh setahun atau tiga tahun atau tiga bulan.

Aku akan membentuk sebuah tim untuk membuat model.

Aku akan menggambar berbagai model yang aku pikir akan diwujudkan,

dan lalu saat aku kembali, kami sudah punya banyak pilihan.

Kadang mereka menarik. Kadang mereka kurang menarik.

Kami mengadakan pertemuan lainnya,

kami bilang, "Kami pikir itu bisa seperti ini, bisa seperti itu..."

Jadi kau perlu tampil dengan segala sesuatunya.

Ini sebenarnya barangkali yang terbaru, dan ini ide yang ditolak.

Dia ditarik ke Paris ke studio Karl Lagerfeld,

sementara Kanye West dan Kim Kardashian sedang difoto di atas ranjang.

Dan aku duduk di pojok ranjang menggambar ide-ide yang ada di benak Kanye

dan salah satu darinya adalah seorang lelaki terbuat dari LED,

dan postur ini adalah hasil dari sketsa yang sangat, sangat banyak.

Sebab pada awalnya, dia terlihat terlalu kuat,

dan dia tidak terlihat sangat ringkih.

Jadi kami harus ke sketsa yang dia sukai pada hari itu

dan kami membuat model ini.

Dan lalu kami membawanya ke Los Angeles dan langsung dibenci,

jadi dia pulang dengan rasa malu.

Dan kepalannya tertunduk karena malu

bersama manusia kepala betet mungil yang sedang menghiburnya.

Kau paham... / Mm-hmm.

Aku ingin ada pintu kecil. / Datar saja?

Kosong. / Merona merah.

Pintu yang merona merah. / Mm-hmm.

Dan bisa dibuka.

Aku diundang untuk membuat sebuah karya untuk pameran Triennale di Belgia.

Itu adalah pameran tentang hubungan antara musik dan seni rupa.

Sebuah perwujudan visual musik.

Dan itulah kenapa aku diundang untuk ambil bagian, sebab karya yang pernah kubuat dalam musik.

Kau tahu apa yang bisa kau perbuat?

Kau bisa letakkan kain kasa di sana dan lalu merobeknya ke luar area.

Jadi, Kupikir itu cukup elegan, jika kau merentangkannya.

Yah, Kupikir itu akan terlihat benar-benar cerdik.

Aku tiba-tiba ingin membuat sebuah kubus yang bisa berputar,

yang memiliki 'aperture' (bukaan, istilah dalam kamera) pada sisi-sisi yang berbeda,

memproyeksikan gambar-gambar dari beberapa pertunjukan yang kubuat selama lebih dari 20 tahun.

Aku akan memberitahukan apa yang terbersit di pikiranku:

barangkali ada hal yang menarik dengan melihat kekacauan di dalamnya,

atau mungkin kau menginginkannya tetap misterius, kau tahu. Itu...

Itulah poin-nya.

Eng-ing-eng! / Oke.

Aku suka itu, aku akan kemari lebih sering. Beres!

Ada unsur kecemasan mengenai ini semua.

Ada unsur teror,

sebab Kanye tak akan ada di sana, Beyoncé tak akan ada di sana.

Aku harus membuat sesuatu yang dengan sendirinya berharga untuk ditonton,

yang belum pernah aku buat sebelumnya, jadi kita lihat saja nanti.

Itu mungkin berharga atau mungkin tak layak ditonton.

Helo? / Helo!

Aku tak pernah menonton sebuah konser pop,

dan aku tak akan pernah mau kecuali demi Es.

Yah, terserah dia. Aku sering.

Tapi kupikir daya pikat tontonannya.

Segala cahaya yang menyala, orang-orang mengambil foto

dan suara yang memekakkan telinga dan segalanya, sebenarnya aku cukup terhanyut karenanya.

Ini adalah hadiah Natal yang diberikan Es pada kami tahun lalu,

dan itu adalah potongan dari set besar yang dia buat di Dresden, dan itu adalah Der Freischütz. (opera Jerman)

Hal yang indah lainnya adalah kita akan melihat banyak hal yang dia lakukan,

jadi kami adalah penggemar berkemah. Kami adalah pengendara jalanan, betul. Kami suka pergi-pergi.

Dan itu sangat menyenangkan, karena beberapa tempat yang belum pernah kami datangi.

Omong-omong, suamiku, kau barangkali belum tahu...

Ayah Es adalah tukang rajut yang handal.

Itu spesialisasiku... / Dia membuat kerudung teh...

Aku juga membuat meja. / Dia yang bikin meja ini.

Suamiku yang membuat meja ini. / Ini dibuat dari plang papan.

Yak. Papan tua.

Maksudku, 90% benda-benda di dalam rumah ini berasal dari toko barang bekas

dan kami hanya mengecatnya atau merakitnya.

Yah.

Jadi kupikir Es melakukan hal yang sama persis,

tapi kami tak pernah benar-benar berpikir dia kan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan seni.

Musik adalah kesukaannya.

Caraku untuk melarikan diri atau berpetualang pergi jauh dari desa

adalah lewat musik.

Sebab aku pernah pergi ke London naik kereta api, umur 11, sendiri,

dan aku belajar musik di London di 'Royal Academy',

dan selesai aku belajar musik,

Aku menghabiskan sisa hariku di London,

melenggang dengan 'travel card'-ku.

Jadi musik itu semacam pintu masuk menuju suku lain.

Dan aku selalu bisa menikmati, sejak saat itu, berada diantara suku-suku musisi.

Aku pikir band-band itu, kau tahu,

sebab aku pernah bergaul dengan seorang produser rekaman,

dan kami pergi menonton banyak pertunjukan,

dan aku selalu berpikir secara visual mereka benar-benar membosankan.

Mungkin karena aku pergi ke pertunjukan yang salah. Aku tak pergi ke pertunjukan yang bagus.

Abstract: The Art of Design subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Abstract: The Art of Design

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left