The first 200 lines.
(Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah karya Michael H. Heart)
- Di mana Emily? - Di dalam.
Terima kasih.
Ada dua kotak di sini.
Jika butuh lagi, masih ada banyak di dalam truk.
Namun, ini jumlah yang biasa aku bawa.
- Apakah kau mengerti? - Ya.
Baik.
Baik, sampai jumpa, Thomas.
Aku pasti akan merindukan Rouen.
- Berapa lama? - Selama 30 hari.
- Tiga puluh hari? - Ya.
Sebenarnya aku ingin lebih lama, tapi aku hanya mendapat visa 30 hari.
Namun, jangan cemas, Emily.
Selama aku pergi, adikku akan membawa pasokan daging dari peternakan kami...
...yang mencukupi kebutuhan di supermarket ini.
Baik.
- Ini untukmu, Liam. - Baik. Terima kasih, Emily.
- Semoga perjalananmu menyenangkan. - Tentu, terima kasih.
- Sampai nanti. - Sampai nanti.
Jamil, calon Laila sudah datang.
Pria dari Makassar itu, 'kan?
Itulah masalahnya.
Dia bukan dari Makassar, tapi dari Prancis.
Prancis?
Jangan bergurau, Kak.
Ada apa dengan orang tuamu?
Mereka menjagaku.
Menurut mereka aku akan menangkapmu dan melemparmu ke kandang singa itu?
Kalian membicarakan kami, ya?
Kalian ada rencana jahat, ya?
Aku lempar juga dia ke kandang singa itu.
Hai.
Namaku Liam.
Alexandre William.
Jamil.
Silakan.
Dari mana asalmu?
Keluargaku peternak sapi di Rouen, Prancis.
Kami juga memasok daging sapi ke beberapa supermarket.
- Boleh aku lihat dokumenmu? - Ya.
Ya, aku tahu.
Tidak mungkin Laila menikah dengan orang yang tidak seagama.
Namun, dia telah mempelajari dan bermaksud masuk Islam, Kak.
Mempelajari untuk mencari kelemahan Islam, masuk ke ranah Islam.
Setelah menikah, dibawanya keponakan kita entah ke mana.
Itu yang kalian inginkan?
Sekolah kalian tinggi.
Bekerja mengenakan seragam pemerintah.
Namun, analisis kalian pendek.
Sebentar lagi,...
...gelas-gelas dan piring-piring akan beterbangan ke halaman rumah itu.
Senang sekali Ros mendengar keluarga orang lain bertengkar.
Hei...
...besok pagi kita akan tahu siapa yang bercerai...
...memperebutkan harta pusaka,...
...atau perkawinan yang tak direstui.
Ibu!
Intinya, orang asing itu tak boleh naik ke rumah gadang ini.
Ke rumah kalian juga tak boleh.
Jika aku sampai tahu,...
...aku takkan lagi menganggap kalian sebagai adikku.
Jamil, sudah mengerti kau?
Ya.
Jangan terlalu sedih, Pian.
Aku senang melihat kau memperhatikan kakakmu.
(Kata Ibu, jika setelah lebaran kau tidak juga meminang Ibet,...)
(...Ibet akan menikahi Kak Ori. Biarlah dia gemuk, tapi perhatian.)
Kalau begitu,...
...tolong aku untuk menyukseskan perjodohan Laila.
Jika orang Barat itu orang baik,...
...semua akan dimudahkan.
Namun, jika tidak,...
...dia akan mundur dengan sendirinya.
Kita lihat saja...
...sejauh mana kesungguhannya.
Bagaimana?
Halo.
Ini aku, Laila.
Benarkah? Kau suka?
Ini hitam semuanya, tapi ada lagi.
Yang merah juga ada.
Mau yang mana?
Yang hitam.
Aku mau menemui Angku sebentar, Bi.
Ada apa?
Mau bertanya sedikit.
Apa ada...
...di kampung kita ini...
...yang pernah menikah dengan orang luar negeri?
Ada,...
...tapi sudah lama sekali.
Nurhaida namanya.
Dia menikah dengan dosennya dari Mesir.
Jadi, boleh ya, Angku?
Boleh.
Boleh.
Namun,...
...tentu harus jelas dulu siapa yang akan menikahi,...
...apa agamanya,...
...yang lebih penting, apakah dia bisa mengikuti adat istiadat kita,...
...dan berpayung ke suku apa nantinya.
Sapi mau dikawinkan saja dipilihkan dulu pejantannya,...
...apa lagi manusia.
Ibu!
Kau bikin kaget saja! Dari mana saja, keluyuran?
Menemani ketua pemuda bertugas.
Ada Pian. Pian!
Cepat lamarlah Ibet.
Kalau kau disalip orang lain, nanti kau gigit jari.
Aku pesan kopi setengah gelas, Kak.
Aku punya banyak urusan besar esok hari.
Urusan apakah itu?
Buatkan aku kopi dulu.
Pian.
Kau ingatkan Laila bahwa umurnya sudah 31 tahun.
Jangan terlalu memilih-milih, nanti dia menjadi perawan tua.
Aku saat berumur 18 tahun sudah dilamar.
Ayah dia.
Baik. Nyinyir saja.
Coba pikirkanlah.
Kepala.
Itu mataku.
Pian, sebentar.
(Kenapa kau pergi ke KUA, Kak? Dengan siapa kau mau menikah?)
(Jangan bohong. Aku melihat motor bututmu diparkir di sana.)
Ayo. Aku siap.
- Aku bersaksi... - Aku bersaksi...
- ...tiada Tuhan... - ...tiada Tuhan...
- ...selain Allah... - ...selain Allah...
- ...dan aku bersaksi... - ...dan aku bersaksi...
- ...bahwa Muhammad... - ...bahwa Muhammad...
- ...adalah utusan Allah. - ...adalah utusan Allah.
- Kau sekarang adalah seorang muslim. - Terima kasih.
Hei, apa kau penggemar Oasis?
- Ya. - Ya, bagus.
Ya...
Maaf aku terlambat, Kak.
Jadi, sudah satu minggu ini,...
...aku dan Pian mencari tahu siapa Liam sebenarnya.
Lalu, kami melihat kesungguhannya untuk memeluk Islam.
Jadi,...
...aku rasa...
...sudah terlihat bahwa dia serius dengan keponakan kita.
Jadi, dia sudah memeluk Islam?
Dia sudah mengucapkan syahadat disaksikan oleh Buya Amran.
Kak, rasanya setelah mendengar penjelasan Jamil,...
...aku rasa sudah sewajarnya kita memberi restu pernikahan Laila.
Jamil boleh saja yang paling pintar.
Boleh saja dia menjadi pejabat di kantornya.
Namun, di rumah gadang ini, selaku yang paling tua,...
...aku yang paling berhak untuk memutuskan...
...sebelum dibawa pada musyawarah petinggi adat.
Menurutku,...
...hal ini belum bisa dijadikan landasan untuk mengambil keputusan.
Karena kebanyakan orang zaman sekarang tak takut sumpah palsu.
Dulu, saat ingin menikah dengan Haris,...
...semua takut karena Haris tidak punya pekerjaan tetap.
"Laila adalah lulusan S2."
"Lalu, Haris tidak tamat SMA."
Saat dilamar Irwan,...
...semua takut Laila akan dibawa merantau ke Melaka.
Kini, sudah seperti itu pengorbanan orang dari negeri jauh,...
...hati Mak Tuo Naizar tidak juga terbuka.
Jadi, hal apa yang menurut Kakak bisa menjadi pijakan kita...
...dalam mengambil putusan?
Bersunat.
Baik.
Besok aku pastikan.
- Sudah di ruang ganti, ya? - Sudah.
Bagaimana rasanya bersunat seumur ini, Paman?
Entahlah.
Pertanyaan kau dari kemarin aneh-aneh saja.
Baru mau bersunat,...
...mau menikah pula.
Apa tidak apa itu nantinya?
Pikiranmu jangan aneh-aneh, Pian.
- Jadi, apa kau siap? - Ya.
Astaga!
Kenapa lama sekali angkat teleponnya?
Bagaimana hasil undian Ibet? Ibet dapat tidak?
Ya...
Ya saja. Pergilah lihat ke sana.
- Ya, aku pergi ke sana sekarang. - Cuma ya saja.
Halo, Laila Collection.
Ya, benar.
Hai, aku sudah menerima notifikasinya. Kau sudah mentransfer, ya?
Baik, ya.
Baik. Semoga kau segera berbelanja lagi.
Terima kasih banyak. Dah.
- Bukan bulan ini? - Bukan.
Tolong aku, kasih hadiahnya.
Maaf, Pak. Itu pemenang bulan lalu.
- Di mana hadiahnya? - Sudah lewat.
Tolonglah aku, sedikit saja.
- Aku pergi dulu. - Jangan menggoda pegawai itu!
Terima kasih.
Tidak!
Serius? Ayolah!
Terlambat? Sudah seminggu lalu Ibet memintanya, tidak juga didengar.
No comments yet. Be the first to leave one.