The first 189 lines.
ZainuddinAri
mempersembahkan
semuanya, mohon perhatiannya
everybody give me your attention
saat diriku masih belum tahu apa-apa
mada nani mo shiranai
yang bisa kulakukan hanyalah terus berjalan
tada susumu shika nakatta boku wa
ini cerita tentang jalan kemenanganku
this is the story of my glory road
harapkan sebuah arti kebenaran
tadashisa no imi wo
walau tak ada waktu 'tuk berdiam diri
motomeru yoyuu sura nai mama
karenanya kugambar sebuah angka nol
zero wo kaita
oh tegarlah, karena tak ada yang harus ditakutkan
oh get on your feet osoreru koto nante nai
oh tegarlah, karena tak ada yang harus ditakutkan
oh get on your feet osoreru koto nante nai
oh tegarlah, karena tak ada yang harus ditakutkan
oh get on your feet osoreru koto nante nai
oh tegarlah, karena tak ada yang harus ditakutkan
oh get on your feet osoreru koto nante nai
oh tegarlah, karena tak ada yang harus ditakutkan
oh get on your feet osoreru koto nante nai
oh tegarlah, karena tak ada yang harus ditakutkan
oh get on your feet osoreru koto nante nai
oh berdirilah, kejarlah sebuah kepastian
oh get up and go kakujitsu ni tadorou
di jalanmu sendiri
jibun no michi wo
di jalanmu sendiri
jibun no michi wo
di jalanmu sendiri
jibun no michi wo
demi raih masa depan yang bisa kubanggakan
mirai no boku ni hokoreru you
akan kulalui masa kini yang telah kupercaya
shinjita ima wo ayumou
pasti kan kuingat kembali suatu saat nanti
itsu no hi ga mata omoidashite
hari saat kugambar angka nol ini
zero wo egaita kono hi wo
hari ini adalah takdirku sendiri
today is my own fate
ku kan terus berjalan
boku wa yuku yo
terus melangkah tanpa lihat ke belakang
just keep going on and never look back
Sesaat lagi, pertandingan final dari turnamen utama,
antara SMP Teikou melawan SMP Kamata Nishi akan dimulai!
Semuanya, beri hormat!
Mari bertanding dengan sportif!
Inilah penentuannya. Kita akan jadi juara nasional kalau menang. Bahkan juara berturut-turut.
Apa ada yang ingin kalian katakan?
Aku akan masukkan three point sebanyak mungkin. Itu saja.
Tak juga. Tak ada apa-apa.
Aku mau cepat-cepat selesai biar bisa makan camilan.
Kok pikiran semuanya terpecah belah begini, sih?
Bukan masalah.
Kita adalah tim yang kuat karena terpecah belah.
Hal yang perlu kita samakan hanya satu.
Yaitu menang!
Ya!
Kalian tak perlu lakukan apa-apa terhadap Aomine.
Bersikaplah seperti biasanya saja.
Menghiburnya malah akan perburuk keadaan.
Kalau memang perlu, biar Bapak yang bicara padanya.
Kita Sudah Tak Perlu
Quarter 65
Teikou
Kamata Nishi
Aomine.
Setelah selesai, jangan pulang dulu.
Bapak harus minta maaf padamu.
Bapak sudah tahu bahwa kau punya potensi bakat yang sangat luar biasa.
Bapak juga tahu, kau menyukai basket melebihi siapa pun.
Bapak juga sudah tahu bahwa kau akan jadi seperti ini, saat bakatmu mulai muncul.
Meski sudah tahu, tapi Bapak tak katakan apa-apa.
Tak bisa katakan apa-apa.
Bapak lebih pikirkan keinginan, untuk lihat bagaimana bakatmu berkembang di masa depan nanti,
daripada pikirkan perasaanmu.
Karena itu Bapak ingin minta maaf, dan memohon padamu
untuk jangan menyia-nyiakan bakatmu itu.
Masalahmu, bukanlah sesuatu yang bisa terselesaikan dengan cepat.
Tapi, mungkin akan terselesaikan suatu saat nanti.
Karena itu, jangan menyerah.
Bapak tak bilang kalau masalahmu pasti akan selesai kalau kau tak menyerah.
Hanya saja, kalau menyerah, maka semuanya akan berakhir.
Tunggu. Kalimat barusan...
Ya. Bapak mencurinya.
Kepala Pelatih dengar, ya?
Baiklah. Setelah semua ini, kami juga tak bisa kembali seperti dulu. Tapi, biar begitu...
Keinginanku untuk menang masih ada dalam diriku.
Teikou
Kamata Nishi
Berhasil!
Sekarang aku sudah boleh makan camilan, 'kan? Omong-omong, kau mau?
Ya, aku mau.
Eh? Serius?
Kenapa melamun begitu? Harusnya kau merasa lebih gembira.
Operannya Kurokocchi enak banget ditangkap!
Pergilah. Setidaknya, kau bisa jujur pada dirimu sendiri sekarang.
Untuk sementara, sepertinya masalahnya sudah beres.
Ya, begitulah.
Nijimura dan yang lain, sudah mengundurkan diri, tapi aku yakin tak ada yang perlu dicemaskan lagi.
Selama mereka, para Kiseki no Sedai, ada bersama kita...
Bagaimana, ya?
Sebaliknya, aku malah merasa cemas. Mereka semua terlalu kuat.
Agar kerja sama tim tetap terjaga, kita harus lebih bimbing mereka.
Kalau itu, pasti tak masalah. Selama Anda masih ada, aku yakin...
Penyakitnya tak mengancam jiwa.
Tapi... Sayangnya, beliau tak dapat berperan kembali sebagai kepala pelatih.
Maka dari itu, mulai hari ini, Bapak akan gantikan beliau sebagai kepala pelatih.
Mulai besok, kita lanjutkan menu latihan seperti biasanya. Kalian paham?
Tak masalah karena berhasil masuk, tapi tadi ada dua orang yang menjagamu.
Kalau dioper kembali padaku, kemungkinan masuknya akan lebih besar.
Oh, begitu? Tak masalah, 'kan? Toh, tetap masuk, 'kan.
Mukkun. Dia jadi kuat dan sikapnya juga berubah.
Rasanya, mirip dengan Aomine.
Tapi, justru itulah yang buatku takut dengan perkembangannya.
Murasakibaracchi, shoot-mu yang barusan itu hebat banget, deh!
Hm? Begitu?
Tapi, rasanya...
Kekuatanku meluap, hingga aku tak bisa menahannya lagi.
Kalau aku serius, bisa saja kuhancurkan semua orang termasuk rekan tim sendiri.
Kalau misalnya kucoba dari sini...
Kelima siswa yang disebut sebagai Kiseki no Sedai itu...
Ruang Kepala Sekolah
Entah apa pun yang terjadi, mulai sekarang, mereka harus turun bertanding.
Tapi...
Sekolah ini akan dapatkan nama baik karena kepahlawanan mereka.
Terlebih lagi, kudengar mereka belum pernah kalah semenjak bergabung, ya.
Tapi, mereka semua masih anak-anak!
Kurasa tak baik kalau mereka diberi perlakuan khusus-
Aku memberimu perintah untuk beri mereka perlakuan khusus.
Hari ini, Murasakibara hebat sekali, ya.
Ya. Kau benar.
Tapi, sebenarnya aku juga merasa ketakutan.
Melihat betapa pesatnya dia berkembang,
aku jadi teringat saat Aomine mulai berubah.
Tetsu, apa belakangan ini kau pernah bicara dengan Aomine?
Sejak turnamen nasional, belum.
Aku sebenarnya merasa harus berbuat sesuatu, tapi sejujurnya, aku tak tahu harus berbuat apa.
Momoi?
Kita semua...
Kita semua akan tetap jadi teman, 'kan?
Kita semua akan tetap jadi teman, dan bermain bersama, 'kan?
Ya. Kita semua
akan tetap jadi teman.
Seijuro. Ayah dengar timmu menangkan turnamen nasional.
Ya.
Bagaimana dengan sekolahmu?
Tak ada masalah.
Baguslah kalau begitu. Lanjutkan keduanya seperti sekarang ini.
Unggul dalam segi akademik, maupun atletik, adalah kewajiban anggota keluarga Akashi.
Ya, Ayah.
Jangan main-main!
Jangan selalu biarkan orang lain lewat dengan mudah!
Kalaupun tak bisa dihentikan, paling tidak usaha sedikit!
Kalau tidak, percuma saja meski ada orang yang membantumu!
Aku sudah berusaha.
Kaunya saja yang terlalu kuat.
Mana mungkin ada orang yang bisa hentikanmu.
Berengsek! Persetan kalian semua!
Aomine!
Tunggu, Aomine!
Aomine.
Pe... Kepala Pelatih?
Sebagai kepala pelatih, aku tak boleh abaikan apa yang telah Aomine lakukan.
Tapi, kalau aku memaksanya latihan sekarang, sehingga dia minta untuk mundur dari klub basket...
Kalau memang tak mau, kau tak perlu latihan lagi.
Tapi, kau harus hadir saat pertandingan.
Kalau kau bermain dan kita menang, Bapak takkan keberatan.
Aomine, ayo kita kembali latihan.
Buat apa?
Memangnya buat apa aku latihan?
Asal bertanding, aku pasti menang meski mengalah sekalipun.
Apa kau mau kuhancurkan lawan, hingga mereka kehilangan semangat bertanding?
Aku mengerti perasaanmu, tapi...
Mengerti?
Ha!
Memangnya kau mengerti apa? Coba katakan padaku!
Orang yang tak bisa apa-apa kalau sendirian sepertimu, memangnya mengerti apa?
Aku sendiri, terkadang merasa iri pada Aomine dan yang lain.
Tapi, tak ada gunanya ratapi hal yang mustahil!
Karena itulah, aku akan oper sekuat tenaga.
Memangnya kau mau oper pada siapa?
No comments yet. Be the first to leave one.