The first 200 lines.
Translate By: Doyan_Nonton
Happy Watching!
Ayo ikuti aku!
Bibi. Buatkan tiga mangkuk sup mie ayam.
Kami ambil nanti. Ayo.
- Bibi, tidak pakai taoge, ya? Ayo! - Ayo!
Bibi. Tanpa sayuran, tanpa sup, tanpa mie,...
...tanpa taoge, tanpa kuah, tanpa..
Mereka datang.
Lupakan saja, Bibi. Ayo pergi.
Berhenti.
Berhenti.
- Hei. - Ya?
Kenapa kau mengejar kami?
Kakakku melihat kalian berdiri di depan sekolahku...
...mengenakan celana pendek sekolah kami setiap hari.
Dia tidak tahan lagi.
Benarkah?
Kenapa kau masih memakai celana pendek?
Lihat orang bodoh ini. Dia bahkan tidak berani.
Petugas kebersihan juga disuruh mengejar kami?
Petugas kebersihan apa yang setampan ini?
Dia mengejek tampang kita terlalu tua.
Ya.
Kau tidak punya cermin di rumahmu?
Aku sudah tahu rupaku, aku punya cermin.
Kupecahkan semua cerminku karena tak tahan melihat wajahku.
Jangan tersenyum menghina.
Ada gadis cantik.
Aku tidak tahan lagi.
Mereka terlalu menghinaku.
- Lalu, harus bagaimana? - Ayo kejar mereka.
Ayo.
Cepat.
- Yad. - Yad, di mana kau?
- Kalian lelah? - Ya.
Teguklah minuman dingin yang menyegarkan ini.
Yad.
Hai, Yad.
Hei, Tar.
- Dia di sana. Ayo. - Itu Yad.
Ke mana mereka pergi?
Cepat, Semuanya. Seret dia pulang.
Tidak.
Luar biasa. Ayo kita tos.
Keren.
- Ayo pergi ke sana. - Baiklah.
Aku melihat sesuatu yang bagus.
Kenapa aku mengambil ini?
Saow.. Saow..
Orang-orang ini tidak akan berhenti membalas dendam.
Mereka akan terus saja menyakiti orang lain.
Mereka bahkan mengikat roh kami agar tidak dilahirkan kembali.
Mereka bedebah.
Menarik sekali.
Dia pasti kesakitan.
Dia pasti akan terluka.
Jadi, kenapa kau membawa kendi?
Kendi ini?
Aku berniat menaruh ini di kepala mereka.
Tapi mereka berhasil lolos.
Jadi, kendinya masih kupegang.
Film mana yang kau tonton?
Kendi di atas kepala.
- Cara membukanya seperti ini. - Bukan.
Begini cara membuka tutupnya.
Itu menjijikkan.
Berikan.
Buang saja.
- Ayo kita pergi. - Ayo masuk ke dalam.
Awas saja kalau kepalaku sampai benjol.
Dasar bodoh.
Di mana aku?
Di mana Duang Jai?
Kepsek ingin kita menonton presentasi khusus hari ini.
Karena para senior kita mewakili sekolah kita dengan baik.
Akan kuperkenalkan senior kita. "Anak-anak Milenium."
Mereka tidak keren.
Mereka?
Akan kutangani mereka.
Kawan-kawan. Kalian yang menangani musiknya.
Biar aku yang mengurus sisanya.
- Ayo lakukan. - Baik.
Aku akan menelepon polisi.
Kenapa kau bisa jatuh?
Dari mana anak-anak ini?
Sekolah non-formal.
Akan kutangani. Mereka selalu buat masalah.
Ka-wo-Ka-wo-Kawo.
Kita luar biasa.
Hebat.
Hei. Hei..
Apa yang kalian lakukan di sini?
Kenapa? Kakek anti sekolah non-formal?
- Hei. - Hei apa?
Tenang, Yad.
Jika aku tidak tenang, aku sudah menyerang sekarang.
Ini kegiatan sekolah formal. Orang luar tidak diperbolehkan.
Lalu? Kami tidak diizinkan di sini?
Aku sudah bilang, bapak ini...
...kepala sekolah.
- Kepala sekolah? - Benar.
- Dari sekolah lain? - Sekolah ini.
Begitu? Aku tidak melihat potret besarnya di dinding.
Kepala sekolah, ya? Halo. Tidak ada foto Bapak.
Ditambah, aku tidak begitu bisa membaca.
- Kau biasa berpakaian seperti ini? - Benar.
Kegiatan ini hanya untuk sekolah formal.
Non-formal tidak diizinkan untuk bergabung.
Sekarang pergilah.
Kalau tidak, akan kulepas anjingnya.
Kami akan pergi.
Kepala sekolah sudah muncul di hadapan kami.
Kami meminta maaf.
Biar kuperbaiki ujung dasi Bapak.
Tidak perlu rupanya.
Kau menyesal? Rasakan ini.
Sampai jumpa, Pak.
Potong rambutmu.
Apa-apaan?
Kenapa kita harus diusir?
Semua orang bergabung. Semua orang turut menari.
Kau tidak harus memanggilnya Kepala Sekolah.
- Lalu aku panggil apa? - Kakek.
Atau Pria Kumis.
Tapi itu belum cukup keras baginya.
Berhentilah menghina Ayahku.
Kalian lihat apa?
Kau.
Kalian sungguh anak nakal.
Memang.
- Kami bisa mengejekmu lebih parah. - Jangan mulai.
- Coba saja. - Apa?
Akan kusebutkan semuanya.
- Gendut. - Gendut.
- Leher pendek. - Leher pendek.
Lihat itu.
- Kepala mangkok. - Kepala mangkok.
Kenapa kau menindik telingamu?
- Kenapa pakai arloji emas? - Mau pamer?
Untuk apa kau berdiri di sini?
Napasmu bau sampai gigimu menjauh.
- Keluar dari sini. - Sebaiknya kita yang keluar.
Masih di sini? Jadi pergi atau tidak?
Tunggu apa lagi? Pergi sana.
Kalau kami tidak mau pergi?
- Tidak mau? - Ya.
- Tidak mau? - Kami tidak mau..
- Baik, kami pergi. - Hei.
- Berhenti berteriak. - Hei. Tunggu aku.
- Itu berlebihan. - Keluar kau.
Lihat apa?
Baiklah, kalian ingat apa yang kita pelajari kemarin?
Kami ingat.
Baiklah. Hari ini kita akan menyelesaikan bab ini.
Sudah baca buku bab lima?
Dia tidak akan pernah menyukaimu.
Kau juga tidak perlu repot-repot.
Pakai otakmu. Dia takkan tertarik denganmu.
Apalagi dengan pria tua sepertimu.
- Dasar bebek. - Dasar bebek.
- Itik buruk rupa. - Itik buruk rupa.
Dia tidak akan menyukaimu. Tak perlu repot-repot.
Lihatlah ketampananku. Dia pasti suka.
Kenapa kau bawa tongkatmu?
Ini anacondaku.
- Halo, Nona Fah. - Halo.
Aku ingin mengajarkan bahasa Thailand kepada anak-anak.
Semuanya, perhatikan.
Hari ini aku juga akan mengajar bahasa Mandarin.
Ibu angsa berbaring di keranjang
Dia mengerami 4-5 telur
Ibu gagak menakuti ibu angsa itu
Ibu angsa menakuti ibu gagak
Halo, Nona Fah.
Aku di sini untuk membantumu.
Aku datang jauh-jauh.
Halo, Anak-anak.
Menyingkirlah.
Aku ke sini untuk mengajarkan bahasa Inggris.
Ah-Bo-Foh-Roh-ODM.
Aku mengajari kalian pelajaran zaman dulu.
Cara itu pasti lebih mudah dimengerti.
Ibu angsa berbaring di keranjang. Dia mengerami 4-5 telur.
Jangan ceritakan itu lagi.
Berhenti!
Kumohon, dengan sangat.
Anak-anak mau ujian, mereka perlu berkonsentrasi.
Kalian mengerti?
- Semua ini karena kau. - Kau juga.
- Kenapa? Aku orang baik. - Aku juga baik.
Ayo kita selesaikan di luar.
- Aduh. Salah, tanganku di sini. - Pantas tidak ada kukunya.
Ayo pergi.
Ayo kita lanjut.
Aku sampai beli seragam baru, padahal aku tidak punya uang.
Hei, menurutku Kepsek tidak sopan kepada kita.
Apakah kita sopan padanya?
- Aku cukup sopan. - Aku cukup benci.
- Benci apa? - Benci dirimu.
No comments yet. Be the first to leave one.