The first 200 lines.
Ibumu pergi membawa uang kami.
Aku tahu kamu berhubungan dengannya. Katakan sekarang.
Dia bersembunyi di mana?
Aku tidak tahu. Aku sudah tidak melihat ibuku selama berbulan-bulan.
Kenapa kamu bertanya?
Ibuku kabur?
Hei. Aku tahu kamu berbohong. Berhenti berpura-pura.
Katakan yang sebenarnya.
Aku tidak tahu apa-apa.
Jangan lakukan ini kepadaku.
Katakan sekarang juga!
Lepaskan dia.
Pak Kang.
Memangnya kamu siapa berani ikut campur?
Kamu ayahnya?
Apa yang kamu lakukan kepada gadis ini?
Lepaskan dia.
Kamu salah paham.
Kami tidak merampok atau mengancamnya.
Ibunya kabur membawa uang kami.
Mengerti?
Kamu mau membayarkannya?
Kubilang, apa kamu mau membayarkannya?
Entah berapa banyak uang yang dia pinjam,
tapi berhenti mengganggunya dan tanyalah kepada ibunya langsung.
Pulanglah, Do Ran.
- Mau ke mana kamu? - Jangan sentuh dia!
Apa-apaan...
Bos. Apa kamu gila?
Aku akan menelepon polisi. Jangan bergerak.
Meski ibuku berutang,
tetap saja mengancamku adalah ilegal.
Sungguh, jika ibumu tidak melunasinya,
aku tidak akan membiarkanmu, adikmu, atau ibumu
kabur begitu saja.
Jika ibumu berutang, kamulah yang harus membayar.
Siapkan uangnya akhir bulan ini dan hubungi aku.
Mengerti?
Ayo.
Tidak mungkin.
Ibuku dikejar rentenir.
Bagaimana ini bisa terjadi?
"Ibu"
Nomor yang Anda hubungi tidak aktif...
Nomor yang Anda hubungi tidak aktif...
Ibuku dan Mi Ran tidak bisa dihubungi.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Sekretaris Kim. Sebaiknya masuklah dahulu.
Jangan hiraukan perkataan mereka.
Jika ragu,
kamu tidak perlu membayarnya.
Jadi, jangan cemas.
Jika mereka kembali lagi,
hubungi aku kapan saja. Aku akan segera datang.
Berikan ponselmu.
Ini nomorku.
Telepon jika terjadi sesuatu.
Pastikan kamu meneleponku.
- Ya? - Terima kasih.
Masuklah.
Kunci pintumu.
"Peminjaman Uang Tunai"
Kita tidak sedang piknik.
Kenapa kita harus mengalami kesusahan ini
padahal rumah kita ada di depan kita?
Mi Ran, bertahanlah meski ini berat.
Begitu kita menangkap penipu yang mengambil uang ayahmu,
kita akan bebas.
Baiklah.
Kita akan menunggu satu hari.
Ibu akan mencari pekerjaan di restoran setelah itu.
Astaga, kita kehabisan air.
Mi Ran, tetaplah waspada.
Ibu akan mengambil air.
Ambillah air dari penjernih air
di sebelah Swalayan Happiness.
Aku mengubah putriku menjadi gelandangan.
Ini menyebalkan.
Astaga, perutku.
Astaga.
Perutku sakit.
Gawat. Bagaimana ini?
Astaga.
Dia masih lama, bukan?
Astaga, perutku.
Astaga.
"Park Se Joon"
Astaga, kamu yang tempo hari.
Halo.
Ibunya Mi Ran sangat ingin tahu tentang kamu.
Omong-omong,
apa kamu tidak melunasi utang kepada ayahnya Mi Ran?
Apa?
Itu yang dipikirkan Yang Ja.
Dia pikir itulah sebabnya kamu meninggalkan uang di kotak pos.
Bukan begitu.
Itu hanya karena aku banyak berutang budi kepadanya di masa lalu.
Tapi pelat pintunya sudah diganti.
Apa mereka pindah rumah?
Mereka bangkrut.
Mereka lari dari kreditur.
Mereka kabur?
Kamu yakin?
Ya, kreditur datang dan membuat keributan.
Saat itu kacau sekali.
Kamu tahu mereka pergi ke mana?
Aku tidak tahu.
Mungkin mereka terlalu takut
untuk kembali kemari lagi.
Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi.
Berikan nomormu.
Yang Ja sangat mencarimu.
Tidak, aku akan pergi sekarang.
Sampai jumpa.
Dia sangat aneh.
Astaga, dingin sekali.
Yang Ja.
Kukira kamu tidak akan kembali kemari lagi.
Kenapa kemari?
Ada sesuatu yang harus kuurus.
Orang yang kamu cari-cari tadi datang
dan baru saja pergi.
Apa?
Siapa?
Pria kotak pos.
Benarkah?
Tadi dia ada di sini dan pergi ke arah sana.
- Ke sana. - Apa?
Astaga.
Ibu.
Mi Ran.
Astaga, apa yang terjadi?
Ke mana dia pergi?
Orang yang tahu tentang Kim Dong Chul.
Di mana kamu?
Ada apa? Dia datang?
Mi Ran, ibu melewatkannya.
Dia datang saat ibu sedang ke toilet.
Bagaimana ini?
Ibu, sudahlah.
Ini kali pertamaku berkencan buta.
Bagaimana denganmu?
Saat di sekolah,
temanku mengatur beberapa kencan buta untukku.
Tapi ini juga kali pertamaku datang ke kencan buta
yang diatur oleh orang tua.
Kita tidak perlu merasa terbebani.
Itulah mauku.
Untuk itu...
Aku mendengar tentangmu dari temanku.
Kudengar kalian berdua berteman di kampus.
Maksudmu, Jae Ho?
Dia teman sekamarku.
Kami tinggal bersama selama enam bulan.
Dia teman kakakku.
Begitu rupanya.
Biasanya aku yang membereskan masalahnya
saat dia berulah karena mabuk.
Aku ingin tahu apa dia masih mengingat itu.
Masih.
Aku belajar di Inggris.
Aku jurusan teknik kimia dan bisnis.
Begitu rupanya.
Kamu pasti kewalahan.
Benar, sangat.
Aku hampir depresi
dipaksa belajar oleh ayahku.
Kenapa kamu mau melakukannya?
Kamu pasti sudah tahu,
tapi aku anak semata wayang di keluargaku.
Jadi, ayahku ingin aku menyukseskan perusahaan.
Begitu, ya. Itu sama bagi kita semua.
Tidak ada yang bisa bebas.
Tapi aku ingin berhenti bekerja begitu menikah.
Bekerja sungguh bukan keinginanku.
Bagaimana denganmu?
Kamu senang bekerja?
Ya, aku menyukainya.
Aku juga ingin menjadi lebih baik.
Kenapa dia belum kembali?
Aku sangat penasaran.
Bukankah bagus jika dia pulang larut?
Benar. Pulang larut itu bagus.
Sayang. Apa kamu ingat
hari pertama kita bertemu?
Kita berbincang
sambil makan dan minum,
lalu sudah lewat pukul 23.00. Kita diminta pergi
karena mereka akan menutup toko.
- Benarkah? - Astaga.
Benar. Kita berjalan-jalan sebentar
karena tidak ingin berpisah.
Aku pulang lewat tengah malam.
Ibuku memarahiku
karena aku terlalu mudah dekat denganmu
di kencan pertama kita.
Aku diomeli habis-habisan karena itu.
Ibumu melakukan itu?
Ya.
Kita jatuh cinta pada pandangan pertama saat itu.
No comments yet. Be the first to leave one.