The first 121 lines.
Mahabharat episode 256
== by dekeka ==
== re-edit by sja2014 ==
Giliran ku.
Sempurna...
Manusia selalu mencoba untuk mengontrol hasil
dari perbuatannya.
Mereka mencoba untuk membelokkan hasilnya,
agar sesuai dengan keinginannya.
Tetapi...
ketika di berikan sebuah dadu,
seorang penjudi bisa tetap menahan diri untuk berjudi,
hanya dia gagal menyadari...
bahwa bukan dia yang mengontrol dadu...
tetapi sebaliknya.
Di dalam kehidupannya juga, manusia berfikir
apakah dia akan mendapat hasil yang sesuai dengan keinginan nya...
atau tidak?
Dia tidak berfikir, paman
apakah waktunya tepat atau tidak untuk melakukan sesuatu.
"Ini perlu buat mu untuk membuka semua pakaian mu"
"dan memperlihatkan tubuhmu di depan ibu mu"
"ketika membuka kain penutup matanya"
"bagian tubuhmu yang dia lihat"
"akan terlindungi, temanku"
Saudara Duryodana...
Saudara ku..
Ini tidak waktunya untuk mandi,
tetapi ini waktu yang tepat untuk mu, untuk melakukan penebusan dosa.
Kamu... apa yang kamu kerjakan disini, Vasudev?
Aku datang kesini untuk mencari rumput ini yang di butuhkan untuk pemujaan.
Saat melihatmu, aku bertanya-tanya..
bahwa pakaian dihormati oleh beberapa orang
dan untuk beberapa yang lainnya, ini adalah martabat
untuk beberapa orang, ini merupakan sebuah kebanggaan
sedangkan bagi yang lain, menjadi sebuah penghalang.
Apa di antara nya, kamu mencoba untuk melepaskan nya?
Ayo mainlah, paman.
Aku dapat yang tepat lagi...
Giliran mu, Vasudev..
aku sudah kasi tahu kamu
kalau daduku menunjukan hasil sesuai keinginanku,
dan karena itu..
tidak perlu untuk ku..
untuk memikirkan prinsipmu, tentang perbuatan orang.
Ketika manusia di jalan kesuksesan...
dia berfikir dengan jalan yang sama, dengan yang kamu lakukan.
Itulah alasannya...
ketika berita kegagalan pertamanya di rusak oleh nya...
dia bergegas ke kuil,
dan ketika dia berhasil lagi,
dia akan tumbuh dalam keyakinan.
Kenyataannya, keyakinannya tidak ada pada dirinya,
atau tidak pada Tuhan.
Dia tetap berlari..
dari Gandara ke Hastinapura, dari Hastinapura ke Dwaraka,
dan dari Dwaraka ke Magadha,
dia terus melemparkan dadunya.
Dia berfikir dia menang...
Tetapi hidup, bukanlah sebuah permainan dadu, paman.
Orang yang sedang duduk diseberang mu, bukan hanya lawanmu...
Ada banyak orang lainnya yang bermain di permainan yang sama,
tetapi tidak terlihat oleh kita..
Bahkan itu mempengaruhi kita..
tidakkah saya benar, paman?
Karenanya, aku tidak mencoba untuk mengontrol hasilnya,
tetapi aku melakukan nya.
Vasudev, pergilah dari sini!
Kamu tidak bisa menghalangi jalanku hari ini. Pergi!
Tidak ada seorangpun bisa menghalangi jalan orang lain, saudara ku.
Juga pembantaian di Kurukshetra
bisa saja di hindari.
Percayalah padaku, saudara ku..
aku tidak pernah menghalangi jalan siapapun.
Aku hanya menyebarkan pengetahuan
sesuai kemampuanku, dan sebagai pendengar yang baik..
sesuai sifatnya, menjadi kebenaran
Berbicara kebenaran tidak cocok untuk mu, Vasudev.
Kecurangan-kecurangan yang telah kamu rencanakan untuk mengalahkan ku,
telah aku ketahui..
Tentu,
dan aku telah memberitahu mu,
bahwa akan ada kecurangan dalam perang ini,
dan dari kedua belah pihak.
Tetapi aku bukanlah penyebab kekalahan mu,
kamu adalah orang yang disalahkan untuk itu,
keputusanmu di tandai oleh hasrat mu...
dan itu bukan kesalahanku.
Misalnya hari ini..
kamu akan menghadap ibumu dengan tubuh telanjang..
untuk dapat melindungi tubuhmu!
Bagaimana kamu tahu tetang itu, Vasudev?
Aku juga telah membaca beberapa buku-buku suci, saudaraku...
dan aku tahu..
bahwa hasil dari sebuah pertapaan/meditasi
dapat di transfer ke seseorang lainnya untuk perlindungannya.
Dan aku melihat ibu Gandhari datang ke Kurukshetra...
Mengapa kamu tidak mencari perlindungan dari ibu mu..
sebelum perang ini di mulai?
Pertanyaan ini ingin aku tanyakan pada mu.
Aku mungkin tidak melakukannya, tetapi aku akan lakukan hari ini..
dan besok, aku akan membunuh Pandawa!
Kamu benar...
seperti yang aku telah bilang,
bahwa kamu tidak mengerti inti dari situasi.
Itulah mengapa kemenangan menghindar dari mu.
Keputusannya bagaimanapun tergantung padamu,
kamu lakukanlah...
Aku juga harus pergi.
Apa maksudmu, Vasudev?
Sekarang kamu bersikeras...
biar aku beritahu kamu.
Kamu akan pergi menghadap ibumu dengan tubuh telanjang...
Dan sesuai agama dan tradisi kita,
anak laki-laki telanjang di depan ibunya,
sama seperti membunuh ibunya sendiri!
Dan juga tidak benar...
sebuah dosa seperti ini,
akan menjadi alasan kekalahan mu...
Pikirkan tentang hal itu...
Dalam sebuah duel gada, memukul dibawah pinggang tidak di perbolehkan.
No comments yet. Be the first to leave one.