Stuck Apart

Stuck Apart (Azizler)

Download Indonesian Subtitle

Release info

ㅡStuck Apartㅡ NF-360P/720P/1080P
A Commentary by DD_Movie
NF Retail [ RT 01:36:36 ] | dongdotmovie.my.id

Tags

720p
720
1080
Published on: 2021-01-11
Downloads: 23
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Sulit membicarakan ini.

Aku sangat gelisah.

Bagaimana aku mulai, mengetahui, dan bicara?

Maksudku, aku terus bicara denganmu di benakku.

Bagaimana aku bicara dan mengetahui?

Tidak, sebenarnya, aku ingin mengatakannya langsung.

Aku butuh waktu sendiri, Burcu.

Aku menginginkan ruang pribadi.

Kau tahu, kakakku tak mau pergi.

Aku juga kewalahan di kantor.

Selain itu, kita bersama…

Kumohon, jangan menangis.

Kau sangat berharga bagiku. Kau tahu itu.

Kau siap memesan?

Aku menunggu seseorang.

Kau sudah bicara.

- Begini… - Apa kabar?

Halo.

Bukankah kau bekerja hari ini?

Nanti. Erbil bisa mengurusnya.

Kau sudah pesan?

Aku menunggumu.

Jadi?

Bicaralah. Apa yang mau kau bahas?

Jadi… Mari…

Mari kita pesan dahulu. Itu…

Nanti. Kau bisa bicara dahulu.

Baiklah.

- Di mana kalungmu? - Apa?

- Yang aku… - Sudah siap pesan?

Ya. Aku mau secangkir kopi Turki, rendah gula.

Baiklah. Kau?

- Kau punya alkohol? - Wah! Apakah sangat kentara?

Jadi, di mana kalungmu?

Apa kabar?

"Apa kabar?" Apa terjadi sesuatu?

Euro. Apa yang terjadi dengan euro?

Terus naik. Luar biasa.

Mengenai Suriah…

- Astaga. Sesuatu terjadi. - Bukan apa-apa.

Sudah lama kita tak bicara berdua seperti ini, Burcu.

"Burcu"? Jangan begini. Tolong jangan menakutiku.

Sudah lama aku tak bisa meluangkan waktu sendirian.

Aku butuh waktu untuk sendirian.

Ini menyebabkan stres.

Maksudku, waktu sendirian…

Aku tak bisa menyendiri. Kakaku tak mau meninggalkan rumah.

Ini sudah enam bulan. Mereka tak mau pergi.

Kau tahu Caner. Dia orang gila.

Dia juga melampiaskan kegilaannya kepadamu.

Maksudku…

- Dia bilang, "Paman, ayo kita…" - Aziz.

"Ayo bermain Lego."

Di mana kalungnya? Kau bilang tak akan melepasnya.

- Kau terobsesi dengan kalung itu. - Tentu.

Kenapa kau tak menjawab? Aku bertanya.

Jangan bertele-tele.

Jawab aku. Pertanyaannya sangat sederhana.

Di mana kalungnya? Kau bisa bilang, "Di tas," atau "Di laci."

Namun, kau tak menjawabnya. Kau bicara omong kosong.

Aku tak paham. Aku merasakan keanehan.

Kau bilang tak akan melepasnya. Di mana kalungnya?

Kau bilang tak akan melepasnya. Di mana kalungnya?

Kau bilang tak akan melepasnya. Di mana kalungnya?

Kau bilang tak akan melepasnya. Di mana kalungnya?

Kau lihat Erbil?

- Tidak. - Apa dia keluar untuk makan siang?

- Ada yang mencariku? - Tidak.

Aku tak bisa putus darinya.

Maksudku, aku bisa, tetapi dia tidak.

Kau butuh pengacara.

Tidak, kami tak menikah atau semacamnya.

Tak ada cincin.

Ada kalung, tetapi aku menghilangkannya.

Aku melepaskan kuda yang menggigit wajah bayi.

- Apa? - Jika tidak, kita akan kesulitan.

Ada banyak pecinta hewan di Twitter. Mereka akan merusak kampanye kita.

Tak masalah. Baiklah.

Aziz.

- Kau telah kembali? - Ya, aku telah kembali.

Aku mencarimu.

Pekerjaanmu sudah selesai?

Pak Alp mencarimu.

Soal apa?

Dia menanyai para gadis apakah kau datang. Mereka juga memberitahuku.

Aku mengetuk pintunya karena mungkin ada yang bisa kubantu.

Aku akan tanya Alp, Pak.

Begini…

Aku ingin bertanya.

Aku pernah menginap di rumahmu tempo hari, ingat?

Benar! Itu hari yang indah, Aziz.

Kita harus sering melakukannya, 'kan?

Apakah aku meninggalkan kalung di rumahmu?

- Kalung? - Ya, kalung.

- Sepeti rantai. - Wah!

- Seperti rantai. - Ya.

Tidak.

Kalau begitu…

aku akan menemui Pak Alp.

Kalung, ya?

Apa itu berharga?

Itu tidak hilang.

Itu akan muncul saat kubersihkan rumah.

Gawat jika hilang di luar. Maksudku, di jalan atau semacamnya.

Dia sudah pergi. Duduklah kalau mau.

Dia kehilangan kalungnya.

"Seperti rantai," dia bilang.

Itu sangat berharga.

- Dia tak bilang begitu. - Kau mendengarkan kami?

- Kau menginjaknya? - Berapa kali harus kubilang?

- Apa maksudmu? - Jangan teriak! Tetangga akan dengar!

- Menyebalkan! - Aku memakai dan menaruhnya di meja!

- Masuklah! - Bagaimana kau bisa menginjaknya?

Aziz, masuklah.

Pak Necati, Bu Füsun, perkenalkan Aziz.

Teman yang kusebutkan. Dia ahlinya dalam menyunting, CGI.

- Halo. - Selamat datang.

Aziz membuat semua video palsu viral

yang tadi kutunjukkan.

Dia sungguh genius.

Kau membuat seorang pria jatuh saat menyeka kaca?

Sangat realistis. Aku suka. Kerja bagus.

Jadi, kau memanggilku?

Ya, Aziz. Duduklah. Aku juga mau kau mendengarkan.

Pak Necati mau berkonsultasi dengan kita.

Cansu punya aura yang bagus.

Apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana kita melanjutkannya?

Bisa kau jelaskan kepada Aziz? Berapa jumlah pemirsanya?

- Melewati 400.000. - Ada 420.000.

Dia menanyaiku.

Astaga, kita hanya bicara. Jangan kekanak-kanakan.

- Lebih baik satu orang yang bicara. - Baiklah, Necati. Lanjutkan.

Apa maksudmu?

- Sedang apa kau sekarang? - Bahasa macam apa itu?

Bahasa apa? Silakan beri tahu mereka.

- Astaga! - Apa yang terjadi?

- Füsun! - "Füsun" apa? Astaga.

- Dia bertanya… - Jadi, kujawab.

Informasi yang kau berikan salah.

- Misalnya? - Kau bilang, "400.000."

- Seharusnya 420.000. - Maaf, dia menanyaiku.

- Lalu apa? - Kubilang, "Melewati 400.000."

Kau harus bilang 420.000.

- Bukan itu masalah. - Informasinya harus jelas.

Jangan lewatkan kesempatan ini, Cansu. Keluarkan ponselmu.

Nak! Hei!

Bagus! Baiklah, beri tahu mereka!

Apa yang kau lakukan?

Cansu! Dia kabur lagi.

Jika bukan demi masa depan anak, kami tak akan melakukan hal ini.

Dia mendapat dampak buruk. Aku merasa bersalah sebagai ibu.

- Kau tak paham itu. - Dia berusaha keras untuk itu.

Mengerti? Kami, sebagai orang tua, mengupayakan ini…

Kami ingin melindungi.

Kami ingin mendukung, karena kami menghormatinya.

Itu saja.

Seperti yang kau lihat, dia berbakat di sinema.

Itu tak terbantahkan. Kami ingin mendukungnya.

Namun, kini, kami terjebak.

Jumlah pemirsa menurun.

Iklan berkurang.

Maksudku, pernah ramai.

Namun, sudah tak ada lagi.

Bulan lalu kosong. Kami harus memperbaikinya, Pak Alp.

Kau harus menunjukkan caranya kepada kami.

Kami harus menemukan ide yang lebih kreatif untuk terus maju.

Aku bisa menghajarnya.

Aku bisa melemparnya ke luar jendela. Atau dia melemparku.

Cansu akan merekam ini. Mungkinkah itu dilakukan?

Efeknya akan tampak realistis?

Pemukulan, jendela, dan sebagainya.

Jika tidak realistis, kami akan malu.

- Ini mungkin. - Ini kali pertama kami bertengkar.

Dia merekamnya tanpa izin, memasukkannya ke Internet.

- Semua dimulai seperti ini. - Dia marah.

- Aku panik. Aku tak suka ini. - Dia benar.

Ini kehidupan pribadi kami.

Lalu, dia bilang, "Lihat Ayah. Jumlah pemirsa, komentar, dan lainnya."

- Bakatnya sudah jelas. - Uang dan lainnya.

- Luar biasa. - Bakatnya sudah jelas.

Maksudku, kami punya satu anak.

- Tuhan memberkatinya. - Semoga.

Saat…

Saat dia terkena dampaknya…

aku marah.

Cinta ibu.

Ada orang!

Aziz.

Dari mana saja kau? Ayo ke bawah.

Para gadisnya seksi.

Alp, aku ingin pergi sekarang.

Kau akan putus dengan pacarmu.

Jangan tanya!

Alp!

Aziz! Jangan minum terlalu banyak! Kau tak terbiasa!

Nanti kutemui kau. Pesanlah koktailku!

Cari Zagor, dan pesan koktailku, Kawan!

Permisi?

Aku mau segelas vodka dan air jeruk, tetapi…

Vodka yang itu…

More Indonesian subtitles for Stuck Apart

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left