The first 200 lines.
Dadanya nyaris tak bergerak.
Berikan dia nalokson lagi.
Ayo, Ben.
Ayolah, Ben!
Tak ada perubahan?
Ben? Hei, kau bisa dengar?
Ben.
Ben, bertahanlah!
Bernapaslah.
Ben, kami di sini.
Ayo, Ben. Bernapaslah!
Bernapaslah, tetap sadar, bertahanlah!
Ben.
Bagus sekali.
BERLIN ER
Ben? Kau bisa dengar?
Sudah berapa lama kau memakai opioid?
Belum lama.
Saat aku memecat Vincent...
Ternyata dia benar.
Kau memanfaatkannya.
Dia masih hidup.
Aku masih ada waktu sampai operasiku sore ini, jadi...
Kau bisa antar dia pulang?
- Ya. - Terima kasih.
Ayolah...
- Hai, Nak. - Hai, Ayah.
Hai. Ayah mendengarku dengan jelas?
Ya.
Apa kabar? Semuanya baik-baik saja?
Kau mau menceritakannya?
Sejujurnya,
aku bahkan tak tahu harus mulai dari mana.
Sejak aku pergi, semuanya tampak tak masuk akal.
Ayah mengerti?
Kau selalu diterima di rumah.
Zanna?
Aku harus kembali bekerja, Ayah. Maaf.
Ayah selalu ada untukmu, Nak.
Ya. Terima kasih.
- Dah. - Dah.
Nah.
Dasar tukang pesta. Saatnya tidur.
Nah, begitu. Berbaringlah.
Angkat kakimu...
Bung, ini hampir kesempitan.
- Akhir-akhir ini kau olahraga? - Dasar bodoh.
Sialan.
Hei.
Kau akan kembali ke ruang operasi pekan depan.
- Kita pasti bisa melalui ini. - Tentu saja.
- Nezire, hai. - Hai.
Bisa kita mulai?
Oke?
- Jadi? - Ada pasien baru di triase...
datang dari luar negeri, demam tinggi, sedang menunggu cek darah.
Di kamar satu...
Di kamar satu...
Maaf, aku mendengarkan.
Di kamar satu, cedera ligamen krusiat anterior.
Dokter Ortopedi mendaftarkannya untuk operasi.
Lalu, di kamar dua, gangguan detak jantung.
Mungkin atrial fibrilasi.
Mereka akan menginap untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Terima kasih.
Aku akan memeriksa lututnya. Mungkin ada solusi selain operasi.
Bisa tolong beri tahu aku sebelum kau membawa pasien ke atas?
Semua pasien?
Ya.
Lutut?
Hai, aku dr. Parker.
Aku akan memeriksa lututmu.
Waktu hampir habis, Pendengar, akhir pekan hampir tiba.
Kita masih ada beberapa jam untuk mendengarkan musik keren
untuk mencairkan suasana minum-minum seusai pulang kerja.
Semoga Jumat kalian menyenangkan.
Kau pernah memikirkan orang yang harus bekerja di akhir pekan?
Kenapa, sih, dia tak mau mainkan lagu keren sesekali?
Sudah selesai?
Aku tak lapar, untukmu saja.
Biasanya kau tak berhenti bicara.
- Luar biasa, Mario, terima kasih. - Aku senang kau menyukainya.
Kau baik-baik saja?
Ya, aman, semuanya baik-baik saja.
- Terima kasih! - Bagus, terima kasih, Semuanya!
Emina mengabaikanku.
Dia bahkan tak membalas pesanku, Olaf.
Aku mengerti kenapa dia mencoba kabur.
Menurutku... dia bahkan tak sadar melakukan ini!
Kok, bisa ada orang yang buta soal hal seperti ini?
Aku merasa bodoh untuk mencoba mempertahankannya, atau berusaha lagi...
Tapi terkadang kupikir cinta memang butuh perjuangan, ya, 'kan?
Tidak, itu omong kosong.
Begitu kalian bertengkar, berarti itu sudah selesai.
Kau harus segera meninggalkan hubungan itu.
Apa pun yang terjadi.
Ambulans bukanlah tempat untuk terapi kelompok.
Fokus pada pekerjaanmu. Ini akhir pekan yang panjang.
Dua orang bukan "terapi kelompok".
Lagi pula, kau yang bertanya. Kau kenapa, sih?
Ya. Seharusnya aku tak bertanya.
Aku akan tuntaskan pekerjaanku, seperti biasanya.
Jika kau tak menggerutu setiap saat, itu pasti lebih menyenangkan.
Kau tak akan bisa bertahan tanpaku.
Terima kasih, aku pasti baik-baik saja tanpamu.
Pelican Neukölln 2611.
Ayo taruhan...
Apa kau bisa mengurus panggilan berikutnya sendirian.
Olaf, kau kecanduan judi.
Tentu saja aku bisa.
Pelican Neukölln 2611, diterima dan siap.
Sialan.
Dia sudah boleh pulang dan akan kita periksa empat pekan lagi.
Emina...
Kupikir kau libur hari ini.
Ya. Aku sudah mau pulang.
Ada info soal Ben?
Dia cuti beberapa hari.
Semuanya baik-baik saja?
- Sampai jumpa besok. - Ya.
Pesan suara pertama.
Halo dr. Ertan, ini Ruben Vogl.
Kami ingin bicara denganmu soal posisi di Munich.
Akan kukirimkan alamatnya. Sampai jumpa!
Pesan suara kedua.
Hai, Emina.
Aku ingin tahu kabar Afrim.
Dan kabarmu. Aku menantikan kabar darimu.
OLIVIA - HEI, AKU PAHAM KAU SEDANG ALAMI KESULITAN,
TAPI AKU HANYA INGIN TAHU KABARMU. AKU MEMIKIRKANMU.
Kau ikut? Atau masih butuh waktu?
Nah!
Aku akan menangkan taruhan ini.
- Hei. - Hai.
Kau menghubungi kami?
Beri kami ruang, oke? Apa yang terjadi?
Tiba-tiba dia bersikap aneh.
Awalnya kurasa dia kebanyakan isap ganja, tapi tiba-tiba dia terjatuh.
Bangun! Siapa namanya?
- Ollie. - Ollie!
- Kau dengar aku? - Metode ABC.
Kami tak saling kenal. Kami baru saja bertemu.
Tak masalah. Terima kasih sudah menelepon. Itu tindakan bagus. Akan kami tangani dia.
Tolong buka mulutmu.
A untuk saluran pernapasan.
- Sedang kuperiksa. - Jadi?
Salurannya lancar. Dia bernapas dengan normal.
B untuk pernapasan, bagus.
Skala Koma Glasgow 12...
Awas, mainlah di tempat lain!
- C untuk... - Sirkulasi.
Sirkulasinya juga bagus.
- Aku akan memeriksa kepalamu, oke? - Bisa matikan musiknya?
Kami sedang bekerja.
Maaf.
Kepalanya stabil.
Dan tak ada...
cedera akibat jatuh.
Jadi?
Aku yakin dia cukup stabil untuk dipindahkan ke mobil.
Ya?
Menurutku ini karena ganja atau cedera kepala bagian dalam dan butuh pemindaian.
Aku tak mencium apa-apa.
Kau melihatnya isap ganja hari ini?
Gelang medis, diabetes tipe satu.
A-B-C-D.
D untuk disabilitas.
- Apa dia bawa ransel? - Akan kuambil.
Periksa kantongnya.
Ya, dia tak sadar menindih pompanya.
Kini dia hipoglisemia, kebanyakan insulin.
Ya, terima kasih.
Bisa periksa gula darahnya?
Oke.
Oke, minum ini, kau akan segera pulih.
Nah, bagus, sekarang...
Tusuk saja.
Ibumu akan langsung ke rumah sakit.
Terima kasih. Sepedaku?
Ada di sana.
Aku buat kesalahan karena kau membuatku stres.
A-B-C-D-E.
Begitu urutannya.
Selalu.
- Meja untuk Vogl. - Ya.
Zanna, ini aku, Ruben. Kau baik-baik saja?
Tolong kabari aku. Terima kasih.
Maafkan aku.
Ruben! Kita baru mau pesan.
- Dokter Ertan, Ruben Vogl. - Halo.
Terima kasih sudah meluangkan waktu.
Terima kasih.
Aku minta maaf. Cuacanya tak terprediksi.
Seperti, jalur sepedanya?
Itu besar sekali, luar biasa.
Itu berkat Partai Hijau.
Aku beli sepeda elektrik di musim semi, agar tak perlu memakai mobil.
Tapi di Munich, dengan jalan sempit begitu, itu tak seru.
Akhirnya aku malah memakai mobil.
Munich ibarat desa dibandingkan Berlin.
No comments yet. Be the first to leave one.