The first 105 lines.
- Pelatih. - Woo Jin.
Ini sudah jam 10 lewat, kenapa belum pulang?
Kenapa kalian bersama-sama?
Oh...
Kami gak sengaja ketemu.
Ayo masuk.
Sudah jam 10 lewat, Kamu harus cepat pulang.
Apa ini artinya Senior Jae Woong kembali?
Ya.
Pelatih yang meyakinkannya?
Hei, apa dia tipe orang yang mudah diyakinkan?
Dia memutuskannya sendiri dan kembali.
Kamu harus cepat pulang.
Oh! Woo Jin.
Apa aku bisa bertemu ayahmu?
Wow...
Kau mau aku membatalkan peniadaan tim voli?
Ya.
Sepertinya kau menjalani hidup dengan mudah...
melihat caramu menangani sesuatu yang sudah diputuskan...
Oh...
Ku kira kau tidak suka melakukan hal-hal yang mudah.
Kalau begitu... haruskah aku memasang poster dulu?
Kalau aku memasang poster protes
dan mendapatkan tanda tangan dari para guru dan siswa yang juga menentangnya
dan mengirimkannya ke dewan sekolah, itu tidak akan mudah, bukan?
Kalau begitu...
menangkan juara pertama.
Kalau kalian menang juara pertama di Piala Presiden...
aku akan memikirkan kembali peniadaan tersebut.
Ayah, gimana bisa kami menang juara pertama?
Kalau begitu, apa kalian ingin dapat posisi bontot?
Bukan begitu...
Kami akan menang juara pertama!
Apa katamu, Pelatih?
Kenapa? Kita bisa melakukannya.
Kepastianmu sangat menyegarkan.
Kalau begitu... kami akan menunda keputusannya.
Tapi... kalau kalian tidak menang juara pertama
tim voli akan ditiadakan.
Rasanya seperti semuanya sudah diselesaikan sekaligus.
Jae Woong kembali, tim voli masih ada
dan masa percobaan sudah dicabut.
Yang harus kita lakukan mulai besok, latihan sangat keras.
Yakin memenangkan juara pertama?
Kenapa? Apa kamu gak yakin?
Kemungkinan dapat posisi bontot lebih tinggi dari memenangkan juara pertama.
Hei, Baek Woo Jin.
Apa kalian bersaing untuk mendapatkan posisi bontot?
Kita gak bisa menang hanya karena kita ingin!
Ya ampun... Ku kira kamu hanya beruntung, tapi kamu musuh sungguhan!
Aku akan membuat tim juara pertama, dan membantu kalian mengambil posisi mereka!
Tunggu saja!
Oh! Tapi apa sekolah peringkat pertama sekarang?
Kamu tahu?
Oke. Ayo kita ke Universitas Hanbit.
Berkat pertimbangan khusus presdir...
kami sudah memutuskan untuk mempertahankan tim voli sampai kalian berlaga di Piala Presiden.
Pelatih Kang.
Apa kau tidak memberitahu Pelatih Song... soal yang kita bicarakan kemarin?
Ya... belum.
Presdir Lee akan membatalkan peniadaan tersebut kalau kami menang juara pertama di turnamen.
Tunggu... apa yang harus kita lakukan?
Omong kosong apa ini...
Kalian bisa menyerah sekarang kalau kalian merasa tidak percaya diri.
Pokoknya, itu berarti kita tidak akan punya masalah masuk Piala Presiden.
Bahkan kalau kalian berlaga, kalian tidak akan dapat apa-apa dibanding rasa malu sekolah.
Mau kita malu, atau bangga
kita tidak akan tahu sampai kita berlaga.
Apa aku perlu mencicipi omong kosongku sendiri untuk mengetahuinya?
- Apa? - Tunggu, Pelatih Song!
Kalau kalian menang Piala Presiden, aku tidak akan bisa percaya!
Hei!
Kau mau aku mewujudkannya?
Hei, Song Byung Joo!
Kau tidak malu?
Aku sudah menyerah dari dulu, kau sedikit kerdil...
Postur...
Sebagai seseorang yang pernah berhasil ke pro, kau tidak tahu apa-apa.
Benar.
Karena aku pendek sekali...
Katakan saja aku tidak pernah berhasil karena aku pendek.
Lalu bagaimana denganmu? Kau tidak bisa kuliah karena kau bodoh!
Kau menghabiskan banyak uangmu belajar di luar negeri!
Haruskah aku memberitahu Woo Jin yang sebenarnya?
Pelatih Song!
Aku tidak tahu gimana bisa anak yang baik dan pintar seperti Woo Jin dilahirkan dari kotoran anjing sepertimu.
Apa? Kotoran anjing?
Hei! Gimana rasanya jadi sangat kotor? Kau berhak menghilang perlahan dan mati!
Kalian ini ngapain sih?
Kalian bertingkah seperti anak-anak!
Apa-apaan ini?
Apa kalian tidak malu?
Mau kemana?
Aku akan mengambil omong kosong yang seukuran denganmu.
Hei, bajingan... hei! Hei, sini!
Astaga...
Mereka berdua mantan siswa sekolah ini.
Mereka berdua satu tim voli...
Oh...
Ngomong-ngomong, berapa lama rencananya kau tinggal disini sebagai pelatih?
Manajermu sangat mengkhawatirkanmu.
Manajer?
Dia menghubungiku setiap hari menanyaimu!
Kalau dia penasaran sekali, dia bisa datang kesini sendiri...
No comments yet. Be the first to leave one.