The first 200 lines.
Selamat datang.
Saya Martin Jarvis.
Kisah hantu dan horor selalu menjadi bagian dunia kita.
Kami mengundangmu berbagi beberapa kisah ini.
Ada yang kau tahu, ada juga yang tidak.
Semoga kau menikmati seri ini.
Ini yang pertama dari kisah mengerikan kami,
dan kisah ini aneh juga menakutkan.
Meski ada pelajaran moralnya.
Kau akan dengar lebih banyak segera.
Kisah ini ditulis oleh W. W. Jacobs.
Pendongeng cerita yang membekukan darahmu.
Waktunya sekitar 1890.
Lokasi industri Inggris Utara.
Banyak pabrik, dan kebanyakan orang punya pekerjaan.
Inggris menjajah India, Raj Inggris,
dan banyak orang mencari nafkah
dan kekayaan mereka di luar sana.
Tentara Inggris masih punya kehadiran kuat
di benua India.
Pahlawan kita, bisa dibilang begitu, adalah keluarga White.
Keluarga sederhana, tidak kaya,
tapi puas dengan nasib hidup mereka.
Tidak berbeda dengan banyak keluarga saat ini.
Orang kulit putih tinggal di rumah sederhana,
sebuah rumah yang kini kita sebut Victoria.
Tuan dan NY. White punya putra semata wayang.
Herbert, di usia lanjut.
Dia jadi kejutan.
Herbert usianya 24, bekerja di pabrik industri terdekat.
Tuan White berusia 60-an, setengah pensiun,
tapi dia bekerja sambilan untuk orang-orang lokal.
NY. White ibu rumah tangga pekerja keras pada saat itu.
Mereka menabung untuk hari tua. Seperti kataku,
tidak kaya, tapi cukup uang bertahan hidup.
Ini kisah mereka.
Astaga, anginnya.
Aku dengar.
Sekak.
Aku harusnya tidak yakin dia akan datang.
Sekak.
Itulah masalah jika hidup jauh di sini.
Tidak ada yang mau datang ke tempat terpencil seperti ini.
Tidak apa-apa. Kau akan menang nanti.
Ayah, aku tahu aku terus mengatakan ini,
tapi kenapa kita tidak beli lampu gas?
Ayah mampu membelinya.
Lagipula catur Ayah sebagus rajutan Ibu.
Dasar nakal.
Benar.
Kau tahu Ayah tidak suka model baru.
Minyak dan lilin saja sudah cukup.
Dan penglihatanku bagus. Terima kasih banyak.
Atur lagi.
Pasti dia.
Bu, Herbert.
Ini teman lamaku, Sersan Mayor Morris.
Senang bertemu denganmu.
20 tahun dia di India.
Dia hanya anak muda saat dia pergi.
Sepertinya tak berubah.
Minum wiski, Sersan Mayor.
Untuk menangkal dingin malam buruk ini.
Tentu dia mau.
Ceritakan tentang negara besar India ini.
Terima kasih, bu.
Sangat ramah.
India menakjubkan.
Penuh dengan pemandangan aneh.
Fakir, gajah.
Hewan terbesar yang pernah kau lihat.
Dan sulap.
Dan magisnya.
Ambillah benda kecil ini.
Semacam jimat.
Cakar Monyet.
Cakar Monyet dimantrai.
Maksudmu?
Cakar monyet kecil ini,
ada mantranya.
Mantra ini dipasang oleh seorang fakir tua,
yang ingin tunjukkan bahwa nasib mengatur hidup orang,
dan yang mencampurinya hanya dapat kesengsaraan.
Dia memantrainya agar tiga orang berbeda
bisa meminta tiga keinginan dari itu.
Maksudmu?
Kau sudah memohon tiga kali?
Sudah.
Apa itu?
Kupikir aku lebih baik tidak mengatakannya.
Tapi sederhana.
Orang pertama yang memilikinya
di permintaan ketiganya, dia memohon mati.
Dan begitulah caraku mewujudkannya.
Kau sudah minta tiga keinginanmu.
Untuk apa kau menyimpannya?
Aku ingin menjualnya.
Tapi kurasa sekarang tidak lagi.
Itu hanya membawa kesengsaraan.
Jangan dibakar!
Lebih baik terbakar.
Untuk apa?
Jika kau tidak mau, aku yang simpan.
Jika kau simpan, jangan salahkan aku.
Saranku bakar lagi.
Itu tempatnya.
Apa yang harus aku lakukan dengan ini?
Pegang di tangan kananmu dan ucapkan dengan keras.
Tapi kuperingatkan kau akan akibatnya.
Mungkin kau bisa minta empat tangan untukku.
Aku bisa banyak membantumu.
Tapi aku harus memperingatkanmu.
Jika kau ingin minta, minta yang bijaksana.
Tentu saja.
Ayo makan malam.
Ada banyak makanan.
Ayo.
Dan mereka menikmati makan malam ramah.
Dan mendengarkan kisah India yang lebih fantastis.
Sampai saatnya buat Sersan Mayor Morris pergi.
Sahabatku, ingat yang aku katakan.
Hati-hati dengan cakar monyet itu.
Jangan cemas, pasti.
Terima kasih, NY. White Untuk makanan lezatnya.
Dan kau, Herbert muda.
Jaga dirimu baik-baik.
Terima kasih.
Selamat malam, Sersan Mayor.
Selamat malam. / Senang melihatmu.
Selamat malam, Sersan Morris. / Selamat malam.
Dia pria menarik.
Sekarang mari kita bereskan ini.
Tak usah, Bu. Aku saja besok pagi.
Terima kasih, Nak.
Aku mau istirahat.
Ya.
Aku mau membayarnya. Tapi tidak dia terima.
Dia memintaku untuk membuangnya lagi.
Seolah Ayah mau membakarnya lagi.
Kita akan kaya.
Lalu Ibu tidak akan lagi merengek, Ayah.
Kau ini.
Ayo.
Ayo, Ayah. Buat permintaan.
Aku tidak tahu harus meminta apa.
Sepertinya semua yang aku inginkan ada.
Ayah pasti senang jika rumah ini lunas.
Bukan begitu, Ayah?
Nak, kau benar.
Itu bisa melepas beban.
Kuminta 200 pound.
Itu bergerak.
Bergerak!
Berputar di tanganku, seperti ular!
Aku tidak melihat uang. Sepertinya takkan pernah.
Pasti kau berkhayal itu berputar, Sayangku.
Itu hanya khayalan.
Itu menakutkanku.
Hanya sebentar. Tidak ada yang terluka.
Sekarang saatnya kau dan aku tidur.
Malam ini seru.
Itu mengecewakan.
Kuharap ada uang diikat di tas besar.
Di tengah ranjangmu.
Dengan monyet seram berjongkok di atasnya.
Malam, Bu.
Malam, Sayang.
Malam, Ayah.
Kau ikut, Sayang?
Ya.
Ya.
Sungguh luar biasa tadi.
Luar biasa.
Di mana Herbert?
Dia tidak punya banyak waktu makan rotinya.
Siapa itu?
Aku ingin bicara denganmu dan istrimu, Tn. White.
Baik.
Bu, ini Tuan Jackson.
Mandor pabrik Herbert.
Duduklah, Tn. Jackson.
Aku lebih suka berdiri. Jika tidak keberatan.
Ya Tuhan, Herbert, 'kan?
Dia baik-baik saja?
Katakan padaku dia baik-baik saja.
Ada kecelakaan.
Herbert tampak agak terganggu pagi ini.
Dia tahu dia harus sangat waspada.
Tapi seperti kataku, dia bukan dirinya yang biasa.
Dia terjebak di mesin.
Dia terluka parah?
Maaf, kami matikan mesin
secepat yang kami bisa, tapi itu tidak cukup cepat.
Dia tidak mati, 'kan?
Katakan padaku dia tidak mati.
Maafkan aku, dan juga perusahaan.
Itu kecelakaan buruk.
Tapi bukan kesalahan perusahaan.
Mereka akan memberikan kompensasi.
Berapa banyak?
No comments yet. Be the first to leave one.