The first 200 lines.
Seo Do Jae-ssi.
Apa yang terjadi?
Apa setelah ini kau sibuk?
Tidak, tidak terlalu.
Bagus.
Kalau begitu, mari...
...tidur bersama malam ini.
Apa?
Kubilang, mari tidur bersama.
Kenapa...
...aku...
...dengan kau...
...harus tidur bersama?
Aku terus memikirkannya.
- Ya. - Saat itu, di dalam pesawat.
- Kau berubah ketika tidur. - Ya.
- Terus? - Terus apa?
Tidak peduli sekeras apa pun aku memikirkannya, aku tidak dapat mengerti.
Tidak, aku mengerti.
Maksudku, aku tidak benar-benar mengerti.
Ini satu-satunya penjelasan yang masuk akal.
Sebab itulah aku ingin melihatnya langsung dengan kedua mataku.
Aku ingin melihatmu berubah.
Tadinya aku bertanya-tanya apa yang kau bicarakan.
Aku bahkan hampir menghubungi 119.
Sebagai seorang Direktur Eksekutif, kemampuan bicaramu buruk.
Jika wajahku berubah setiap kali aku tidur,
kau pikir wajahku berubah ketika acara penganugerahan karena aku tertidur?
Bukankah begitu?
Cara berpikirmu lebih sederhana dari dugaanku.
Tetap saja, aku terkejut ide itu yang terbesit dalam benakmu.
Ini adalah kesempatanku untuk jujur.
Aku tidak ingin kehilangan kesempatan itu.
Aku harus memastikan apakah kau sedang membodohiku atau tidak.
Aku harus memastikan bahwa aku tidak kehilangan kewarasanku.
Aku juga takut.
Ini adalah konfirmasi bahwa sekarang semua utang kalian sudah terbayar lunas.
Apakah itu maksudnya...
...kalian tidak akan pernah mengajukan gugatan atau merilis pernyataan publik...
...bahwa uang donasi 100 juta won itu sebenarnya...
...dilakukan oleh direktur perusahaanmu?
Tidak bisa dipercaya.
Apakah ada masalah?
Kau salah menuliskan namanya.
Han Se Gae.
Bukan Gae, tapi "Gye".
Oh.
- Oh? - Itu hanya salinannya saja.
- Sekretaris Jeong. - Gye.
Bukankah aku benar?
Kata di depan.
Bukan "Sae"...
...yang mengacu pada anjing atau kambing.
Tapi "Se", dasar idiot.
Kau tidak pintar mengeja, ya?
Bagaimanapun, kau salah lagi mengeja namanya.
Begitu.
Pilih salah satu.
Presdir Yoo baru saja pergi.
Ubah rencana.
Karena kau bilang tidak sibuk, ayo pergi ke suatu tempat.
- Ke mana? - Presdir Yoo akan segera sampai.
Jawab aku dulu.
Telepon polisi kalau kau ingin, jika tidak, bergabunglah denganku.
Menyedihkan. Lihat caranya mencoba bertindak keren.
Dia yang mengatakan tidak akan pernah menemuiku lagi.
Menyenangkan sekali (*sarkasme).
Apa yang sedang kau lakukan?
Mengemas barangku.
Singkirkan ekspresi kelam di wajahmu itu.
Kenapa kau berdiri tidak berdaya di sana?
Kau membuatku semakin ingin membantumu.
- Aku bisa mendengar semuanya. - Oh, benarkah?
Aku memang mengatakannya keras-keras supaya kau mendengarnya.
Ini tipikal monolog yang dapat kau dengar.
Ini sangat menjengkelkan. Kenapa aku begitu baik?
Tidak seorangpun tahu aku sebaik ini.
Aku tahu.
Sekarang aku tahu...
...bahwa kau orang baik.
Apa maksudnya? Aku memang selalu baik.
Apa kau pulang ke rumah dengan selamat hari itu?
Kapan tepatnya?
Oh, hari di mana kau dengan ceroboh mendorongku dan membuatku jatuh....
...sampai lenganku berdarah?
Hari di mana kau pergi begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal?
Apa lenganmu baik-baik saja?
Aku melihat plester tertempel sebelumnya.
Tidak, tidak baik-baik saja.
Tulangku tergores dan darahnya mengalir deras.
Kurasa aku kehabisan 1L darah.
Jika kau kehilangan 1L darah dan mengobatinya cuma dengan plester,
kurasa tingkat penyembuhanmu luar baisa.
Atau apa kau menggunakan plester super?
Apa yang kau lakukan? Jangan menyentuh ponselku!
Adil sekarang?
Ya, adil.
Tidak bisa dipercaya.
Hei, Se Gye.
Ke mana dia pergi?
Dasar Han Se Gae!
Kau sudah memeriksa di kolong jok belakang?
Mungkin dia berubah jadi bayi.
Tidak! Kau pikir aku bodoh?
Syukurlah kalau tidak.
Apakah itu sungguh melegakan?
Bagaimanapun, aku tidak peduli di mana dia.
Pergilah cari di tempat lain.
Hei. Hei!
Ke mana sebenarnya dia pergi?
Maafkan aku. Aku akan mulai lagi.
Atas nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Amen.
Pasrahkan kepercayaanmu pada pengampunan dan kasih Tuhan,
dan renungkanlah dosa-dosa yang telah kau perbuat,
dan lakukanlah pengakuan dosa.
Aku telah berbohong pada ibuku.
Dia mengamuk ketika aku mengatakan akan pergi seminar.
Aku tidak dapat memberi tahu yang sebenarnya.
Tuhan dan ibuku,
keduanya memanggilku, menuntun mereka pada jalan mereka.
Ke mana sebaiknya aku pergi?
Ada begitu banyak tempat...
...yang memanggilku.
Tuhan tidak pernah menuntunmu pada jalan yang salah.
Ke mana pun kau pergi, Tuhan akan berada di sampingmu.
Terima kasih.
Amen.
Aku harus pergi ke tempat lain yang memanggilku.
Dan di mana itu?
- Tempat kerja paruh waktuku. - Begitu.
Tuhan telah memaafkan dosa-dosamu.
Pergilah dengan jiwa yang damai.
Terima kasih.
Kau ingin membawaku kemari?
Ini sederhana sekali.
Orang-orang mencarimu karena kau terus bersembunyi.
Dan yang terpenting, inilah kartu truf-ku.
Tetap saja, tempat ini sangat terbuka.
Hei, Sekretaris Jeong.
Aku dalam perjalanan kembali ke kantor sekarang.
Benar, upacara peringatan itu penting.
Aku akan menyelesaikan urusan kontrak Han Se Gye, jadi jangan khawatir.
Baiklah.
Kau membawa stempelmu?
Stempelku?
Tidakkah tanda tanganku saja cukup?
Ini kontrak yang sangat penting.
Sebab itulah aku membawamu secara pribadi kemari.
Benar, ini sangat penting.
Bagaimana kalau kubuat saja tanda tanganku sebesar mungkin?
Ya, Sekretaris Jeong. Kubilang tidak masalah.
Han Se Gye akan segera pergi begitu selesai menandatangani kontrak di kantor.
Ya, dia tidak membawa stempelnya.
Tidak usah khawatir. Fokus saja pada upacara peringatannya.
Aku harus mengatakan, kau itu aktor yang buruk.
Atau seharusnya kubilang kau tidak bisa berbohong dengan baik?
Aku pembohong yang pintar.
Bukankah kau mengetahuinya lebih baik dari siapa pun?
Tidak, kau tidak pintar berbohong.
Maksudku, sebab itulah aku di sini.
Itulah yang ingin kukatakan.
Jadi,
mari lanjutkan percakapan kita tadi.
Katamu,
kau ingin tidur bersamaku.
Dengan yakin, ya.
Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu.
Tapi katamu, bukan tidur yang membuatmu berubah.
Aku tidak bilang tidak pernah berubah ketika tidur.
Biasanya, sebulan sekali, aku berubah menjadi orang yang berbeda selama sepekan.
Kadang saat tidur, tapi kadang sesaat setelah aku bangun.
Tidak terprediksi.
Apa tidak ada pertanda sebelum itu terjadi?
Aku bisa tahu dari yang kurasakan.
"Pasti hari ini dan aku merasa keanehan."
Kemudian, biasanya itu terjadi.
Yah, kadang tidak.
Aku tidak dapat memprediksinya, sebab itulah menjengkelkan.
Kalau begitu, masalahnya lebih sederhana dari yang kupikirkan.
Kita hanya perlu bersama sepanjang waktu,
mulai dari kau terbangun di pagi hari sampai kemudian tidur lagi.
Meski begitu, bagaimana aku bisa memercayaimu?
Bagaimana kalau kau berubah pikiran lagi?
Mari tanda tangani kesepakatan.
Beri tahu aku sebelumnya apakah kau mau atau tidak tidur bersamaku.
Apa?
Kau dapat mengandalkan kesepakatan ini jika kau tidak memercayaiku.
Dokumen jauh lebih dapat dipercaya dibanding manusia.
Aku lebih tahu akan hal itu dibanding siapa pun.
Tanda tangani kesepakatan ini dan aku akan memberi tahu kau tentang kelemahanku.
Setelah itu, giliranmu.
Kau masih belum memercayaiku?
Tunggu sebentar. Aku harus memikirkannya dulu.
Aku sudah selesai berpikir.
Kau hanya perlu menandatangani kesepakatan ini.
Kenapa kau begitu tergesa?
Aku takut kau mungkin kabur.
Kau suka kabur pada saat-saat krusial.
Kurasa aku sudah mengatakan padamu bahwa aku sebenarnya tidak suka melarikan diri.
No comments yet. Be the first to leave one.