The first 200 lines.
Kenapa setiap kali terjadi bencana kalian saling mengelak dari tanggung-jawab.
Kenapa setiap kali selalu begitu?
Saya mengangkat Anggota Dewan Goo Ja Hyeok sebagai Kepala Pelaksana Satuan Tugas Khusus.
Membuka jalur transportasi adalah hal terpenting!
Listrik, gas, air, komunikasi.
Menjauh dari bangunan! Jangan lari!
Kau kira kami menolong orang supaya mendapat perlakuan seperti ini?
Setidaknya kalian harus melakukan sesuatu. Apapun itu.
Tidak ada yang dapat kami lakukan.
Pindahkan dia ke rumah sakit lain!
Tapi kenapa pihak rumah sakit malah bilang tidak bisa?
Lalu dengan membawa harapan seperti apa kami harus menyelamatkan orang?
Jeong Ttol Mi, kita ke ruang operasi.
Sudah kubilang kita tidak punya waktu ataupun persediaan darah.
Selama ada 1% harapan untuk bisa menyelamatkan nyawanya,
maka aku akan berupaya semaksimal mungkin.
Karena itu adalah alasan kenapa aku jadi dokter.
Nanti baru hakimi saya.
Sekarang dengarkan perintahku dulu.
72 jam setelah bencana alam adalah golden time.
72 jam setelah bencana alam adalah golden time.
Jika kekacauan ini tidak bisa dibenahi dalam waktu 3 hari,
korban jiwa, kerusakan properti,
akan bertambah secara eksponensial.
Jadi diminta supaya kalian semua bergerak cepat!
Rapat selesai sampai di sini.
=Episode 06=-
-=Episode 06=- Ketua Basarnas!
=Episode 06=-
Ya?
Anda telah menderita.
Karena kejadian kali ini terjadi di tengah-tengah markas besar pemadam kebakaran.
Badan yang seyogyanya merupakan badan yang sangat penting.
Kami akan berusaha semaksimal mungkin.
Terhadap rencana penanggulangan bencana kali ini,
Menyelamatkan korban dan pemulihan sistem adalah merupakan dua hal utama.
Penanggulangan kebakaran adalah hal nomor dua.
Maaf? Biasanya penanggulangan api itu adalah prioritas utama.
Belakangan ini ada opini masyarakat seperti ini yang tersebar.
Katanya pemadam kebakaran sibuk memadamkan api ke sana ke mari,
sehingga mengabaikan penyelamatan korban.
Tidak adil bagi kami. Karena peralatan yang belum bisa didatangkan ke TKP,
anggota pemadam kebakaran kami terpaksa menolong orang secara manual.
Sudah jelas ini adalah sebuah konspirasi dan tuduhan tidak berdasar.
Aku juga tahu. Aku tahu semuanya.
Dikarenakan populasi yang cukup padat di Yonggwang-gu,
jalanan yang sempit, sehingga proses evakuasi menjadi terlambat.
Pendek kata, bagi badan penyelamat bencana opini negatif seperti ini
bukanlah hal yang baik.
Lalu saya harus bagaimana sebaiknya?
Menyelamatkan korban. Menyelamatkan korban adalah prioritas utama.
Baik. Anda bisa memahami kesulitan yang dihadapi oleh pemadam kebakaran,
sehingga secara khusus Anda menyampaikan semua ini pada saya.
Saya akan mematuhi instruksi Anda.
Baik.
Terutama, daerah yurisdiksiku Yonggwang-gu
kupercayakan padamu.
Baik.
Belum ada cara untuk menghubungi Kang Joo Ran yang ada di RS. Mirae?
Mereka tidak punya telepon satelit.
Jalanan juga belum pulih.
Sungguh mengkhawatirkan. Tidak tahu bagaimana kondisinya.
Oh ya, Kongres...
Janggwan-nim.
Maaf?
Janggwan-nim.
Ah iya, Janggwan-nim.
Seperti yang Anda perintahkan, kami telah mengambil alih pabrik semen China.
India dan Australia masih dalam batas negosiasi.
Dan juga bahan bangunan. Kita sedang berusaha mengambil alih secepat kilat dengan menggunakan uang tunai.
Bagus. Monopoli sumber daya itu penting sekali.
Juga harus secepat mungkin membentuk tim perencanaan pengembangan ulang Yonggwang-gu.
Baik, mengerti.
Seoul... dibangun kembali olehku.
Olehku, Goo Jae Hyeok.
Sudah siuman?
Ah, Saem. Iya.
Karena barusan dia mengeluh sedikit sakit,
jadi kuberi dia Anodyne.
Setelah itu ia tertidur pulas.
Sudah kulihat hasil X-Ray nya. Untunglah bukan fraktur.
Jadi kubalut ulang perbannya.
Untunglah bukan fraktur.
Maaf tadi.
Belakangan ini aku agak sensitif.
Oh ya? Aku benar-benar kaget.
Tadi itu sama sekali tidak mirip Siljang-nim yang biasanya.
Mana mungkin aku bisa bersikap seperti biasanya?
Ini pertama kalinya bagi kita merasakan gempa.
Ya kan? Aku juga pertama kali.
Aigoo, harus secepatnya bertemu dengan ayah ibumu.
Ya, Gwajang-nim.
Urine pasien yang keluar juga lancar sekali.
Juga tidak ada infeksi pada lukanya.
Ini bukan Busan.
Tekanan darah pasien sudah naik.
Norepinefrin sudah boleh dihentikan.
Norepinefrin suh boleh dihentikan.
I/O nya ganti jadi I/O negatif
untuk menghilangkan edema.
Kau masih bisa pulas?
Kau masih bisa pulas?
Kau bermalas-malasan lagi ya?
Kau bermalas-malasan lagi ya?
Sepertinya terlalu awal untuk menghentikan Norepinefrin.
Jangan terkantuk-kantuk! Lakukan pekerjaanmu dengan benar.
Bikin malu saja di depan ko-as.
Mulut saja tidak sanggup kau buka.
Aigoo, dengan kemampuan segitu...
Saem!
Apa? Kau mau cari alasan bilang
karir ko-as mu sudah lama berlalu?
Hei, sekalipun itu bukan spesialisasimu
tapi bidang lain juga harus tahu. Itu baru namanya dokter.
Saem, jangan bersikap seperti ini terhadapku.
Berapa lama sudah kau kenal aku?
Aku diseret ke sini untuk ikut menderita.
Tidak diizinkan pulang.
Kenapa? Sekarang tidur saja tidak boleh?
Aku dibilang bermalas-malasan.
Anu... ini...
Memangnya aku sudah kau kasih makan atau kau biayai?
Benar-benar kehabisan kata-kata aku.
Benar-benar kulit badak!
Hei, bukan!
Hei!
Hei, Jeong Ttol Mi!
Berhenti!
Hei Ttol Mi! Kau beneran mau pergi?
Hei!
Kenapa sih kau ini orangnya ambekan sekali?
Aku khawatir Lee Saem belum sempat makan apa-apa,
karena itu aku terus menunggumu datang.
Memang belakangan ini aku sedikit sibuk.
Jadi tidak begitu pegang buku.
Tapi sekalipun kau bicara seperti itu, aku tidak merasa malu.
Kenapa? Karena asalkan bersedia belajar pasti bisa.
Tunggu apa lagi? Tidak mau dimakan?
Kalau tidak mau makan, aku kasih orang.
Oh, dapat dari mana agar-agar ini?
Kopi kalengannya dari mana?
Oh, ini ada ceritanya.
Ko-as bernama Dae Gil itu walaupun tampangnya begitu
tapi ternyata punya selera tinggi juga dalam menilai cewek.
Dia mengejar-ngejarku dengan agar-agar dan kopi ini.
Kalau kau tidak mau, ya aku makan sendiri.
Akan kuhabiskan sendirian. Perutku lapar juga.
Ma--Makan, kenapa tidak?
Maksudmu si ko-as Dae Gil itu mengejar-ngejar kau?
Kau jangan terlalu menyalahkannya.
Atau bilang dia telah berbuat salah.
Harusnya ini adalah kesalahanku.
Kau tidak apa-apa?
Anu, sebenarnya aku sudah sangat biasa berhadapan dengan hal-hal seperti ini.
Waktu di Busan juga begitu.
Selalu saja ada orang yang ngasih-ngasih aku makanan.
Jadi artinya selama ini hanya mengandalkan 2 unit generator ini, begitu?
Iya, beberapa tahun yang lalu saat RS Jamsil mengalami pemadaman listrik besar-besaran,
Karena tidak bisa memberikan perawatan maksimal,
para pasien ribut mau memperkarakan. Pokoknya heboh sekali.
Anda juga tahu, kan?
Jangan sampai rumah sakit kita juga begitu.
Pada setiap rapat, saya selalu mendesak mereka.
Ayo kita cek sebentar!
Baik. Coba kau cek sebentar!
Secara rutin kita juga selalu menambah sumbernya.
- Eh? - Apa? Ada apa?
Eh, apa ini?
Ada apa?
Jelas-jelas tidak ada kebocoran.
Listrik belum penuh terisi.
Kalau begitu terus...
Aku tahu... aku juga tahu.
Tepatnya masih tinggal berapa?
Harusnya hari itu isi untuk kapasitas 3 hari.
Aigoo, sama sekali tidak sangka akan ada kejadian seperti ini.
Bagaimana bagusnya ini?
Maksudnya untuk dua hari saja tidak bisa?
Kalaupun ada masalah, juga bukan dari pihak kita.
Sudah kepesan pada mereka harus isi penuh sesuai dengan ketentuan.
Sepertinya pemerintah akan segera mengirim bantuan kepada kita.
Sekalipun begitu, Kang Siljang tetap harus mempersiapkan rencana penanggulangan nomor 2.
Bagaimanapun juga, kemungkinan tutup lebih tinggi.
Bahan bakarnya juga tinggal sedikit.
Tempat yang menjual bahan bakar satu Seoul selain kami tidak ada tempat lain lagi.
Untuk bisa makan nasi, harus keluar dari Seoul.
Oke, satu liter 10 ribu Won.
Baik, aku butuh dua barel bahan bakar.
Kalau 2 barel itu sekitar 40 liter.
Jadi totalnya 400 ribu Won.
Baik, uangnya ada di sini.
Presiden, aku mau beli sedikit bahan bakar.
Keadaannya sedikit mendesak.
Aku harus memindahkan pasien yang sedang dirawat di rumah sakit.
Bayi kembar yang baru dilahirkan.
Itu... silakan antri di belakang.
Keadaannya benar-benar mendesak, Presiden.
Jika tidak dipindahkan segera, ibu dan bayi kembar akan meninggal.
Aku juga tahu kau sangat terdesak.
Cepat antri! Antri!
No comments yet. Be the first to leave one.