The first 200 lines.
Sepakbola adalah inti hidupku.
Terkadang aku takut dengan hal itu.
Mendedikasikan seluruh hidupmu untuk hal itu...
Merupakan hal yang menakutkan.
Tapi, aku harus mengakui
bahwa memang begitulah yang terjadi.
Dua puluh dua tahun setelah kedatangannya di Arsenal...
Only one Arsene Wenger One Arsene Wenger
Orang-orang mencintaimu saat kau lahir,
mereka pun mencintaimu saat kau meninggal, kira-kira begitu.
Arsene Wenger
here's only one Arsene Wenger
Arsene Wenger...
Semua orang bilang bahwa aku hebat.
Semua orang bilang,"Terima kasih banyak" dan, "Sampai jumpa. "
Dia sungguh mengubah citra sepakbola,
citra sepakbola di negeri ini.
Kau menyadari bahwa itu adalah akhir dari sesuatu
yang telah menjadi bagian terbesar hidupmu.
38 laga...
26 kemenangan...
12 imbang...
Tanpa kekalahan.
One Arsene Wenger
Takdir.
Hidup selalu ditentukan...
... Oleh pemilihan waktu yag tepat.
Kita bicara mengenai "The Invincible"
Tapi, ada hal-hal kecil...
Yang tidak kita bicarakan.
Aku percaya pada takdir.
Aku mengatakannya berkali-kali, tapi satu batang rokok mengubah hidupku.
2 Januari 1989.
Pertama kalinya aku di Highbury.
Saat jeda babak pertama...
Aku ingin merokok karena aku adalah tipikal orang Prancis kebanyakan.
Temannya Barbara Dein,
isterinya David Dein
memberiku korek.
Barbara Dein bilang kepadaku
"Apakah kau ingin bertemu suamiku? Dia merupakan pimpinan di sini."
Aku punya moto tersendiri. Moto itu adalah kura-kura.
Kau tak akan ke mana-mana kalau kau tidak menjulurkan lehermu.
Jadi aku bilang, "Yah...
Apa yang kau lakukan sore ini?" Dia bilang, "Tidak ada."
Aku bilang, "Kalau begitu, maukah kau keluar makan makan malam?"
Dia bilang, "Tentu saja."
Dan hal tersebut merubah hidup kita selamanya.
Hal yang dinanti-nantikan oleh semua pendukung Arsenal...
Inilah dia, kedatangan manajer baru mereka...
Pada saat itu,
Nama Johan Cruijff disebut-sebut.
Jadi kau bisa bayangkan...
Seberapa besar antusiasme pemain
dengan kedatangan Arsene Wenger? - Siapa?
Sambutan kepadaku...
Adalah, "Siapa kau?"
"Arsene siapa?"
Arsene Siapa? - Daily Star.
Dia terlihat seperti dosen universitas.
Dan datanglah Sang Sarjana...
Apa yang dia miliki? Gelar Master. Master.
Aku tahu dia dari Prancis.
- Dia orang Swedia, 'kan? - Tidak.
Aku tahu dia orang Prancis.
Dan aku tahu dia makan kaki kodok.
Tuan Bukan Siapa-Siapa Itu-lah Tuan Arsen-al yang baru - Daily Mirror.
Kenapa kau memilih benua yang berbeda? Bukankah itu beresiko?
Aku pikir memilih manajer adalah hal yang beresiko
tapi itu adalah hal yang sudah diperhitungkan.
Baiklah, kemudian bentangkan tanganmu.
Aku bisa melihat bahwa sepakbola menjadi semakin besar
dan aku bersedia untuk menganjurkan
bahwa kita membuka cakrawala kita...
Untuk sesuatu yang baru.
Sejujurnya...
Ketika aku memikirkan hal itu
mereka sungguh berani.
Arsene, hadap sini, tolong?
Tak pernah ada sejarahnya manajer asing yang sukses...
Lurus ke kamera.
Dan aku membaca di koran
bahwa manajer asing tak pernah bisa memenangkan liga utama.
Terakhir. Oke, terakhir. Beneran yang terakhir.
Terima kasih.
Aku lahir tahun 1949.
Setelah perang...
Di Duttlenheim.
Jangan sebut "Kota", sebutlah "Pedesaan."
Temanku tinggal di sini.
Dia seperti keluarga.
Di sana kau bisa melihat belakang sekolah.
Itu halaman sekolah.
Kekuatan fisik merupakan kebanggaan dari desa ini.
Pria yang malas merupakan
pria yang tak dianggap.
Wilayah yang Katholik-nya sangat-sangat kuat.
Kita harus pergi misa, harus melakukan pengakuan desa.
Aku mempelajari itu semua di usia yang sangat-sangat muda.
Jika kau ngobrol di gereja, mereka akan menyuruhmu berlutut di hadapan semua orang.
Dan sejak aku mulai cerewet,
hal itu sering terjadi.
Ingatan pertamaku adalah gereja, lapangan sepakbola
dan restoran di mana aku tumbuh besar.
Ayahku adalah akuntan di Bugatti.
Ibuku mewarisi bar ini.
Bar ini merupakan satu dari tiga atau empat yang ada di desa ini,
tapi, yang ini menuntun hidupku.
Ini adalah gedung perkumpulan lokal.
Kita ganti baju di sana, dan kemudian berjalan ke stadion.
Di sinilah langkah pertama sepakbolaku dimulai.
Aku mulai mendengarkan orang.
Memperhatikan orang.
Itu merupakan pengalaman psikologi yang bagus untuk anak kecil.
Aku segera menyadari
bahwa kita memiliki kesulitan untuk memenangkan pertandingan sepakbola.
Jadi, aku membawa buku misa-ku
dan aku berdoa saat pertandingan.
Ini adalah keluarga Wenger
Sepupu, suami, anakku, Arsene dan orang tuanya.
Mereka merupakan generasi yang tidak mengekspresikan perasaan mereka, karena perang baru saja berakhir.
Satu-satunya yang penting adalah kerja keras.
Ayahnya sangat menuntut.
Ini adalah foto pernikahan orang tuaku.
Mereka berdua sangat rupawan.
Pada saat itu,
kau tidak bisa menikahi seseorang dari desa yang berbeda.
Kami dengan cepat menyadari dalam keluarga betapa berartinya sepakbola bagi Arsene.
Pada suatu titik, kita harus menentukan pilihan antara teman atau keluarganya
hanya saja semangatnya lebih penting.
Dalam impian tergilaku, aku mesti selalu mencari tahu mengenai dunia.
Aku pergi kuliah.
Setahun di kedokteran,
dua tahun di ekonomi,
setahun di sosiologi,
untuk memahami apa yang ada di sekitarku.
Aku mulai melatih di usia yang sangat-sangat muda,
usia 25 tahun aku sudah mengajar para pelatih.
250 francs per-bulan, sungguh mewah untuk saat itu!
Ini adalah hidupku!
Satu yang di tengah, yang warna biru.
Bagus.
Aku bisa merasakan bahwa tim ini melihatku sambil
berpikir, "Siapa pria ini? Apa yang dia lakukan di sini?"
Bagaimana aku mendeskripsikannya?
Gimana yaa?
Dia memakai jaket yang besar,
kacamatanya juga.
Julukanku padanya adalah "Clueso".
Ini adalah ketua inspektur...
CIueso.
Pink Panther, kita sering menontonnya.
Silahkan masuk.
Terlalu banyak di sini...
Aku merasa seperti aku sedang membuat film.
Dia melakukan kesalahan,
melupakan sesuatu...
Dia tipikal pria yang seperti itu.
Maaf, kawan.
Suatu waktu ketika kita bertanding melawan Wimbledon ...
lampunya mati, jadi kita jalan balik,
dan ketika kami berjalan balik, dia bersiap-siap untuk keluar
dan dia bilang, "Apa yang terjadi?"
Sejujurnya, kita bilang, "Ada bom ke sana."
Dan dia kemudian, "Bom?".
Bom.
1-0 to the Arsenal
Saat itu tim merupakan tim yang kulturnya satu.
Barisan para pemain Inggris,
dengan adanya satu bintang, Dennis Bergkamp.
Ooh!
Yang dia katakan sejak hari pertama adalah
"Kau tidak bisa membuang mentalitas ala Inggris
dari tim Inggris".
Itu yang dia ajarkan,
dan dia harapkan dari pemain asing juga.
Untuk memiliki mentalitas yang seperti itu.
Aku tidak punya waktu untuk masa transisi.
Aku tidak menyukai kata itu.
Itu adalah semacam alasan.
Lihat dia. Lihat ke kamera.
Ada kumpulan kepribadian yang kuat.
- Mantap. - Aku mencintaimu, Dicko.
Aku juga.
Kumpulan pria.
Mereka tidak selalu mudah ditangani.
Tapi saat Sabtu...
Kau harus beriringan bersama mereka.
Kau tahu mereka siap untuk bertarung.
Dan aku tidak akan bernyanyi "1-0" lagi.
Aset terbesarnya di lapangan latihan
adalah dengan membolehkan para pemainnya
untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dan memecahkan masalah di lapangan.
Umpan bagus, ya.
Saat kau memasuki usia 30
kau telah menemukan karaktermu sendiri, iya 'kan?
Seperti bagaimana kau ingin bermain sepakbola dan bagaimana kau memandangnya...
dan ketika Wenger tiba
dia memberikan pencerahan, beneran, untuk klub itu.
Ada kultur minum-minum.
No comments yet. Be the first to leave one.