The first 200 lines.
Alkisah langitnya masih gelita.
Di sebuah kota yang dipagari tebing setinggi perawangan.
Kota yang diselimuti asap sepanjang hari.
Kota yang tak mengenal dunia luar.
Kota yang tak mengenal bintang benderang.
Ayahku menjulukinya "Kota Cerobong".
Karena kota ini memang dipenuhi cerobong.
Minggir, minggir!
Minggir, minggir!
Di kala akhir pekan,
Ayah selalu bercerita tentang indahnya dunia luar yang tak bercerobong.
Kisah tentang malam terakhir sang kota malam.
Saksikanlah cerita spektakuler dari Pak Bruno!
Ia menceritakan dunia penuh gemintang yang ada di luar kota ini.
Sampai-sampai ayahku dicap pembohong.
Tak ada yang percaya akan keberadaan bintang.
Hingga datanglah si Manusia Sampah ke kota ini ....
Inilah kisah tentang malam terakhir sang kota malam.
Lubicchi!
Hati-hati kepeleset kalau mendongak terus.
Kalian dapat berapa?
Segini.
Aku dapat segini.
Ini punyaku.
Wah!
Si Manusia Sampah?
Wah!
Gila!
Jelas kamu juaranya tahun ini.
Bisa-bisanya kepikiran pakai kostum sampah.
Nekat juga dia sampai datang ke pembuangan sampah.
Niat banget, ya.
Ini.
Kau mau kostuman begitu juga?
Ogah.
Kok, kalian ...?
Nga-Nganu ....
Ada apa?
Panasnya!
Tahun depan aku harus pakai yang sejukan dikit.
Ah ....
Nganu ....
Kau enggak lepas kostum juga?
Iya. Pasti bau, tuh.
Buruan copot saja.
Ayo.
Aduh, maaf.
Di-Dia tidak pakai kostum!
Dia monster asli!
Tunggu dulu.
Menjauh!
Manusia sampah?
Bukan kostum?
Ada hantu!
Katanya dia monster asli.
Itu dia!
Monster!
Tunggu.
Aku bukan ....
Apa kalian mengenalnya?
Tidak.
Dia tiba-tiba ngikut.
Nganu ....
Jauh-jauh sana!
Jangan sampai Mahkamah Ortodoks melihat kita sedang bersama.
Mari pergi.
Maaf.
Tunggu sebentar!
Lari!
Mahkamah Ortodoks tiba.
Cepat!
Baik.
Dia kabur ke sana.
Ngape lu ngelihatin langit mulu, sih?
Jadi pembersih cerobong itu bahaya, lo.
Misal lu kenape-nape,
mak lu bakal jadi sebatang kara.
Oh iye, Lubicchi.
Lu yakin kagak mau ngerayain Halloween?
Aku lebih suka membersihkan cerobong.
Mendingan makan permen daripade jelaga.
Kamu sudah izin mau bekerja?
Aku bilang ke Ibu mau main sama teman mumpung Halloween.
Alah, alah!
Muka aje dekil kena jelaga.
Entar gimane lu ngibulinnya?
Aduh.
Aku pikir nanti saja.
Nanti?
Lu aje kagak punya temen—
Oi.
Tolong aku!
Tolong aku!
Gawat, gawat, gawat!
Maaf, lewat!
Turun tangga!
Ada orang terbawa!
Permisi!
Terima kasih!
Tangga lagi!
Permisi!
Di muatan ada orang!
Permisi! Permisi!
Kamu tak apa?
Jelas tidak.
Maaf, ya.
Monster!
Enyah sana, Setan!
Aduh, sakit!
Ka-Kamu ini apa?
Maaf, bisa dibilang aku ini ....
Oh, kostum untuk Halloween?
Kelihatannya bukan, sih.
Maksudnya?
Aku sendiri kurang paham.
Kenapa?
Bahaya gak, sih?
Bahaya, lah! Kita mesti turun.
Kenapa?
Nyangkut.
Terus gimana?
Jangan malah tanya.
Bantu lepaskan.
Cepat!
Ba-Baik.
Gawat, gawat, gawat!
Situasinya jadi susah.
Lepas juga.
Gawat, gawat, gawat!
Yang benar saja!
Gawat, gawat, gawat!
Ada tali!
Tinggi banget.
Mengerikan.
Kenapa?
Kalau digelantungi dua orang pasti bakal putus!
Kamu ini siapa, sih?
Manusia sampah.
Sampah ke bawah saja.
Di tubuhku juga ada sampah nonbakar!
Mulutmu bacin.
Kenapa malah bahas itu?
Kita harus segera ke tepi.
Siap.
Jangan bersama-sama!
Tolong kasihani aku.
Jangan digoyang! Nanti putus!
Tuh, kan!
Apes!
Kenapa aku kena getahnya juga?
Ini semua salahmu!
Tak kusangka, ternyata aku berusaha menyelamatkan manusia sampah dari tumpukan sampah.
Dari awal harusnya aku tidak menolong.
Aku sampai jatuh ke tempat aneh ini.
Memang kamu bisa tanggung jawab?
Kalau sekarang, ini salahmu.
Lo, lo, lo?
Kayaknya ada yang copot.
Berputar, putar, putar!
Segarnya!
Ada apa?
Kayaknya bakal gawat.
Sorong ke kanan!
Kali ini sebaliknya!
Kiri!
Kiri!
Iya, kiri!
Menunduk!
Menunduk.
Kanan!
Kiri!
Diam!
Kau tidak apa-apa?
Lelahnya.
Kakiku sakit. Jalan keluarnya ada di mana?
Ibu pasti mengkhawatirkanku.
Kenapa kamu mengikutiku?
Jalannya cuma lewat sini.
Kamu mau ke mana?
Yang penting cari jalan keluar dulu.
Kamu tidak punya rumah?
Iya.
Setelah keluar, mau apa?
Entah.
Kamu ini sebatang kara?
Iya.
Aku punya permintaan!
Bertemanlah denganku!
Kumohon jadilah temanku!
"Teman"?
Benar! Teman!
Teman itu apa, ya?
Nganu, seseorang yang senantiasa mendampingi.
Aku berbohong kepada Ibu kalau aku akan bermain dengan temanku.
Ibu pasti cemas jika tahu aku bekerja di hari libur.
Terus aku harus apa?
Kamu cuma perlu berada di sampingku dan berpura-pura sudah bermain denganku.
Berada di sampingmu saja sudah cukup?
Iya, kumohon!
Baiklah.
No comments yet. Be the first to leave one.