The first 200 lines.
Sentuhanmu selalu bagus, Henry,
Penuh perasaan.
Karena itulah aku membuat film ini.
Untukmu.
Kau tidak punya sesuatu yang baunya bukan seperti minuman keras?
Kautahu aku tidak suka itu.
Kami sudah siap.
Otto, aku senang sekali semuanya berjalan lancar.
Sungguh, kami semua senang sekali.
Aku juga senang.
Kopi, Pak Kullberg? - Trims, saya bawa kopi sendiri.
Pak Kullberg!
Tolong tanda tangannya. - Satu foto saja!
Tolong untuk Thomas.
Untuk Julia.
Anak-anak, saya harus bekerja.
Siap-siap ambil gambar.
Otto datang. Bisa dipercepat?
Mikrofonmu.
Kuenya belum ada.
Otto, tolong cek mikrofon?
"Tes, satu, dua, ti ..."
Trims, oke.
Semuanya terang sekali di monitorku.
Apa seperti itu nanti?
Lihat saja. - Ya.
Sepatunya Heike belum ada.
Oke, aku suka. Bagus begini.
Lain kali jangan terbalik lagi.
Kuenya bisa didorong maju sedikit?
Begitu, trims.
Otto sudah datang. Siap-siap ambil gambar.
Tunggu sebentar.
Natasha...
Kaus kakinya.
Kita siap, Melanie? - Ya.
Perhatian... Harap tenang, siap mengambil gambar!
Sound. - Rolling.
WISKI DENGAN VODKA
Action!
Kenapa kau begitu tega terhadapku?
Ini khusus untuk yang belum dicoba.
Kautahu dia putriku?
Oh.
Dan siapa itu yang kaubawa?
Putriku sudah bertunangan.
Saya cuma bisa bilang, Anda ini manusia nista.
Bedebah.
Cut! Otto...
"Bedebah" itu untuk si tunangan. Ucapkan ke arah sini, oke?
Oke. - Kita mulai dari awal lagi.
Sound. - Rolling.
34/5. Pengambilan ke-2.
Action!
Kenapa kau begitu tega terhadapku? - Kalau belum dicoba,
harus dicoba. - Kautahu dia putriku?
Oh.
Dan siapa itu yang kaubawa?
Putriku sudah bertunangan.
Saya cuma bisa bilang, Anda ini manusia nista.
Cut, cut, cut. Otto.
Kau lupa "bedebah".
Oh?
Maafkan aku.
Tidak apa-apa. Begini...
Tolong ambilkan kopiku?
Situasi ibu-anak ini membuatmu rikuh.
Kau cenderung defensif, tapi waktu laki-laki itu ikut campur,
itu tidak bisa kauterima. Kau mengerti?
Kau bukannya culas,
hanya saja agak mabuk.
Jadi ucapanmu tidak disaring.
"Bedebah." - Begitu.
Satu hal lagi, Otto.
Bukankah lebih baik minum dari gelas, jangan dari botol?
Ya, dari gelas. Tentu. - Oke.
Dari gelas. - Bagus.
Heike... kau mencintai dia pada momen ini,
juga sebagai perlawanan. Tolong perlihatkan itu.
Holger, begini bagus? - Ya.
Kita mulai lagi.
Sebentar.
Diredam sedikit.
Harap tenang.
Kembali ke posisi awal. Harap tenang, siap mengambil gambar!
Sound. - Rolling.
34/5. Pengambilan ke-3.
Action!
Kenapa kau begitu tega terhadapku?
Ini khusus untuk yang belum dicoba.
Kautahu dia putriku? - Oh.
Dan siapa itu yang kaubawa?
Putriku sudah bertunangan.
Saya cuma bisa bilang, Anda ini manusia nista.
Cut. Cut!
Otto, kata "bedebah" dibuang saja. Mungkin terlalu kasar untukmu?
Kenapa? Aku suka kata itu.
Oh ya, kau sendiri juga bedebah.
Oh, Otto.
Kau tidak apa-apa, Otto?
Sebentar...
Sepertinya dia habis minum. - Tidak mungkin.
Apa isi botol itu?
Itu teh. - Dia hanya minum kopi.
Martin, kita ulangi lagi.
Kenapa adegan ini tidak diambil sambil berbaring saja?
Ini bukan hanya kopi.
Aku tidak perlu berdiri untuk bilang "bedebah".
Film ini tidak dipikir matang.
Tolong urus dia. Kita harus memikirkan sesuatu.
Kita ambil gambar close-up, Bettina.
Aku permisi sebentar.
Dia mulai minum waktu dirias?
Aku tidak melihat apa-apa.
Aku tidak perlu air!
Aku perlu rokok.
Bisa kubantu, Otto?
Aku baik-baik saja.
Mungkin kau perlu berbaring sebentar?
Aku tidak perlu berbaring.
Otto! Bawa dia turun!
Tidak ada siapa-siapa di atas.
Jadi, untuk apa aku ke atas?
Mana kutahu!
Sudah kuduga! Aku sudah tahu bakal begini.
Dia tidak bisa lanjut, dan kita yang kena getahnya.
Aku harus telepon Leo. - Jangan dulu.
Ini belum jam 10. Waktu itu juga begini.
Pagi, Otto.
Kita belum ketemu hari ini.
Katanya kau tidak enak badan? Ada apa?
Tidak ada apa-apa.
Kau perlu rehat?
Aku sedang berpikir. Aku kurang puas.
Kurang puas soal apa?
Aku tidak mau bilang.
Kau bisa jaga dia?
Kalau memang harus.
Kalau kita selesai untuk hari ini, aku mau pulang dulu.
Istriku lagi hamil. - Coba kutanyakan dulu.
Oke, baik.
Coba berkonsentrasi.
Hanya adegan ini yang bisa kita ambil.
Gambarnya seperti ini nanti. Ini reaksimu setelah dia berkata:
Ini khusus untuk yang belum dicoba.
Pelan-pelan.
Ini khusus untuk yang belum dicoba.
Lebih pelan lagi. - Oke.
Ini khusus untuk yang belum dicoba.
Ya, bagus sekali. Tapi tolong sedikit lebih intens.
Ya, oke. - Oke? Sekali lagi?
Ini khusus untuk yang belum dicoba.
Bisa jadi kau pacarku yang terakhir.
Bukan yang berikut,
yang terakhir.
Ya, aku sependapat.
Ini Leo. Silakan ambil sendiri.
Apa?
Ya, sekarang aku mengerti.
Ini usul yang tidak biasa.
Rasanya belum pernah ada.
Aku khawatir ini bakal sulit. Dan mahal.
Apa katanya?
Dia minta kau syuting dua kali.
Apa?
Dua kali. Sekali dengan Otto, sekali dengan aktor lain.
Mulai sekarang dia minta dua opsi, dengan dan tanpa Otto.
Otto harus dibuat paham
bahwa dia bukannya tidak tergantikan.
Telepon Leo.
Ini Telleck.
Usul Anda terpaksa saya tolak.
Karena alasan artistik dan pertimbangan kepatutan.
Saya bukan ember penampungan unek-unek. Termasuk unek-unek Anda.
Bagus, Martin.
Kau tidak salah.
Tapi bagaimana kalau Otto kambuh lagi?
Waktu itu dia ambruk 6 bulan, mabuk di jalan, sampai sepatunya pun dicuri.
Semua koran meliputnya.
Leo mau menyelamatkan film ini.
Leo lagi.
Saya agak berlebihan tadi, maaf.
Tapi tanpa Otto, adegan musim dingin harus diulang.
Film ini menyajikan dua musim. Artinya, dua masa kehidupan.
Kita membuat sinema besar.
Apa maksudnya, itu tidak penting?
Akan kucoba.
Ya, nanti kujelaskan kepada dia.
Menjelaskannya kepada dia?
Menjelaskannya kepadamu.
Leo bilang, ini film sutradara.
Film karya Telleck. Semuanya terserah kau.
Pemeran utama sebenarnya itu Bettina.
Dia titip pesan itu dan dia senang kau ikut main.
Dia bilang, adegan musim dingin bisa dibuang.
Kalau terpaksa. Tapi dia suka Otto.
Dia mau bikin film dengan Otto Kullberg.
Kau harus cari pendatang baru berbakat yang tidak mementingkan uang
asal bisa lebih dikenal. - Kalian ini bicara apa?
Dia sama sekali berbeda dari Otto.
No comments yet. Be the first to leave one.