The first 200 lines.
EPISODE TERAKHIR
Ayah di kamar?
Di ruang kerja.
- Aku mau bicara. - Baik.
Mau minum teh?
Ayah habis minum ginseng merah dan tak haus.
Kau tak enak badan?
Hatiku yang sakit.
Kami akan pindah dari sini.
- Kenapa? - Kurasa lebih baik begitu.
Pasti ada alasannya.
Aku tak suka didiskriminasi.
Apa maksudmu?
Ayah tak sadar?
Si-eun dan Pi-young.
Ayah hanya perhatian dan peduli pada Pi-young.
Bukan begitu.
Aku tak mau dengar penjelasan.
Aku bisa merasakannya, apalagi Si-eun.
Dia tak mengatakan apa pun karena terlalu baik.
Ayah punya alasan.
Ayah menyodorkan lauk yang enak
ke arah Pi-young di depan anak-anak,
tapi hanya menyuruh Si-eun mengambil air minum.
Beberapa hari lalu, aku lihat Ayah memberi Pi-young kartu kredit.
Ayah bahkan memberi dia cincin permata.
Benar.
Ayah pasti kesulitan memperhatikan dia tanpa sepengetahuan kami.
Kami akan keluar dari sini, jadi, silakan Ayah memperhatikannya.
Kenapa Ayah menyuruh kami pindah kemari?
Dengarkan ayah dulu.
Aku dikhianati lagi oleh orang yang sama.
Ayah melukai perasaanku lagi.
Sepertinya di kehidupan sebelumnya aku berdosa besar
- pada Ayah. - Dong-min…
Aku sudah menghapus nama itu.
Kau salah paham.
Ayah sangat ingin mengungkapkannya,
tapi ayah diminta merahasiakannya.
Pi-young sedang hamil.
Dong-ma juga baru tahu di hari pernikahan mereka.
Katanya dia malu jika keluarga tahu.
Makanya ayah lebih memperhatikan Pi-young.
Cincin yang ayah berikan tadi pagi
adalah peninggalan ibunya Dong-ma.
Jika diberikan ke Si-eun, kau pasti takkan suka
karena milik ibunya Dong-ma.
Keponakan pertamamu akan lahir bulan September.
Bukan ayah yang bermimpi mengenai konsepsi, tapi kau, pamannya.
Aku terlalu gegabah.
Karena kau tak tahu.
Wajar jika kau merasa kesal dan kecewa pada ayah.
- Aku sama sekali tak menduga. - Ayah juga.
Ini kabar bahagia.
Kita akan segera mendengar suara tangisan bayi.
Benar juga.
Berpura-puralah tak tahu.
Nanti ayah dikira tak bisa menjaga rahasia.
Lagi pula, perutnya akan segera membesar.
Sepertinya dia malu dengan anak-anak.
Perkataanku dan Kak Pi-young benar.
Ayah meninggal karena sengaja dibunuh, bukan karena penyebab alami.
Ini sudah direncanakan.
Ibu sengaja membuat makanan berkarbohidrat untuk merusak pembuluh darah Ayah.
Jika langsung dipakaikan defibrilator,
Ayah pasti masih hidup.
Kau masih tak percaya meski mendengarnya sendiri?
Aku benar-benar
tak bisa mengerti.
Bagaimana mungkin?
Nenekku pernah bilang manusia adalah makhluk paling menakutkan.
- Ternyata benar. - Ibu memperlakukan Ayah…
dengan sangat baik.
- Dengan tulus. - Hanya dari luar.
- Kenapa hanya dari luar? - Ibu tak suka Ayah menua.
- Mereka selalu bersama. - Hanya mereka yang tahu.
Bagaimana mungkin Ibu bisa menipu Ayah dan aku selama ini?
Kebohongan pasti akan terungkap.
Menurutku, Ibu bermuka dua.
Apa Ibu mengalami delusi karena skizofrenia?
Ibu tak sadar mengatakannya.
Kau benar-benar keras kepala.
Apa dia ibu kandungmu?
Apa kau sungguh dokter neuropsikiatri?
Kenapa orang yang hidup bahagia tanpa tekanan bisa sakit?
Ibu pasti melakukan sesuatu yang menghantuinya.
Ditambah lagi, Ayah tak bisa pergi dengan tenang dan merasuki tubuh Ji-a.
Semuanya masuk akal.
Ayah tak bisa pergi karena dendam dengan Ibu.
Putuskan. Aku tak bisa tinggal bersama Ibu.
Ibu mungkin akan melakukan sesuatu padaku juga.
Masukkan Ibu ke rumah sakit atau aku yang pergi.
- Haruskah aku berkemas? - Ibu datang saat muda,
dan merawatku
seperti anak kandungnya.
Aku di posisi ini berkat Ibu.
Ibu punya maksud lain.
- Ibu melihatmu sebagai pria… - Diam.
Saat itu aku tujuh tahun.
Kata siapa Ibu menyukai anak tujuh tahun?
Seiring berjalannya waktu, kau tumbuh dewasa.
Ayah bertambah tua dan menjadi lansia.
Sedangkan Ibu berada di usia penuh gairah.
Kau bisa bawa Ibu ke rumah sakit atau panggil orang untuk menjemput Ibu.
Aku tak tahan lagi.
Aku tak bisa hidup dengan Ibu.
Aku sungguh mencintaimu
- Cepat ganti baju. - Sudah terlambat.
Kita tetap pergi. Kita makan di luar.
Mau makan apa?
Ibu mau makan apa?
Masuk ke kamar.
Cepat masuk. Jangan diam saja.
Ibu mau makan piza.
Pesan. Ibu mau makan di rumah.
Ibu pura-pura tak tahu
saat Ayah mengalami serangan jantung?
Jangan bahas itu.
Kenapa?
Bukankah Ibu sangat mencintai Ayah?
Ibu menghormati dan mencintai Ayah, 'kan?
Kata siapa ibu menghormatinya?
- Ibu membenci Ayah? - Ibu muak dengan bau tua bangka itu!
Memangnya Ibu tak bertambah tua? Itu hal yang wajar.
Tetap saja.
Kau sedang menyerang ibu sekarang?
Kau mau memarahi ibu?
Semuanya menyebalkan!
Ayah…
Jangan cari ayahmu seperti bayi.
Cepat suruh orang ke sini.
Buka pintunya.
Buka.
Kunci.
Tak boleh ada yang masuk.
Aku akan membunuh kalian!
Kenapa kalian datang ke sini?
Kami akan membawa seseorang.
Kenapa kau berkeliaran di sini?
- Siapa? - Tak perlu tahu.
- Itu rahasia. - Kapan?
Sekitar satu bulan sejak kemunculan kami.
Setidaknya beri tahu aku jenis kelaminnya.
Kakek di rumah ini?
Jangan tanya. Kau akan terluka.
Ponselku.
Ada di sini.
PANGGILAN MASUK A MI
- Ya. - Kunci kamar ada di mana?
Di gudang. Atau mungkin di rak sepatu?
Ibu mengunci pintu kamarnya.
Ternyata tebakan kita benar.
Ibu sendiri yang mengaku bahwa dia membunuh Ayah.
Ibu bilang apa?
Ceritanya panjang.
Pakai ini.
Ibu tak boleh kena flu.
Ada apa? Tenangkan diri Ibu.
Baiklah. Diam di rumah saja.
Jangan ganggu ibu.
Enyah dari sini!
Sekarang.
Siapkan ruang isolasi.
Kakimu tak sakit?
Tidak.
Kak Hyang-gi sudah memesan minuman.
Hei. Orang-orang akan salah paham.
Dikira habis sunat?
Mau bagaimana lagi?
Tak ada makanan? Ibu lapar.
Siapa para pria muda ini?
Pegawaiku.
Duduk dulu sebentar.
Kalian juga.
Lepaskan.
Jika kalian mendekat, aku akan pipis di sini.
Ada apa ini? Beraninya kalian menyentuhku!
Lepaskan! Lepaskan aku!
Aku akan menyuruh Direktur Shin untuk memecat kalian!
Yu-sin!
Kenapa kau melakukan ini? Apa salah ibu?
Kau mau ibu mati di hadapanmu?
Bunuh saja ibu!
Baiklah. Ibu akan mati di tanganmu! Di tangan anak ibu!
Bagaimana kau bisa melakukan ini?
Ibu yang membesarkanmu.
A Mi, tolong ibu.
Maafkan ibu. Ibu akan memperlakukanmu dengan baik.
Yu-sin! Anakku!
Maafkan ibu sekali saja. Ibu bisa menggila. Ibu takkan tahan.
Kau bisa hidup tanpa ibu?
Ibu mohon.
Mereka mau membunuh ibu.
Aku akan membunuh kalian!
Tolong aku!
Lepaskan!
Lebih baik aku mati di sini!
Aku mau mati di sini saja!
Karma akan menghampirimu.
Kau akan mati dengan tragis.
No comments yet. Be the first to leave one.