The first 200 lines.
SEMUA KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN
DALAM DRAMA INI ADALAH FIKTIF
Saeroyi.
Aku...
sudah berlutut di hadapanmu.
Kenapa kau begini?
Ke mana prinsip hidup yang kau pertahankan itu?
Ini cukup untuk membuatmu berlutut?
Pada akhirnya, kau menyerah karena aku lebih berkuasa.
Di mana Jang Geun-won?
Padahal aku berharap kau bisa menjadi hiburan terakhirku.
Ternyata kau membosankan.
Kau tak ada bedanya dengan pengemis.
Tapi karena kau berlutut,
aku harus membuang putraku kembali.
Musuhku ini akhirnya berlutut juga.
Sekarang...
bagaimana perasaanmu?
Aku merasa menyedihkan.
Benarkah?
- Pergi. - Bagaimana perasaanmu, Pak?
Dengan melihatku berlutut,
apa kau senang?
Apa kau puas?
- Sekarang... - Sampai sekarang,
aku hidup membawa dendamku padamu.
Presdir Jangga, Jang Dae-hee.
Musuhku.
Pria yang merusak hidupku, tapi dia juga...
pria yang hebat.
Walau nilai kita berbeda, aku mengakui kehebatanmu.
Aku...
mengikuti jejakmu
seumur hidupku.
Kupikir
pertarungan ini memang pantas.
- Tunggu. - Tapi pria itu...
mengancamku...
untuk berlutut dengan menculik orang terdekatku.
Aku membuang beberapa belas tahun untuk mengikuti jejak
pria tua menjijikkan ini?
Aku menyesal
menyia-nyiakan hidupku.
Lihat hasilnya.
Kau berlutut di depanku, 'kan?
Kadang untuk keuntungan...
Ayo pergi, Seung-kwon.
Baik.
Setelah beberapa belas tahun,
aku baru mengenalmu.
EPISODE TERAKHIR
Benar.
Park Saeroyi atau siapalah itu.
Ayo kita bunuh Jo Yi-seo dahulu.
Tak usah buang tenaga. Kalian diam saja.
Angkat itu.
Astaga, aku takut sekali.
Kenapa?
Kau pikir kami takut dengan itu?
Kalian konyol.
Serang mereka pada hitungan ketiga.
Ayo ke sini.
Satu.
Dua. Tiga.
Jang Geun-soo, semangat! Bertahanlah!
Tangkap gadis itu.
Sialan.
Jangan berani mendekat!
Apa yang kau lakukan?
Dia menyuruhku...
untuk bertahan.
Kau tahu, 'kan? Ini hal berbahaya.
Aku...
akan menyelamatkan Yi-seo.
Aku tahu, karena itu kita ke sana.
Kau harus pilih prioritasmu.
Apa?
Semua akan berantakan
bila kau ragu ambil keputusan.
Sekalipun
aku dan kau bisa terluka,
juga mati, Yi-seo tetap harus selamat.
Begitu rupanya.
Namun, aku tak bisa memaksamu untuk tetap ikut denganku.
Dasar aneh. Kalau begitu, kenapa kau ajak aku?
Yi-seo.
Walau terkadang kurang ajar,
kini dia keluarga.
Dia juga penting bagiku.
Tujuan kita harus sama...
agar bisa bekerja sama dengan baik.
Terima kasih.
Tak masalah.
Walau kau mati, aku akan tetap selamatkan Yi-seo.
Kau tak apa-apa?
Ini kali pertamamu ditusuk, 'kan?
Sia-sia berlagak keren seperti yang kau lihat di film.
Inilah realitanya.
Kau ternyata pria sejati.
Diam di tempat.
Cukup.
Kau tak tangkap Jo Yi-seo?
Kau bisa kehilangan dia.
Benar juga.
Ayo berangkat.
Kau sudah dapat semua yang kau inginkan, termasuk Jangga, 'kan?
Jangan ikut campur.
Yang kuinginkan?
Aku tak pernah dapatkan hal itu seumur hidupku.
Tak pernah sama sekali.
Namun,
kau dan aku ternyata memang saudara.
Apa maksudmu?
Kita selalu gunakan...
cara yang salah.
Dia sedang apa? Kau tak mau ikut?
Pegang dia.
Hei, Anak Kecil!
Menyerah sajalah!
Kau tak akan bisa lari dari kami!
Kau saja yang menyerah, dasar preman!
- Tangkap dia. - Baik.
Astaga.
Dia benar-benar keras kepala.
Sial.
Tabrak dia.
Kantong udaranya berfungsi sempurna.
Untunglah.
Sialan.
Apa ini?
Sial.
Bos?
Yi-seo.
Bos...
Bos!
Kau tak apa-apa?
Aku dengar kau terluka.
Untuk apa kau ke sini? Apa kau gila?
Park Saeroyi!
Kau membantuku.
Kau datang sendiri untuk mati, 'kan?
Saeroyi.
Hee-hoon.
Untuk apa kau datang ke sini?
Aku datang setelah lapor polisi.
Apa kau tak bisa pergi saja?
Dasar pengecut.
Aduh, sakit.
Sialan.
Seung-kwon, kau baik-baik saja?
Astaga, Direktur Jo. Senang mendengarmu memanggilku begitu.
Seung-kwon.
Ya, aku tahu prioritasku.
Cepat pergi. Aku akan urus ini.
Ayo pergi.
Sial.
Choi Seung-kwon.
Hajar dia.
Astaga, dahulu kau teman kami.
Kau tak kenal ampun.
"Jangan ragu."
Bukankah itu yang sering kau katakan?
Sudah kuduga,
- kau lebih cocok dengan kami. - Tidak.
Aku juga mahir melayani tamu.
- Kau baik-baik saja? - Ya.
Untuk apa kau ke sini?
Ayo.
Aku teringat saat itu.
Ketika kita berlari di Itaewon.
Untuk apa kau tiba-tiba membicarakan itu?
Karena aku sangat merindukanmu.
Kau selalu...
berusaha keras untukku selama ini.
Kau selalu terluka.
Apa ini?
Kau sungguh baik-baik saja?
Kenapa bisa begini?
Pikiran...
dan hatiku
dipenuhi olehmu.
Mungkin ini juga yang kau rasakan.
Ternyata...
ini membuatku gugup.
Bos.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu, Yi-seo.
Aku sangat mencintaimu.
Dasar gila.
Pergi! Lari!
Bagaimana aku bisa meninggalkanmu?
Apa kau sengaja mau mati sendiri?
Polisi akan meneleponmu.
Angkat dan beri tahu posisi kita.
Kalian berdua bersenang-senang, 'kan?
Percaya padaku dan pergilah.
Yi-seo.
Dasar konyol.
Bila kau mati,
aku juga akan mati.
No comments yet. Be the first to leave one.