The first 200 lines.
Mao.
Yok.
Mao.
Yok.
Mao.
Yok.
Hei!
Hentikan!
Aku bilang, hentikan!
Apa yang kau mainkan?
Tunggu sampai aku tahu siapa di belakang semua ini!
Dasar sial!
Silakan masuk.
- Mao. - Ya?
Bagaimana kondisi Ibu?
Menurutku sebaiknya kita pesan krematorium sekarang.
- Kondisinya tidak membaik? - Sepertinya Ibu tidak akan bertahan.
Selamat pagi, Yang Mulia.
Selamat Pagi. Bagaimana kabarmu, Samlee?
Aku baik-baik saja. Tapi yang di lantai atas, cukup parah.
Mungkin hari ini.
Hei, nyalakan lampunya.
Buka tirainya.
Kenapa gelap begini?
Bagaimana keadaan Ibu?
Tanya saja ke dokter.
Sepertinya harapan kian meredup.
Tubuhnya sama sekali tidak merespon.
Jadi, Nenek sudah meninggal?
Tidak ada yang abadi.
Beliau tetap bertahan karena bantuan ventilator.
Katakan saja padaku, apa keputusan kalian.
Aku permisi dulu.
Apa pendapat kalian?
Menghentikan ventilator sama saja membunuh Ibu.
Tar, kau kuliah kedokteran. Apa pendapatmu?
Semua sudah tahu jawabannya.
Angpao pun sudah tahu bahwa Ibu sudah tiada.
Baca bibirku. Ibu sudah tiada.
Bodin, siapa yang bertanya padamu?
Ibu sudah meninggal.
Berhenti saling berkelahi.
Kak, apa pun pendapatmu, aku setuju.
Kalau begitu, aku akan membuat keputusan.
Nenek bilang apa?
Kita akan melepas ventilator.
Tidak menunggu adik bungsu dulu?
- Angpao! - Astaga!
Kau ketahuan.
Kak, ini siapa?
Itu Kakek dan nenek.
Maksudku, wanita satunya. Dia cantik.
Hei! Apa yang kalian lakukan di sini?
Keluarlah.
Mereka sedang mencabut ventilator Nenek.
- Benarkah? - Benarkah?
Kalian pikir aku bercanda? Cepat keluar. Ayo!
Baik, kami keluar.
Yok, apakah tadi malam Mama marah padaku?
- Lebih dari marah. - Benarkah?
Paman!
- Paman. - Hei, apa kabar?
Paman ke mana saja? Aku rindu.
Paman juga merindukanmu, Angpao.
- Di mana Nenek? - Nenek sudah meninggal.
Meninggal? Itu tidak lucu, Angpao.
Meninggal, ya?
Teenoy,...
...cepat ke atas.
Ada apa?
Kenapa kalian tidak menungguku?
Bagaimana aku bisa tahu kapan kau akan datang?
Kau memang ingin Mama cepat meninggal, 'kan?
Agar kau bisa mengambil uangnya!
Jaga mulutmu.
Mana ada anak yang menginginkan ibunya sendiri mati?
Kaulah orang itu!
Tenang.
Aku tahu. Semua orang di sini ingin Mama mati.
Dasar bajingan kecil.
Mulutmu itu yang membuat kami tidak mengakuimu.
Apa salahnya mengatakan kebenaran? Kau tidak bisa menghadapinya?
- Begitukah? - Berengsek!
- Kau mau berkelahi denganku? - Sudahlah, jangan berkelahi.
- Lepaskan. - Tenanglah!
Mama.
Bangunlah.
Bangunlah, Ma.
Mama.
Mama.
Bangunlah.
Mama.
Ini surat wasiat yang Ny. Lu En tulis beberapa bulan lalu.
Tunggu. Hentikan.
Lanjutkan.
Perihal surat wasiat yang telah Ny. Lu En buat,...
Nyonya Lu En me...
Meminta.
Meminta beberapa hal.
Tapi surat wasiat ini harus dibaca di depan semua anggota keluarga.
Baca saja. Jangan buang-buang banyak waktu.
Aku, Ny. Kanchana Charoenchatchawanpaisarn,...
...sebagai permintaan terakhir,...
...menginginankan beberapa hal ini dilakukan.
Di malam pertama kematianku,...
...aku ingin Nn. Supawadee atau Yok jadi satu-satunya pengurusku.
Anggota keluarga lain beristirahat di kamar yang dulu mereka tempati.
Setelah itu, tepat di tengah malam,...
...aku ingin disediakan makanan favoritku.
Kalau semua permintaanku dipenuhi,...
...surat wasiat kedua boleh dibuka.
Selesai.
Surat wasiat macam apa ini?
Entahlah.
Tong,...
...aku merasa ada yang aneh.
Tentang Nenek?
Aku juga.
Saham sedang turun.
Sial.
Apa yang kau rasakan?
Seakan Nenek masih mengawasi kita.
Kami keluargamu. Tidak perlu menghantui kami.
Apa yang Ayah bicarakan?
Ibu, itu menakutkan bahkan bagi seorang biksu.
Kenapa cepat sekali?
Tunggu sebentar.
Jumlahnya jutaan.
Mana ada yang bisa segera mengumpulkannnya?
Minta saja hakim untuk menundanya.
Ratusan ribu saja aku tidak punya, apalagi jutaan.
Ibu.
Ibu.
Ya, Bu, aku salah.
Aku minta maaf, Bu. Aku salah.
Aku salah karena tidak mendengarkan Ibu.
Ini semua salahku.
Aku sangat menyesal.
Tolong! Ada hantu Nenek!
Jangan hubungi aku lagi, oke?
Mengganggu saja.
Berhentilah menangis.
Cukup! Air matamu membanjiri ruangan.
Angpao ke mana?
Air apa ini?
Padahal tidak hujan.
Angpao,...
...apa yang kau lakukan di sana?
Ada hantu Nenek.
Hantu Nenek?
Ayah tidak lihat apa-apa.
Di dunia ini tidak ada hantu.
Air apa ini?
Kau mengompol, ya?
Ya.
Hanya kencing atau BAB juga?
Aku tidak BAB.
Kau yakin? Sepertinya ada sesuatu di bokongmu.
Aku yakin.
- Jangan lupa membersihkan bokongmu. - Ya.
- Kau paham? - Ya.
Ada-ada saja.
Teenoy.
Mama.
Baik, sudah waktunya. Mari kita mulai.
Ayo.
Semua anggota keluarga ada di sini...
...untuk memenuhi permintaan Ibu.
Semoga arwah Ibu datang untuk menerima persembahan dari kami.
- Kakak. - Astaga.
- Di mana Teenoy? - Aku tidak peduli.
Tegakkan kepalanya.
Cepat.
Tegakkan.
Keluarkan.
Pelan-pelan.
Keluarkan dari mulutnya.
Pelan-pelan.
Bagus.
Bagus.
Siapa yang mematikan lampu?
Astaga!
Mao.
Aku telah menunggu-nunggu hari ini.
Silakan tehnya, Nyonya.
Bayinya bergerak. Dia bergerak lagi.
Itu racun.
Kau tidak mencintaiku lagi.
Semua gara-gara dia hamil lagi.
- Kurung dia! - Lepaskan!
Kubilang, biarkan aku pergi!
Sue Sue.
- Sue Sue. - Tenanglah.
Hei, ayo keluar.
Ayo cepat!
- Mao, buka pintunya. - Ada apa?
Kondisi di dalam terlalu tenang.
Cepat, Mao!
Sue Sue!
Semua orang di rumah ini harus mati!
No comments yet. Be the first to leave one.