The first 200 lines.
Tapi belakangan ini,
aku bertanya pada diriku
siapa yang kupikirkan
selama ini.
Berapa banyak yang dia lihat?
Dia pasti lihat Tahu memelukku.
Kenapa dia tak menanyakannya?
Jika dia bertanya, akan kukatakan yang sebenarnya.
Apa yang akan kukatakan?
Katakan bahwa Tahu yang menciumku?
Astaga. Kekasihku yang terbaik.
Bahwa kami sering berpelukan?
Atau bilang aku sering tidur di kamarnya?
Karena aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
Bagaimana jika kukatakan
bahwa Tahu bilang mencintaiku
setiap kami saling menatap,
dan bahwa aku hanya menganggap Tahu adikku?
Apa dia akan percaya?
Janji?
Aku menyimpan ini sebagai bukti agar kau tidak bisa kabur.
Tahu, aku pulang.
Belakangan ini, entah kenapa,
setiap kali aku pulang, Tahu hal pertama yang kupikirkan.
Jika Tahu belum pulang,
aku akan mencemaskannya
dan aku tidak bisa tidur.
Aku sudah terbiasa menyentuhnya.
Hei, Tahu.
Bangun.
Bangun. Aku perlu bicara denganmu.
Kenapa kau mencium tanganku?
Aku menyukaimu.
Aku muak mendengarnya.
Aku mencintaimu.
Tahu, bangun.
Bangun.
Bangun.
Kenapa kau memukulku?
Hei, dengar.
Mulai sekarang, kau tak boleh memegang tanganku,
mencium tanganku, memelukku, dan mengatakan kau mencintaiku.
Kau mengerti?
Kau bertengkar dengannya karena aku?
Kan bukan tipe orang yang suka bertengkar.
Kami berbicara rasional.
Kau tahu bahwa tidak ada pria yang menginginkan pacarnya
dekat dengan pria lain, 'kan?
Dengar, Tahu.
Aku sama sekali tak menganggapmu begitu.
Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?
Setelah semua yang kukatakan, kau masih tak paham.
Kenapa kau sulit sekali memahami semuanya? Astaga.
Jai, kau sudah tidur?
AKU BARU AKAN TIDUR
Aku belum tidur. Aku baru selesai membersihkan rumah.
Ternyata kau rajin.
Kupikir kau hanya pandai dalam pekerjaanmu.
Aku sangat suka tanaman ini.
- Sedang apa? - Astaga!
Astaga, kau mengejutkanku.
Aku menyiram tanaman.
Hei.
Tanaman ini disiram sebulan sekali.
Akan mati jika disiram seperti ini.
- Apa itu? - Apa?
Coba kulihat.
- Berikan itu. Itu ponselmu, bukan? - Tidak.
- Tahu, kembalikan. - Agar aku bisa lihat yang kau lakukan.
Tahu.
Astaga.
Membersihkan rumah.
Berkebun.
Meyakinkan sekali.
Apa dia percaya itu?
Tom yam dengan jantung pisang yang kau bawa enak.
Kupikir aku akan coba membuatnya untuk lihat apa seenak buatanmu.
Kau bisa memasak?
Aku hanya ingin membuatnya terkesan.
Apa kau begitu peduli padanya sampai pura-pura seperti ini?
Jika itu aku,
kau berdiri di sini dan bicara memakai piama.
Kau membangunkanku dan memukulku saat kau ingin.
Saat aku menyuruhmu pura-pura, kau tak malu.
Kau benar-benar tak peduli padaku.
Sedang apa?
Kenapa kau melakukan ini sekarang?
Aku tak mengantuk lagi.
Jadi, aku membuat sarapan untukmu.
Kau harus tidur.
Terima kasih.
Apa yang kau lakukan? Lepaskan.
Kau melarangku memelukmu. Kenapa kau memelukku?
Kapan aku akan melupakanmu?
Kau bilang aku adikmu, tapi kau bersandar padaku,
naik ke punggungku, tidur di kamarku,
dan mengikutiku di rumah.
Kau menelepon ingin menemuiku.
Kau tetap datang ke studio saat aku sibuk…
Tunggu.
Sayang, jangan bilang…
kau menyukaiku.
Kau menyukaiku, tapi kau tidak tahu?
Apa?
Sudah kubilang aku menyukai Kan.
Jika kau menyukai Kan,
kenapa melakukan semua itu padaku?
Saat aku tidur, kau menyentuh pipiku.
Bagaimana denganmu? Kau menyentuh pipiku saat aku tidur.
Aku menyentuhmu karena menyukaimu.
Aku selalu ingin menyentuhmu.
Tapi kau…
Kenapa menyentuhku jika tak menyukaiku?
Kita bukan pasangan.
Teruslah cuci berasnya.
"Teruslah cuci berasnya."
Kenapa aku melakukan semua yang kau katakan?
Kau tahu aku benar, bukan?
Kurasa…
Itu hanya karena kita sangat dekat.
Jujurlah padaku.
Kau menyukaiku, 'kan?
Entahlah.
Aku tidak yakin.
Kuberi waktu untuk berpikir.
Tentu kau menyukaiku.
Proyek Celeb Shop kita sangat populer sampai aku takut
kita tak akan bisa mengisi persediaan
tepat waktu.
Aku kenapa? Kenapa aku terus cegukan?
Katanya ciuman akan menghilangkan cegukan.
Jangan lakukan itu. Kau akan terluka.
Biar aku yang bereskan.
Kapan kau berencana cuti hamil, Priew?
Aku akan bekerja untuk saat ini
dan mengambil cuti sebulan sebelum melahirkan.
- Baik. - Sebelum aku cuti,
aku akan atur dan rencanakan pekerjaan
untuk orang yang akan mengurus pekerjaanku.
Saat aku kembali,
aku berencana menyewa pengasuh untuk menjaga bayiku.
Itu ide bagus.
Aku ingin kau cuti selama tiga bulan.
Tapi…
jika ketua tim tidak hadir selama itu,
itu akan sulit.
Ya, aku mengerti.
Aku cemas tak bisa menemukan pengasuh yang bisa kupercaya.
Sulit menemukannya.
Dia hamil?
Kami dengar semuanya.
Selamat. Berapa usia kehamilanmu?
Kalian berdua harus merahasiakan ini, ya?
Najai.
Datanglah ke ruanganku.
Menurutmu dia mendengarnya?
Kurasa begitu.
Aku mendengar semuanya.
Aku membicarakan ini sebagai seniormu.
Apa Priew punya pacar?
Apa dia tidak berniat menikah?
Apa yang kau pikirkan,
menjadikan wanita hamil ketua tim?
Aku akan mengatakan ini sebagai orang yang melakukan pekerjaannya.
Ini masalah internal departemenku.
Kau tak perlu mengurusnya.
Dan departemenku kecil.
Jika Priew cuti hamil,
aku akan ambil alih dan menangani pekerjaan itu.
Maksudku bukan tanggung jawabnya.
Dengarkan aku baik-baik.
Sejak aku bergabung dengan perusahaan ini,
belum pernah ada pegawai yang menjadi ibu tunggal.
Kau harus tahu.
Aku mengerti,
tapi ini masalah pribadi Priew.
Dan cuti hamil adalah hak legal menurut hukum tenaga kerja.
Aku juga tidak membicarakan hukum.
Aku bicara soal sudut pandang dewan.
Kau tidak mengerti itu?
Karena ini, dewan mungkin tidak memercayaimu
bekerja sebagai kepala.
Bicaralah dengan Priew.
Urus itu.
Apa yang harus kukatakan padanya?
Dia bisa mengadakan pernikahan palsu.
Lalu dia bisa ambil cuti.
Tak ada yang boleh tahu soal bayi itu.
Dan gosipnya…
Pastikan dewan tidak mendengarnya.
Jika dia lakukan ini, tak akan ada masalah.
Maksudmu, kau ingin Priew
membohongi seluruh perusahaan
seumur hidupnya?
Aku masih tak bisa bayangkan cara menjelaskannya pada Priew.
Kau harus melakukannya.
Sekarang kau seorang kepala.
Ini tanggung jawabmu.
Kau harus memikirkan perusahaan dahulu.
No comments yet. Be the first to leave one.