The first 200 lines.
- Sial. - Joo Ah.
Joo Ah. Sedang apa kamu saat malam begini?
Lepaskan aku.
Kamu butuh uang, bukan?
- Mau kakak beri uang? - Lupakan saja.
Lepaskan aku, kecuali Kakak akan memberiku 100.000 dolar.
Kamu merencanakan sesuatu, bukan?
Katakan apa yang terjadi.
Lepaskan.
Apa lagi masalah yang akan kamu sebabkan?
Kamu tidak kasihan kepada Ibu?
Berhenti berpura-pura peduli kepadanya.
Orang lain akan mengira Kakaklah putri kandungnya, bukan aku.
- Kakak hanya anak adopsi. - Apa yang terjadi?
Lepaskan.
- Chi Woo. - Astaga.
Chi Woo.
Astaga. Kamu baik-baik saja?
Kenapa anak nakal itu mendorong kakaknya sendiri sampai jatuh?
Chi Woo, kamu baik-baik saja?
- Tolong jalan. - Chi Woo.
Cepat!
Ibu harus mengejar Joo Ah.
Bagaimana ibu bisa menangkapnya jika kamu tidak bisa?
Astaga, lihat dirimu. Kamu baik-baik saja?
Orang lain akan mengira Kakaklah putri kandungnya, bukan aku.
- Kakak hanya anak adopsi. - Chi Woo.
Chi Woo, astaga.
Di sebelah sana,
kamu akan menemukan nenekmu.
Kamu bisa ke sana sendiri?
Jangan buat nenekmu menunggu dan pergilah.
Aku tidak mau. Antar aku.
Jadilah gadis baik dan lakukan perintahku.
Akan kubuatkan bulgogi dan telur gulung.
Pergilah.
Jangan menengok ke belakang
dan teruslah berjalan.
Sudah kubilang jangan menengok.
Apakah itu kamu?
Chi Yoo, itu benar-benar kamu?
Ini belum pernah terjadi.
Sudahlah. Kita berdua tahu ada apa.
Tiap kali terkena masalah, dia selalu kabur.
Katamu, dia kabur saat kamu tidak membelikannya sepatu baru
pada usia sepuluh tahun.
Aku tahu, tapi tetap saja,
ada yang tidak beres.
Aku seharusnya lari dan membawanya kembali.
Aku tidak sebugar dahulu,
dan perkelahian tadi membuatku kelelahan.
Aku lapar, jadi, mari pikirkan lagi setelah makan malam.
Makan malam sudah siap, jadi, silakan.
Ya, Ibu. Sayang, ayo.
Kamu makanlah. Aku akan beres-beres dahulu.
Baiklah. Tapi cepatlah.
Jangan repot-repot. Dia akan melakukannya saat kembali.
Dia sejujurnya tidak pantas mendapatkan kemewahan.
Astaga, lihat betapa kamarnya berantakan.
"Hari pindahan"
Hari pindahan?
- Hari pindahan? - Ada yang pindah besok?
Bukan ibu.
Tentu saja bukan Ibu.
Bahkan saat kacau begini, Ibu melawak.
Bagaimana mungkin aku tidak mengagumi Ibu?
Orang tua membesarkan anak-anak mereka,
tapi anak-anak juga melatih orang tua mereka.
Untuk membesarkan Joo Ah, ibu harus mengorbankan semua
dan menertawai masalah yang dia bawa ke keluarga ini.
Keluar dan makanlah sebelum rebusan kimchi-nya dingin.
Baiklah.
Ibu.
Kamu sedang apa di luar?
Ibu baik-baik saja?
Ibu terlihat kurang sehat.
Ibu hanya lelah. Ayo masuk.
Ini bukan salah Ibu.
Jadi, jangan menyalahkan diri sendiri.
Kamu
sungguh berpikir begitu?
Kamu bilang ini bukan salah ibu.
- Sungguh bukan salah ibu? - Tentu saja bukan.
Ibu berjuang sepenuh hati dalam mencari Gong Joo.
Aku tahu.
Kamu pasti mendukung ibu, Jin Yoo.
Apa pun yang terjadi,
kamu harus mendukung ibu.
Di luar dingin. Ayo masuk.
Ibu bertemu orang yang mirip dengan wajah di sketsa itu?
Ibu yakin?
Ibu melihat Gong Joo?
Maksudmu,
kamu melihat Gong Joo?
Tunjukkan jalannya. Kita pergi sekarang.
Maafkan aku, Ibu.
Kenapa kamu meminta maaf?
Kukira kita akhirnya menemukan dia,
Gong Joo kita.
Ternyata bukan dia.
Maafkan aku.
Setelah menyadari bahwa itu bukan dia,
aku tidak bisa langsung pulang.
Ibu sudah memeriksanya?
Ibu bicara kepadanya?
Usianya tidak sama.
Dia bahkan belum lahir saat kita kehilangan Gong Joo.
Meski begitu,
kenapa kamu tidak membawanya ke sini?
Ibu akan mengenalinya saat melihatnya.
Ibu akan langsung mengenalinya saat melihatnya.
Kamu seharusnya membawa dia agar setidaknya ibu bisa melihat
orang yang menyerupai Gong Joo.
"Choi Chi Yoo, sketsa komposit"
Ibu sudah tidur?
Sudah, tapi tidak yakin dia bisa cukup tidur.
Mungkin seharusnya aku tidak memberi tahu dia.
Aku hanya membuatnya makin menderita.
Tidak, kamu yang menderita, Sayang.
Aku seharusnya menghentikan mobilnya
saat aku melihatmu di depan perusahaan.
Kamu melihatku di sana?
Kamu tidak menjawab teleponmu. Kamu pergi tergesa-gesa.
Kamu pasti sedih setelah mendapatkan harapan.
Jika aku berada di sana bersamamu,
setidaknya kamu tidak akan menghadapinya sendirian.
Aku baik-baik saja.
Jika itu artinya kita bisa menemukan Gong Joo.
Sebagai rasa terima kasihku kepadamu,
sebaiknya kudaftarkan DNA-ku secepatnya.
"Formulir Pendaftaran Kelahiran"
"Dalam kasus anak tidak sah"
"Yang Ha Neul"
Ibu.
Jika tidak kudaftarkan kelahirannya, dia tidak bisa sekolah.
Jika kamu mau anakmu diakui,
daftarkan anakmu
atas nama keluargamu, ya?
Tapi dia punya ayah.
Bagaimana mungkin aku menjadikan anakku yatim.
Dia memang sudah yatim. Beraninya kamu meminta seorang ayah?
Pergilah diam-diam saat semua orang tidur,
Pergi dari sini, daftarkan dia atas namamu, dan hidup tenang.
Lalu akan kubiayai pendidikannya.
Putraku sangat mirip dengan Jun Seung.
Tidak bisakah Ibu melihat Ha Neul sekali saja?
Maka aku yakin Ibu akan berubah pikiran.
Untuk apa aku melihatnya? Dia bukan siapa-siapaku.
Tapi tetap saja, bisakah Ibu memeluknya sekali?
Untuk apa aku memeluk bayi yang menyengsarakan hidupku.
Jangan pernah memikirkan itu.
Kami pulang.
Astaga, Ibu. Apa yang terjadi di sini?
- Ada apa? - Ini bukan urusan kalian.
Kenapa kamu masih di sini?
- Sudah kubilang kemas tasmu. - Ibu.
Astaga. Ibu diam saja beberapa hari. Kenapa mempersoalkan ini lagi?
Astaga, Ibu. Tolong tenangkan diri Ibu.
"Formulir Pendaftaran Kelahiran"
"Yang Ha Neul"?
"Yang Ha Neul"?
Kenapa formulir ini diisi dengan nama ini?
Kenapa putra Jun Seung punya nama marga Yang?
Dia bukan putranya Jun Seung!
Coba pikirkan. Kamu kakaknya.
Adikmu tinggal di apartemen studio kecil.
Bagaimana kamu bisa mengatakan hal seperti itu?
Memangnya aku yang mengusirnya?
Suruh dia kembali.
Dia punya rumah bagus di sini.
Dia yang menyulitkan diri sendiri. Aku bisa apa?
Apa katamu? Kamu sudah selesai, Anak Nakal?
- Ibu. - Mau bicara lagi?
- Ibu. - Tetaplah di situ!
- Kemarilah. - Ibu!
- Ibu, hentikan! - Nanti jaketku robek!
Bibirnya juga sudah robek.
Memang kenapa jika bibirnya robek?
"Memang kenapa?"
Wajah putra Ibu terluka parah. Ibu tidak khawatir?
Astaga, ibu menghajarmu karena kamu bodoh.
Kenapa kamu melampiaskannya kepada ibu?
Hei, kamu pikir itu pantas dibanggakan?
Haruskah kamu mendapat medali untuk itu? Begitukah?
Sudah kuduga. Jun Seung adalah anak satu-satunya bagi Ibu.
Astaga, tentu. Bagaimana kamu tahu?
Ya, keluarlah.
Bagaimana dia cepat tahu aku memungutnya di jembatan?
Benar sekali. Ibu hanya memedulikan Jun Seung.
Ibu bahkan tidak peduli meski bibirku robek.
Yang benar saja.
Sial.
Ha Neul, kamu pasti merasa sesak hari ini.
Ibu akan menggantikan popokmu sekarang.
Ini masih bersih.
Kamu tidak pipis sekali pun?
Ibu yakin botol itu penuh sebelum ibu pergi.
Jangan bergerak.
- Ini dia. - Baiklah.
Satu-satunya yang bisa kamu andalkan adalah wajahmu.
No comments yet. Be the first to leave one.