The first 196 lines.
Keluarkan Im Jeong Hee, pasien kamar 502 dari rumah sakit!
Jika melakukan administrasi keluar dari rumah sakit secara paksa, kau ingin ibuku mati begitu saja?
Karena itu, merangkaklah di hadapanku!
Merangkak sekuat tenagamu.
Waktu itu juga menolak. Kenapa selalu bilang tidak bisa mengoperasi?
Aku terjangkit penyakit keturunan.
Herediter optik neuropati.
Aku sudah meramalkan cepat lambat akan terjadi. Penglihatanku menjadi kabur.
Tapi tidak kusangka akan begitu mendadak.
Apa maksudnya? Negara hampir bangkrut?
Wilayah bersama Yeouido retak dikarenakan gempa.
terendam air dari Sungai Hangang.
Jika salah langkah, kemungkinan ada satu orang yang harus dikorbankan.
Aku tidak bisa mempertaruhkan nyawaku turun ke dalam air.
Jadi maksudmu tidak apa-apa jika negara ini bangkrut?
Jadi pemadam kebakaran itu hanya melakukan pekerjaan yang dibayar?
Rasa kewajibanmu sudah kau suapkan ke anjing?
-=Episode 17=- Rasa kewajibanmu sudah kau suapkan ke anjing?
=Episode 17=-
Beraninya kau!
Kau kira segampang yang kau katakan?
Betul, kami tidak memiliki rasa kewajiban.
Lantas kau? Karena rasa kewajibanmu kau melemparkan uang padaku dan membuat orang menjadi bonekamu?
Kami hanya tahu tidak mandi, tidak tidur, tidak makan demi menyelamatkan orang.
Sudah ditikam orang masih harus memadamkan api. Karena tidak sanggup memadamkan api lebih cepat, ditusuk orang.
Menyuruh anggota tim yang memiliki anak istri "Mati kau sana".
Jika itu kau, kau bisa dengan enteng mengucapkan kata-kata seperti itu?
Lantas aku harus bagaimana?
Wilayah bersama Yeouido yang bagaikan labirin,
setelah mengirim sebuah tim yang sama sekali tidak mengerti lapangan,
dan membiarkan mereka terkubur hidup-hidup di sana?
Kau kira aku mengatakannya tanpa beban?
Aku hanya ingin menyelamatkan negara ini dengan pengorbanan sekecil-kecilnya.
Aku memberimu sebuah kesempatan untuk berkorban demi negara.
Sungguh terima kasih.
Sungguh terima kasih karena aku diberi kesempatan seperti ini.
Saking terharunya air mataku hampir membasahi mukaku.
Saking terharunya sampai merasuk ke dalam tulang dan bibirku menjadi kelu.
Choi Daejang!
Aku itu kalau memadamkan api sungguh cepat.
Tapi aku tidak akan membohongi orang lain. Berikan aku sedikit waktu lagi.
Sampai kapan?
Sampai besok.
Baik. Kutunggu kau.
Tanda-tanda vital pasien stabil.
Urinnya saking lancarnya crot crot crot.
Bagaikan tambang minyak Saudi. Normal sekali.
Tadi dirumah sakit hewan itu, karena kondisi gawat jadi tidak memperhatikan.
Wajah pasien ini familiar sekali. Rekam medisnya mana?
- Namanya adalah...? - Kim Ban Seok.
Kim Ban Seok... Kim Ban Seok...
Setahuku katanya pemeriksaan seperti itu tidak perlu.
Dibandingkan saya, Anda lebih percaya internet?
Bukan, bukan itu maksudku.
Kalau begitu kita anggap Anda menolak untuk diperiksa. Konsultasi selesai sampai di sini.
Percakapan kita telah direkam.
Anu Dokter...
Pasien yang kuabaikan, diselamatkan olehmu.
Apa maksudnya?
Kanker lambung stadium awal. Karena dia tidak setuju dengan metode pengobatanku,
dia mencurigaiku dan menolak pengobatan.
Benarkah, Saem?
Benar.
Dokter yang menyelamatkan pasien barulah disebut dokter. Dokter yang sebenarnya.
Ditambah Hae Seong telah menyelamatkannya. Terima kasih.
Itu karena memang sudah jalan hidupnya pasien.
Gempa saja sudah berhasil dilaluinya.
Dengan susah payah bertahan hidup.
Mana boleh menyerah dengan begitu saja?
Ayo, ayo, pasien operasi fraktur tulang terbuka ini
serahkan saja pada residen ortopedi tahun ketiga, yaitu aku.
Silakan keluar semuanya.
Setidaknya aku juga seorang dokter yang cukup kompeten di Busan.
Jeong Ttol Mi, cepat keluar!
Ada orang datang dari Busan.
Busan?
=Konstruksi Tool Mi=-
Ayah!
Ttol Mi!
Ayah!
Putriku!
Kenapa datang ke sini?
Tentu saja, ini adalah ayahmu.
Ayah kenapa datang?
Putriku menderita di tempat asing. Sebagai seorang Ayah masa aku tidak datang melihatnya?
Aku juga membawa bajumu.
Begitu sampai di Busan kau cuma mandi. Bajupun tidak kau bawa.
Ibumu sampai khawatir sekali.
Iya juga sih.
Berapa lama Ayah berniat di sini? Sampai semua peralatan juga dibawa.
Untuk bisa pulih Seoul setidaknya membutuhkan waktu sebulan.
Atau dua bulan.
Berhubung sudah di sini, ya sekalian berbuat kebaikan.
Apa yang terjadi jika perusahaan bangkrut?
Sudah cukup banyak keuntungan yang kudapat. Sudah cukup.
Makan, minum, melewati hari-hari bukanlah sebuah masalah.
Ayah, perkenalkan dulu ini adalah ahli bedah, dokter Lee Hae Seong.
Halo, nama saya Lee Hae Seong.
Aku adalah ayah Ttol Mi, Jeong Won Saeng.
Aigoo, tinggi sekali.
Untuk bisa melihat jelas wajahmu, hampir putus rasanya leherku ini.
Betul.
Maaf.
Jangan bicara.
Coba kulihat dulu.
Coba kulihat dalamnya.
Dalamnya terluka cukup parah. Harus dijahit satu atau dua jarum.
Kau duduk dulu, aku pergi mengambil peralatan.
Beraninya memukulku. Dasar kunyuk yang tidak becus kerja.
Eng-ing-eng!
Apa ini?
Makgeolli. Kubawa dari Busan.
Hebat sekali ayahku ini.
Mereka pasti kegirangan.
Aku juga bawa sekardus odeng. Hebat, kan Ayah?
Ayah! Sudah pasti itu.
Oh ya? Kami juga kebagian?
Walaupun cuma makgeolli dan odeng,
tapi silakan dinikmati.
Makgeolli? Daejang-nim, jangan pedulikan omongan orang. Ayo ke sana!
Aku tidak ingin minum. Minum makgeolli cepat bikin perut kenyang.
Ah tidak usah sok alim!
Setidaknya anak buahmu harus dikasih makan.
Baiklah kalau begitu.
Mesin juga harus diisi bahan bakar supaya bisa berfungsi.
Terima kasih, dokter Busan.
Sama-sama.
Maaf, para perawat juga ikut?
- Jangan sentuh dia! - Iya.
Begini... begini...
- Ayah dokter Busan? - Iya.
Sambil membawa Excavator dan bulldozer mengaku diri sendiri adalah relawan.
Bawa makgeolli juga di halaman rumah sakit.
Walaupun sederhana, tapi mereka persiapkan sendiri.
Tidak ada dampak negatifnya.
Sebenarnya aku juga suka sekali makgeolli.
Aku juga suka makgeolli.
Walaupun alkohol itu penting, tapi siapa teman minum itu jauh lebih penting.
Nanti setelah bencana gempa ini berlalu,
rumah sakit kita juga akan dibenahi.
Anu... rencana membuka rumah sakit di Samcheonpo, siapa yang akan dikirim ke sana?
Siapa lagi? Tentu saja bedah thoraks dan ortopedik.
Lagu bintang itu adalah lagu kesukaanku.
Tidak kelihatan.
Mau apa sih kau?
Aku mau masuk dulu.
Tidak usah, aku tidak apa-apa.
Apanya yang tidak apa-apa? Kupingmu sampai merah. Pakailah!
Tidak apa-apa.
Kalau tidak bisa minum jangan minum. Masa disuruh minum kau juga memaksakan diri minum?
Ada apa? Kau baik-baik saja?
Berdiri saja kau tidak sanggup. Banyak orang yang lihat.
Maaf, kalian harus melihat keadaanku yang seperti ini.
Ada apa lagi? Katakan saja semuanya.
Katakan saja, aku akan dengar.
Motor.
Motor? Kenapa dengan motor?
Kau jangan naik motor pria lain.
Sekalipun itu motor milik dokter Lee Hae Seong.
Dan juga kuharap kau kelak jangan naik mobil pria lain lagi.
Nikmat sekali. Coba tuangkan aku segelas lagi!
Minumlah!
Siapa yang akan menyiapkan minuman seperti ini untuk kita?
Akhir-akhir ini kau berubah jadi aneh.
Gara-gara masalah Seo Hyeon ya?
- Ayo minumlah segelas. - Baik Yeong Seob.
Yeong Seob, telah menyusahkanmu.
Tunggu sebentar!
Butuh bantuan?
Bukan itu. Kau kenal pada Kim Jong Seo?
Kim Jeong Seo? Dari departemen apa? Perawat ya?
Seorang penyanyi, Kim Jong Seo.
"Indahnya Pengekangan", "Aku adalah sebuah legenda".
Tahu, aku juga suka sekali.
Dia adalah hyeong yang kukenal saat aku kerja di Hongdae.
Oh, begitu.
Sering menggelar konser di Hongdae dan aku selalu diundang.
Dia bilang kerjaanku sebagai pemadam kebakaran berat sekali dan aku dikasih 2 lembar tiket.
Terus?
Tapi malam konser terjadi gempa.
Jadi batal ya?
Iya.
Pasti sangat disayangkan. Sepertinya kau adalah penggemar beratnya.
Aku harus masuk.
Baiklah.
Tidak bisa minum alkohol.
Menurutku Prof Han itu karena tidak mau melakukan operasi jadi berniat bolos.
Sehingga berbohong.
Kata-katamu itu benar-benar cocok dengan karaktermu.
Kebetulan aku tidak ingin melihat tampangmu yang muram itu. Pas deh!
Benarkah?
Aku juga tidak percaya.
Termasuk saat ini yang terlihat semakin buram, aku sungguh berharap semuanya adalah bohong.
Dulu saat aku masuk bedah, kau yang mengajarkanku bagaimana caranya mengikat benang.
Aku selalu berusaha dengan giat karena ingin menjadi seorang dokter sepertimu.
Sekarang ini dikarenakan kondisi ibuku, sedikit terkendala.
No comments yet. Be the first to leave one.