The first 200 lines.
Aku bukan putri kandungnya.
Orang-orang bertanya soal ini sebelumnya,
dan aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi.
Omong-omong, maaf mengganggu.
"Episode 31"
Kamu sudah merasa lebih baik?
Tidak ada yang berubah.
Aku masih kesal, kecewa, dan marah.
Namun, aku sudah menduga itu
saat datang untuk tinggal di sini.
Itu sebabnya aku harus baik-baik saja meskipun tidak.
Karena aku Lee Bit Chae Woon.
Astaga.
Ibu, mari jangan tinggal di sini dan masuklah.
Kenapa kita harus bersembunyi jika tidak melakukan kesalahan?
Pelankan suaramu, Hae Deun.
- Tidak, aku akan pergi. - Hae Deun, jangan.
Kak, jangan seperti ini.
Kita akan tetap di sini untuk Kak Chae Woon.
Bayangkan bagaimana perasaannya.
Bu Kim, tolong katakan sesuatu.
Direktur Jang, apa yang terjadi?
Baiklah.
Itu benar.
Bit Chae Woon satu SMP denganku.
Dia tinggal di sini karena alasan pribadi,
dan kurasa seseorang salah memahami situasinya.
Cukup.
Jung Won, aku ingin mendengarnya darimu.
Bukankah wanita muda itu
putri kandungmu?
Kenapa dia diam saja?
Kenapa dia tidak bilang bahwa Kak Chae Woon putrinya?
Keheninganmu amat mencurigakan.
Bukan itu masalahnya.
Ibu terlalu terkejut saat ini.
Ini belum pernah terjadi.
Pertama, unggahan daring, dan sekarang ini?
Pikirkan betapa tercengangnya dia.
Gadis itu putri rahasia Ibu sangat tidak masuk akal.
Maaf aku menanyakan ini,
tapi bisakah kalian meninggalkan kami sekarang?
Kita akan bicarakan ini lagi besok.
Ya?
Paman?
Baiklah.
Lagi pula, kami semua punya rencana lain,
jadi, kami harus pergi.
Aku akan bicara.
Ya, silakan.
Ibu...
Silakan.
Gadis itu
bukan putri kandungku.
Dia bukan putriku.
Aku senang mendengar itu hanya rumor,
tapi rumor menyebar seperti api unggun.
Direktur dan pemegang saham lain akan segera tahu.
Kamu harus bertanggung jawab karena membiarkan rumor itu muncul.
Mari pergi.
Jaga diri kalian.
- Ibu? - Ibu!
Apa-apaan ini?
Dia menyangkalnya, bukan?
Dia bilang Kak Chae Woon bukan putrinya.
Benar.
Ibu.
Sun Jeong.
Bu Kim,
teganya Anda.
Bagaimana bisa Kak Chae Woon bukan putri Anda?
- Hae Deun... - Kak Hae Deun.
Sun Jeong, maafkan aku.
Aku tidak punya pilihan tadi.
Aku...
Tolong jangan katakan apa pun.
Chae Woon.
Ibu baik-baik saja?
Ya.
Dari mana saja kamu?
Di luar. Aku kembali masuk setelah melihat mereka pergi.
Pipimu dingin.
Udaranya dingin, bukan?
Kami akan
pergi.
Tinggallah untuk makan malam...
Tidak, kami akan pergi saja.
Chae Woon, kami akan pergi.
Ibu, tunggu sebentar. Hae Deun, tunggu.
Aku akan mengantar Ibu pulang.
Chae Woon, tidak apa-apa.
Tunggu di sini. Aku akan mengambil tasku.
Sun Jeong.
Aku terlalu bingung tadi...
Bisakah kita bicara berdua di ruang kerjaku?
Tidak akan lama.
Sayangnya
aku tidak bisa bicara.
Aku akan mengantar Ibu pulang.
Bi Ju, siapkan mobilnya.
Tidak apa-apa.
Tidak, tolong biarkan sopirku mengantarmu pulang.
Jae Hee menunggu di luar.
Kalau begitu, aku akan pergi.
Tentu.
Maafkan aku.
Astaga, dingin sekali.
Ini rumah tangga yang dingin.
Aku penasaran dengan keadaan semua orang.
Aku lapar.
Apa yang kita punya?
Astaga.
Apa yang mengejutkan?
Bukan apa-apa.
Bukankah seharusnya kamu sedang bekerja?
Ya.
Kupikir udaranya terlalu dingin dan kering untuk tenggorokanku,
jadi, aku mampir untuk mengambil syal.
Tenggorokanmu selalu menjadi masalah.
Aku sudah membuat janji di rumah sakitku untukmu.
Kami punya
dokter THT yang andal di rumah sakit kami.
Aku akan ke dokter sekarang.
Aku tahu. Tapi kamu harus menemui doktermu secara teratur.
Kamu sering lupa janji temu dan bilang kamu terlalu sibuk.
Kapan kamu akan menerima perawatan untuk tenggorokanmu?
Kamu sudah merelakan impianmu menjadi penyanyi?
Kamu akan menghabiskan seluruh hidup bekerja paruh waktu seperti itu?
Kamu ada janji pukul 14.00 besok.
Aku tahu kamu tidak bekerja, jadi, pastikan kamu datang.
Terima kasih.
Benar juga. Ini untukmu.
Sun Jeong membuatkan ini untukmu.
Dia bilang kamu harus merebusnya sekali sebelum memakannya.
Kurasa masih hangat.
Kurasa kamu tidak perlu merebusnya.
Hangat itu bagus.
Apa?
Saat tidak ada orang,
maukah kamu memberiku pelukan hangat?
Pelukan hangat?
Jika kamu tidak mau, lupakan saja. Aku akan merebus dan memakan ini.
Tunggu.
Man Jeong.
Aku
sungguh minta maaf.
Aku hanya berasumsi
dan berbuat
sesukaku.
Maaf sudah membuatmu kesal seperti itu.
Aku tahu kenapa kamu harus seperti itu,
tapi aku tetap membuatmu kesal. Maafkan aku.
Aku sungguh minta maaf.
Maafkan aku.
Masalahnya...
Aku sudah melalui banyak hal
sejak masih sangat kecil.
Mungkin karena itu aku kurang percaya diri.
Benar juga. Jika ada orang
yang benar-benar mencintai dan memedulikanku,
aku tidak akan seaneh ini, bukan?
Benar juga.
Kamu seorang dokter.
Tidak bisakah kamu menyembuhkan hati yang terluka sepertiku?
Aku sungguh ingin menyembuhkannya.
Aku pasti akan menjalani pengobatan.
Hatiku di sini...
Tentu saja, aku bisa menyembuhkannya.
Apa?
Aku akan menulis resep untukmu.
- Dengarkan aku baik-baik, Hwak Se. - Baiklah.
Hanya...
- Berhenti menangis dan dengarkan. - Baiklah.
Percaya dirilah.
- Terima saja cintaku untukmu. - Baiklah.
Ini sederhana. Dan kamu harus
membalas cintaku saja.
Sederhana dan mudah. Mengerti?
Baiklah.
Aku mencintaimu, Man Jeong.
Aku sangat mencintaimu.
Aku akan percaya diri.
Aku akan memberikan cinta dan hasratku.
Aku akan tetap percaya diri.
Terima kasih, Pak Woo.
Berkat kamu, kami pulang dengan nyaman.
Dengan senang hati.
Terima kasih. Sampai jumpa.
Astaga.
Bu Lee, kamu baru pulang.
Ya. Kamu bekerja keras.
Terima kasih.
Halo.
Lama tidak bertemu, Nona Lee. Kamu baik-baik saja?
Ya. Anda baik-baik saja?
Tentu.
Aku akan meninggalkanmu dengan ayahmu.
Kami akan masuk.
Baiklah. Silakan.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
No comments yet. Be the first to leave one.