The first 200 lines.
SEKOLAH MUSIK YOKOHAMA
Lepaskan!
Tak ada gunanya!
Nona Jinnai!
Nona Mika.
Kau bisa bangun? Tidak apa-apa, kubantu.
- Kau baik-baik saja? - Ayo.
Tidak apa-apa, kubantu.
Hei.
Kau bisa menyalakan musiknya?
Bagus.
Bagus. Aku menyukai Kyon Kyon.
Oke, cukup untuk hari ini.
Hai, Mika. Bagaimana perasaanmu?
Kami khawatir.
Khawatir?
Khawatir aku sembuh?
Supaya punya peluang lebih besar untuk jadi yang terbaik, kan?
Sungguh tidak perlu.
Tujuanku bukan untuk mengajar musik seperti kalian.
Tidak, terima kasih.
Oke, terima kasih.
Operasi retina dan katarak berhasil.
Penglihatanmu perlahan pulih seiring barjalannya waktu.
Berapa lama?
Bervariasi, jadi sulit dipastikan.
Kita pantau perkembanganmu saat ini.
Kuncian silang.
Apa yang akan kau lakukan?
Luruskan badan untuk menghindari triangle choke , ayo!
Oke.
Aku terkesan, anak muda.
Hai.
Kenapa lama sekali?
Yo! Kaldu bening, mie kenyal dengan banyak sayuran.
Baiklah!
Kenapa kau pesan untuknya?
Aoi memang suka pesan itu.
- Mungkin dia mau miso hari ini. - Atau rasa kecap.
Dia selalu pesan seperti itu, tidak ada yang lain.
Terserah.
Memangnya kenapa?
Sialan, berisik. Mau nasi, Aoi?
Siapa kau?
Ada apa?
Maaf, akan kukembalikan minggu depan.
Hei! Ada apa?
- Ya ampun. - Sialan.
Jangan lihat mereka.
Apa itu… kau baik-baik saja?
Biarkan saja, Aoi.
Cukup, ya?
Biarkan dia.
Bukankah sudah kuberitahu kalian untuk tidak berkeliaran di sini?
Kami hanya makan malam.
Biarkan saja, ayo pergi.
Sudahlah, Aoi. Ayo.
Hei, Aoi!
Bisa kau pangkas pohon di dekat auditorium lama?
Bahuku sakit.
Aku yang urus itu.
SISWA TIDAK DIIZINKAN
Siapa itu?
Kapan kau masuk?
Bukan kalian lagi.
Selamat malam, Pak.
Mau mencoba?
- Tidak. - Tidak mungkin.
Aku mau coba.
Aku juga. Ini judo, kan?
Bukan, bodoh.
Akhirnya!
- Latihan yang bagus. - Aku lapar, kawan.
Kita makan apa?
Bagaimana kalau tonkatsu?
Aku mau ramen hari ini.
Jangan ramen, terlalu berlemak.
- Terlalu berat, ya? - Tidak.
Lihat, Makoto. Itu Porsche.
Tidak mungkin.
Sial, lihat keindahan ini.
Akan jadi mobilku kalau aku kaya.
Kau bahkan tidak mampu beli bannya.
Diamlah, jalang.
Menjauhlah, sialan!
Aku kurus, jalang.
Kau kurus?
Seperti tongkat!
Apa?
Singkirkan tangan kotormu.
Minggir!
Tidak perlu seperti itu, kawan.
Sialan.
Mobil keren.
Biarkan aku ke kampus hari ini. Kalau tidak, tidak akan berhasil.
Dengarkan aku.
Aku khawatir padamu.
Aku mohon pulang dulu.
Tidak, terlalu jauh.
Apa yang kau lakukan dengan kondisi seperti ini?
Kita perlu bicara, ayahmu juga khawatir.
Aku tidak mau bolos.
Aku punya mimpi.
Kalau aku santai akan ketinggalan.
Tongkatku.
Jaga dirimu.
Aku tahu betul tempatnya.
Aku bisa mengurus diri sendiri. Pulanglah.
Menyeberangi jembatan.
Siapa itu?
Silakan.
Selamat datang, Pak.
Tunggu.
Itu bola harmoniku, kan?
Tidak perlu dikembalikan.
Itu menggangguku.
Kaulah yang selalu membukakan pintu untukku?
Kau seorang murid piano?
Kenapa diam?
Kau tidak mau bicara denganku?
Tepuk tanganku untuk menjawab, mau?
Sekali untuk ya, dua kali untuk tidak.
Aku tahu. Kau juga belajar piano.
Kau juga suka piano itu?
Sentuhannya lembut seperti sudah tua.
Aku mau minta bantuanmu.
Kau mau membukakan pintu untukku?
Setiap hari Sabtu di jam yang sama.
Terima kasih.
Namaku Mika Jinnai, siapa namamu?
Pusar?
Yang jelas.
Coba dengan jarimu.
A.
O.
I.
Aoi?
Hai, Aoi.
Izinkan aku mendengarmu bermain suatu hari nanti.
Maaf, Nona Jinnai.
Ibu mau bertemu denganku?
Orang tuamu sangat khawatir dan mereka menghubungi kami.
Bagaimana kabarmu?
Aku dengar operasinya berjalan lancar.
Sudah membaik.
- Tanganmu masih mati rasa? - Itu juga sudah membaik.
Aku sudah mengobrol dengan Divisi Bantuan Siswa, dan kami pikir
kau bisa pindah ke Departemen Komposisi.
- Komposisi? - Ya.
Ada banyak guru komposisi berbakat.
Itu alasan ibu memanggilku?
Ya, begitulah.
Aku tidak berminat dengan itu.
Aku tidak akan menyerah pada piano.
Permisi.
Maaf.
Lezat, bukan?
Ini hadiah dari Nyonya Kawada.
Benarkah?
Jelly kacang manis tak pernah gagal menyenangkanku.
Makan sachertorte di Wina adalah surgawi,
tapi karya rumit dari permen Jepang melampaui itu.
Oh, ya, Ayah.
Kau mau membantuku memilih?
Ya, untuk apa?
Untuk pertunjukanku berikutnya.
Masih ada satu jam lagi.
Mau apa?
Mainkan untukku.
Kau kenapa?
Akan kubayar.
Bayar aku?
Kau akan membayarku, ya?
Jangan membuatku tertawa.
Pak.
Lepaskan.
Pak, kami tidak mentoleransi perilaku antisosial.
Tidak usah menegurku, kau seorang petani.
Jas yang dijahit tidak akan menyembunyikan asal-usulmu.
Ingat apa yang baru saja kau katakan.
Bisa bicara denganmu, Pak?
CATATAN HUTANG
Tiga juta yen.
Tiga juta?
Ya, 3 juta dan 82 ribu tepatnya.
Kami harus memintamu melunasi semua ini.
Kau lagi?
Tolong mainkan piano.
Kau mengikutiku?
Mainkan untukku.
Mainkan untukmu?
Di hadapan seseorang.
Kau sanggup membayarku?
100.000 yen sekali main.
Baiklah. 50.000 yen saja.
Jangan sentuh aku.
Kau ada uangnya?
Sekarang bagaimana?
Aku tahu. Jangan bicara, kan?
Serahkan padaku.
No comments yet. Be the first to leave one.