The first 200 lines.
Kita bisa pelan-pelan saja?
Kau mengejar apa, Farish?
- -
Kalau masak dengan benar,
tak perlu perjuangan melepas daging yang menempel ke tulang.
Ini juga melahirkan sensasi dengan sendirinya.
Sensasi tiap makan itu berbeda-beda.
Tergantung apa makanannya,
dan tergantung juga siapa yang makan.
Hmm.
Konon, tergantung juga dengan siapa kita makan.
Namun, kalau menurutku,
itu cuma ucapan orang-orang sok romantis.
Seolah-olah semua harus dengan orang yang tepat.
Agar terasa lebih berarti.
Masa mau makan sop buntut seenak ini saja
harus menunggu orang yang tepat?
Kalau membahas makanan, kita pasti membahas penikmatnya.
Justru lewat makanan, kita akan tahu seperti apa orang itu.
Fina, hamil muda, tetapi dia belum mengetahuinya.
Chris, pisah ranjang.
Nia, tekanan darah rendah.
Jangan lupa tiket, paspor, dan dokumennya.
Baik, Pak.
Arya.
Paket Jepang sudah dikirim?
Itu Pak Burhan.
Dia memikirkan pendapat semua orang.
Terlalu sensitif.
-Aruna? -Ya.
Sudah dikonfirmasi. Irma yang berangkat ke India.
Bantu dia siapkan data-datanya.
Tanya dia butuh apa saja. Ya?
Baik, Pak.
Aku pulang, Cheff.
-Kuah sudah habis? -Sudah.
Besok jangan keasinan lagi.
Kalau tiap malam kau habiskan kuah sepanci,
kau akan darah tinggi.
Aku juga darah tinggi melihatmu.
Baik. Sampai jumpa, Aruna.
Sampai jumpa.
Bono.
Peraturan menghabiskan makanan untuk semua koki yang salah masak masih berlaku?
Tadinya mau kuhentikan, tetapi yang lain minta dipertahankan.
Namun, akan kau hapus, bukan?
Atau kubuat makin menderita.
Kau gila, Bono.
Bono yang selalu membuatku takjub dengan masakannya.
Coba lihat makanan yang dia siapkan untukku.
Siapa aku hingga berhak mendapat serpihan surgawi seperti itu?
Dia bukan pacarku,
juga bukan anggota keluargaku.
Karena kau tak jadi dipilih pergi ke India...
kubawakan India kepadamu.
Kata Nad ini salah satu karya terbaikku.
Makanlah.
Mmm!
Pedasnya berbeda, ya?
Sudah? Hanya itu?
Garam masala yang membuatnya berbeda.
Itu dari Jaipur.
Lalu apa lagi?
Apa lagi, ya?
Apa, Bon?
Sepertinya ada yang salah denganmu.
Serius.
Sepertinya kau butuh liburan.
Dahulu kau selalu tampak ceria.
Sekarang seperti kebanyakan beban.
Namun, aku tak merasa seperti itu.
Kau tak mau seperti Nad?
Nah, ini dia.
Dia jalani hidup dengan maksimal.
- -Dia tak menunggu nikmat.
Dia mencari nikmat.
Kau lihat wajahnya tampak bersinar dan semringah 24 jam sehari.
Seperti dewi.
Kau tak mau itu?
Lalu kapan kita wisata kuliner?
Aku perlu ide makanan baru untuk menu.
Kau bahkan belum sempat melakukan wisata kuliner di Jakarta bersamaku.
Mari kita tetapkan saja. Aku akan ambil cuti.
-Benar? -Benar.
-Benar? -Benar?
-Benar? -Benar, ya?
Aku serius.
Berdasarkan penelitian, Indonesia berpotensi terancam virus flu burung
dengan jenis baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Virus ini cukup cerdik untuk membentuk antigen
yang mampu menyerang kesehatan manusia dan terus bermutasi dari waktu ke waktu.
Selamat siang.
Hai, Aruna. Apa kabar?
-Baik. - Long time no see.
- Duduk. -Mi ayam bakso?
Tentu saja. Masa mi ayam kucing?
Sudah baca laporannya?
Sudah sekilas, Pak.
Kata Burhan, sudah lama kau tak tugas di lapangan.
Ke luar kota.
Jadi, kau orang yang tepat.
Tepat untuk apa?
Menyelidiki, tentunya.
Menyelidiki masalah ini?
Ya.
Bapak tahu saya kurang menguasai soal flu burung.
Kau seorang ahli wabah.
Namun, jarang berurusan dengan wabah.
Bagaimana, Aruna?
Harus jawab sekarang?
Tidak harus sekarang.
Setelah mi ayam saya habis.
Seharusnya enak, bukan?
Bekerja sambil berjalan-jalan dan makan-makan.
Sesuai rencana kita.
Bukannya aku tak mau,
tetapi tiap kali One World punya proyek dengan PWP2,
proyek itu pasti hanya basa-basi.
Tak pernah ada hasil yang luar biasa.
PWP2 itu apa, ya? Aku lupa.
Klienmu banyak sekali.
Penanggulangan Wabah dan Pemulihan Prasarana, PWP2.
Kau bukan lupa. Memang belum pernah kuceritakan.
Jadi, bagaimana rencana wisata kuliner kita?
Itu dia masalahnya.
Bagaimana?
Masih kurang.
Telepon ibumu saja.
Dia pasti tahu resep nasi goreng Mbok Sawal.
Tak mungkin. Ibuku tak pernah memasak.
Jadi, kau akan bekerja sambil pergi makan-makan bersamaku?
Namun, investigasinya kau lakukan sendiri, bukan?
Sedang kupikirkan.
Mungkinkah menyelipkan pekerjaan di antara wisata kuliner?
Tentu bisa.
Orang tetap harus makan, bukan?
-Kau tampak menikmatinya. -Aku lapar.
Lagi pula, tadi pertanyaanmu apa ini mirip nasi goreng Mbok Sawal.
Bukan ini enak atau tidak.
-Jadi, ke mana saja? -Ke mana apa?
-Tujuan kerjanya di mana saja? -Oh! Hmm...
Surabaya,
Pamekasan,
Pontianak, Singkawang.
Bukankah Mbok Sawal dari Pontianak?
Dia orang Jawa.
Namanya saja Mbok Sawal.
Tidak, seingatku,
dia lahir dan besar di Pontianak.
Keluarganya transmigrasi ke sana.
Sungguh?
Kenapa aku tak ingat, ya?
Ayolah.
Baiklah.
Kita tetap berangkat, bukan?
Nanti kubantu mencari resep nasi goreng Mbok Sawal di Pontianak.
Bisa jadi itu nasi goreng khas Pontianak.
Kau mau apa lagi?
Mau kumodifikasi sedikit.
Kau bilang sudah enak.
Aku tak bilang enak.
Memang tak mudah menyikapi flu burung.
Jika kita bilang isu ini belum serius, kita akan dibilang tak kompeten.
Namun, masalahnya aneh, Pak.
Saya sudah lihat datanya.
Orang-orang yang dilaporkan punya gejala flu burung,
tinggal di kota-kota yang sangat berjauhan.
Contohnya Surabaya di sini.
Pontianak di sana.
Jauh sekali, Pak.
Saya punya firasat soal ini.
Kenapa, Pak?
Kau mengajak saya makan siang untuk menolak tugas?
Kita bicara tentang manusia.
PWP2 punya dana dan inisiatif,
tetapi kita yang menjalaninya.
Kita jalani dengan niat dan hati.
Namun, jika kau tak mau, biar saya tunggu Irma saja,
sepulang dari India.
Saya saja, Pak.
Namun, Bapak harus tahu, data ini sangat aneh.
Satu kota, hanya satu orang yang sakit.
Aneh, bukan?
Itu sebabnya kita selidiki.
- -Sebentar, Pak.
Bagaimana? Enak, bukan?
Keong itu sedang populer.
-Apalagi di Yogya. -Mmm.
- Bono. - Ya.
Jadwalku padat sekali.
Setiba di Surabaya, aku harus langsung ke rumah sakit.
Baik.
Dan aku harus mengunjungi beberapa klinik dan rumah sakit.
Selain itu, aku juga harus menyelidiki ke beberapa peternakan.
Pasar.
Dan tempat makan.
Aku sudah membuat daftar.
Daftar apa?
Daftar tempat makan kita.
Banyak sekali!
No comments yet. Be the first to leave one.