The first 200 lines.
Ini begitu indah sekali.
Saat aku masih muda, ayahku selalu mengajakku
dan juga abangku pergi ke tepi pantai
untuk melihat Sunnies.
Apa itu Sunnies?
Mereka itu sekumpulan kerang. Kerang yang bagus sekali.
Akan aku carikan untukmu nanti.
Kemudian kami kembali ke rumah pondok kami,
membersihkan saluran air, memberi makan babi dan menarik talas kami.
Apa?
Entahlah, kau ini... Kau begitu nyata sekali.
Aku sangatlah nyata.
Kenapa ada hotel di pulau ini?
Merekalah yang justru mengusir kita
dari tanah air kami. Pulau ini dihibahkan
oleh raja Kamehameha untuk kaum konohiki,
itu ialah perjanjian suci. Tak boleh dilanggar.
Namun pemerintah disini,
mereka berhenti membayar sewa pulau pada kami secara ilegal.
Itu kurang ajar sekali.
Para saudaraku, mereka masih berusaha melawan para politikus itu,
namun mereka tak mampu menyewa pengacara.
Biaya pengacara pro itu sangatlah mahal.
Ini situasi yang sulit.
Kini kau bekerja untuk para bajingan yang merebut tanah airmu?
Ketika para saudaraku mengetahui bahwa aku mengambil pekerjaan ini,
mereka begitu marah.
Namun aku harus bertahan hidup, kau paham?
Aku harus pergi sebelum temanku terbangun.
Mengapa kau tak ingin agar temanmu itu mengetahui kalau kita sedang berkencan?
Dia itu licik.
Bukankah dia itu temanmu?
Iya, dia temanku.
Selama dia masih memiliki segalanya ketimbang diriku.
Namun saat aku memiliki suatu hal yang aku punya, dia juga menginginkannya.
Karakter dia seperti itu?
Keluarga dia sungguh gila.
Ya Tuhan, kau sama sekali tak akan mempercayai ini.
Semua tamu dipulau ini sudah gila.
Bangsat!
Permisi?
Pelayanan Spa belum dibuka sampai jam 9.
- Kukira kau ini tamu tadi. - Aku akan selesai sebentar lagi.
Ngomong-ngomong, ruangan ini untuk wanita.
- Bangsat. / - Ya sudah. Selesaikan mandimu.
Aku paham kalau kau itu terlalu cerdas untuk bisa aku bodohi.
Aku terkapar di mobil Wagon -ku kemarin.
Segala hal yang berkaitan dengan Lani kemarin membuatku gelisah, jadi aku menelan obat pil Xanax .
Namun aku tak kuat lagi, jadi aku terus-menerus menelannya.
Kemudian aku tambah terus, menelan pil Xanax itu lagi.
Kemudian aku duduk di bar setelah bekerja,...
-... kemudian meminum alhohol. / - Armond.
Kemudian ada seorang pria tua di area Tradewinds ,
memintaku agar nge-seks dengannya dilubang pantat.
Apa?
Namun inilah alasanku agar tetap prima, Belinda,
karena jika diriku kecanduan lagi,
walaupun hanya sebentar,
aku akan ketagihan terus.
Nampaknya memang begitu.
Namun aku baik-baik saja.
Aku tidak akan menempuh jalan hidup yang begitu lagi.
Kalau begitu buang pil Xanax -nya.
Pastinya, 100%.
Apa yang kau lakukan sepanjang hari kemarin?
Aku latihan menyelam.
8 jam latihan, setelah itu apa lagi?
Aku mabuk di bar Kahuna.
Kami dimalam itu makan bersama di restoran.
Makan malamnya tidak terlalu meriah.
Maafkan aku, otakku sangat depresi saat itu.
Aku terus memikirkan gaya hidup seks yang ayahku pilih
dan dia sembunyikan itu dari keluarganya.
Itu terdengar tidaklah asing.
Itu sungguh membunuhku.
Jadi sebenarnya aku sama sekali tak mengenal beliau, kau paham?
Apa kau mau bergabung dengan kami hari ini
atau mau pergi ke barista bar yang lain?
Bergabung!
Senang, bahagia.
Ya Tuhan.
Sayang!
Baiklah, sayang. Ayo kita sarapan pagi.
Hidangannya itu mahal dan kita sudah membayar penuh untuk itu.
Ibu, Paula tak bisa terus-menerus memakan buah-buahan.
Mengapa tidak?
Aku punya penyakit Fructose Malabsorption (Gangguan penyerapan Fruktosa pada organ usus kecil).
Ya Tuhan.
Dia bisa selalu terkena diare.
Serta kram.
Makan daging saja, Paula. Makan sosis. Entahlah.
Apa Quinn tertidur lagi ditepi pantai malam tadi?
Ini tidak baik, kau seharusnya lebih peduli lagi
terhadap adikmu, Olivia.
Kau tak boleh membiarkan dia tertidur di tepi pantai
dimana dia bisa saja terseret ombak air pasang.
Iya, Olivia. Dia bisa saja diculik oleh bajak laut yang keji.
Atau meninggal saat sedang coli ke wajah sekumpulan lumba-lumba.
Namun sebenarnya yang mau aku katakan ialah
sungguh tepat sekali rasanya.
Ini layaknya clickbait untuk sebuah industri yang cukup menjanjikan.
Iya, industri jurnalistik ini memanglah menyedihkan.
Namun banyak orang yang se-generasi denganku punya pekerjaan yang bagus.
Aku tidaklah termasuk ke dalam orang itu.
Mungkin karena aku memang tidaklah hebat.
Contohnya, aku ini tidak berbakat.
Kau paham apa maksudku tadi?
Kurasa kau ini berbakat, namun aku paham apa maksudmu.
mungkin aku ini tidak punya tujuan layaknya orang lain.
Serta aku khawatir kalau diriku akan lebih buruk (Jelek) dari yang sekarang.
Sekarang kau bisa saja membayar perawatan wajah yang lebih mahal.
Ayolah, Shane. Aku ini sedang serius.
Jadi, menurutku ialah
jika memungkinkan diriku membuat perbedaan,
mungkin aku bisa terlibat dalam komunitas amal yang besar,
kemudian aku menulis jurnalku dibalik kesuksesan itu...
- ... untuk sementara waktu. - Itu ide yang bagus.
Ya.
Ya Tuhan, keluarga yang disana itu,
yang satu itu, mereka semua orang yang aneh.
Si Ayah ialah pria mesum dan anaknya selalu menatap toketku.
Tidak seaneh seperti wanita "What Ever Happened to Baby Jane?" yang ada disana.
- Apa? - Iya.
Dia datang. Dia kemari menuju meja kita.
Hai.
- Hai. - Hei.
Kalian sungguh punya semangat yang bagus kemarin.
Bagaimana kabarmu?
Entahlah, rasanya aku sudah gagal. Tapi...
Oh, tidak.
- Tidak. - Iya.
Saat aku melihat abu mayat ibuku yang mengambang di air laut,
aku baru saja mengingat
kalau aku sedang menaburkan makanan ikan di akuarium.
Rasanya aku seperti: "Ya Tuhan." Kalian paham maksudnya?
Aku memberi makan ikan di lautan memakai abu mayat ibuku?
Apakah ini yang beliau inginkan?
Hanya saja...
Kuharap kalian menikmati sarapan pagi ini.
Iya, ambillah.
Kurasa aku mau mengambilnya.
Paula, kau tidak marah terkait semua masalah dengan Trevor,
benar, 'kan?
Tidak, tak sama sekali.
Oke, karena jika kau menyukai seseorang, kau boleh saja memberitahuku.
Atau terserahlah, kau bisa mempercayaiku.
Aku tidak akan merebut dia secara diam-diam darimu.
Iya, aku mempercayaimu.
Oke, karena perihal si Trevor ini seperti kesalahan kita dalam menilai sesaat itu,
dan aku dapat pelajaran dari situ.
Hai, para gadis.
Apa kalian mendapatkan tas kalian kembali?
Kalian meninggalkannya di tepi pantai kemarin itu.
Kuberi tas kalian ke petugas pantai yang ada disana.
- Kau memberinya? - Iya.
Aku memberinya ke petugas yang ada disana.
Yang bercelana bahan berwarna coklat itu.
Terima kasih.
Christie. Selamat pagi.
Hai, para gadis.
- Halo. - Hai.
Cantik sekali.
Pak. Pak!
Bapak!
Halo, bagaimana kabar kalian pagi ini?
Kau menyimpan tas kami.
Tas berwarna hijau.
Kau bilang kemarin kau tak memiliki tasnya,
namun dia bilang bahwa kau menyimpan tas itu 2 hari yang lalu
dan kemudian kau meletakkannya di kantor Barang Hilang.
Iya, aku yakin sekali tas itu ada di kantormu.
Tas berwarna hijau?
Iya, aku mengingatnya.
Aku akan ke kantorku dan mengambilnya untuk kalian.
Menurutku jika diriku meninggalkan karir jurnalisku,
- ... mungkin aku akan kembali... - Hai, pak.
Hai, pak. Permisi...
- Hei! - Shane.
- Pria itu sungguh kurang ajar. - Shane.
- Apa kau tadi melihatnya? - Shane. Shane.
- Dia sungguh buang muka terhadapku. - Aku sedang berdiskusi denganmu...
- ... tentang masa depanku. - Aku paham.
- Oke. Iya. / - Menurutmu bagaimana ideku tadi?
Kurasa tadi bagus, tadi keren sekali.
Si bajingan itu, maafkan aku. Aku harus mengurus hal ini.
Ini...
Pak?
Tuan Patton, selamat pagi.
Apa kau mengabaikanku tadi saat di restoran?
- Mohon maaf, gimana? - Aku melambai padamu, berteriak,...
- ... aku yakin kau melihatku tadi. - Aku mau mengembalikan tas.
Kau melihat ke arahku, tapi kau terus berjalan.
Itu kesalahanku, maafkan aku.
Bagaimana makan malam konsep lilin kalian kemarin malam?
Iya, itulah yang mau aku bahas sekarang.
Terus terang saja, itu kacau sekali.
- Oh, tidak. - Iya.
Kau meletakkan kami ke kapal bersama wanita tua gila
yang sedang mengadakan acara pemakaman yang aneh.
Kau pasti tahu! Kau pasti mengetahui hal ini
No comments yet. Be the first to leave one.