Release info

ᄎᄒ911 링크: 먹고 사랑하라, 죽이게ㆍLink Eat Love Kill E07 220627 NEXT
A Commentary by _ch_911_
Sub by DSNP Retail | RT 01:05:29

Tags

other
Published on: 2022-06-27
Downloads: 15
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Semua yang lahir akan mati

dan semua hubungan akan berakhir.

Begitulah hidup.

Jadi, kalian boleh berduka, tapi jangan bersedih.

Buddha pernah berkata,

"Jangan berduka. Jangan meratap."

Semua hal pasti berlalu

- "dan lenyap. Karena itu, kau..." - Ya. Ada yang seperti itu.

Mereka mengatasi duka dan berjuang. Mereka mengagumkan.

"Pikiran adalah segalanya."

Omong kosong. Konyol sekali.

Tapi memang benar.

Jangan berduka? Kita tidak akan hidup sampai usia 80 tahun seperti Buddha.

Apa aku salah?

Ada yang sebaliknya.

Mereka kesulitan dalam rasa sakit dan tidak bisa melupakannya.

Mereka pecundang lemah.

Sama sepertiku.

Kau sibuk akhir pekan ini?

Ya.

Itu sebabnya aku takkan membiarkan siapa pun

atau apa pun

mendekatiku lagi.

Aku tak ingin merasakan

ketakutan hebat

seperti ini lagi.

Dahyun. Noh Dahyun!

Kau mau ke mana?

Ini aku.

Kau tak merindukanku?

Aku sangat merindukanmu.

Jangan takut. Aku kemari bukan untuk menyakitimu.

Semua perbuatanmu

kepadaku, sebagian tanggung jawabku juga.

Semuanya sudah berlalu.

Dasar gila.

Jangan seperti itu lagi.

Semua pasangan pasti bertengkar kecil,

jadi, aku sangat mengerti. Ya?

Hentikan omong kosong itu.

Kita tidak pernah berpacaran.

Astaga, yang benar saja.

Aku berusaha memahaminya. Benar, 'kan?

Aku membiarkanmu menang, paham?

Maafkan aku.

Aku berusaha memperbaiki keadaan.

Kau hanya perlu mengatakan satu hal.

"Aku terlalu kejam waktu itu, bukan? Maafkan aku."

Kurasa itu dua hal. Terserahlah.

Bagaimanapun, cukup mudah, 'kan?

Dasar keras kepala.

Minta maaf sekarang.

Aku tak bisa.

Apa?

Maksudku, aku tak mau.

Sebenarnya, aku sangat menyesalinya.

- Tentang apa? - Seharusnya aku mengakhirinya saat itu.

Seharusnya aku menyingkirkanmu untuk selamanya.

- Kau serius? - Ya.

Jadi, dengarkan baik-baik.

Tidak ada apa-apa di antara kita.

Dasar berengsek. Sejak datang ke dalam hidupku sampai sekarang,

kau tak pernah berarti apa pun bagiku, meski sesaat. Kau bukan siapa-siapa!

Sejak kapan?

Apa?

Kapan kali pertama aku datang ke dalam hidupmu?

Apa maksudmu?

Kau mengingatnya?

Kau yakin mengingatnya dengan benar?

Dahyun.

Pertemuan pertama kita bukan di kantor.

Kita bertemu di gang ini sudah lama sekali.

Tepat di lingkungan ini. Kau tidak ingat?

Noh Dahyun!

Noh Dahyun!

Kau baik-baik saja? Kau terluka?

Aku baik-baik saja. Aku tidak terluka.

Syukurlah.

Tunggu di sini sebentar.

Tidak apa-apa.

Lee Jingeun.

Kau lagi.

Lee Jingeun.

Apa maumu?

Kutanya apa maumu. Jawab aku!

Ada apa? Kau menakutkan.

Apa?

Aku akan pergi.

Urusanku hari ini sudah selesai.

Sampai nanti, Dahyun. Sampai jumpa lagi.

Kau akan menyesalinya.

Jika kau kembali, akan kupastikan kau menyesalinya.

Menyedihkan sekali.

Bukan begini aku membayangkan kita bertemu lagi.

Dahulu

dan bahkan sekarang...

Kaulah masalahnya.

Kau baik-baik saja?

- Chef. - Kenapa kau pergi sendirian?

- Apa? - Seharusnya jangan pergi dengan Chef Lee.

Sesuatu bisa saja terjadi. Kenapa kau tidak kenal takut?

Selain itu, kenapa kau menutup teleponku?

Aku mencarimu ke mana-mana.

Aku berkeliaran ketakutan dari gang ke gang bak ayam tanpa kepala.

Aku sungguh...

Bagaimana jika aku tidak menemukanmu?

Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadamu?

Kenapa banyak sekali gang kecil di lingkungan ini?

Tidak ada kemajuan sama sekali.

Astaga, yang benar saja.

Kenapa?

- Apa maksudmu? - Kenapa kau berusaha keras mencariku?

Apa ini juga

karena perikemanusiaan?

Dia tidak di rumah atau di luar sini. Ke mana dia pergi?

Pasti terjadi sesuatu.

-Hei. - Apa?

Di sana.

Dasar anak kurang ajar.

Apa kau gila?

Kenapa kau terus mengajak putri kesayanganku bergaul denganmu?

Sekarang bukan waktunya untuk ini.

-Si berengsek gila itu mungkin muncul... - Dia sudah muncul.

Kau dengar? Dia sudah muncul...

-Apa katamu? - Lee Jingeun muncul,

Chef Eun mengetahuinya dan datang.

Jika bukan karena dia, aku tidak akan di sini sekarang.

Dengan kata lain, dia menyelamatkan hidupku.

Terima kasih atas segalanya.

Kurasa aku harus pergi sekarang.

Minumlah ini sebelum kau pergi.

Silakan. Ini sikhye .

Jika bedebah itu berani menunjukkan wajahnya lagi,

aku akan memukulnya dengan sekop atau menghancurkannya dengan palu cakar.

Aku tidak bercanda. Tidak akan kubiarkan dia lolos.

Bagaimana jika aku melaporkannya ke polisi? Itu pembelaan diri.

Tapi kita mencoba menyimpan tubuhnya di dalam kulkas.

Tidak ada bukti.

Akankah mereka percaya jika kita bersikeras tak pernah melakukan itu?

Bagaimana menurutmu, Chef?

Dia menyerahkan diri sendirian, lalu kalian pergi berkelompok.

Kalian menghindar dan bersembunyi setiap kali melihat polisi.

Kalian terus membawa perkakas tajam dan ditangkap oleh unit patroli.

Dilihat dari sisi mana pun, kalian mencurigakan.

Tapi kalian ingin mereka percaya kalian?

Begini saja.

Sampai terpikirkan rencana cemerlang, mari berhati-hati

dan saling melindungi sebisa mungkin.

Ide bagus. Mari tetap bersama siang dan malam.

- Benar sekali. - Cemerlang.

Astaga. Bagus.

Karena kalian sudah punya rencana cemerlang, aku permisi.

Tunggu.

Kami bertiga saling memiliki, tapi kau sendirian.

Kau juga menjadi targetnya karena aku.

Astaga. Mau menginap di rumah kami?

- Tidak. - Lantas, kami menginap di rumahmu?

Tidak perlu.

- Kenapa tidak? - Kau akan sendirian.

Kubilang, aku tak mau menginap.

Apa?

Aku tak mau berterima kasih lagi.

Intinya, terima kasih...

Masuklah.

Sama-sama.

Terima kasih.

Mungkin hari itu,

kami semua

berpikiran sama.

Pikiran

seperti ini.

Haruskah

kubunuh saja dia?

Haruskah kubunuh saja dia?

MENUSUK

- Jangan lihat. Tatap saja ke depan. - Baiklah.

Ayo, Nenek.

Tabrak saja chef itu dengan mobil.

Apa katamu?

Tabrak saja dia dengan taksimu

dan bunuh dia.

Astaga...

Aku tidak bisa melakukan itu.

Kau pernah melakukannya. Jangan pura-pura tidak bersalah.

Kau tak ingat?

Pak.

Kau menabrakku dengan mobilmu.

Maafkan aku. Aku...

Aku yang... Tolong maafkan aku.

Aku tidak bermaksud begitu.

Aku bersumpah. Maafkan aku.

Beristirahatlah dengan tenang.

Beristirahatlah dengan tenang.

Pak,

kenapa kau menguburku?

Kau mencoba menguburku.

Itu karena kupikir kau sudah mati...

Itulah maksudku.

Kenapa kau mengemudi sambil mabuk?

Apa itu dari kamera dasborku?

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left