The first 200 lines.
"Episode 19"
Barang bawaanmu
sangat sederhana dan tidak rapi.
Kenapa kamu membawa setrika?
Kita akan membutuhkannya.
Kamu tidak tahu betapa tidak nyaman jika tidak membawa setrika.
Kamu akan membaca semuanya?
Bawa dua buku saja untuk dipakai sebagai alas ketel.
Kenapa? Ada apa?
Kamu sedang menggerutu, bukan?
Kamu menyukainya?
Astaga, kamu orang pertama yang suka digerutu.
Sudah membawa makanan?
Ada di sana.
Kita akan menikmati langit malam.
Ada yang ingin kamu lakukan?
Aku ingin naik lori.
"Jagung, Stroberi, Anggur Merah"
Apa yang baru saja kamu lakukan?
Aku senang sekali kita akan bepergian.
Aku tidak percaya kita benar-benar pergi.
Kita akan menikmati langit malam dan pantai.
Juga menyantap hidangan enak.
Tidak usah melakukan apa pun dan istirahat saja.
Ini perjalanan pertama kita.
Ini perjalanan pertama dan terakhir kita.
Ada yang tertinggal?
Tidak.
Aku ingin yang manis.
Aku saja.
Ini dia.
"Suk Young"
Tunggu sebentar.
Ini bukan cinta, tapi rasa bersalah.
Baik kamu dan pernikahan ini.
Apa maksudmu rasa bersalah?
Kenapa dia merasa bersalah?
Kamu akan mendengar itu darinya
jika kamu tidak pergi
dan tetap tinggal dengannya sambil memegang bom.
Batu tidak bisa berubah menjadi cinta.
Hawa dinginnya terasa enak sekali.
Tingkat partikel debu halus hari ini 167 mikrogram.
Masukkan kepalamu agar jendelanya bisa kututup.
Dia sangat menyebalkan.
Aku bisa mendengarmu.
Perlukah kita melihat bintang?
Aku sedang tidak ingin.
Kita bisa melihat semuanya sepanjang waktu.
Mereka ada di mana-mana.
Kita nanti makan di tempat istirahat.
Kenapa kamu makan itu pagi-pagi begini?
Aku ingin makan yang manis
karena dirimu.
Tapi kenapa aku merasa gelisah?
Aku merasa sangat gelisah.
Astaga, ada yang menggangguku.
Apa ada yang tertinggal?
Tidak.
Hei, Ari.
"Harap bicara dalam format ini."
Aku ingin lagu "Let's Go On a Trip" dari Cho Yong Pil.
"Aku ingin mendengar lagu 'Let's Go On a Trip' dari Cho Yong Pil."
Lagu "Let's Go On a Trip dari Cho Yong Pil akan mulai diputar.
Kamu butuh apa?
Kita pergi saja jika tidak penting.
Ini sesuatu yang sangat penting.
Apa itu?
Koperku.
Syukurlah masih ada.
Tidak, aku saja. Kopernya berat.
Terima kasih. Maafkan aku.
Sekarang, ayo kita pergi.
Ayo.
Ayo.
Astaga, semuanya terlihat enak.
Itu tampak lezat, yang itu juga.
Semuanya kelihatan enak.
Aku tidak bisa memilih.
Bisa pilihkan satu untukku?
Kita beli semuanya saja.
Beli semuanya? Sungguh?
Benar juga. Itu memecahkan masalah.
Tunggu aku di mobil. Aku harus ke toilet.
Santai saja.
Ada apa ini?
Siapa kamu?
- Ini... - Ini mobilku.
Apa?
Tidak mungkin.
Pasti keluargamu banyak.
Apa yang aku lakukan?
Maaf.
Pacarmu cantik.
Kamu juga tampan.
- Dia istriku. - Apa?
Tapi kamu masih sangat muda.
Maafkan aku. Makanlah kentang ini.
Aku serius.
- Astaga, mengagetkan saja. - Sedang apa di sini?
Kami hanya bicara.
"Kami"?
Kamu mengenalnya?
Itu... Dia tampan, bukan?
Kenapa kamu masih di dalam?
Mau ikut dengannya?
Mau saja, tapi dia akan pergi ke Pyeongchang.
Mau ke mana...
Saat sudah tua, kita menjadi mudah marah.
Maafkan aku. Ambil saja makanan ini.
Terima kasih.
Ini.
- Maaf. - Tidak apa-apa.
Sampai jumpa.
Bagaimana kamu tahu dia akan ke Pyeongchang?
Tadi aku tanya.
Kenapa kamu bertanya?
Memang itu taksi?
Kamu ikut dia saja ke Pyeongchang.
Sebenarnya apa yang membuatmu marah?
Apakah karena koperku tertinggal?
Karena itu?
Tidak, karena kamu memberinya kentangku.
Aku memberi dia semuanya.
Kepalkan.
"Laboratorium Tes Darah"
Aku selalu takut tiap kali mereka mengambil darahku.
Menurutmu kenapa?
Karena mereka lebih tahu soal kita ketimbang diri kita sendiri?
Apa?
Hasilnya akan keluar dalam dua jam. Ayo makan siang.
Aku ingin makan risotto safron.
- Ayo makan hidangan Italia. - Baiklah.
Ada apa denganku? Belakangan ini, aku banyak makan.
Aku tidak bisa mengendalikan diri.
Mau pesan lagi?
Kurasa kamu hamil.
Apa?
Tidak mungkin.
Aku yakin.
Permen kapas, kepompong, tteokbokki,
cabai di pantai, dan gemetar saat berdansa.
Sayang.
Kamu benar.
Aku sering ke kamar mandi.
Aku terus mengalami demam ringan.
Aku mudah lelah.
Kamu menjadi sensitif, dan suasana hatimu sering berubah.
Aku tidak bisa tenang.
Aku merasa aneh.
Aku merasa senang dan takut.
Aku akan melahirkan di usia tua. Bagaimana jika terjadi sesuatu?
Aku tidak percaya akan menjadi ibu.
Aku tidak yakin.
Tidak ada yang menjadi ibu karena mereka yakin.
Apakah kamu senang?
Ya.
Jika kamu senang,
aku juga senang.
Aku harus makan lebih banyak untuk bayi ini.
Tapi
bagaimana caraku memberi tahu Soon Jin?
Aku tidak bisa memberitahunya.
Dia pasti ikut senang, lebih dari siapa pun.
Pernikahannya seperti pemakaman
karena semua orang menangis.
Aku merasa sedih
saat melihat mereka.
Karena kehidupan mereka sulit.
Mereka juga banyak terluka.
Aku ingin mereka hidup bahagia
selamanya.
"Aku punya mimpi"
"Sebuah lagu untuk dinyanyikan"
"Untuk membantuku bertahan"
"Sebuah lagu untuk dinyanyikan"
"Untuk membantuku bertahan"
Kamu tahu keadaan ayahmu.
Ibu ingin meninggalkanmu di sini bersama ayahmu.
Tapi ibu tidak bisa.
Ayo kita kembali.
Lain waktu, habiskanlah banyak waktu dengannya.
Ibu terus bilang lain waktu, dan inilah yang terjadi.
Baik Ayah dan Byeol.
Byeol mati karena "lain waktu" Ibu.
Aku yang akan memutuskan kapan lain waktu itu.
Sudah lama ibu tidak mendengar kamu bernyanyi.
Ibu tidak pernah melihatmu bersih-bersih.
Tinggallah di sini sampai ibu kembali.
Benarkah? Aku bisa tinggal?
Tapi kamu harus tinggal dengan kakekmu.
- Tidak boleh di hotel. - Tidak.
Berkemaslah.
Baiklah. Aku sibuk. Sampai nanti.
"Aku punya mimpi"
"Sebuah lagu untuk dinyanyikan"
"Obat Dalam"
"Obat Keluarga"
Sudah berapa lama? Lima pekan?
Enam pekan?
No comments yet. Be the first to leave one.