The first 140 lines.
[Semoga kamu bisa menyimpan sepatu ini dengan baik.]
[Hanya perlu menaruh racun di anggur merah, dia tidak akan tahu.]
[Siapkan uang 5M, jika lapor polisi, istrimu akan mati.]
[maka bercak darah yang ada di bagasi mobilmu itu]
sudah pasti milik Sim Jae-Kyeong
Ada paket.
Ini milik Kim Yoon-Cheol.
Istriku masih hidup.
Penggugat meminta ganti rugi.
[Jika tidak, masalah memasukan racun ke anggur merah]
[Berpisah di saat maut memisahkan. Cinta selamanya.]
Sampai maut memisahkan kita,
- cinta selamanya. - Cinta selamanya.
[Kuku jari yang terkelupas dan sakit kepala yang luar biasa.]
[Pasien : Sim Jae-Kyeong Dokter : Park Young-Jin Suster : Kim Seo-Yong]
[Rencana kali ini, aku sebenarnya menang atau kalah?]
[Jawaban dari pertanyaan ini yang menurutku penting.]
Bagaimana bisa meninggal begitu saja.
perusahaan Yun Tan akan direorganisasi menjadi perusahaan sosial.
Dan semua properti dan pendapatan saham
atas nama perusahaan
akan didonasikan kepada masyarakat.
[Saat Shen mati, semua harta akan disumbangkan untuk sosial.]
Kamu tidak keberatan, kan?
Ah, baiklah. Tentu saja.
Ini adalah wasiat dari ibu dan ayah mertua, saya harus menerimanya.
Hei.
Apa kamu sudah mendengar masalah surat wasiat?
Aku sangat terkejut.
Dengar-dengar sudah dibuat beberapa tahun yang lalu.
Ya, saya dengar itu dibuat untuk menentang pernikahan ini.
Jika kamu berani menikahi anak itu,
jangan berharap mendapatkan hartanya.
Luar biasa.
Bahkan jika kita mewarisinya, kita tidak dapat apa-apa.
Kalau kamu di posisinya,
apakah kamu akan tetap memilih untuk menikah?
Aduh, sulit untuk mengatakannya.
Jika itu cinta sejati, dia akan tetap memilih untuk menikah.
Hei.
Siapa yang percaya dengan perkataanmu?
Aku juga tidak percaya.
Duduklah.
- Menteri Jin -Hei!
Ada apa? Mengapa kamu tidak memberitahuku?
Karena menurut kami masalah ini tidak penting.
Bagaimana bisa ini tidak penting?
Ini bisa mempengaruhi kehidupanmu.
Benar.
Ini adalah pilihan yang dibuat untuk menyelamatkan hidupku.
Justru kamu.
Kamu seharusnya memberi tahuku.
Aku takut kamu sudah tahu dari awal orang tuaku menolak.
Aku merasa tidak enak.
Bukankah kamu tidak percaya padaku?
Apa maksudmu?
Cinta butuh bukti.
Kemampuan juga butuh bukti.
Apa kamu sedang bermain tes ganda?
Aku mengerti seberapa besar tekananmu.
Tapi
kamu sudah bisa lega sekarang.
Seberapa besar cintamu padaku, aku sudah mengetahuinya.
Kamu tidak perlu membuktikan apa pun lagi.
Satu hal lagi,
kamu katakan kamu ingin membangun bisnis.
Kamu boleh mencobanya.
Kita punya kemampuan untuk itu.
Terima kasih.
Benar.
Selama kamu percaya padaku.
Apa yang kamu katakan?
Aku…
percaya padamu.
Jae-Jung, sedikit lebih tinggi lagi.
Baiklah, di sana lebih baik. Sudah.
Suaminya berhenti dari pekerjaannya sebagi kepala koki
untuk memulai usaha yang dimimpikan selama ini.
Kelihatannya orang tuaku salah perhitungan.
Saya seharusnya tahu untuk memilih dan mempercayaimu untuk mengurusnya.
Tidak. Tidak. Mereka mengerjakannya dengan baik.
Ini pekerjaanku. Sudah seharusnya aku mengandalkan kemampuanku.
Kamu mengerti itu.
Mereka melakukannya bukan karena kamu tidak cukup baik.
Tapi karena tidak bisa merelakanmu.
Lebih baik memberikannya untukmu.
Sayang sekali jika harus memberikannya pada orang lain.
Jadilah istriku, kamu tidak akan merasa bersalah.
Ini adalah keinginanku.
Semuanya lihatlah kemari.
Ini kubuat untuk merayakan pembukaan usaha.
Semuanya, cobalah.
- Kelihatan bagus. - Kelihatannya sangat enak.
Mengagumkan.
Aku membuatnya sendiri di rumah.
Cobalah.
Wah.
Sangat enak.
Suamiku sudah bekerja keras, terima kasih atas perhatiannya.
Mengapa aku yang harus berterima kasih pada kalian?
Sering-seringlah berkunjung kemari.
Pasti.
Kemarilah. Akan dimulai sebentar lagi.
Fotonya bagus.
Lihatlah.
Itu
masalah hutang
masih ada lagi?
Aku belum selesai bicara, kamu sudah tidak senang seperti ini.
Oh, tidak.
Kamu katakanlah.
Kamu benar-benar ingin tahu?
Karena aku mempercayaimu.
Baiklah kalau begitu.
Jika kamu percaya padaku, pinjamkan aku uang.
Kira-kira sekitar 20-30M, itu sudah cukup.
Itu jumlah yang besar.
Tidak juga…jumlah uang yang kecil.
Melihat bisnis berjalan tidak baik, kita semakin sering bertengkar.
Tetapi aku masih menahannya.
Lalu tidak lama kemudian,
tidak tahu kapan
kita tidak pernah bertengkar lagi.
Aku telat pulang.
Oh, kamu belum tidur?
Iya, kamu telah bekerja keras hari ini.
Mungkin mesinnya sudah tua dan bermasalah. Aku akan mengeceknya.
[Jika ini masalahnya, aku juga harus kembali pada posisiku.]
- Terima kasih semuanya. - Terima kasih.
- Hati-hati. - Hati-hati.
Selamat jalan.
Kamu fokus ke depan.
[Ketua Jin. Sayangku, kamu hebat hari ini.]
[Apakah kamu mau jika aku berikan perpisahan yang indah?]
Sudah pulang?
Oh.
Sudah pulang.
Aduh. Hei! Mengapa ini bisa terjadi?
[Apakah kamu mau jika aku berikan perpisahan yang indah?]
[Lebih baik kamu persiapkan acara pemakamannya dengan baik.]
No comments yet. Be the first to leave one.