The first 200 lines.
"Home for Summer"
"Episode 9"
- Kamu? - Ya.
Siapa yang mengantarmu?
Dokter Ju.
- Dia mengantarkanmu sendiri? - Hanya mobilnya.
Itu pasti sopirnya.
- Ayo masuk. - Ya.
"Oh Dae Seong"
Perutku.
Sayang.
Ya. Ada apa?
Apa kamu pencuri?
Kenapa kamu mengendap-endap seperti itu?
Beraninya kamu menyebut kepala rumah tangga pencuri?
Tidak ada yang ingin kamu katakan?
- Tidak. - Kamu yakin?
Aku yakin.
Lalu, siapa yang melakukan ini kepada kukuku?
Kenapa kukumu?
- Kamu akan seperti ini? - Apa yang kulakukan?
Kamu akan berpura-pura tidak tahu?
Apa pun yang kamu bicarakan,
kamu punya bukti pelakunya aku?
Apa? Bukti?
Ya. Bukti.
Selamat pagi.
Selamat pagi. Kamu mengantarkan Dokter Han dengan selamat semalam?
Ya.
Omong-omong, kapan aku sebaiknya mulai pergi ke klinik Ayah?
Klinik?
Kenapa kamu pergi ke kliniknya?
Kenapa? Kamu akan bekerja di sana?
Ya. Ayah memintaku untuk membantunya.
Keputusanmu tepat. Mulailah bekerja hari ini.
Ayah sudah menyiapkan ruanganmu.
- Baik. Sampai jumpa nanti sore. - Baik.
Sampai jumpa di klinik.
Jangan pergi begitu saja.
Jika tidak, apa?
Tunjukkan buktinya. Buktikan dahulu.
Ini belum selesai.
Aku akan membalasmu.
Astaga. Yang benar saja.
Kamu tidak pernah tertarik bekerja di kliniknya.
Ada apa denganmu? Kamu menerima tawarannya.
Ingin saja. Aku lelah tidak melakukan apa-apa,
dan kurasa bekerja di kliniknya akan menyenangkan.
Ada apa dengannya?
Aku sudah cukup lama menunggu.
Kumohon.
Nomor yang Anda tuju tidak aktif.
Silakan tinggalkan pesan setelah nada berikut.
Halo.
Aku Wang Geum Ju. Aku melakukan audisi untuk peran wanita simpanan.
Kamu bilang akan meneleponku pekan ini, tapi belum.
Aku akan menunggu telepon darimu.
- Kamu akan pergi syuting? - Tidak.
Aku hanya butuh udara segar.
Sampai nanti.
Kenapa dia?
Entahlah.
Kamu akan mengikuti kelas wawancara?
Aku akan pergi juga.
Kenapa dia?
Bu Byeon.
Ya?
Kamu masih tidur? Sebentar lagi tengah hari.
Aku menonton TV sampai larut malam kemarin,
lalu tidur.
Kenapa?
Aku akan menemui teman-temanku.
Tapi kamu bahkan belum menyarap.
Aku akan meminta anak-anak menyajikan makanan untukku.
Mereka sedang pergi juga. Tidak ada orang di rumah sekarang.
Kalau begitu, aku akan mencari makanan.
Baiklah. Aku pergi sekarang.
Ya.
Astaga. Tunggu.
Ya?
Begini...
Tidak ada orang di rumah sekarang?
Ya.
Kalau begitu, kapan kamu akan pulang?
Entahlah, tapi kurasa aku akan pulang malam
karena sudah lama tidak bertemu dengan mereka.
Kenapa? Mau kusiapkan makanan untukmu sebelum aku pergi?
Tidak. Tidak perlu terburu-buru dan bersenang-senanglah.
Ya. Kalau begitu, sampai jumpa.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
- Syukuran rumah? - Ya.
Akan kuadakan syukuran hari ini karena kita membicarakannya.
Hubungi istri Jun Ho, ya?
Baik. Kirimkan alamat Ibu.
Sampai nanti.
Dia...
Kenapa kamu minum siang-siang?
Bukan urusanmu.
Jangan memperlakukanku seperti orang asing. Kita ipar.
Jangan campuri urusanku, pergilah.
Astaga. Bagaimana bisa?
Kamu adiknya adik iparku.
Minumlah ini.
Ada banyak minuman sehat.
Berhenti merokok sebelum kamu mengatakan hal itu.
Tetap saja, kamu tidak boleh minum pada siang hari.
Mungkin aku sebaiknya membeli soju, bukan bir.
Jangan marah.
- Marah kenapa? - Apa?
Aku tidak boleh marah karena apa?
Kamu membeli bir pada siang hari.
Jadi, kukira kamu sedang marah.
Bukan begitu?
- Tidak. - Bagus. Syukurlah.
Maaf, Nona Wang. Audisimu gagal.
Semoga kita bertemu lagi.
Ada apa?
Geum Ju.
Mereka bilang akan memilihku.
Mereka sungguh bilang akan memilihku.
Aku jelas mendengar mereka mengatakan itu.
Astaga. Geum Ju, jangan menangis.
Kamu pasti akan mendapat kesempatan lain.
Kapan?
Orang sepertiku tidak akan mendapat kesempatan lain.
Jangan berkata begitu. Kamu akan mendapat kesempatan lain.
Jadi, tenanglah. Ayo berdiri. Ya?
Setidaknya, aku akan menanyakan alasanku gagal.
Apa? Astaga.
Hei. Tunggu.
Geum Ju, kurasa sebaiknya kamu pulang.
Jika tahu, dia hanya akan makin kesal.
Sial.
Pak Oh.
Nona Wang.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Kamu bilang akan menghubungiku.
Maaf, tapi itu sudah diputuskan.
Tunggu. Kamu menanyakan jadwalku juga.
Artinya aku harus bersiap-siap.
Kamu tahu hal seperti ini sering terjadi, Nona Wang.
Kalau begitu, tolong katakan alasanku tidak terpilih.
Karena aku aktris reka ulang?
Apa citraku terlalu kuat?
Pokoknya, sampai jumpa.
Tapi...
- Ibu, aku datang. - Hei, masuklah.
Tapi aku tidak butuh potongan rambut baru.
Kamu membutuhkannya. Ayo duduk.
Kamu mau dikeriting?
Atau mau potong rambut?
Ada yang ingin Ibu katakan?
Tidak.
Ibu yakin bukan itu alasan Ibu memintaku datang?
Katakanlah.
Kenapa? Ibu tidak mau aku mengadopsi anak?
- Ya. - Ibu.
Ibu mengerti kamu putus asa, Geum Hui. Namun...
Bukan hanya itu alasannya, Ibu.
Kalau begitu, cobalah program bayi tabung sekali lagi.
Jika gagal lagi, kamu bisa...
Aku sudah mencobanya enam kali berpikir seperti itu.
Aku tidak mau menyia-nyiakan hidupku dengan mencobanya lagi.
Mencoba memiliki anak bukan menyia-nyiakan hidup.
Kuhabiskan lima tahun dengan harapan itu.
Menurut Ibu itu tidak cukup?
- Geum Hui. - Ibu memercayaiku, bukan?
Tentu saja.
Tapi Geum Hui...
Ibu juga tahu aku tidak akan memutuskan tergesa-gesa, bukan?
Tentu saja ibu tahu. Namun...
Kalau begitu, percayalah kepadaku dan lihat hasilnya.
Ibu.
Entahlah.
Bagaimana bisa ibu mengubah pikiranmu?
Tapi menurutmu kamu bisa meyakinkan Jun Ho?
Aku akan mencobanya.
Hai, Seok Ho.
Ibu akan mengadakan syukuran rumah?
Baiklah. Sampai jumpa di sana.
Tunggu.
Apa maksudmu "ibu mertua"?
Bukankah dia sudah meninggal?
- Maksudku... - Lalu syukuran rumah?
Sebenarnya, ibu kandung Jun Ho datang.
Apa? Ibu kandung Jun Ho?
Maksudmu Jun Ho memiliki ibu lain?
Ya.
Itu tiba-tiba. Ceritakan lengkapnya.
Aku harus pergi, Ibu.
Akan kuberi tahu detailnya nanti.
- Sampai jumpa. - Hei.
Apa yang terjadi?
Astaga.
Yang ini.
Juga...
Bagus?
Apa lagi...
Kurasa itu akan cukup.
Baiklah.
No comments yet. Be the first to leave one.